
Sementara di tempat lain Aldi dan Topan berlari-lari mengejar pemilik pabrik petis yang keluar dari rumahnya dengan tergesa-gesa.
Saat sampai ke depan pabrik dan melirik ke sana kemari dan ternyata keadaan sepi dan tidak melihat satu orang pun, saat itu pulalah pemilik pabrik petis itu langsung berlari sekuat tenaga menuju lahan pemakaman. Aldi dan topan terpaksa juga harus berlari agar menyamakan langkah mereka sehingga tidak kehilangan jejak.
"Dia lari ke sana Pan ayo kejar!" Dua orang yang kadang mirip Tom and Jerry itu kini benar-benar bekerjasama agar target tidak hilang.
"Oke ayo." Mereka segera menambah kecepatan larinya tatkala hampir saja kehilangan jejak.
Lama berlari akhirnya mereka kini sampai ke tempat Putri dan Tata tadi. Ternyata di sana tidak hanya dirinya berdua yang mengintip tetapi, Pak Hasan dan Pak Amir juga ada di sana.
"Siapa mereka?" tanya Aldi pada dua orang yang sudah terlebih dahulu duduk berhadap-hadapan sebelum akhirnya pemilik petis itupun nimbrung bersama mereka.
"Dia adalah Pak Bakri ketua RT sekaligus pemilik rumah yang kau tempati itu," jawan Pak Amir akan pertanyaan Aldi.
"Apa yang mereka lakukan Pak?" tanya Topan sambil membenahi kameranya agar gambar yang diambil tepat pada sasaran dan suaranya terdengar lebih jernih.
"Pak Bakri meminta tolong pada makhluk di depannya agar jangan sampai warga mencurigai kelakuannya saat ini lebih lanjut. Sepertinya Pak Bakri sudah mendengar desas-desus diantara warga yang menuduh dirinya melakukan pesugihan."
"Dan itu benar Pak?" tanya Aldi penasaran.
"Iya benar, mendengar pembicaraan dari mereka tadi pak Bakri secara tidak sadar telah membuka kedoknya kepada kita semua bahwa dirinya memang benar melakukan pesugihan," jawab Pak Amir.
"Benar berarti dugaan Tata selama ini," ujar Aldi.
__ADS_1
"Dugaan apa?" tanya Topan.
"Pak Bakri melakukan pesugihan."
"Kok dia bisa tahu?" tanya Topan lagi.
"Saat pertama kali menginjakkan kaki di kampung ini aku dan Tata kan terlebih dahulu sampai di rumah besarnya itu. Kau tahu sendiri kan sebab kau dan Lisa saat itu ada di sana."
Topan mengangguk.
"Kau tahu kenapa Tata muntah?"
"Mana aku tahu," jawab Topan enteng sementara kamera tetep stanby mengambil gambar dan suara dari arah depan. Tentu saja pembicaraan Aldi dan semua orang ditempat itu sedari tadi hanya berbisik-bisik saja sebab kalau tidak suara mereka sendirilah yang akan masuk ke dalam video tersebut.
"Sorry bukan maksudku menyindirmu, tetapi itulah kenyataannya. Tata muntah-muntah sebab melihat apa yang kamu dan Lisa makan," jelas Aldi. Sementara mereka berdua berbicara Pak Hasan dan Pak Amir masih fokus memperhatikan ketiga orang yang ada di depannya saat ini.
"Memang apa yang aku dan Lisa makan? Orang kami cuma makan nasi dan lauk pauk yang berasal dari laut," ujar Topan heran mengapa bisa sampai membuat Tata muntah-muntah.
"Itu menurut penglihatanmu dan Lisa dan sebenarnya juga aku. Penglihatanku sama seperti kalian semua, makanan itu adalah makanan yang enak-enak dan bahkan air liurku menetes sebab sudah begitu tergoda untuk mencicipinya apalagi jujur saat itu perutku dalam keadaan lapar. Namun, berbeda dengan Tata dia melihatnya sebagai hewan-hewan menjijikkan, belatung, cacing, kecoa yang sudah mati dan beberapa hewan menjijikkan lainnnya dan kalian malah menikmatinya dengan begitu lahapnya. Apakah kamu juga tidak akan muntah jika melihat orang lain makan begituan? Itulah mengapa Tata waktu itu segera mengajakku keluar dari ruang makan."
"Ih jijik banget sih Al, kenapa baru sekarang ngomongnya."
Topan terlihat mual-mual dan ingin muntah. Namun, sebelum semua itu terjadi Pak Hasan memperingatkan.
__ADS_1
"Tahan jangan muntah atau kalau tidak kita bakal ketahuan!"
Aldi terkekeh melihat bagaimana caranya Topan menahan diri untuk tidak muntah.
"Dan satu lagi di rumah itu ada nenek yang aneh. Dia terlihat menyapu daun yang seakan tidak pernah usai dan kamu tahu anehnya apalagi?"
"Apa?" tanya Topan penasaran.
"Daun-daun itu bukan di buang atau dibakar melainkan dimasukkan ke wadah tertentu dan Tata tebak daun itu pasti akan berubah menjadi uang," jelas Aldi lagi.
"Iyakah wadah apa yang dipakai untuk memasukkan daun-daun itu?" Topan tambah penasaran.
"Keranjang pakaian." Jawaban singkat Aldi sontak membuat Topan langsung terperangah.
"Kenapa Nak Topan berekspresi seperti itu?" tanya Pak Amir heran.
"Aku dan Lisa pernah beberapa kali melihat Pak Bakri mengeluarkan segopok uang dari dalam keranjang pakaian dan kami sama sekali tidak merasa curiga sebab menyangka Pak Bakri memang meletakkan uangnya di sana agar muda apabila mau membayar para nelayan yang bekerja padanya.
"Hei siapa itu!" Sepertinya suara mereka kedengaran dari tempat Pak Bakri duduk.
"Waspada kita ketahuan!" perintah Pak Amir. Semua orang langsung gelagapan.
"Jangan ada pergerakan diri dan tenanglah agar mereka tidak melihat posisi kita," saran Pak Hasan dijawab anggukan oleh semua orang
__ADS_1
Bersambung.