
“Sebenarnya kamu bisa gak sih bikin kopi?” tanya Nicko.
Pertanyaan Nicko barusan langsung dijawab Ashley dengan gelengan kepalanya. “Baru kali ini disuruh bikin kopi, pak!” jawab Ashley datar dan tanpa rasa bersalah ataupun takut sedikit pun.
Nicko pun langsung berdiri dan menarik tangan Ashley menuju ke pantry. “Kali ini, aku akan mengajarimu membuatkan kopi atau pun teh jika suatu saat aku kedatangan tamu!” ucap Nicko.
“Siap laksanakan, Pak Bos!”
Sesampainya di pantry, langkah Nicko terhenti saat melihat betapa berantakannya pantry yang tentunya karena ulah Ashley. Toples gula dan garam yang terbuka dan isinya sudah berceceran kemana-mana. Toples kopi, creamer, dan juga teh yang sudah tidak pada tempatnya. Ditambah lagi tempat beberapa kaleng kudapan yang sudah tidak terlihat tutupnya ada dimana.
“Ashleeeey!” panggil Nicko sambil menunjuk ke arah Pantry.
Senyum Ashley langsung merekah sempurna sambil memandang ke arah Nicko dan memegang kedua lengannya.
“Maaf ya Bang, kan Ashley memang gak bisa bikin kopi dan lain sebagainya yang ada di pantry. Yang Ashley bisa cuma menikmati hasilnya yang sudah siap saji.”
“Ashley pikir tadi kopinya instan, gak taunya bukan! Abang gak marah kan?” tanya Ashley sambil mengedip-kedipkan matanya.
Nicko menelan ludahnya kasar melihat Ashley tengah menggodanya seperti ini. Ingin rasanya ia langsung memeluk Ashley atau bahkan menciumnya dengan gemas saat ini juga dan mengatakan jika ia sama sekali tidak mempermasalahkan hal ini.
Namun saking gugupnya, Nicko justru menjewer telinga Ashley pelan sambil mengikis jarak mereka berdua.
“Kamu lagi goda bos kamu sendiri ya?” tanya Nicko dan Ashley langsung menggelengkan kepalanya.
“Kamu pikir saya atasan yang mudah tergoda dengan anak ingusan kayak kamu?”
“Sekarang kamu harus beresin pantry sampai rapi seperti semula. Setelah itu baru kita akan berlatih membuat minuman!” titah Nicko sambil melepaskan tangannya di telinga Ashley dan kemudian melipat kedua tangannya di depan dada.
“Tapi baaaang!”
“Nothing Abang! Saya bos kamu di sini!” gertak Nicko yang sebenarnya jantungnya sudah bertalu-talu tidak karuan menghadapi sikap Ashley yang begitu menggemaskan di matanya.
“Cepat kerjakan atau saya potong gaji kamu hari ini!” ancam Nicko.
Akhirnya mau tidak mau Ashley pun mulai membereskan pantry yang sangat berantakan karena ulahnya. Sedangkan Nicko terus saja mengawasinya sambil berdiri di pintu pantry.
__ADS_1
Tiga puluh menit kemudian, pantry kembali bersih dan rapi seperti sebelum Ashley berkutat di dalamnya.
“Well done, Pak Nicko yang garang dan menyebalkan!” lapor Ashley.
“Oke, sekarang kita akan berlatih membuat kopi!” ajak Nicko yang langsung masuk ke dalam pantry dan diikuti oleh Ashley di belakang.
Ashley memperhatikan Nicko yang sedang meracik kopi sambil menjelaskan berapa takaran kopi dan gula yang pas. Sayangnya, Ashley bukan memperhatikan penjelasan Nicko, melainkan justru memandangi wajah Nicko yang tampak begitu menawan saat menyeduh kopi.
‘Kalo diperhatiin baik-baik, Bang Nicko itu cakep banget loh. Cool, macho, tajir, Cuma sayangnya sedikit ngeselin. Pastinya banyak cewek-cewek yang naksir sama Bang Nicko. Tapi kenapa Bang Nicko masih jomblo saja ya sampe sekarang?’ gumam Ashley dalam hati.
‘Gak jauh beda sih sama Bang Vanno yang masih nyaman dengan statusnya yang masih sendiri.’
“Ashley!” panggil Nicko membuyarkan lamunan Ashley.
“Eh, iya pak!”
“Kamu udaah paham kan cara bikin kopinya?” tanya Nicko.
Bukannya menjawab pertanyaan Nicko, Ashley justru bertanya hal lai yang sama sekali tidak nyambung dengan topik mereka kali ini.
