
Mendengar tangisan pilu dari ibunya Aldo siapapun merasa tidak tega. Ditinggalkan sang suami sewaktu anak-anaknya masih kecil sudah sangat berat apalagi sekarang harus ditambah lagi dengan putranya yang selama ini begitu berbakti kepadanya harus hilang di tengah laut. Kalau saja hilang di hutan mungkin hanya tersesat saja. Bisa tidur dengan enteng hanya perlu mewaspadai hewan buas saja.
Namun, jika hilang di laut akan semakin sulit untuk bertahan mengingat pergerakannya terbatas. Pintar berenang pun tidak selamanya akan bertahan jika tidak segera ditemukan. Ada masanya tubuh akan kelelahan dan tidak mampu bertahan.
Semua orang yang baru datang dari laut itupun menyelesaikan makanannya dengan terburu-buru. Setelah selesai mereka langsung pula ke rumah masing-masing untuk mengganti pakaian. Meskipun istri-istri mereka mengkhawatirkan keadaan mereka yang harus melaut lagi kali ini perasaan istri mereka harus diabaikan demi keselamatan rekan kerja yang sekarang mungkin saja berada dalam bahaya.
"Baiklah semoga kembali dengan selamat." Begitulah istri-istri mereka. Pasrah dan selalu menyertai kepergian sang suami dengan doa. Melarang pun dia tidak tega terhadap keluarga Aldo dan rasa peduli memang saling melekat diantara penduduk kampung Kenanga tersebut. Kampung yang sepanjang dusun-dusunnya ada pantainya dan mayoritas masyarakatnya hidup dari hasil melaut.
Dengan sigap nelayan dalam perahu besar maupun kecil berangkat menyusul perahu lainnya yang sudah berangkat terlebih dahulu.
Ibu Aldi tampak pingsan dan sang adik yang sedari tadi hanya diam melihat ibunya menangis kini malah menangis histeris melihat sang ibu tidak sadarkan diri.
"Tidak apa-apa Nak, ibumu tidak apa-apa. Dia hanya pingsan saja dan sebenar lagi pasti akan sadar kembali." Seorang ibu-ibu nampak mengelus pundak adik Aldo untuk menenangkan gadis itu.
"Tapi Abang bagaimana Bu?" Anak itu jadi ingat Aldo yang dari tadi menjadi buah pembicaraan orang-orang sebab sampai membuat sang ibu pingsan.
"Insyallah nanti bakal ditemukan. Tuh lihat sendiri kan orang-orangnya banyak yang sudah mencari Abangmu. Masa' dari banyaknya orang-orang itu tidak ada yang menemukan Abangmu? Ya pasti ada lah," seorang ibu masih tampak membujuk gadis kecil itu.
"Iya Bu." Gadis itu tampak mengangguk dengan bola mata yang berkaca.
"Sekarang kamu tenang ya, biar ibu kamu bisa tenang juga. Ibu kamu itu pingsan karena melihat orang-orang tadi pada panik." Gadis itu mengangguk lagi.
"Tata ini makanan untukmu dan ini bayaranmu. Terima kasih ya telah berkenan membantu ibu."
"Ibu memberikan saya uang?" Tata membelalakkan mata tatkala melihat ibu tersebut benar-benar menaruh uang di tangan Tata.
"Iya, itu bayaran kamu. Terima ya meskipun tidak seberapa."
"Ibu apa-apaan sih? Bayaran? Bayaran apa?" tanya Tata tidak mengerti.
"Tadi telah membantu ibu memilah ikan," jelas ibu itu.
"Oh yang tadi? Tidak usah lah Bu, saya kan ikhlas bantu ibu jadi tidak perlu dibayar," tolak Tata dengan halus.
__ADS_1
"Jangan ditolak! Kalau sampai ditolak ibu tidak akan meminta bantuanmu lagi," ancam ibu tersebut.
"Baiklah kalau ibu memaksa akan saya terima dan terima kasih ya Bu," ucap Tata pada ibu tersenyum.
"Sama-sama dan itu nasinya jangan lupa dimakan takutnya sampai basi." Setelah mengatakan itu ibu itu pergi lagi.
"Iya Bu, terima kasih."
