
"Itu ... itu ....!" Tata menunjuk wanita itu dengan tubuh dan tangan yang bergetar hingga akhirnya ia jatuh pingsan.
Sontak semua orang melihat apa yang ditunjuk Tata di depannya. Namun, tidak melihat apa-apa di depan sana.
"Apa sih yang sebenarnya dia tunjuk tadi?" tanya Bu Dewi penasaran.
"Iya saya juga tidak bisa melihatnya Bu Dewi mungkin saja makhluk gaib yang menakutkan sehingga membuat dirinya pingsan," tebak Pak Amir.
"Atau mungkin juga malah kuntilanak yang dia ceritakan tadi yang telah menculik dan membawa dirinya masuk ke dalam kuburan," sambung yang lain.
"Tata!" teriak Aldi lalu orang-orang berlari ke arah Aldi dan membantu Aldi untuk menyadarkan Tata.
"Nak Tata!" seru Bu Dewi sambil menepuk-nepuk pipi Tata. Namun, tidak berhasil, Tata tetap menutup matanya. Dia benar-benar pingsan.
"Ayo Nak Aldi kita bawa ke rumah Pak Hasan saja Nak Tata nya!" perintah Pak Amir mengingat rumah Pak Hasan adalah rumah yang paling ujung dan paling dekat dengan lahan pemakaman dibandingkan dengan rumah-rumah warga yang lain.
Mendengar ucapan Pak Amir, sontak saja Aldi teringat akan Putri. Pria itu menoleh dan mencari keberadaan gadis itu.
"Pak, lihat Putri tidak?" Raut wajah Aldi berubah menjadi lebih khawatir lagi. Bagaimana tidak Tata sudah ditemukan, tetapi pingsan sedangkan Putri malah menghilang begitu saja.
"Tidak Nak Al, sudahlah jangan pikirkan tentang Nak Putri, dia warga di sini jadi tidak mungkin akan tersesat."
"Pak Amir benar, palingan Putri sudah ada di rumahnya. Ayo kita langsung membawa Tata ke rumah Putri barangkali dia sudah ada di rumah."
"Baiklah ayo Bu," ucap Aldi dan langsung bergegas menggendong Tata lalu berjalan menuju ke arah di mana rumah Putri terletak.
Semua orang pun langsung mengikuti langkah Aldi dari belakang.
Tidak membutuhkan waktu lama langkah mereka sudah sampai di depan pintu pagar rumah Pak Hasan sebab mereka berjalan dengan langkah yang cepat.
"Put! Put, buka pintunya!" seru Aldi dari luar pagar. Tak ada jawaban dari dalam membuat Aldi ketar-ketir takut kalau ternyata Putri belum pulang sedari tadi. apa yang akan dia katakan kepada Bu Hasan kalau menanyakan tentang keberadaan putrinya yang tadi memang dititipkan kepadanya.
"Put buka pintu pagarnya!" Bu Dewi berteriak sambil mengetuk-ngetuk gembok pagar.
Tak, tak, tak.
"Put!"
__ADS_1
"Put!"
Putri yang sedari tadi tiduran di ranjang kamarnya bangkit mendengar teriakan orang-orang di luar yang seakan memekakkan telinga.
Putri lalu berjalan ke arah jendela dan menyingkap gorden, mengintip melewati jendela kamarnya apa yang sudah terjadi di luar.
"Kak Aldi? Dia membawa Mbak Tata ke sini?" tanya Putri pada dirinya sendiri dengan ekspresi yang kaget. Dia lalu berjalan ke meja rias dan duduk menatap pantulan wajahnya melalui kaca rias, takut-takut bekas air matanya masih terlihat. Ya memang Putri tadi pulang dengan keadaan menangis.
"Ah lebih baik aku juga belum sebelum membuka pintu Gadis itu beranjak ke kamar mandi lalu membasuh wajahnya dengan air setelah mengeringkan dengan handuk dia langsung memasang kerudungnya kembali kemudian berjalan keluar rumah dengan tergesa-gesa.
"Ada apa ya?" tanya Putri ketika langkanya sampai di depan pintu pagar rumahnya.
