Misteri Kampung Pesisir

Misteri Kampung Pesisir
Bab 38. Mengintai


__ADS_3

"Tega sekali pria itu. Semoga kuburan dari saudara-saudaraku tidak ada yang sampai dibongkar seperti itu oleh orang yang tidak bertanggung jawab."


Aldi menutup mulutnya dan segera keluar dari gubuk tersebut tatkala melihat pria tadi datang dengan membawa parang dan masuk kembali ke dalam gubuk di tengah ladang itu dengan parang di tangannya. Aldi terlihat ketakutan. Namun rasa takutnya itu juga bercampur rasa penasaran sehingga tubuhnya seakan menolak untuk kabur dari tempat itu.


Aldi bersembunyi di balik bilik itu. Namun, saat melihat tangan pria itu terulur ke atas dan memutar bohlam di atasnya segera Aldi menghindar takut cahaya yang dikeluarkan oleh lampu itu membuat bayangan akan dirinya.


Aldi berjalan dengan cara merayap di tanah seperti kadal agar tidak kelihatan sebab kalau sampai ketahuan nyawanya akan terancam bahaya. Melihat parang saja di tangan pria tadi dia sudah meringis apalagi kalau sampai membayangkan leher atau kepalanya ditebas. Aldi tidak mampu membayangkan itu semua.


Kini Aldi hanya bisa mengawasi dari depan gubuk tersebut, dimana jaraknya agak jauh sehingga tidak begitu jelas terlihat. Pria itu terlihat beberapa kali menghujam janin yang sekarang ada di atas sebuah tempat tidur yang terbuat dari batang bambu, beberapa kali terlihat mencincang-cincang seperti halnya orang yang mencincang daging sapi ataupun kambing.


"Pria yang aneh apakah dia seorang kanibal?" gumam Aldi pada dirinya sendiri. Matanya tidak lepas memandang ke arah gubuk tanpa berkedip seolah Aldi tidak ingin melewatkan apapun yang diperbuat oleh pria aneh itu.


Beberapa saat kemudian terlihat pria itu menarik sebuah bak berukuran sedang dari bawah tempat tidur yang terbuat dari bambu itu. Tidak begitu lama pria itu memasukkan sesuatu ke dalam bak tersebut. Meskipun tidak bisa melihat dengan jelas. Namun, Aldi paham bahwa sesuatu yang dimasukkan itu adalah daging janin yang telah dicincang nya tadi.


Setelah selesai dengan pekerjaannya pria itu keluar dengan mendekap bak di pinggangnya dan membawanya keluar dari dalam gubuk tersebut. Pria itu meletakkan bak tadi di tanah untuk sementara lalu mengunci pintu gubuk itu sebelum akhirnya meninggalkan tempat.


Setelah pria itu jauh melangkah, Aldi baru keluar dari persembunyiannya dan langsung berlari mengejar. Rasa penasarannya masih sangat tinggi untuk mengetahui apa yang akan dilakukan pria tersebut selanjutnya. Sepertinya dia tidak mengingat akan Tata yang hilang lagi sebab menyelidiki orang ini sepertinya lebih menarik daripada mencari sahabatnya, Tata.


Dasar Aldi.

__ADS_1


Jauh melangkah akhirnya Aldi melihat pria itu masuk ke sebuah bangunan yang modelnya seperti gudang.


"Ini rumah apa gudang sih?" Aldi menggaruk kepalanya bingung. Namun, Aldi berpikir kalau bangunan ini memang adalah rumah dari pria itu berarti pria tersebut tidak akan pernah keluar lagi.


Aldi menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya dari dalam bangunan tersebut.


"Ah, aku tidak boleh hanya berdiri saja di luar sini. Bisa mati penasaran kalau aku tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh pria itu di dalam." Aldi tampak menggaruk-garuk dahinya, dia berpikir keras agar bisa mengetahui apa yang dilakukan pria tersebut tanpa harus diketahui oleh orang itu.


Tiba-tiba terlihat di mata Aldi sebuah tangga yang juga terbuat dari bambu tergeletak di samping bangunan tersebut. Muncul ide dalam otaknya tatkala dia melihat ada ventilasi kecil di sana.


Aldi berjalan dengan mengendap-endap, sebisa mungkin jangan sampai suara derap langkahnya terdengar bahkan oleh semut sekalipun.


