Misteri Kampung Pesisir

Misteri Kampung Pesisir
Bab 26. Bukan Lisa


__ADS_3

Tata bangkit dari ranjangnya dan berjalan ke arah kamar Topan dan Aldi barangkali Lisa ada di dalam kamar bersama Topan.


Dengan pelan Tata membuka pintu kamar.


Kreeet.


Bunyi pintu menjadi nyaring karena di tempat itu sangat sepi dan senyap. Hanya ada suara cicak dan deburan ombak yang sesekali terdengar dari arah belakang rumah.


"Tidak ada, kemana perginya Lisa?" tanya Tata pada diri sendiri dengan heran. Gadis itu terdiam sejenak memikirkan sekiranya ada di mana Lisa sekarang.


"Mungkin dia di dapur." Gadis itu tersenyum mengingat kebiasaan Lisa yang memang suka menghabiskan waktunya di dapur. Wanita itu hobi memasak dan ada-ada saja camilan yang Lisa buat saat berkumpul dengan para sahabat.


Tata menutup pintu kamar kembali dan bergegas ke arah dapur. Sebelum sampai ke dapur, ketika dia melewati ruang tengah teringat akan ponselnya yang sudah di charge.


Tata menghentikan langkahnya dan berjalan mendekat ke arah televisi. Membungkuk dan mengambil ponselnya yang terletak di rak televisi bagian bawah.


"Wah sudah full," ucapnya bersorak senang.


Tata langsung melepaskan charger dari ponselnya dan menimang-nimang ponsel itu kemudian membuka akun media sosial dirinya yang sudah hampir tiga hari belum dilihatnya.


"Wah ternyata teman-teman banyak yang nge-tag aku nih," ucap Tata sambil tersenyum sumringah.


"Kangen banget sama teman-teman!" serunya sambil menulis komentar pada postingan teman-temannya.


"Ya ampun mereka menikah tidak bilang-bilang." Tata begitu heboh sendiri.


"Lisa harus diberi tahu ini."


Sambil bermain ponsel ia berjalan menuju dapur untuk mencari keberadaan Lisa di sana.

__ADS_1


Namun, saat langkahnya sampai di depan lorong-lorong kecil menuju pintu dapur dia malah melihat ada ikan segar yang tergeletak di lantai.


"Ya ampun, mungkin ini yang dimaksud Lisa. Bau amis berasal dari ikan ini." Tata membungkuk untuk meraih ikan tersebut.


"Mau diapakan ini? Kayaknya kalau dimasak sop ikan enak nih," ucap Tata sambil tersenyum senang.


Dia membawa ikan itu menuju dapur. Namun, saat sampai ke depan pintu dapur dia tampak diam dan berpikir sejenak.


"Tapi ikan ini kan nggak jelas asalnya darimana. Mana mungkin saya mengolahnya? Tapi kalau dibuang mubasir, kalau dimasak saya takut ada apa-apanya." Tata tampak ragu.


"Dibuang aja deh takut ada racunnya." Tata memutuskan melangkah keluar rumah untuk membuang ikan tersebut.


Sampai di depan rumah dia memutar langkahnya menuju belakang rumah untuk membuang ikan tersebut langsung ke laut. Kebetulan rumah yang ditempatinya membelakangi pantai.


Sampai dibelakang rumah Tata langsung melempar ikan tersebut ke laut. Ikan tersebut tampak digulung ke sana kemari oleh ombak.


"Terserahlah akan kau bawa kemana ikan itu ombak." Tata terkekeh sendiri menyadari dirinya mengajak bicara ombak. Dasar Tata karena sekarang hanya tinggal sendirian malah mengajak benda mati untuk bicara.


"Ngapain Lisa duduk-duduk di sini saat sore seperti ini?" Tata pun baru sadar bahwa hari sudah mulai gelap dan sebentar lagi adzan Maghrib akan dikumandangkan.


"Lis ngapain disitu? Masuk yuk!" teriak Tata.


Tidak ada jawaban, perempuan berbaju putih panjang itu masih fokus menunduk. Memandang kakinya yang ia gerak-gerakkan dalam air.


"Ya ampun Lisa, apa yang dia pikirkan sehingga termenung seperti itu dan sampai tidak mendengarkan teriakan ku." Tata tidak habis pikir dengan Lisa. Dalam hatinya Tata bertanya Lisa punya masalah apa sehingga sampai membuat perempuan yang biasanya ceria itu menjadi pemurung dan penyendiri seperti itu.


"Lis ayo masuk sebentar lagi mau Maghrib!" teriak Tata sekali lagi.


Tetap tidak ada jawaban dari perempuan itu. Jangankan menjawab menoleh pun tidak.

__ADS_1


"Lisa kenapa sih aneh gitu, apa aku punya salah ya sama dia?" gumam Tata sambil berpikir salah apa yang telah dia perbuat hingga Lisa sama sekali tidak mengindahkan panggilan darinya.


"Biarlah, biarkan saja dia memenangkan diri dulu. Nanti setelah masuk ke dalam rumah akan aku tanyakan kenapa." Tata berbalik dan hendak melangkah kembali ke dalam rumah.


Namun, langkahnya tertahan kembali tatkala terdengar suara tangisan dari Lisa. Terpaksa Tata berbalik arah kembali dan berjalan menuju ke arah Lisa.


Tata tidak tega membiarkan sahabatnya itu bersedih. Dalam hati berpikir pasti masalah Lisa sangat berat sehingga perempuan itu sampai menangis. Yang Tata tahu Lisa sahabatnya itu adalah orang yang tegar dan tidak mudah menyerah apalagi sampai menangis.


"Lis kalau ada apa-apa ceritakan padaku, jangan dipendam sendiri," ucap Tata sambil terus melangkah mendekat.


"Pasti masalahmu berat ya Lis hingga kamu sampai sesenggukan seperti ini." Tata duduk di samping Lisa yang masih saja menunduk. Rambut panjangnya terurai menutupi wajahnya sehingga tidak terlihat raut wajahnya. Hanya suara tangisannya yang terdengar pilu dan menyayat hati.


"Lis, kamu yang sabar ya. Setiap masalah pasti ada cara untuk menyelesaikannya. Kau bercerita lah padaku barangkali aku bisa membantumu," ucap Tata sambil mengusap punggung Lisa untuk menyalurkan ketenangan.


Wanita itu mengangguk membuat Tata bisa bernafas lega karena Lisa sudah mau menjawab pertanyaannya walaupun hanya menggunakan gerakan tubuh.


"Tumben rambutmu diurai seperti ini, biasanya kan di cepol ke atas?" tanya Tata sambil membelai rambut Lisa agar rambutnya tidak menutupi wajahnya lagi.


Namun, tiba-tiba saja Tata kaget karena saat wajah wanita di sampingnya bisa terlihat dengan jelas, itu bukan Lisa melainkan seorang wanita dengan wajah pucat dan bibir yang hitam. Perempuan itu melirik Tata dengan tatapan marah karena telah mengganggu kesenangan dirinya.


Melihat lingkaran mata wanita itu yang hitam pikiran Tata sudah tidak karuan. Tata ketakutan apalagi saat beralih menatap perut wanita itu yang bolong.


Tata segera bangkit berdiri, setelahnya berlari dan berteriak-teriak. "Tolong ada sundel bolong!!!"


Brak.


Tata terjatuh membentur tanah dengan posisi tengkurap.


"Ih, ih, ih ih ih...." Wanita itu tertawa kencang, bahagia melihat Tata malah terjatuh.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2