
Keesokan harinya david mendengar kabar bahwa bela akan pulang pagi ini, dia senang sekaligus merasa sangat bersalah atas kejadian kemarin
David sengaja tidak pergi kekantor pagi ini karena dia menunggu kedatangan bela, dia tidak menjemput atau mengajak bela berbicara karena itu percuma bela tetap diam
Tin,,,tin,,,tin
Bela keluar sendiri dari mobil raka dia berjalan cepat keatas kamarnya, david terus mengikuti bela dari belakang walaupun dia tidak disapa atau semacamnya
"Bela!" Panggil david
Bela tidak menjawab dia membuka lemari dan mulai mengeluarkan pakaiannya, walaupun bela masih sedikit pucat dan perban dikepalanya masih menempel dia tetap bergerak cepat untuk mengemas barangnya
"Bela hey kau kemana?" Tanya david memegang tangan bela
Bela memutar bola matanya malas melihat david, tangan sebelahnya menggantikan tangan yang dipegang oleh david untuk mengemas barang
"Bela hey dengarkan aku" ucap david memegang kedua tangan bela
"Ada apa tuan, saya sedang sibuk keluar lah" kata bela acuh seperti tidak pernah terjadi apa apa
David sampai mengeryitkan dahi melihat sikap bela yang seperti orang biasa seolah dia tidak pernah mengalami apapun
"Bela wanita itu,,,,,"
"Cukup tuan jangan diperjelas saya sudah tau semuanya dan anda juga senang kan jika pernikahan ini tidak terjadi, haha jujur saja saya juga senang sekali" kata bela tertawa renyah memotong kalimat david
"AKU TIDAK PERNAH MENGATAKAN ITU BELA" ujar david menekan suaranya hingga tangan bela sakit karena david meremas lengannya dengan keras
__ADS_1
"Memang, tapi kita berdua tidak menginginkan pernikahan ini bukan? Jadi kita harus bersyukur dan berterimakasih pada nona pryzel" ucap bela tersenyum sambil mengatur nafasnya agar tidak berkaca-kaca
David diam seribu kata karena sebelum hari pernikahan, mereka pernah mengatakan itu tapi david merasa tidak rela pernikahan nya batal begitu saja
"Aku tidak ingin pernikahan ini batal" ucap david
Huuhh
Bela mengehela nafas sambil menutup kopernya
"Permisi tuan saya harus pulang, kasihan sahabat saya sedang menunggu dibawah" kata bela tersenyum lalu menunduk dan keluar dari kamar
"Bela bela bela!!!" Teriak david mengejar bela sampai lantai bawah
Bela berjalan cepat meninggalkan david sebelum air mata tumpah dihadapan bosnya, raka membantu bela memasukkan kopernya kedalam mobil
"Didalam kontrak kerja saya tidak ada peraturan jika sekertaris harus tinggal satu atap dengan bosnya bukan, ah ya sampaikan salam saya pada tuan dan nyonya Ferrero?" Jawab bela langsung masuk kedalam mobil
David tidak bisa membela diri, dia tidak memiliki hak untuk mengatur seluruh kehidupan sekertarisnya. David menatap kosong kedepan sampai tidak sadar jika bela sudah keluar dari gerbang rumahnya
"Bela" gumam david
"Masih saja memanggil nama kak bela" ucap syifa ketus
David memutar tubuhnya dan melihat syifa sedang bersender di ujung pintu sambil menyilangkan tangan
"Syifa kenapa kau tidak melarang bela pergi" kata david mendekati syifa
__ADS_1
"Cih biarkan saja dia pulang kerumahnya, untuk apa disini? Untuk melihat mu bercinta dengan wanita lain?" Ucap syifa sinis
"Syifa jaga mulutmu!!"
"Kenyataannya memang seperti itu, kenapa kau ceroboh sekali? Kenapa tidak bisa mengendalikan diri? Kenapa harus mendorong kak bela sampai pingsan? Kenapa kak kenapa!!" Teriak syifa emosi sambil menangis
"Kau tidak tau bagaimana reaksi obat itu syifa jadi diamlah" jawab david lemah
"Terserah!"
"Sepertinya mama harus keluar negeri" ucap dewi tanpa menatap david dari belakang
"Mama pergi kemana?" Tanya david
"Sejauh mungkin, mama dan papa harus menenangkan diri atas kejadian ini toh bela juga tidak akan kembali" jawab dewi ketus
"Ma"
"Syifa ingin ikut sayang?" Tanya dewi mengelus kepala putrinya
"Tidak ma"
"Kenapa?" Tanya dewi
"Syifa kuliah ma, mama dan papa saja ya" jawab syifa berusaha tersenyum
Dewi mengangguk lalu membawa syifa kedalam rumahnya, dia tidak ingin terlalu banyak bicara pada david untuk sementara ini
__ADS_1