My Enemy, My Secret Admirer

My Enemy, My Secret Admirer
Dugaan Sementara


__ADS_3


“Ashley!” panggil Wildan sambil mengayunkan tangannya ke arah Ashley.


“Udah makan?” tanyanya saat Ashley berjalan mendekat ke arahnya.


“Udah, kamu yang tadi bayarin makan siang aku ya?” tanya Ashley menyelidik.


Wildan pun tersenyum memperlihatkan gigi putihnya, namun ia tidak langsung menjawab pertanyaan Ashley karena pintu lift sudah terbuka.


“Ibu kantin ya yang bocorin ke kamu?” tanya Wildan saat mereka berdua sudah berada di dalam lift.


Pertanyaan Wildan barusan membuat Ashley sedikit ragu jika Wildan adalah secret admirer yang selama ini ia cari. Ia kenal betul tipikal secret admirernya selama 6 tahun ini. Tidak mudah meninggalkan identitas dirinya.


Sedangkan Wildan justru sedikit terang-terangan menurut Ashley untuk mengungkap siapa dirinya.


“Iya, jadi selama ini... Kamu yang....”


Belum selesai Ashley berbicara, Wildan sudah memotong ucapannya.


“Ashley, ada yang ingin aku bicarakan selepas dari kantor nanti. Kita bisa kan pulang bareng?” tanya Wildan.


“Oh, bisa kok! Kamu tunggu saja ya di parkiran.”


“Oke, met kerja yaa!” Wildan melambaikan tangannya saat lift tiba di lantai 3.


“Thanks Wildan!”


Kini Ashley pun masih menuju ke lantai 5 seorang diri sambil terus bertanya-tanya dalam hati tentang Wildan.


Ashley mengenal Wildan sejak Masa Orientasi Siswa SMA. Sejak saat itu keduanya bisa dibilang cukup dekat dan sering menghabiskan waktu bersama. Bahkan Wildan sampai memutuskan mengambil jurusan yang sama dengan Ashley.


Meskipun begitu, Ashley tidak memiliki perasaan khusus terhadap Wildan karena sahabatnya yang bernama Qila sudah menaruh hati dengannya. Bahkan Ashley sudah berniat untuk menjadi makcomblang mereka berdua.


Ting! Pintu lift pun terbuka dan tampak Nicko sudah berdiri di hadapannya. Namun Ashley justru melewatinya begitu saja tanpa menyapanya sedikit pun. Bahkan meliriknya saja tidak karena kepala Ashley masih dipenuhi dengan secret admirernya.


“Ashley!” panggil Nicko yang tidak terima diacuhkan oleh bawahannya sendiri.


Sayangnya Ashley sama sekali tidak mendengarnya dan terus saja melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang kerjanya.


“Stop!” Nicko kini menghadang langkah Ashley dengan berdiri tepat di depannya.

__ADS_1


“Ada apa Pak Nicko?” tanya Ashley sambil mendongakkan kepalanya.


“Seharusnya pertanyaan itu terlontar dari saya, Ashley! Kamu ada apa?”


“Oooh, gak ada apa-apa kok pak!” jawab Ashley.


“Ck, dasar tukang tipu! Sudah jelas kamu melamun sampai tidak melihat ada saya di depan kamu. Masih bilang gak ada apa-apa?”


“Ya, kalo pun ada kan bukan urusan bapak!”


‘Sial! Dia selalu saja mencari celah!’ gerutu Nicko dalam hati.


Akhirnya Nicko pun meminta Ashley untuk ikut ke ruangannya dan mengembalikan rekaman CCTV yang sudah terhapus. Ashley pun langsung setuju dan ikut masuk ke dalam ruangan Nicko. 


Sebelumnya Ashley memang sudah terlatih untuk hal ini. Menjadi hacker topi putih memang salah satu cita-cita Ashley sejak SMP yang sangat kagum dengan kepiawaian maminya Nicko yang sukses meretas akun para mafia.


Meskipun begitu, Ashley bukan wanita yang suka bela diri. Terlebih papa, mama, dan juga abangnya adalah seorang polisi. Tentunya membuat Ashley merasa aman dengan penjagaan mereka tanpa harus berlatih bela diri.


Satu jam berkutat di layar monitor membuat Ashley berhasil mengembalikan hasil rekaman yang terhapus. Hal ini membuat Nicko semakin kagum dan menyukai cara kerja Ashley. Bahkan kecerdasannya dalam bidang IT sudah tidak diragukan lagi.