Dengan pelan-pelan Aldi meraih tangga tersebut dan menggesernya agar berada di dekat ventilasi bangunan itu. Setelah memastikan tangga itu tidak bergerak segera Aldi naik ke atas. Menapaki satu demi satu anak tangga dari bambu itu dan segera mengulurkan kepalanya di samping ventilasi yang terbuka sedikit.


Tampak laki-laki tadi bergerak gelisah di dalam ruangan itu. Dia berjalan mondar-mandir tak tentu arah.


"Apa yang sebenarnya ingin pria itu lakukan?" Rasanya sangat bosan menunggu terlalu lama di atas tangga sana.


"Apa dia mengetahui keberadaan diriku di tempat ini? Makanya dia mengulur-ngulur waktu?" Aldi mulai gelisah takut-takut keberadaannya di tempat itu sudah diketahui. Dia menjadi ketar-ketir sendiri.

__ADS_1


"Tapi tidak, bukankah dia tidak pernah menoleh ke arah sini sekalipun?" Berperang dengan perasaan sendiri memang tidak mudah. Di satu sisi Aldi ingin menyerah saja dan segera pergi dari tempat itu karena takut ketahuan. Di sisi lainnya rasa penasaran tidak pernah sedikitpun surut dari dirinya sedari tadi.


Aldi masih saja bertahan di tempatnya. Toh pria tadi tidak ada tanda-tanda untuk menyerangnya? Berarti posisi dirinya aman dan feeling-nya tadi tidak terbukti sama sekali, bukan?


Rasa bosan dia singkirkan, dia harus belajar banyak bersabar sekarang kalau ingin mendapatkan jawaban dari rasa penasarannya itu. Bukankah dirinya belum tentu mendapatkan kesempatan kedua yang mungkin saja orang-orang kampung tidak pernah mengetahui akan hal ini?


Tampak pria itu menoleh ke sana kemari. Aldi langsung menyembunyikan kepalanya di belakang tembok agar tidak terlihat oleh pria tersebut.


Tampak pria itu mengambil sesuatu dari rak. Aldi melebarkan matanya agar bisa melihat apa yang diambil oleh pria tersebut. Ternyata yang dipegang oleh pria itu adalah sebuah blender berukuran besar. Aldi tidak tahu benda itu namanya apa, tapi dari tebakannya itu adalah alat untuk menghaluskan makanya Aldi menganggap itu adalah blender. Pria itu menaruh blender-nya di atas sebuah meja dan beralih mencuci daging-daging dalam bak sampai darahnya hilang.


Aldi menganga dan langsung menutup mulutnya sendiri. Kalau dugaannya tidak salah pria itu pasti akan memblender daging-daging dari janin tersebut dan dugaan Aldi ternyata memang benar. Pria itu memasukkan daging-daging dalam bak yang dibawanya tadi ke dalam blender, setelah memasukkan air langsung memutar tombol on di blender tersebut sehingga ruangan yang tadinya sepi sekarang terdengar berisik oleh suara mesin blender itu.


Kesabaran membuahkan hasil akhirnya Aldi mengetahui bahwa daging manusia yang sudah halus itu dimasukkan ke dalam drum berukuran besar yang terbuat dari plastik.


Aldi menilik ada 10 buah drum plastik di sana dan masing-masing drum hanya diberikan satu genggam saja dari hasil blenderan daging tersebut. Kalau penglihatan Aldi tidak salah dalam drum plastik tersebut sudah berisi cairan yang Aldi sendiri tidak tahu cairan apa itu, hanya warnanya saja yang terlihat berwarna cokelat di mata Aldi.


Setelah selesai pria itu memasukkan sisa daging yang belum terpakai ke dalam sebuah toples dan dirinya langsung menutup semua drum-drum plastik tersebut.


Setelah semuanya beres pria itu langsung mencuci bak dan blender yang tadi dipakainya sambil mennolah-noleh ke berbagai arah.

__ADS_1


Meyakini pekerjaan pria itu sudah selesai Aldi langsung bergegas turun dari atas tangga. Agar tidak ketahuan setelah sampai dibawah dia segera berlari pergi dari tempat tersebut.


Bersambung.


__ADS_2