Misteri Kampung Pesisir

Misteri Kampung Pesisir
Bab 66. Keanehan Di Dapur Bu Langsa


__ADS_3

Bagaimana apakah semua warga sudah diberitahu?" tanya Pak Amir pada salah seorang warga yang dia tugaskan tadi untuk memberikan informasi kematian Bu Langsa. Di sampingnya ada beberapa orang yang tampak mengaji.


"Sebagian besar warga sudah tahu Pak dan mereka banyak yang ikut mengejar Putri Bu Langsa dan sebagian lagi sudah saya beritahukan. Namun, tetap saja saya masih menyuruh seorang warga untuk mengabarkan lewat toa mushalla agar informasi menjangkau seluruh masyarakat yang ada di desa kenanga ini."


"Bagus sekarang kamu dan yang lainnya tolong bawakan segala keperluan jenazah!"


"Baik Pak."


Baru saja pria itu hendak meninggalkan rumah Bu Langsa datanglah seorang warga yang menggendong putri sulung Bu Langsa.


"Wah Neng Nirmala selamat," ujar pria itu membuat semua warga yang masih bertahan di rumah Pak Langsa langsung menoleh ke arah depan rumah.


Mereka menyambut kedatangan Nirmala dengan senyum di bibirnya.


"Alhamdulillah ternyata si Eneng bisa diselamatkan," ucap salah seorang warga dengan perasaan penuh syukur.


Namun, tak bertahan lama, kesenangan warga yang melihat Nirmala kembali dengan selamat akhirnya bersedih kembali tatkala melihat warga lain berlari-lari menggendong tubuh putri Bu Langsa dengan tergopoh-gopoh sambil menitipkan air mata. Disusul di belakangnya warga lain yang terlihat tidak jauh berbeda dengan pria yang menggendong tubuh anak itu. Semua warga yang berada di belakangnya terlihat sangat sedih.


"Ada apa, kenapa kamu menangis? Kenapa kalian semua bersedih? Apa terjadi sesuatu pada Neng Ningsih? tanya seorang ibu-ibu menghampiri bapak yang menggendong Nengsih dan membawanya ke dalam rumah.

__ADS_1


"Maafkan kami semua yang tidak bisa menyelamatkan putri bungsu Bu Langsa dan berat hati Saya mengabarkan bahwa Neng Ningsih sudah tiada," ucap pria yang menggendong tubuh Ningsih itu dengan penuh penyesalan sebab tidak bisa menyelamatkan gadis yang satu itu padahal menurut pandangan warga di dalam keluarga Bu Langsa Ningsih lah yang paling banyak bersosialisasi kepada masyarakat. Gadis itu terlihat selalu ceria dan suka membantu.


Mendengar adiknya yang juga sudah meninggal,btangis Nirmala pecah. Gadis itu menangis pilu di samping almarhumah ibu dan adiknya.


"Sabar ya Neng Nirmala, mungkin Tuhan lebih menyayangi keduanya sehingga memanggil adik dan ibumu terlebih dahulu." seorang ibu tanpa mengelus-elus punggung Nirmala untuk memberikan ketenangan pada gadis itu.


"Kalau ibu dan adikku pergi aku akan tinggal dengan siapa Bu? Aku tidak mungkin hidup tanpa mereka, hiks, hiks, hiks." Nirmala terus saja menangis.


"Tenanglah ada kami semua di sini, kami semua akan ikut menjaga Nirmala," ucap warga yang lain.


"Kalau perlu kamu juga bisa tinggal bersama Putri di rumah ibu." Bu Hasan menawarkan diri.


"Terima kasih kalian semua sudah baik dan bahkan sudah menolong keluarga Nirmala, tapi Nirmala mau bertanya apakah diantara kalian ada yang mengetahui keberadaan ayah Nirmala?" tanya Nirmala bingung sebab dari tadi tidak pernah melihat wajah ayahnya.


Pak Hasan menggeleng pertanda melarang semua orang untuk menjelaskan tentang ayahnya sebab Nirmala saat ini sedang bersedih dan tidak baik menambah kesedihannya.


"Kami tidak tahu," jawab Pak Amir dan Pak Hasan mengangguk.


Kami pun tidak pernah melihat ayahmu dari tadi sore. Sampai di pabrik petis yang terbakar tadi pun kami tidak pernah melihat sosok ayahmu dan kami semua sebenarnya bertanya-tanya kemana ayahmu sehingga tidak sempat untuk menengok pabrik petisnya yang kebakaran," sambung warga lainnya.

__ADS_1


Nirmala tampak merenung, semua orang memandangnya dengan iba.


"Bagaimana perlengkapannya sudah siap? Tempat pemandian jenazah, kain kafan, dan semuanya sudah siap?" tanya Pak Amir memecah keheningan di rumah itu.


Seorang warga melihat keluar rumah dan ternyata memang sudah banyak warga yang datang membawa barang-barang yang diperlukan untuk jenazah.


"Sepertinya semua perkakas sudah datang Pak tinggal mempersiapkan saja tempatnya. Namun, yang menjadi masalah di sini tidak ada satupun warga yang mau menggali kuburan di tengah malam seperti ini. Mereka mengatakan takut sebab kuntilanak tadi mengancam ingin membunuh warga yang telah berani menyerang kuntilanak tadi dengan batu-batu."


"Baiklah kalau begitu kita kuburkan saja Bu Langsa dan Neng Ningsih setelah pagi menjelang. Sekarang kita siapkan saja tabir pemandian dan segala macamnya."


"Baik Pak."


Malam itu para warga membagi tugas. Ada yang membenarkan tempat pemandian, ada yang mengukur mayat, ada yang mengukur kain kafan dan ada pula yang menyiapkan makanan di dapur serta ada pula yang meronce bunga-bunga dan daun pandan untuk dikalungkan pada Keranda mayat nantinya. Yang paling berat adalah yang menjaga jasad agar tidak dilompati oleh kucing sebab menurut mitos yang berada di desa itu apabila ada mayat dilompati oleh kucing maka mayat tersebut akan bangun dan akan menempel pada apapun yang ada di depannya. Hal itu akan merepotkan orang-orang yang masih hidup dan lebih parahnya lagi kalau sampai yang ada di depannya adalah seorang manusia. Bisa gusar orang-orang yang ada di tempat itu.


Ting-ting, ting-ting, ting-ting-ting-ting-ting-ting-ting-ting-ting-ting-ting.


Terdengar bunyi sendok beradu dengan piring. Awalnya terdengar lembut dan lemah, tetapi lama-kelamaan suaranya menjadi keras dan temponya semakin cepat. Orang-orang yang bertugas di dapur saling pandang sebab tidak ada satupun yang menyentuh peralatan itu mengapa bisa menimbulkan bunyi.


Saat melihat sendok bergerak-gerak sendiri para wanita yang bertugas memasak di dapur berteriak-teriak dan langsung berlari keluar rumah.

__ADS_1


"Ada apa ini, kenapa dapur Bu Langsa menjadi aneh?" tanya warga pada warga yang lainnya.


Bersambung.


__ADS_2