
Beberapa hari setelahnya bela meminta izin untuk pulang terlebih dahulu malam nanti karena dia sudah berjanji akan mengantar riki ke bandara sekaligus menjadi pertemuan terakhir mereka
"Bagaimana? Kau mendapat izin?" Tanya riki sambil mengaduk minuman nya
"Dapat tapi banyak yang harus dikorbankan" jawab bela putus asa
Riki mengeryitkan dahi menatap bela dengan wajah kusamnya
"Aku harus dinner besok malam" imbuh bela frustasi
"Itu bagus, mungkin david ingin memperbaiki kesalahannya dulu" ucap riki terkekeh
"Sudah ku bilang tidak mungkin, kami tidak saling mencintai" kata bela melawan riki
"kau yakin tidak tertarik dengan tuan David Ferrero" goda riki
"Mmm aiiihh sudahlah aku harus pergi, jam berapa kau akan ke bandara" ucap bela kesal
"23.30 tapi sebelum itu aku harus ke hotel terlebih dahulu, banyak berkas perusahaan di hotel yang tertinggal. Kau tau sendiri aku jarang pulang ke rumah" jawab riki sambil menyedot minumannya
"Mm kau tidak pamit pada syifa?" Tanya bela ragu
Riki menyunggingkan senyumnya menatap gelas minuman yang ia pegang
"Dia sudah membenci ku sejak malam itu" jawab riki
Bela mengeryitkan dahi karena tidak mengerti, dia menunggu riki untuk melanjutkan perkataan nya
"Karena sedang mabuk, aku mengatakan semuanya pada syifa dan,,,"
"Dan??"
Haahh
Riki mengehela nafas sembari menatap bela yang masih ingin tau banyak
"Dan dia marah" jawab riki lagi
"Astaga anak itu benar-benar,," gumam bela geram
"Lalu wajah mu kenapa seperti itu?" Tanya bela menatap riki
"Aku mencium paksa gadis itu dan dia menangis karena aku jadi aku membalas seluruh air matanya dengan menyakiti diriku sendiri tapi tidak masalah ini tidak sakit" jawab riki santai
"Aku harus berpikir dua kali untuk menolak ajakan mu menikah" goda bela
Dia sangat takjub dengan riki, riki pernah mengatakan bahwa tidak ada yang boleh menyakiti syifa jika ada yang melakukan itu maka riki akan bertindak dan itu berlaku pada dirinya sendiri. Dia bahkan menyakiti dirinya karena telah menyakiti syifa
***
Sekembalinya di kantor, bela memasuki ruangan david mengantar makan siang yang tadi ia beli di restoran
"Apa aku perlu mengosongkan restoran diwaktu makan siang?" Tanya david sedikit kesal
Padahal telat 10 menit. Batin bela
__ADS_1
"Maaf tuan, saya tidak sengaja bertemu dengan riki direstoran jadi kami berbincang sebentar" jawab bela sembari menyiapkan makanan
"Dia benar-benar pergi?" Tanya david dengan nada bersahabat
"Apalagi yang dia harapkan disini, jika saya menjadi riki saya akan melakukan hal yang sama" jawab bela
"Silahkan tuan, makan siang anda sudah siap" imbuh bela
Mereka makan siang bersama seperti biasanya, kali ini bela harus bekerja dua kali lipat karena dia tidak bekerja nanti malam
Selesai makan siang bela langsung keruangannya untuk bekerja hingga sore hari bahkan hampir gelap, bela menghubungi riki untuk mengetahui lokasinya
"Kau dimana?" Tanya bela dari balik sambungan
"Aku di hotel masih mengurus beberapa berkas untuk kantor dan restoran, sebentar lagi aku akan menjemput mu tunggu aku diluar" jawab riki
"Baiklah"
Riki memutuskan sambungan lalu kembali berbicara masalah pekerjaan dengan lawan bicaranya walaupun sebenarnya riki tidak fokus sama sekali
"Baiklah jika ada masalah hubungi aku" ucap riki datar
"Baik tuan" jawab lawan bicaranya lalu keluar dari ruang meeting
Riki menyandarkan tubuhnya sambil memijit pelipis, kepala riki serasa ingin pecah karena tidak melihat kegiatan syifa beberapa hari terakhir. Rindu? Tentu saja namun siapa riki untuk syifa
Huuhh
Riki menghela nafas kasar sebelum berdiri dari tempat duduknya meninggalkan hotel
Riki menekan tombol lift dan menunggu, dia memainkan ponselnya sembari menunggu lift terbuka
Ting
Pintu lift terbuka riki masuk kedalam lift setelah beberapa orang keluar dari sana, mata riki sempat menatap beberapa orang yang keluar dari sana lalu kembali menatap layar ponselnya