“Pak Nicko!” panggil Ashley yang dijawab dengan deheman singkat oleh Nicko.
“Ck, kamu ini ditanya baik bukannya jawab malah balik tanya sih!”
“Yaah, nanti pertanyaan bapak pasti saya jawab. Sekarang bapak jawab dulu dong pertanyaan saya!” pinta Ashley.
“Tunggu kamu mau jadi pacar saya!” jawab Nicko tapi dengan nada yang ketus.
Ashley pun langsung menutup mulutnya dan kemudian tawanya pecah begitu saja. Ia sama sekali tidak menduga jika jawaban Nicko benar-benar jauh dari perkiraannya.
“Jangan bilang kalo Pak Nicko sebenarnya ada hubungan khusus sama Bang Vanno. Kalian berdua kan deket banget.”
“Sial! Kamu pikir saya 9ay apa!” sarkas Nicko tidak terima dengan penilaian Ashley tentangnya. “Sekarang kamu jawab pertanyaan saya. Kamu sudah paham belum cara buat kopi yang benar?”
Ashley menggelengkan kepalanya, “Belum, pak! Tadi saya kurang memperhatikan penjelasan bapak!” jawab Ashley dengan jujur membuat Nicko menghela nafasnya panjang.
“Ya sudah, sekarang kembali ke ruanganmu dan periksa jadwalku selama beberapa hari ke depan. Setelah itu jangan lupa untuk menyiapkan berkas penting yang harus saya gunakan saat meeting!”
__ADS_1
“Oke Pak!”
Ashley pun langsung kembali ke ruangannya dan menjalankan apa yang diperintahkan oleh Nicko. Dengan cekatan dan teliti ia menyiapkan apa saja yang diminta oleh Nicko barusan.
Dan dalam waktu dua puluh lima menit, Ashley sudah membawa berkas beserta jadwal Nicko dan kini ia berdiri di depan meja kerja Nicko.
“Jadwal Anda hari ini adalah meeting dengan perusahaan makanan di kawasan industri jam 2 siang, Pak!”
“Berkasnya sudah saya siapkan beserta dengan power point yang akan Anda gunakan untuk presentasi!” jelas Ashley sambil menyerahkan berkas dan juga flashdisk yang berisikan bahan presentasi Nicko.
Nicko pun langsung mengecek hasil presentasi yang dibuat oleh Ashley dalam waktu singkat. Betapa terkejutnya Nicko saat melihat hasil kerja Ashley kali ini.
Jika Ashley sangat payah dalam membuat kopi, kali ini Nicko mengakui kepandaian Ashley dalam membuat power point yang akan digunakan Nicko untuk presentasi.
Semuanya tersaji dalam bagan yang berbentuk spider web yang singkat, padat, jelas dan sangat mudah untuk dimengerti. Tidak hanya itu, tampilan slide yang Ashley buat terlihat sangat menarik. Bahkan gambar yang dibubuhkan di dalamnya juga sangat pas.
“Hasil yang sangat bagus Ashley!” puji Nicko membuat Ashley tersenyum lebar mendengarnya.
“Kita akan berangkat saat jam makan siang, sekarang kau boleh kembali ke ruanganmu!”
“Kita?” tanya Ashley.
“Iya, kamu akan ikut meeting bersama denganku!” jelas Nicko.
“Tapi kata Kak Tari tidak seperti itu pak. Selepas saya menyiapkan berkas meeting, saya akan mengerjakan pekerjaan yang lain dan stand by jika ada panggilan yang masuk untuk bapak!” protes Ashley.
“Bukankah bapak juga selalu pergi meeting sendiri?”
Kali ini Nicko diam sejenak sambil mencari jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan Ashley. Selama ini ia memang tidak pernah mengajak asisten untuk menemaninya meeting. Dia hanya membawa sopir dan itu pun diminta untuk tetap menunggu di luar.
Tapi mulai detik ini, ia akan membawa asistennya saat meeting. Dan peraturan ini ia ubah saat Ashley duduk menjadi asisten pribadinya dan menggantikan Tari.
“Meeting kali ini dan ke depannya kau harus ikut bersamaku, Ashley. Selain untuk belajar dan laporan magang, aku juga bisa meminta bantuan denganmu jika suatu saat menemukan masalah!” jawab Nicko.
“Tapi pak, siang ini saya sudah ada janji dengan Wildan untuk makan siang di kantin!”
“Batalkan! Dan jika kau membawa bekal, berikan saja untuknya!” titah Nicko.
__ADS_1
“Baiklah!” jawab Ashley dengan lemas sambil berbalik menuju ke ruangannya.