Misteri Kampung Pesisir

Misteri Kampung Pesisir
Bab 31. Luwang Mayit


__ADS_3

Setelah mendatangi semua rumah tetangga yang letaknya di sekitaran pantai tetapi, tidak menemukan keberadaan Tata juga akhirnya Aldi kembali ke rumah bersama Bu Loli untuk memeriksa keadaan rumahnya barangkali Tata sudah pulang.


"Ayo Bu masuk," ucap Aldi sambil membukakan pintu untuk Bu Loli dan menyalakan lampu rumah sebab terlihat gelap.


"Sepertinya tadi aku sudah menyalakan lampunya, apa yang salah ingat ya?" Aldi bicara dalam hati.


Bu Loli mengangguk dan kedua orang itu masuk serta memeriksa di dalam rumah lagi barangkali ada tempat di dalamnya yang dilewati Aldi saat memeriksa Tata.


"Di sana sudah di periksa?" tanya Bu Loli menunjuk ruangan yang berbentuk lorong-lorong yang agak sempit dan memanjang.


"Belum Bu itu kan hanya lorong-lorong buntu yang tidak ada apa-apanya jadi saya dan teman-teman saya tidak pernah pergi ke arah sana," jelas Aldi karena memang selama ini tidak pernah memperdulikan keberadaan ruangan itu.


Bu Loli mengangguk. "Pantas saja orang-orang yang menginap di sini dari dulu tidak ada yang betah, ada-ada saja yang terjadi pada mereka sehingga akhirnya memutuskan untuk keluar dari rumah ini," gumam Bu Loli.


"Memangnya ada apa Bu dengan rumah ini?" tanya Aldi penasaran.


"Itu yang namanya luwang mayit Nak Aldi."


"Luwang mayit? Apaan tuh Bu, kok ada mayit-mayitnya?" Hanya mendengar kata mayit saja membuat bulu kuduk Aldi meremang seketika apalagi melihat ada mayit di hadapannya saat ini pasti dia akan melompat ketakutan.


"Maksud dari luwang mayit itu Nak Aldi adalah rumah yang memiliki ruang berukuran 2 meter x 1 meter. Umumnya, ruangan ini adalah lorong buntu yang berada di tengah-tengah rumah. Ruangan ini pun diapit dengan tembok pada ketiga sisinya. Menurut kepercayaan orang-orang sih, rumah yang memiliki lorong buntu seperti ini terasa panas dan tidak nyaman sehingga membuat penghuninya tidak betah."


"Itu bukannya cuma mitos ya Bu?" tanya Aldi tidak percaya.

__ADS_1


"Iya sih, itu hanya mitos jawa. Sebenarnya saya percaya tidak percaya sih Nak Aldi cuma melihat ini kok kayaknya ibu cenderung lebih percaya ya Nak Aldi soalnya memang dari sekian banyak orang yang pernah tinggal di sini tidak ada yang betah. Ibu sendiri sebenarnya baru kali ini masuk ke rumah ini meskipun rumah ini dekat dengan rumah ibu. Sebelumnya tidak pernah sekalipun makanya ibu kaget melihat lorong-lorong itu."


"Pasrahkan saja kepada Tuhan Bu untuk semuanya. Toh itu semua kan hanya mitos saja." Aldi sok bijak padahal dalam hati ketar-ketir sendiri apalagi saat mengingat momen saat Tata kerasukan dan hampir membuat Lisa nyaris meregang nyawa kalau tidak segera ditemukan oleh Topan.


"Ah itu hanya kebetulan saja," batin Aldi untuk memenangkan hatinya sendiri.


"Kok tidak ada ya Bu, Tata?"


"Cari diluar saja yuk Nak Aldi kayaknya ibu nggak betah berlama-lama di sini, pengap sumpek," ucap Bu Loli mulai merasakan tubuhnya meremang.


Sebenarnya dia tahu bahwa untuk tinggal di rumah ini kata orang-orang aman apabila sudah ada sesajen daging atau ikan yang ada darahnya, tetapi sebenarnya ibu Loli tidak pernah mempercayai itu meskipun tidak pernah membantah saat orang-orang bercerita. Namun, melihat sendiri aura ruangan ini yang begitu kelam dan begitu redup meskipun lampu rumah sudah dinyalakan membuat dirinya bergidik ngeri dan ingin cepat-cepat keluar rumah.


"Ayo Bu!" Buru-buru Aldi berjalan keluar dan diikuti Bu Loli di belakangnya.


Aldi malah terdiam sambil menatap televisi itu dengan ekspresi tidak percaya.


"Masa' tadi aku juga menghidupkan televisi?" Aldi tampak menggaruk kepalanya, antara bingung dan berpikir apakah ia tadi juga lupa perkara menghidupkan televisi.


Sementara Aldi terdiam bengong Bu Loli sudah lebih dulu berlari ke luar rumah.


Aldi terhenyak melihat televisi itu mati mendadak, lampu pun ikut padam seketika. Sesaat kemudian hanya menyisakan televisi yang hidup kembali dengan menunjukkan gambar makhluk berpakaian serba hitam yang membelakangi layar. Melihat kuku-kukunya yang panjang dan tajam Aldi ingat akan makhluk aneh berupa awan yang menyerangnya di tengah lautan.


"Dia?" Aldi keheranan, sesaat kemudian langsung tersadar dan berlari mencari keberadaan Bu Loli.

__ADS_1


"Bu Loli, ibu ada dimana?" teriak Aldi sambil berlari keluar rumah.


Wusssh.


Makhluk itu sudah ada di depan Aldi dan menghalangi jalan pria itu. Aldi berusaha menatap ke atas untuk melihat wajah makhluk itu yang ternyata sangat tinggi hingga menggapai atap rumah. Sebelum Aldi dapat melihatnya ternyata dari luar sana terdengar suara adzan isya' yang berkumandang. Begitu syahdunya suara muadzin sehingga membuat Aldi terbuai dan melupakan dengan makhluk yang ada di depannya yang tersiksa serta berteriak-teriak sambil menutup telinganya yang panjang.


Tiba-tiba saja makhluk itu hancur menjadi debu-debu hitam yang beterbangan di udara kemudian keluar melalui celah-celah atap genteng rumah. Kebetulan rumah tersebut belum dipasang dek sehingga bisa langsung lolos menuju genteng.


Bersamaan dengan menghilangnya makhluk itu lampu kembali hidup dan televisi kembali mati.


"Ah, Alhamdulillah." Aldi mendesah lega. Dia kemudian ke luar dari rumah dan mencari keberadaan Bu Loli.


"Mana sudah Bu Loli?"


"Hei Nak Aldi!" Dari depan rumahnya Bu Loli berteriak melambaikan tangan sambil menggandeng sang suami.


"Syukurlah kalau Bu Loli sudah kembali," batin Aldi lalu berbalik dan pergi ke sebuah saung yang ada di pinggir pantai. Aldi merasa tidak nyaman sekarang jika harus kembali ke rumah yang diyaki sekarang bahwa rumah tersebut adalah rumah horor. Benar kata Bu Loli tadi mungkar saja keberadaan lorong-lorong itu mengundang makhluk astral yang berseliweran di dalamnya sehingga aura rumah tersebut semakin panas.


Baru saja melangkah untuk mendekati saung, Aldi mendengar suara tangisan wanita yang terdengar pilu dan menyayat hati.


Aldi terdiam sejenak, tidak berani melangkahkan kakinya lagi. Dia tidak mau bertemu dengan makhluk halus lagi sebab dirinya sudah terlalu lelah dipermainkan.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2