My Enemy, My Secret Admirer

My Enemy, My Secret Admirer
Pipi Merah Nicko


__ADS_3


“Tidak setuju?” tanya Nicko sambil mengerutkan dahinya.


“Keputusan ini ada di tanganku, Ashley! Dan kau belum berhak ikut campur dalam masalah ini!”


Ashley pun mendekati Nicko yang sedang mengecek berkas-berkasnya yang menumpuk di atas meja.


“Tapi coba bapak pikirkan lagi. Kalau bapak pecat mereka bertiga, nyawa saya yang terancam. Mereka bisa hadang saya di tengah jalan terus saya dibunuh atau bahkan dicelakai.”


“Tidak hanya itu, perusahaan bapak juga akan mengalami kerugian. Karena pegawai yang dipecat harus diberikan pesangon dengan hitungan berapa lama mereka bekerja di sini.”


“Berarti bapak lebih tega dong dengan mahasiswa magang! Bapak justru bisa menghilangkan nyawa, padahal mereka hanya membully saja!”


Nicko langsung berbalik dan memegang kedua lengan Ashley. “Aku gak mungkin setega itu sama kamu, Ashley! Aku pecat mereka karena mereka juga sudah berani bully kamu dan aku sangat gak rela itu!” tegas Nicko membuat Ashley menelan ludahnya kasar.


Ashley kini justru jadi kikuk setelah mendengar ucapan Nicko barusan. Entah kenapa musuh bebuyutannya selama ini justru terdengar begitu mengkhawatirkannya sampai ia tidak rela jika dirinya dibully dengan pegawainya.


“Emm, pak... Maaf, bapak bisa lepasin saya kan?” tanya Ashley yang mulai tidak karuan.


“Oh, ma-maaf Ashley. Saya gak bermaksud ... emmm.. itu..”


Ashley terus menunggu kalimat yang keluar dari Nicko yang tiba-tiba menjadi gugup di depannya.


“Gak bermaksud apa pak?” tanya Ashley.


“Huuh, maksudnya saya akan memikirkan saran dari kamu!” jawab Nicko sambil membuang wajahnya dan kembali mengecek berkas-berkas di atas meja untuk menutupi wajahnya yang tengah merona.


“Yaah, kalau saran saya, lebih baik mereka diturunkan dari jabatan mereka di kantor. Tentunya jika mereka merasa malu, mereka pasti akan mengajukan surat pengunduran diri dan tentunya itu tidak merugikan perusahaan!” jelas Ashley yang terdengar begitu bijak di telinga Nicko.


“Oke, terima kasih sarannya. Dan kau bisa kembali ke ruanganmu!” usir Nicko yang merasa pipinya sudah begitu panas.


“Bapak gak lagi sakit kan?” tanya Ashley sebelum meninggalkan ruangan Nicko.


“Enggak kok!”


“Kirain lagi sakit, soalnya wajah bapak merah banget!” ucap Ashley yang kemudian berbalik untuk keluar dari ruang kerja Nicko.

__ADS_1


Blush! Wajah Nicko semakin memerah dan membuatnya bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci mukanya yang terasa semakin panas.


Biasanya Nicko selalu saja membuat Ashley kesal karena ia sering menggoda adik sahabatnya itu dan berujung dengan perang mulut. Namun kali ini justru berbeda.


Nicko justru dibuat tidak berkutik oleh Ashley, gadis cantik yang sudah lama ia taksir dan usianya terpaut tujuh tahun dengannya.


“Kali ini aku justru kalah dengannya!” gumam Nicko sambil memandangi dirinya sendiri di depan kaca sambil menepuk-nepuk kedua pipinya.


“Hai pipi! Kenapa kau tidak tahu malu sekali sampai berubah warna menjadi merah di depan Ashley?”


“Kau pasti ikut takjub bukan melihat Ashley yang tampak semakin cerdas di usianya yang masih belia? Haish, harusnya tidak perlu sampai berubah menjadi merah seperti ini!”


Nicko kembali mencuci wajahnya berkali-kali untuk menghilangkan rona yang masih menempel di wajahnya.


Sedangkan Ashley kini sedang belajar untuk menjadi asisten Nicko dengan baik. Kini ia sedang membaca buku panduan yang diberikan oleh Tari.


Sedangkan Tari sendiri kini sedang menyiapkan berkas penting yang ke depannya akan dipegang oleh Ashley.


