Misteri Kampung Pesisir

Misteri Kampung Pesisir
Bab 54. Hampir Salah Paham


__ADS_3

"Apa!" Tata dan Putri kaget serempak.


"Udah biasa kali Put kenapa kamu malah ikutan kaget?" protes Aldi.


"Aku heran aja Al, kan selama ini makhluk gaib yang menghuni rumah itu hanya suka mengganggu kita. Yang ini malah bantuin kamu nyuci baju, enak dong kalau begitu kita nggak nggak usah kerja sendiri kalau perlu suruh dia masak sekalian."


"Tata! Kalau begitu ayo kamu kembali ke rumah, ngapain kamu di sini? Kan di sana enak sudah ada yang nyuciin baju dan mungkin saja bisa masakin kita makanan yang enak-enak. Mau kamu makan darah atau belatung kayak kemarin-kemarin? sepertinya mantap tuh," kelakar Aldi.


"Hehehe ... nggak, aku tetap mau tinggal di sini selama diperbolehkan oleh Putri dan kedua orang tuanya, biar kamu aja yang tinggal di sana sendirian. Aku mau tahu sejauh apa rasa berani mu sekarang ini. Aku lihat Sepertinya kamu sudah ada peningkatan sejak memasuki desa ini, yang biasanya penakut dan keringat dingin keluar ketika melihat hal aneh. Namun, sekarang kenapa jadi santai-santai saja ketika melihat hal ini ada di depan mata?"


"Ya mau gimana lagi? Masa harus teriak-teriak kayak dulu," ujar Aldi sambil mengangkat kedua bahunya.


"Oh ya Ta, Put sebenarnya yang ingin aku ceritakan bukan masalah bajuku yang sudah ada yang mencuci tapi masalah isi tulisan yang ada di kertas ini." Aldi kembali ke topik pembicaraan.


"Apa ini sebenarnya sih Al?" tanya Tata sambil meraih kertas yang Aldi letakkan di atas meja makan.


"Sepertinya ini jalan supaya kita semua bisa menguak misteri yang ada di desa ini," ucap Tata menyimpulkan isi tulisan itu.


"Ya sepertinya begitu. Namun, kita tidak bisa hanya bergerak bertiga, ini harus melibatkan para orang tua," ujar Aldi.


Putri tidak mengerti apa yang mereka berdua maksudkan. "Coba lihat Mbak."


Tata menyodorkan kertas bertuliskan pena merah itu kehadapan Putri dan Putri langsung membacanya.


"Sebaiknya kita sampaikan masalah ini kepada ayah saja," usul Putri dijawab anggukan kepala dari Tata maupun Aldi.

__ADS_1


"Memang sepertinya yang menyelidiki semua ini adalah para orang dewasa, lebih baik kita tidak usah ikut campur saja. Kita cukup memberitahukan kejadian yang dialami dirimu di rumah tersebut dan memberikan kertas ini kepada Paman Hasan atau ayahnya dek Putri."


"Putri mau ikut nggak Put?"


"Ikut dong Kak."


"Tuh Putri aja yang lebih kecil darimu berani ikut masa kamu enggak?"


"Baiklah Tata akan ikut juga, tapi kalau ada sesuatu yang terjadi dengan diriku kamu yang harus bertanggung jawab," ancam Tata.


Aldi hanya menelan ludah mendengar perkataan Tata. Namun, pria itu masih menginginkan Tata untuk ikut barangkali kehadiran wanita itu di sisinya nanti akan berguna. Entah berguna untuk apa Aldi pun tidak mengerti.


Selain ayahmu apa kira-kira ada bapak-bapak lain yang bisa membantu misi kita ya Put?" Aldi menanyakan hal itu pada Putri karena yakin Putri sudah tahu dengan sikap dan kemampuan bapak-bapak yang ada di kampung itu. Jangan sampai mereka salah memilih orang untuk membantu membongkar masalah tersebut sebab semuanya bisa kacau.