"Boleh numpang di sini ya Put," mohon Aldi.
Putri memandang wajah Aldi kemudian beralih memandang Tata yang ada dalam gendongan lalu menganggap.
"Baiklah ayo masuk," ucap Putri sambil membukakan pintu pagar yang dikunci.
"Terima kasih," ucap Aldi sambil membawa Tata masuk ke dalam dan meletakkan tubuh gadis itu di atas tikar tempatnya tadi tiduran dan belum sempat digulung lagi oleh Putri.
"Iya Put terima kasih sebelumnya," ucap Aldi lagi. Tak hentinya dia mengucapkan terima kasih sebab Putri terlalu baik dan terlalu sigap untuk anak seumurannya.
"Iya Kak." Tata langsung bangkit dan bergegas masuk ke dalam rumah. Setelah mendapatkan minyak kayu putih dia langsung kembali ke samping Aldi.
"Bu bisa bantu membalurkan ini?"
"Sini Put biar ibu yang oleskan minyak kayu putihnya," ucap Bu Dewi menawarkan diri. Tadinya Putri ingin meminta tolong pada ibu yang lainnya.
"Ini Bu, Putri permisi dulu ya mau membuatkan teh hangat untuk Mbak Tata biar pas sadar nanti Mbak Tata bisa langsung minum."
"Iya Put pergilah sana."
Putri mengangguk dan berjalan ke arah dapur. Beberapa saat kemudian membawa ceret dan beberapa gelas di atas nampan.
"Kamu membuatkan untuk Tata apa untuk semua orang?" tanya Bu Dewi heran.
"Sekalian Bu, kasihan juga nih bapak-bapak tadi sudah berusaha keras masa nggak ada yang ngasih minum?"
__ADS_1
"Wah terima kasih Neng Putri," ucap seorang bapak-bapak dan segera memberikan kode pada teman-temannya agar segera menggarap teh yang ada di dalam ceret.
Semua bapak-bapak pun asyik mengobrol sambil meminum tehnya.
"Ini ibu-ibu boleh minum juga?" tanya seorang ibu.
"Oh silahkan Bu, Putri memang sengaja membuat dalam porsi banyak agar cukup bagi semuanya," jawab Putri.
Ibu-ibu pun antusias dan langsung menuang teh ke dalam gelas masing-masing secara bergiliran.
"Pak kok duduk di bawah sih?" protes Putri pada Pak Amir dan yang lainya yang malah duduk di atas kerikil-kerikil yang berwarna putih bersih itu. Memang Bu Hasan dan Putri mengambil kerikil dari tepi pantai dan menaruhnya di halaman rumah agar rumah mereka tidak terlalu kotor dengan tanah saat musim hujan.
"Nggak apa-apa Nak Putri kan halaman rumahmu bersih lagian juga pakaian kami ini sudah berlumuran tanah semua."
"Tidak apa-apa Pak duduk di tikar saja atau kalau tidak mau paling tidak duduk di lantai jangan dibawah seperti itu."
"Tidak apa-apa Nak Put kami lebih suka duduk di sini," sambung semua orang yang duduk di halaman rumah Putri.
Kalau sudah berkata seperti itu apa boleh buat? Putri hanya bisa mengangguk pasrah.
Sementara yang lain berbincang-bincang Aldi bersama Bu Dewi fokus berusaha menyadarkan Tata.
Setelah sekian lama tidak sadar-sadar juga akhirnya Tata menggerakkan jarinya dan mengerjakan mata.
"Kak dia sepertinya mau sadar." Putri terlihat antusias. Meskipun dia tidak suka dengan kedekatan Aldi dan Tata, tetapi Putri senang jika melihat orang lain selamat dari musibah. Apalagi dia juga sadar Tata lebih dulu kenal bahkan akrab dengan Aldi dan tidak menutup kemungkinan mereka juga ada hubungan yang lebih dari seorang teman. Jadi Putri harus sadar diri.
"Sepertinya ia Put," ujar Aldi.
Beberapa detik kemudian Tata langsung membuka mata.
"Tuh kan Kak dia sadar."
"Dia siapa?" tanya Tata menunjuk Putri.
Bersambung.
.
__ADS_1