Misteri Kampung Pesisir

Misteri Kampung Pesisir
Bab 65. Satu Selamat Satu Meninggal


__ADS_3

"Apa? Kenapa bisa? Apa mereka mempunyai kesaktian?" tanya seorang warga heran.


"Bukan memiliki kesaktian, tapi dia angkat oleh kuntilanak," jawab warga yang memberikan kabar buruk itu dengan tubuh yang gemetaran.


"Apa?" Warga tampak kaget kembali.


"Kemana kuntilanak itu membawa putri-putri Pak Langsa?" tanya warga lagi.


"Ke ... arah sana," tunjuk orang tadi ke arah belakang dirinya berdiri.


"Ayo kita kejar!" ajak warga yang lain dan disambut oleh yang lainnya.


"Ayo!"


"Ayo."


"Ayo."


Semua orang langsung berlarian mengejar kuntilanak itu untuk menyelamatkan kedua putri Pak Langsa.


"Pan?" tanya Aldi seolah menanyakan apakah Topan bersedia jika dirinya mengajak untuk ikut melakukan pengejaran.


"Jangan Al, aku lelah jika harus kembali berlari-larian lagi." Efek racun di tubuh Topan belum seutuhnya hilang membuat tubuhnya masih terasa lemas padahal dia sebenarnya suka jika diajak mengejar hantu.

__ADS_1


Aldi menoleh ke arah Tata.


"Adu kakiku masih sakit, rasanya aku masih akan susah berjalan," rengek Tata, mengantisipasi kalau-kalau Aldi akan mengajak dirinya lagi. Dia memijit-mijit betis dan kakinya sambil meringis kesakitan.


"Siapa yang mau mengajak kamu? Yang ada bukan ngejar hantu dan menyelamatkan anak Bu Langsa, tapi malah main gendong-gendongan," protes Aldi yang paham apa yang ada di otak Tata saat ini.


Putri hanya tersenyum melihat akting Tata yang ketahuan oleh Aldi.


Butuh Putri ikut juga nggak?" tanya Putri menawarkan diri.


"Nggak usah deh Put mending kamu di sini saja takutnya dibutuhkan dan kalau ikut, Kak Aldi khawatir akan terjadi sesuatu denganmu," tolak Aldi tidak ingin malah Putri yang ditawan oleh makhluk itu karena marah orang kampung melakukan perlawanan. Aldi tahu kuntilanak itu menculik kedua Putri dari Pak Langsa sebagai ajang balas dendam.


"Seorang wanita tidak bagus terlibat dalam misi penyelamatan akan sangat merepotkan nantinya," sambung Tata menggoda Putri dan Putri tampak cemberut mendengar ucapan Tata yang mengatakan wanita itu merepotkan padahal Putri sudah sedari kecil ditanamkan sikap mandiri dan tidak suka merepotkan orang lain.


"Tidak Pak mumpung Aldi berada di kampung ini dan Aldi sehat-sehat mau ikut saja."


"Baiklah kalau begitu pergilah dan hati-hati," nasehat Pak Amir.


"Iya Pak kalau begitu Aldi pamit pergi." Semua orang mengangguk dan Aldi langsung bergegas keluar rumah serta berlari mengejar warga yang lainnya.


"Bagaimana Pak, dibawa ke mana anak Pak Langsa?" tanya Aldi saat melihat para warga sedang berlari-lari menjauh darinya.


"Itu dia di depan, sepertinya dibawa ke lahan pekuburan."

__ADS_1


"Ke kuburan lagi," batin Aldi. Namun, apa boleh buat yang membawa kedua anak Pak Langsa itu kan kuntilanak, mana mungkin di bawah mall.


Aldi berlari dan berlari terus, ketika melihat kuntilanak itu melayang-layang di udara Aldi terus mengejarnya hingga langkah Aldi dan semua warga berada di atas pekuburan kuntilanak itu sendiri.


Kuntilanak itu diam di atas dengan kedua tangan yang mencengkram bahu kedua Putri Pak Langsa. Sepertinya kuntilanak itu enggan untuk turun ke bawah dan membawa kedua gadis yang diculiknya itu untuk masuk ke dalam kuburan miliknya.


Semua orang tampak mengambil batu lalu melempar ke atas ke arah kuntilanak tersebut. Ada satu batu besar yang mengenai kepala kuntilanak tersebut sehingga kuntilanak itu tampak oleng dan menjatuhkan salah satu anak Pak Langsa. Warga yang berada di bawah dengan sigap langsung menangkap salah satu Putri Pak Langsa yang telah dijatuhkan tersebut dan membawanya lari dan pulang ke rumah.


"Kurang ajar kalian ya akan kubunuh semuanya," kecam kuntilanak itu melihat warga malah menyelamatkan anak dari orang yang sudah dianggap musuhnya itu.


"Cepat bawa kabur cepat!" perintah Aldi kepada orang yang tengah menggendong Putri Pak Langsa dan warga itu langsung berlari secepat kilat hingga akhirnya berhasil sampai ke depan rumah Pak Langsa yang kini juga sudah dipenuhi banyak warga.


Melihat warga yang ada di bawahnya banyak sekali kuntilanak itu memutuskan untuk tidak membawa putri Pak Langsa yang yang masih berada dalam genggaman ke dalam kuburannya. Namun, malah mencekik putri Pak Langsa itu di udara hingga anak itu menjerit kesakitan. Semua warga ikut menjerit-jerit dan terlihat gusar. Suasana menjadi mencekam dan menegangkan.


Putri bungsu Pak Langsa itu akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya lalu dijatuhkan oleh kuntilanak tersebut di atas kuburannya sendiri. Semua warga meneteskan air mata melihat kejadian yang sangat memilukan terpampang di depan mata mereka sedangkan mereka tidak bisa berbuat apa-apa.


"Rasain kalian! Kalau berani padaku kalian juga akan bernasib sama seperti anak ini! Hi hi hihihi." kuntilanak itu tertawa kencang di udara sesaat kemudian menggeliatkan tubuhnya langsung menghilang begitu saja.


"Kemana dia? tanya warga, bertanya-tanya arah hilangnya kuntilanak tersebut. Semua warga menjawab dengan gelengan kepala karena tidak tahu kuntilanak itu menghilang ke arah mana.


"Sudahlah kita kita pulang saja dan bawa Putri Pak Langsa ini ke rumahnya untuk dikuburkan bersama sang ibu," ujar Aldi meminta warga kembali ke rumah Pak Langsa atau kembali ke rumah mereka masing-masing karena kehadiran mereka semua di lahan kuburan saat ini tidak berguna apa-apa.


Sebagian orang mengangguk dan berbalik dengan posisi wajah yang menunduk karena sedih beberapa orang lainnya langsung mengangkat tubuh jasad Putri Pak Langsa untuk dibawa ke rumahnya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2