
Pak Puji, Carolin, dan juga Jandini hanya bisa menundukkan kepala mereka setelah tertangkap basah dan kesalahan mereka terungkap. Semua mata yang tertuju pada mereka membuat mereka bertiga merasa dikuliti habis.
Bukan sekali atau dua kali mereka berulah, tetapi sangat sering sekali membuat pegawai lain merasa tidak nyaman. Namun apa daya jika yang lain tidak mampu melawan mereka bertiga yang terkenal senior di perusahaan tersebut.
“Maafkan kami Pak Nicko!” ucap Kepala Ruangan.
“Minta maaf bukan kepada saya, melainkan kepada Ashley!”
Perintah Nicko barusan membuat pamor mereka turun seketika, Bagaimana tidak? Seorang senior justru harus meminta maaf kepada mahasiswa magang.
Namun tidak ada pilihan lain selain mengikuti apa yang dititahkan oleh atasan mereka. Setelah meminta maaf dan kembali ke tempat di mana mereka duduk, kini Nicko menanyakan apa yang diinginkan oleh tiga orang pegawai tersebut.
“Katakan apa yang kalian inginkan sekarang!”
“Kami siap untuk dipecat Pak!” jawab Pak Puji yang langsung mendapat tatapan tajam dari Carolin dan juga Jandini.
Untuk usia Pak Puji yang menginjak usia 50 tahun lebih, tidak masalah jika dipecat dari perusahaan karena ia akan mendapat pesangon yang besar. Berbeda dengan Carolin dan juga Jandini yang usianya masih sekitar 34 tahun. Selain pesangon yang mereka dapatkan sangat kecil, mereka juga akan kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan baru.
“Sayangnya saya tidak akan pernah memecat kalian! Melainkan akan menempatkan kalian untuk bergabung dalam tim kebersihan perusahaan!”
“Tidak hanya itu, sekali lagi kalian bertiga berulah dan mencelakai seseorang di perusahaan ini, maka kalian akan berhubungan dengan AKBP Devanno Xavier dan mendekam di dalam bui!”
Ancaman Nicko yang tidak main-main kini membuat hampir semuanya bergidik ngeri
Sedangkan Pak Puji dan kedua pegawainya sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka hanya bisa bungkam menerima hukuman atas kesalahan mereka kali ini.
Kini semua pegawai kembali ke tempat masing-masing. Begitu juga dengan Ashley yang langsung kembali ke ruang kerjanya dan kembali mempelajari untuk menjadi asisten Nicko.
Sedangkan Vanno dan juga Nicko masih ada di ruang meeting untuk membicarakan tentang pengadaan penambahan satpam di Bank One Point. Setelah itu, mereka berdua pun membicarakan tentang Ashley.
“Mau sampai kapan kamu terus-terusan kayak gini Nicko? Mencintai Ashley dalam diam sampai dia menganggap orang lain sebagai pengagum rahasianya!” ucap Vanno dan Nicko pun langsung menghela nafasnya panjang.
“Aku juga sedang memikirkan caranya untuk mengatakan pada Ashley jika selama enam tahun ini aku yang telah menjadi pengagum rahasianya.”
__ADS_1
“Kau tahu sendiri bukan bagaimana setiap Ashley bertemu denganku. Aku takut nantinya dia semakin membenciku, Vanno!”
“Cobalah untuk tidak mengganggunya saat dia nanti tinggal di Mansionmu, Nick. Berikan dia perhatian dan jangan pancing keributan!” tukas Vanno memberikan saran.
“Jika seperti itu justru membuatku semakin grogi dan salah tingkah, Vanno! Kau tahu sendiri kan, aku mengibarkan bendera perang dengan Ashley hanya untuk menutupi kegugupanku saat sedang berdekatan dengannya!” timpal Nicko.
“Kalau begitu, kau urus saja masalahmu tentang hal ini dan cari jalan keluarnya sendiri, Nicko. Kali ini aku tidak bisa membantumu. Aku, papa, dan mama hanya bisa membantu dengan tutup mulut selama ini.”
“Hanya saja jika kau tidak cepat bergerak, jangan menyesal jika Ashley menambatkan cintanya dengan orang lain. Enam tahun bukan waktu yang sebentar untuk Ashley menantikan pengagum rahasianya selama ini. Yaaah, meski tadi pagi ia mengatakan sudah jatuh cinta dengan isi surat yang kau kirimkan!” jelas Vanno membuat mata Nicko berbinar sempurna.
“Benarkah? Dia jatuh cinta dengan isi suratku?”