"Aku salah lihat" gumam riki saat melihat bayangan gadis kecilnya sedang berdiri di luar sana
Riki keluar dari hotel namun pikiran nya tertinggal pada gadis tadi, apa mungkin itu syifa? Ahh jika iya kenapa aku harus peduli toh sudah ada yang menjaganya pikir riki
"Sudahlah aku hanya perlu menjemput bela lalu pergi dari negara ini" gumam riki
Riki melangkah ke basemen mengambil mobilnya namun belum sempat masuk kedalam mobil, riki melihat sedikit goresan di kaca mobilnya
"Help" ucap riki membaca tulisan yang menggunakan lipstik merah muda itu
Riki berlari ke seluruh arah mencari plat mobil yang mengisi kepalanya, dia menyapu bersih lokasi parkir disana dan akhirnya riki menghentikan tatapannya pada satu arah
Ya itu mobil gadisnya yaitu syifa, jantung riki hampir tidak berjalan dengan baik melihat mobil syifa berada di sana. Gadis yang ia lihat tadi bukanlah halusinasi itu benar benar syifa yang sedang membutuhkan pertolongan
"Syifa" Riki berlari masuk kedalam hotel sembari menghubungi bela
"Kau dimana?" Tanya bela
"Beritahu david, syifa dalam bahaya. Suruh dia datang ke hotel ku cepat bela!!" Jawab riki panik lalu memutuskan sambungan sebelum bela menjawab
__ADS_1
Tubuh riki benar benar panas karena kepanikannya yang sudah memuncak, riki menekan seluruh tombol lift disana agar cepat terbuka setelah itu dia masuk disalah satu lift menuju lantai tadi persis ditempat nya melihat sosok syifa
Keluar dari lift riki berlari menuju lorong lorong hotel, dia membuka beberapa pintu hotel tanpa izin dari pengunjung
"Maaf" ucap riki lalu kembali menutup pintu dan beralih ke pintu lain dan sampai pada akhirnya riki menemukan salah satu pintu yang terkunci
Riki mendobrak pintu hotel itu tanpa permisi dan bertanya apakah disana ada syifa atau tidak
"Buka pintunya!!" Teriak riki kembali menendang pintu hotel
"********!! Pengecut buka pintunya!!!" Teriak riki emosi
Brakkk
3 kali percobaan tidak berhasil. Riki memundurkan tubuhnya dan berlari sekuat tenaga menendang pintu hotel
Braaakk!!!
Riki memasuki kamar, tidak ada siapapun disana riki menyusuri setiap sudut kamar hotel namun kosong
"Syifa!!" Panggil riki namun tidak ada jawaban sama sekali
Riki berjalan ke kamar mandi dan mendobrak pintu yang juga tertutup rapat. Jelas sekali kamar itu sangat mencurigakan daaann
Bugghh
Riki menarik dino keluar dan menghajarnya habis habisan. Mata riki seperti bara menatap dino
"Beraninya kau menyentuh syifa!!" Teriak riki kembali memberikan pukulan hingga tangannya sakit
Bughh,,, bughh,,,bughh
"Banci sialann!!!" Teriak riki kembali memukul wajah dan bagian tubuh dino yang lain
"Setan!!! Aku saja tidak pernah menjatuhkan berlian ku kedalam lumpur!!" Ucap riki geram dan lagi lagi menjatuhkan pukulannya pada dino yang sudah pingsan
Braakkk
David masuk kedalam hotel dan melihat riki hampir membunuh dino ditempat
"Riki jangan!" Teriak david mengambil benda tajam ditangannya
"Bahkan aku akan membunuhmu jika kau menghalangi ku!?" Teriak riki emosi
Bela dan david hampir tidak mengenali riki kali ini, matanya memerah dengan tatapan tajam dan mematikan seperti tidak ada ampun bagi dino yang berada dibawahnya
"Dimana syifa?" Tanya bela menatap sekitar
Riki mulai sadar bahwa dia melupakan syifa didalam kamar mandi
"Bawa manusia ini keluar sebelum aku benar-benar menghabisi nya!!" Ucap riki mengepalkan tangannya
David memerintahkan orangnya untuk mengangkat dino dan membawanya ke kantor polisi
"Aku percayakan syifa padamu" kata david menepuk bahu sahabatnya lalu keluar menutup pintu hotel diikuti oleh bela dari belakang untuk mengurus dino
__ADS_1
Riki mengambil selimut dan membawanya kedalam kamar mandi, hatinya teriris melihat syifa menangis sesenggukan tanpa sehelai kain pun