🍄🍄🍄


Tepat jam 5 sore, ponsel Ashley berdering dan tampak nama Wildan terpampang di layar ponselnya.


“Oke, aku juga lagi beresin meja ini habis itu langsung turun!” balas Ashley yang kemudian mematikan panggilannya.


“Aku pulang dulu ya Kak Tari. See you!” ucap Ashley sambil melambaikan tangannya ke arah Tari.


“See you tomorrow, Ashley. Hati-hati yaa!”


Ashley langsung menganggukkan kepalanya dan keluar dari ruang kerjanya menuju ke lift. Namun saat ia melintas di depan ruangan Nicko, tangannya langsung di tarik masuk ke dalam ruangan oleh Nicko.


“Duh, ngagetin aja sih pak!” protes Ashley.


“Hari ini kamu lembur ya, nanti pulangnya saya antar!”


“Wah, gak bisa begitu pak. Saya sudah ada janji ini sama seseorang! Lagi pula mana ada mahasiswa magang lembur kerja?” balas Ashley.


“Siapa?”

__ADS_1


“Ada deh, ini kan privasi saya. Saya pulang dulu ya pak. Ba bay!” Ashley langsung melewati Nicko begitu saja dan keluar dari ruang kerjanya.


Sedangkan Nicko pun langsung mengemasi meja kerjanya dan mengejar langkah Ashley untuk mencari tahu siapa yang sudah membuat janji dengannya.


“Wildan!” teriak Ashley sambil berjalan mendekat ke arah Wildan. “Maaf ya, jadi nunggu lama.”


“Gak masalah Ashley. Oh iya, motornya nanti biar dibawa sama sopir aku, kamu pulang naik mobil saja ya sama aku!” tawar Wildan yang langsung dijawab Ashley dengan anggukan kepalanya.


Ashley pun memberikan kunci motornya kepada sopir Wildan dan kemudian masuk ke dalam mobil.


“Mobilnya gak lagi dipake sama kakak kamu ya?” tanya Ashley yang paham betul jika mobil yang ia naiki sekarang adalah milik kakak perempuan Wildan.


“Kakak aku lagi ada kerjaan di luar kota, makanya mobilnya aku bawa. Oh iya, gimana kalau mulai besok aku antar jemput kamu?” tawar Wildan.


“Wah, Kayaknya gak bakal diizinin sama Bang Vanno deh. Soalnya dulu kamu pernah mau jemput aku ke sekolah saja Bang Vanno udah langsung pasang wajah bertaring!”


Wildan pun langsung terkekeh mendengar jawaban dari Ashley.


Sejak dulu yang sangat posesif terhadap Ashley justru abangnya, bukan papa atau mamanya. Dan tentunya sika posesif Vanno membuat Ashley enggan menjalin hubungan dengan laki-laki.


Satu kalimat dari Vanno yang Ashley ingat betul dalam rekaman memorinya.


“Kamu boleh pacaran sama cowok yang kriterianya di atas Abang, atau setidaknya setara dengan pencapaian Abang!”


Dan sejauh ini, belum ada satu cowok pun yang masuk dalam kriteria tersebut karena Abangnya yang satu ini sangat perfeksionis.


Hal ini pun juga diketahui oleh Wildan karena Vanno benar-benar membatasi ruang gerak Ashley untuk berteman dengan Wildan.


Mereka berdua berteman baik hanya saat di sekolah karena Vanno melarang Ashley membawa teman laki-laki di rumahnya.


“Bang Vanno kasih kriteria cowok buat kamu terlalu tinggi sih. Memang kamu gak tertekan ya sama sikap abang kamu itu?” tanya Wildan.


"Emm, biasa aja sih. Aku paham kok, mereka hanya ingin yang terbaik buat aku!"


"Oh iya, Wildan. Kamu sebenarnya mau ngomongin apa sih?" tanya Ashley penasaran.


"Kita mampir di taman kita sebentar gak papa kan? Kita ngobrol sambil ngemil jagung bakar. Gimana?" tawar Wildan yang sangat paham jika Ashley menyukai jagung bakar.

__ADS_1


"Tentu saja aku gak nolak. Sama boba yaaa!" pinta Ashley.


"Siap neng! Apa sih yang gak buat sahabat aku ini!" balas Wildan.


__ADS_2