"Adik mau makan?" Tata menawarkan nasi bungkus itu pada adik Aldo. Gadis kecil itu tampak menggeleng lemah.
"Ayo dong makan biar kuat jagain ibu," bujuk Tata.
Gadis kecil itu tetap menggeleng.
"Kenapa?" tanya Tata lembut sambil mengelus rambut anak tersebut.
"Kenyang, sudah makan tadi."
"Oke baiklah kalau sudah kenyang nasi ini kakak bawa pulang saja dan uang ini buat adik, tidak boleh menolak," ujar Tata sambil mengulurkan uang pemberian ibu tadi pada gadis kecil yang duduk sambil memeluk betisnya itu.
"Sama-sama adik cantik."
Gadis itu tersenyum lagi. "Kakak juga cantik," ucapnya.
"Terima kasih atas pujiannya," ucap Tata dan gadis itu mengangguk lagi.
"Jadi berarti kerja saya yang hanya ingin membantu tadi dibayar ya?" tanya Tata pada Bu Loli, merasa heran karena dirinya hanya membantu sebentar.
"Iya di sini kalau membantu seseorang dalam bekerja apapun kalau sudah mencapai satu jam harus dibayar," jelas Bu Loli.
"Harus ya? Meskipun orang yang menolong ikhlas?"
"Iya sebab kalau tidak dibayar katanya akan mengalami kesialan," terang ibu tersebut.
__ADS_1
"Wah sampai sebegitunya?" tanya Tata tidak percaya.
"Iya itu menurut aturan di desa kami. Katanya sih peraturan itu sudah turun-temurun sehingga tidak boleh dibantah," jelas Bu Loli.
"Maaf ya Bu bukannya saya bermaksud menilai desa ini buruk, tetapi sejauh yang saya temui peraturan di desa ini menurut saya aneh," ucap Tata dengan hati-hati.
"Apanya yang aneh?"
"Begini loh Bu, saat kami masuk ke daerah ini kendaraan kami ditahan di pintu gapura katanya tidak boleh ada kendaraan yang masuk ke tempat ini."
"Oh itu? Iya sih memang aneh. Saya saja kaget saat baru pindah ke desa ini tetapi lama-kelamaan menjadi biasa dan tidak kaget lagi sebab itu terjadi karena ada sebab. Ada ceritanya dahulu."
Tata hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Bu Loli.
"Jadi Bu Loli bukan penduduk lokal di sini?"
"Bukan, saya hanya pendatang di sini. Tinggal di desa ini ikut suami saja."
"Dan Bu Loli betah?"
"Iya betah lah, namanya juga ikut suami."
Tata mengangguk.
"Ngomong-ngomong mengenai kendaraan bermotor yang tidak boleh masuk desa dulu ada ceritanya."
"Boleh dong Bu, ceritakan biar Tata tidak penasaran dan tidak menganggap aneh lagi semua itu."
"Baiklah. Sebenarnya saat kendaraan bermotor mulai masuk ke desa ini terjadi kesenjangan antara si kaya dan si miskin. Mereka yang mampu membeli motor mengejek yang tidak mampu untuk membeli sehingga konflik tersebut sampai mengakibatkan pertumpahan darah." Bu Loli menjeda ucapannya sedangkan Tata terhenyak kaget mendengar hal sepele malah berujung kematian. Terlalu dramatis desa ini menurut Tata.
Banyaknya yang meninggal karena berkelahi menyebabkan banyak roh-roh yang bergentayangan di jalan-jalan desa ini sehingga membuat banyak kecelakaan. Mereka yang meninggal seolah tidak sudi kami yang masih hidup mengendarai kendaraan bermotor sehingga selalu menghantui setiap pengendara bermotor. Oleh sebab itu ketua adat di sini memutuskan untuk tidak memperbolehkan semua orang untuk membawa motor masuk ke dalam desa ini. Pernah ada yang melanggar tetapi orang itu malah menabrak pohon besar dan langsung mati di tempat."
Tata paham sekaligus bergidik ngeri mendengar cerita Bu Loli. Pantas saja di sepanjang jalan dirinya dan Aldi banyak menemukan makhluk-makhluk aneh.
__ADS_1
Bersambung.