
bela akhirnya terpaksa harus bekerja diruangan yang sama dengan david, bekerja sambil mendengar ocehan bos-nya
"hay semua, eeh nona bela disini juga rupanya" sapa riki datang tanpa permisi
bela tersenyum tipis lalu kembali mengerjakan pekerjaan nya
"nona kenapa anda duduk dibawah?" tanya riki
"lebih nyaman di bawah" jawab bela dengan sopan
"menarik sekali, kau gadis yang yang sangat sederhana dan aku menyukai itu" ucap riki menatap david sekilas, dia ingin mengetahui bagaimana reaksi david
"kurang ajar! jika tidak ada kerjaan keluar dari sini!" teriak david melempar riki dengan setumpuk dokumen namun bukannya riki yang kena tapi pipi bela yang tersirat dengan ujung map
"aahhh" bela meringis kesakitan karena tamparan dokumen itu
david membulatkan matanya dan langsung berlari memegang wajah bela
"kau tidak apa apa? mana yang sakit?" tanya david menatap pipi bela yang perlahan mengeluarkan darah
david langsung berlari keluar mencari kotak obat, dia tidak pernah menyiapkan obat didalam ruangannya
"otaknya buntu atau bagaimana? dia kan bisa menghubungi orang luar untuk membawa obat" ucap riki terkekeh melihat kekhawatiran david
__ADS_1
"hey nona kau tidak sadar dia menyukai mu?" tanya riki menatap bela
"sshh anda bercanda tuan, saya dengan tuan david hanya berstatus sebagai atasan dan bawahan, tuan david itu tidak punya hati asal anda tau" sangkal bela sambil memegang pipinya
riki ikut duduk lesehan seperti bela dan mendekatinya
"tidak, baru kali ini david memiliki sekertaris yang cocok untuknya , dan kau tau? baru kali ini wajahnya mengeluarkan ekspresi khawatir seperti itu" bisik riki
"haha anda salah paham tuan, tuan david seperti itu karena dia tidak ingin saya bolos bekerja" jawab bela dengan ekspresi datar dan mulai menyelesaikan pekerjaannya
"isshh bukan nona sudahlah aku ingin bertanya sesuatu padamu" ujar riki sedikit ragu
"apa?" tanya bela tanpa menatap riki
"kau tau syifa?" tanya riki ragu sambil menggigit bibir bawahnya
"mm kau tau david sangat overprotektif terhadap syifa, maksud ku begini mm aahh susah sekali menjelaskan nya" ucap riki putus asa
"maksud anda, anda suka dengan syifa?" tanya bela
"naahh kau pintar sekali" jawab riki sumringah
"aku,,,,"
__ADS_1
belum sempat melanjutkan kalimatnya david masuk kedalam dan langsung duduk sambil meletakkan obat diatas meja
bela langsung memainkan jarinya di atas layar tanpa menatap keduanya. david tidak peduli dia tetap mengobati luka bela dengan teliti
"sshh" bela meringis karena merasa perih
"maaf" ucap david lalu mengoles obat dengan perlahan dan halus
bela tersenyum sinis melihat david yang baru pertama kali mengatakan kata ini selama mereka kenal
"sudah tuan, saya tidak apa apa biarkan saya obati sendiri" ucap bela memegang lengan david bermaksud untuk melepas nya namun david menepis tangan bela dan melanjutkan mengobati bela
"mm bela kau sangat manis" goda riki, dia semakin yakin jika david menyukai bela
"brengsek!! jangan dengarkan dia" saut david kesal
riki tersenyum manis dan berniat untuk menggoda bela agar david bisa jujur
"bela, jika aku bertamu ke rumah mu apa boleh?? akan ku perkenalkan kedua orang tuaku padamu" ucap riki semakin menjadi jadi, david menghentikan tangannya mengobati bela lalu menatap riki dengan tajam
"keluar dari sini dengan baik baik atau aku akan melempar mu dari sini sampai bawah!" ancam david
"baiklah nona, pikirkan ucapan ku tadi kurasa umur kita sudah cukup untuk menikah" ucap riki berjalan santai keluar ruangan
__ADS_1
"jangan dengarkan dia, awas saja jika kau menyetujui itu!!" ancam david menatap bela
bela sendiri bingung dengan sikap david yang bahkan overprotektif dengan hal pribadinya