My Enemy, My Secret Admirer

My Enemy, My Secret Admirer
Kiriman Surat Cinta


__ADS_3


Saat Ashley menuruni anak tangga, tampak Vanno masuk dari luar dengan membawa kotak kecil di tangannya.


“Ada kiriman lagi nih!” ucap Vanno sambil mengayunkan kotak yang ada di tangannya.


“Siapa yang antar Bang?” tanya Ashley sambil mendekati Vanno.


“Abang kurir!”


Ashley pun langsung membuka kotak tersebut. Kali ini isinya adalah amplop berwarna merah jambu dan gantungan kunci yang bergambar seorang cowok dan seorang perempuan yang berdiri berdampingan.


“Nah, bener kan. Secret admirer aku selama ini itu cowok!” gumam Ashley sambil berjalan ke ruang makan.


“Tapi belum tentu Wildan kan?” timpal Vanno.


“Kita lihat saja nanti!” balas Ashley yang siap untuk membuka surat cinta dari pengagum rahasianya.


“Waaaaah, panjang banget isinya!” gumam Ashley yang kemudian melipatnya kembali dan memasukkannya ke dalam amplop.


Ia memilih untuk menikmati sarapannya terlebih dahulu dan membaca surat tersebut di mobil. Sarapan Ashley pagi ini terbilang begitu tergesa-gesa karena ia sudah tidak sabar untuk membaca surat tersebut.


Lima menit menikmati sarapannya dan setelah itu Ashley berpamitan dengan papa mamanya dan menunggu Vanno di dalam mobil.


“Sarapannya ngebut banget sayang. Biasanya juga habisnya paling akhir!” celetuk Papa Teysar.


“Biasaaa, kalo lagi jatuh cinta mah susah dilawan!” timpal Vanno yang masih menikmati sarapannya.


“Tahu aja Abang nih, aku tunggu di mobil yaa!”


Ashley berlari kecil menuju ke mobil dan segera membuka amplop surat cintanya.


💌💌💌


Dear Ashley Addara,


wanita cantik yang selalu menggelitik hatiku.


Bagaimana kabarmu hari ini?


Ah, aneh sekali aku ini. Sebenarnya kenapa pula aku harus repot bertanya? Toh sejujurnya aku sudah tahu kabar beritamu. Setiap pagi, setelah ibadah dan bebersih badan — membaca lini masa dan kicauanmu di media sosial jadi kebiasaan yang tak pernah kulewatkan.

__ADS_1


Kalau saja kau menemukan tulisan ini dan tahu bahwa kata-kata yang sedang kau baca adalah tentangmu kujamin kau hanya akan terkekeh pelan mengetahui betapa picisannya aku.


Tapi untuk hari ini, aku ingin kau tahu sesuatu. Aku tak peduli jika kau bilang aku pecundang. Kau juga boleh menganggapku orang yang tak punya keberanian. Saat kalimat pengakuan hanya bisa kuucapkan dengan terbata, izinkan tulisan ini jadi perantaranya.


Apakah kau masih ingat pagi itu? Perkenalan singkat karena kau hanya tanya siapa namaku. Lalu kau melontarkan guyonan yang membuatku terkekeh riang. Tentu saja kita tidak berduaan. Ada aku, kau, dan beberapa orang di sekitar kita.


Anehnya, meski hanya sekilas perjumpaan denganmu, sampai hari ini aku masih mengenang suara tawamu yang renyah. Bagaimana ujung matamu berkerut ketika tersenyum lebar. Bibirmu yang otomatis kau gigit saat tak bisa menjawab berbagai ejekan yang kami lontarkan. Aku merasa kau orang yang menyenangkan dan Aku ingin selalu mengenalmu lebih dalam lagi.


Pertemuan kita berikutnya pun tak kalah biasanya. Kau dan aku bertemu di acara makan bersama, berbagi meja dan mengambil lauk dari satu piring yang sama. Di tengah kelakar banyak orang yang berdengung di telinga, senyuman ramah itu kembali kutemukan.


Melihat sunggingan bibirmu saja sudah membuatku meremang. Ah, atau hanya aku yang terlalu percaya diri merasa bahwa senyuman itu kau tujukan untukku. Mulai saat itu, aku ingin menciptakan momen agar kita bisa kembali bersama. Memendam rasa seperti ini kadang membuatku merasa gila.


Mengagumimu sekian lama, tanpa sadar membentukku jadi pengamat tingkat dewa


Buatku, ujian berat adalah saat kau dan aku harus duduk berhadapan dan mau tak mau harus saling berpandangan. Aku khawatir kau bisa menangkap binar lain dari mataku. Jika kau pandangi dengan dalam sekian lama, bisa-bisa rasa yang selama ini hanya kupegang erat tumpah — menguak ke udara.


Aroma cinta yang telah kulipat rapi sekian lama tak bisa kujamin tak sampai ke hidungmu yang hanya sejengkal dekatnya.


Meski tanpa harus saling memandang mata, ketahuilah bahwa kau dan hal-hal kecil tentangmu tak pernah tersingkir dari kepala.


Masihkah kau pelupa, hingga meninggalkan map berisi dokumen penting di atas jok kendaraan yang terparkir tanpa penjagaan?


Menyukaimu sekian lama memang membuatku jadi orang yang pintar membaca pertanda. Mataku terbiasa menyapu halaman rumahmu di setiap pagi, mencari kendaraanmu yang sudah terparkir rapi.


Jika kendaraanmu tak ada, tandanya kau pergi ke sekolah. Atau, kau hanya sedang malas dan ingin diantar dengan mobil papa ataupun kakak laki-lakimu.