“Well done, pak Nicko!” ucap Ashley sambil meregangkan otot-otot tangannya.


Mata Ashley langsung berbinar mendengar kata ‘bayaran’. Tidak perlu dipungkiri, semua wanita sangat menyukai kata keramat itu, begitu juga dengan Ashley.


“Serius Pak Nicko?” tanya Ashley yang langsung diangguki oleh Nicko.


“Tentu saja!” Nicko langsung memperlihatkan m-banking di ponselnya ke arah Ashley. “Lima ratus ribu sudah aku kirimkan ke nomor rekeningmu!”


“Waaah, jangan sungkan-sungkan untuk meminta bantuan lagi ya Pak! Saya akan membantu Anda dengan senang hati!” ucap Ashley sambil menaik turunkan alisnya.


Setelah itu Ashley langsung kembali ke ruang kerjanya. Sedangkan Tari langsung dipanggil menghadap ke Nicko.


Awalnya Tari tidak berfikiran jika Nicko akan membahas masalah pembullyan Ashley di lantai 3 tadi. Namun saat masuk ke dalam ruangan Nicko, langkahnya langsung terhenti saat Nicko memperlihatkan rekaman CCTV yang sudah terhapus di layar proyektor yang ada di ruang kerjanya.


Kaki Tari seketika langsung terasa lemas melihatnya dan ia langsung bertekuk lutut di kaki Nicko sambil meminta maaf yang sebesar-besarnya karena telah berbohong.


“Berdiri dan jelaskan semuanya, Tari!” pinta Nicko.


Tari pun langsung berdiri dan menceritakan semua yang terjadi secara detail kepada Nicko. Mulai dari pembullyan yang tidak hanya terjadi pada Ashley, melainkan juga pada mahasiswi magang lainnya.


Tidak hanya itu, Tari juga menceritakan tentang ancaman yang ditujukan padanya dan juga memohon agar Nicko tidak memecatnya.

__ADS_1


“Aku tidak akan memecatmu, Tari. Namun, aku tetap akan memecat 3 orang yang sudah berulah di lantai 3.”


“Namun jika mereka tahu kau tidak dipecat, maka nyawamu akan terancam dan tentunya perusahaan tidak bisa melindungimu!”


“Lalu saya harus bagaimana, Pak Nicko?” tanya Tari.


“Aku akan memindahkanmu ke kantor cabang dan membantu Pak Arick di sana karena kebetulan asistennya mengajukan cuti selama 3 bulan. Setelah itu kau bisa kembali lagi bekerja di sini.”


“Namun sebelumnya, kau harus mengajari Ashley untuk menjadi asistenku selama kau menemani Pak Arick.”


“Siap pak! Saya akan melakukan perintah Anda dengan baik! Terima kasih banyak tidak memecat saya kali ini pak. Terima kasih banyak!”


“Kembalilah ke ruanganmu dan ajari Ashley dengan baik!”


“Siap pak!”


Tari pun langsung menuju ke ruang kerjanya dan menjalankan apa yang dititahkan Nicko padanya.


🍄🍄🍄


“Apa?!! Jadi asisten Pak Nicko selama tiga bulan?” tanya Ashley terkejut.


“No.! No.! No.! Baru ditempatkan di lantai 5 saja sudah dibully, gimana kalo nanti malah langsung jadi asisten wakil presdir Bank One Point?”


“Aduh, aku gak mau cari mati deh kak!”


“Tapi gajinya lumayan loh. Terus setelah lulus nanti, kamu bisa langsung kerja di sini tanpa harus jadi sarjana pengangguran!” tawar Tari memberikan iming-iming pada Ashley.


“Gituuh yaaa? Tapi susah gak kak?”


“Gak susah, makanya kita harus belajar! Tenang saja, 3 orang yang membully kamu akan dipecat sebentar lagi!”


“Hah?! Langsung dipecat?” tanya Ashley dan dijawab Tari dengan anggukan kepalanya.


Tanpa ba bi bu lagi, Ashley pun langsung keluar dari ruangannya dan masuk ke dalam ruang kerja Nicko.


“Pak Nicko, apa benar Kepala Ruangan, dan kedua pegawai yang membully akan dipecat?” tanya Ashley.


“Kemungkinan seperti itu karena mereka tidak satu atau dua kali melakukan kesalahan. Bahkan aku sedang mengumpulkan laporan kesalahan yang mereka perbuat!”


“Saya tidak setuju dengan keputusan yang bapak ambil!” ucap Ashley cukup tegas membuat Nicko sedikit tercengang

__ADS_1


__ADS_2