"Hmm, siapa ya Kak yang bisa dipercaya?" Putri tampak berpikir. "Sepertinya hanya Pak Amir lah yang bisa diandalkan dan diajak kerjasama."


"Iya Kak nanti Putri juga akan menyampaikan tentang hal ini pada ayah."


"Baik terima kasih Put. Uway." Aldi tampak menguap beberapa kali, sepertinya dia benar-benar mengantuk sekarang.


"Kak Aldi pasti sudah sangat mengantuk. Tidur saja ya Kak." Putri langsung bergegas mengambil kasur lantai dan menyeretnya sampai di depan televisi.


"Kak Aldi bisa tidur di sini." Putri menepuk kasur yang sudah dilengkapi dengan bantal.


"Wah terima kasih Put kamu memang gercep no lelet," ujar Aldi lalu berjalan ke depan televisi dan langsung membaringkan tubuhnya. Tidak menunggu lama Aldi pun langsung tertidur dengan lelapnya.

__ADS_1


"Mbak Tata kalau mau istirahat juga ayo Putri antar ke kamar!"


Tata mengangguk dan mengikuti langkah Putri menuju kamarnya. setelah dipersilahkan untuk beristirahat, Tata langsung naik ke atas ranjang dan merebahkan tubuhnya lalu tidur dengan nyenyak seperti Aldi.


***


"Dia tidur di sini? Kalian berdua saja di dalam rumah? Oh Tuhan apa yang telah terjadi?" Bu Hasan terlihat syok saat melihat Aldi tidur di depan televisi. Pikirannya terlalu buruk hingga menyangka telah terjadi sesuatu dengan Aldi dan Putri di rumah ini.


"Apa sih Bu, kayak mau kejang-kejang melihat Kak Aldi di sini. Dia itu manusia bukan hantu," protes Putri.


"Iya aku tahu dia memang manusia, tetapi yang ibu tidak tahu apa yang telah terjadi dengan kalian yang hanya tinggal berdua di rumah ini?" Bu Hasan hampir saja mengeluarkan air mata karena berpikir Aldi telah melakukan sesuatu pada putrinya apalagi saat melihat tubuh Aldi memakai pakaian Pak Hasan.


Putri tidak tahu apa yang dipikirkan ibunya saat ini. Yang dia tahu ibunya sekarang sedang su'udzon terhadap dirinya dan Aldi. Tidak ingin terjadi salah paham Putri lalu menarik tangan ibunya menuju kamar dan menunjukkan Tata yang sedang tidur di sana."


"Tuh ada Mbak Tata juga, jadi di rumah Putri tidak hanya berduaan dengan Kak Aldi. Gini-gini Putri itu penurut loh Bu tidak pernah melanggar aturan yang sudah ditetapkan ayah dan ibu bahwa tidak boleh memasukkan seorang pria ke dalam rumah tanpa ada siapapun di dalam rumah," jelas Putri membuat Bu Hasan langsung mengeles dada dan bernafas lega.


"Gimana ibu masih berpikiran buruk sama Putri, padahal Putri ini anak ibu kenapa tidak percayaan sih sama Putri kalau Putri melakukan hal yang dilarang ibu."


"Iya Put maaf ya ibu telah berpikiran buruk terhadap kamu. Kamu memang anak ibu yang paling baik dan penurut," puji Bu Hasan sambil mengelus kepala putrinya yang tertutup hijab.


"Hhh, ibu nih musti kalau sudah salah memuji Putri coba kalau nggak, mana mungkin Putri dipuji?" Putri terlihat cemberut.


"Aih marah nih anak ibu padahal setiap saat ibu selalu memuji kamu, tapi bukan di dekat kamu melainkan di depan orang lain soalnya kalau dipuji di depan kamu takutnya telingamu mengembang sehingga lebar kayak gajah."


"Ibu!"

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2