Kau barangkali tak menyadari betapa aku memperhatikanmu. Kau memang tak perlu tahu. Cukuplah kupastikan hidupmu mulus berjalan dan tak kekurangan. Hanya memandangmu dari jauh pun, aku tak pernah keberatan.


Kata papa dan mamaku, aku memang sudah jatuh cinta padamu. Kadang aku heran, apakah cinta memang selalu segila ini? Pikiranku seperti pohon yang bercabang. Di setiap ujung tangkainya, kau lah yang jadi muara penantian panjang.


Kuakui. Sesekali pikiranku melayang begitu saja ke suatu tempat yang kuharap bisa dinamai “Kita” 


Orang bilang pengharapan adalah sumber sakit hati yang paling tak terelakkan. Dan aku, adalah orang keras kepala yang rela pasang badan untuk menerima sakit yang kelak berdatangan. Jujur, aku sering membayangkan bagaimana rasanya jika kelak kita bisa bersama. Menyatukan 2 ke-aku-an kita jadi satu “kita” yang tak terpisah spasi dan jeda.


Sesekali aku suka mengamatimu yang sedang sibuk dengan buku teks di perpustakaan. Aku juga sering mencuri pandang waktu kau terlihat serius menggarap pekerjaan. Andai, aku berani ke sisimu. Menemani jenuhmu yang mungkin saja tiba-tiba menyerang. Jika saja aku bisa menemanimu makan siang. Akan kupilihkan menu makanan yang wajib mengandung sayuran.


Sembari makan, kita bisa banyak berbincang. Kau mungkin gatal bercerita tentang perkembangan sistem peretasan yang bagimu selalu menarik untuk didiskusikan. Aku akan mendengarkan, sembari sesekali menimpali dan memberi masukan.


Saat lelah dengan topik serius, kita bisa bertukar cerita soal film dan lagu yang kini jadi bahan pembicaraan. Apapun topik yang kau bawa ke meja perbincangan, aku akan dengan senang hati mendengarkan.


Jika “kita” itu memang ada. Kuharap, langkah yang kuambil saat ini memang mengarah ke sana. Kau memang selalu mengisi pikiranku. Aku ingin melakukan ini dan itu. Tapi pada akhirnya jalan terbaik menurutku adalah diam, mengamatimu, sembari terus membawa namamu dalam dawai-dawai doa nan bisu.

__ADS_1


Menyayangimu tanpa pernah mengungkapkannya — membuatku tahu: cinta yang paling baik adalah cinta yang tetap sederhana


Sebelum jatuh hati padamu tanpa rencana, kupikir cinta selalu dipenuhi coklat-warna pink-dan bunga. Aku tak pernah sadar bahwa sebaik-baik cinta adalah rasa yang tetap membumi dan sederhana.


Bersama atau tidaknya kita nanti, kau tetap perlu tahu. Kehadiranmu tak pernah kusesali. Keberadaanmu mengajarkanku banyak hal yang harus kusyukuri


Sebagai manusia biasa, tentu aku ingin kita bisa bersama. Sudah terbayangkan betapa menyenangkannya hari-hari waktu kamu selalu bisa ditemukan di sisi. Tapi jika pun rencana dan harapan itu tak terwujud, keberadaanmu tak pernah kusesali.


Kau mengajarkanku bahwa cinta adalah perkara memberi. Menjadi sebaik-baik pribadi, tanpa perlu khawatir apakah kasih yang sebesar itu akan kembali.


Kehadiranmu membuatku percaya. Bahwa cinta selalu berada di bawah tanganNya yang paling kuasa. Beberapa hal perlu diusahakan, namun hasil akhirnya hanya butuh diserahkan.


Mencintaimu dalam diam sekian lama membuat mataku terbuka: begitu banyak bentuk usaha yang bisa dilakukan di luar merayu dan mengobral janji manis belaka.


Terima kasih, sudah pernah ada. Terima kasih atas pelajaran yang kau bawa tanpa harus mencekokiku dengan ceramah yang berentet panjangnya.


Jika kelak kita bersatu, tak perlu kau khawatir. Kau mendapatkanku, orang yang selama ini dalam diam terus mendoakan berbagai kebaikan untukmu.


Namun jika takdir kita memang bukan jadi satu — kau pun harus camkan ini dalam kepalamu. Doa-doa itu tak pernah hilang. Apapun yang terjadi, kamu tak akan kehilangan seorang pemohon kebaikan yang handal.


Dariku,


Yang dalam diam selalu mengagumimu.


💌💌💌


Ashley langsung melipatnya kembali surat tersebut dan memandang ke arah Vanno yang sedang fokus mengemudi.


“Baaang!” panggil Ashley manja.


“Hemmm!”


“Isi suratnya benar-benar membuatku jatuh cinta! Aku jadi ragu jika orang ini Wildan. Setahu aku, Wildan gak seromantis ini deh!”


“Kan abang udah bilang dari kemarin. Kamunya malah bandel!”


“Eh, tapi bisa jadi dia berubah jadi romantis karena lagi jatuh cinta kan?” balas Ashley yang masih tetap kekeh dengan pendiriannya.


“Jadi sebenernya kamu jatuh cinta sama pengagum rahasia kamu apa sama Wildan?” tanya Vanno menyelidik.


“Sebenernya jatuh cinta sama isi suratnya saja sih!” balas Ashley membuat Vanno hanya bisa geleng-geleng kepala.

__ADS_1


__ADS_2