“Hemm!” jawab Vanno singkat. “Tapi belum tentu ia juga jatuh cinta dengan pembuatnya. Baiklah kalau begitu, aku akan kembali bertugas.”
Vanno mulai berdiri dan bersiap untuk meninggalkan ruang meeting. “Ashley sengaja tidak aku perbolehkan untuk membawa motor hari ini. Jadi, kau bisa mengantarkannya pulang, Nicko.”
“Ingat! Jangan sia-siakan kesempatan yang aku berikan!”
“Thanks abang ipar! Aku akan mencoba memberikan perhatian untuk Ashley!”
Ashley yang sedang fokus mengamati beberapa berkas Nicko pun tidak menyadari jika Nicko sudah berdiri di belakangnya. Berdekatan dengan Ashley saja membuat jantung Nicko langsung berdebar tidak karuan.
Terlebih saat Nicko menghirup aroma parfum Ashley yang sangat khas perpaduan wangi buah pear dan cherry, membuatnya langsung salah tingkah. Bahkan suaranya juga tercekat saat ia hendak memanggil nama Ashley.
Namun Nicko berusaha menetralkan degub jantungnya saat mengingat pesan Vanno agar dia bisa memperlihatkan perhatiannya selama ini untuk Ashley.
“Ashley, mulai hari ini kamu akan menjadi asistenku menggantikan posisi Tari.”
Suara Nicko yang tedengar begitu dekat di belakangnya membuat Ashley menoleh ke belakang dan kini keduanya saling bersitatap.
“Oke, Pak. Saya juga sudah paham kok!” balas Ashley dan Nicko cepat-cepat membuang wajahnya.
“Tari, kau bisa membawa tasmu dan langsung ke kantor cabang. Pak Arick sudah menunggumu di sana!” titah Nicko sambil menjauh dari Ashley.
“Dan kau Ashley, tolong bikinkan aku kopi lalu bawa ke ruanganku bersama kudapannya. Semuanya sudah disiapkan di pantry kecil ujung sana!” ucap Nicko sambil menunjuk ke arah pantry yang ada di ujung lantai 5.
__ADS_1
“Siap Pak!” jawab Ashley yang langsung berdiri dan berjalan menuju ke pantry.
Lima menit kemudian, Ashley sudah masuk ke ruang kerja Nicko dengan membawa nampan yang berisi kopi lengkap dengan kudapannya.
“Ini kopi dan kudapannya, Pak!” ucap Ashley sambil meletakkan di atas meja yang ada di dekat sofa.
“Bawa ke maja sini, Ashley!” titah Nicko sambil menunjuk meja kerjanya.
“Minumnya di sini saja Pak Nicko, takut nanti berkasnya ketumpahan kopi!” sanggah Ashley membuat Nicko memutar bola matanya malas.
“Ck, baru satu menit jadi asisten udah bandel saja sih kamu!” gerutu Nicko yang langsung memasang wajah juteknya.
Dengan kesal Nicko mendekati Ashley dan duduk untuk menikmati kopinya. Namun, belum ada satu teguk Nicko sudah menyemburkan kopinya.
“Ya Ampun Ashley, kamu mau ngeracuni bos kamu sendiri, hah?” tanya Nicko kesal.
“Yaah, kalo itu diperbolehkan sih saya mau pak, tapi kan saya takut masuk penjara!” balas Ashley.
“Kamu ini yaaa!”
“Yaelah, bercanda aja kali pak. Mana mungkin saya meracuni bapak! Memangnya kenapa sih pak? Kopinya terlalu nikmat yaaa?” tanya Ashley.
“Kamu ini bikin kopi atau bikin sop sih? Kenapa rasanya asin begini?”
“Ooooh, berarti yang tadi saya masukin itu garam pak! Yaudah sini saya bikin lagi kopinya!” Ashley langsung merebut cangkir kopi dari tangan Nicko kemudian membawanya kembali ke pantry untuk membuatkannya yang baru.
Sayangnya kopi buatan Ashley yang kedua, bubuk kopinya terlalu sedikit dan gulanya terlalu banyak. Akhirnya, Ashley kembali membuatkan kopi yang ketiga.
“Sudah pas belum pak?” tanya Ashley saat menunggu Nicko menikmati kopi buatannya yang ketiga.
“Kali ini kau justru membuat kopi tanpa gula Ashley. Bahkan kopinya terlalu banyak!”
“Tapi tadi udah saya kasih gula loh pak!” kilah Ashley.
Nicko meletakkan cangkir kopinya dan menatap Ashley secara intens.
__ADS_1
“Sebenarnya kamu bisa gak sih bikin kopi?” tanya Nicko.