My Future

My Future
(Eps.10) Malam yang panjang


__ADS_3

Sekarang Febri pindah ke ruang keluarga lebih baik dia menonton acara televisi kesukaan nya dari pada meladeni Nathan dikamar nya. "Untung saja leherku yang digigit nya tidak meninggalkan bekas, Dasar Vampir! tapi emang ada ya vampir ganteng kayak dia hahaha" ucap Febri berbicara sendiri.


Tiba-tiba pintu utama terbuka, ternyata itu Tante Clara dan Clarinta sepulang dari berbelanja.


Langsung saja Febri beranjak dari tempat nya dan menghampiri tante untuk membawa barang belanjaan mereka ke dapur.


"Terimakasih sayang"ucap tante Clara pada Febri.


"Maa, Clarin ke kamar dulu ya, remuk nih badan dua jam di Mall" seru Clarinta pergi menaiki anak tangga.


"Clarinta, bantu mama dulu" ucap Clara.


"Biar saya aja tante yang bantu, pasti Clarin capek, gantian sama aku aja, dari tadi juga bosen gak ada kerjaan" seru Febri menawarkan bantuan.


"Oke kalau gitu, tante mau mandi dulu ya, Febri cuci sayuran nya aja dulu, nanti tante susul" ucap Clara pergi meninggalkan Febri sendiri di dapur.


"Oke Tante siap"


Belum 5 menit terdengar suara langkah


"Loh tante kok cepet banget mandi nya" ucap Febri yang sedang mencuci sayuran di wastafel.


"Ebi yakin kamu bisa masak?" seru Nathan yang tiba-tiba memeluk nya dari belakang.


"Nathan? kirain tante, lepasin gak! nanti tante liat" ancam Febri


"Biarin aja, toh nanti nya kamu juga jadi calon istriku" ucap Nathan membuat Febri malu, wajahnya sekarang merah semerah kepiting rebus.



"Nathan sampai kapan kamu mau memelukku?" tanya Febri yang hanya diam didepan wastafel, ia sudah mencuci semua sayuran dan Nathan masih memeluknya kira-kira setengah jam lamanya. Nathan pun melepas pelukan nya dan mencium pipi kiri Febri lalu pergi. "Dasar aneh"batin Febri sambil tersenyum.


Tante Clara datang dengan rambut yang masih basah dan mereka melanjutkan masak memasak di dapur.

__ADS_1


Pukul 8 Malam


Makanan yang tadi di buat oleh Febri dan tante Clara sudah tertata rapi di meja makan.


"Febri, tolong panggil Nathan ya, biar tante yang bangunkan Clarinta sepertinya dia tertidur" seru Tante Clara.


"Baik tante" ucap Febri, ia langsung menuju kamar Nathan dan mengetok pintu.


"Nathan, ayo makan" tidak ada jawaban dari balik pintu. "Apakah Nathan masih sibuk dengan urusan perusahaan nya?"batin Febri.


Febri mencoba membuka pintu, ternyata tidak dikunci, ia melihat Nathan yang sedang tidur. "Gantengnya, tidur pun wajah nya terlihat sangat berkarisma dan dewasa, aku tidak percaya teman masa kecil ku bentuk nya seperti ini. Ternyata Rion bisa setampan ini" ucap Febri yang tak sadari di dengar Nathan.


"Ada apa sayang? mau tidur denganku?" ucap Nathan, ia langsung bersender diranjang sambil menyilangkan kedua tangannya.



"Hah? tidak... anu.. ayo turun, makan malam nya sudah siap" ucap Febri tebata bata lalu pergi meninggalkan Nathan yang masih belum mengumpulkan nyawa untuk beranjak dari ranjangnya.


"Sayang, sudah pulang? ayo makan dulu" seru tante Clara pada suami nya yang baru pulang dari kantor. Aldric pun ikut bergabung makan malam bersama, lalu ia membuka suara, "Papa dan mama akan pergi ke Singapure selama dua hari, Nathan dan Clarinta tolong dirumah saja ya jaga Febri disini" ucap paman Aldric.


"Ha? papa mama mau pergi? Clarinta ikut dong, boleh ya maa" seru Clarinta memohon ke Mama nya, walaupun Clarinta bukan anak kandung di keluarga ini, tapi semua keinginan nya pasti dituruti oleh papa dan mama nya selagi masuk akal.


"Sayang, kamu mesti nemenin Febri disini, mama takut kalau Nathan berani menyentuh Febri kita" ucap Clara.


"Maaa memangnya aku pria macam apa" ucap Nathan dengan suara serak basah akibat baru bangun tidur.


"Bagaimana pun kamu tetap seorang pria" Ucap Clara.


"Memang nya kenapa jika aku menyentuh Febri? toh nanti dia juga bakal menikah denganku" ucap Nathan membuat Febri tersedak, Clara langsung memberi nya segelas air.


"Nathan jangan bicara tiba tiba seperti itu" ucap Febri kesal.


Makan malam pun usai, diiringi dengan perbincangan kecil dan candaan dari keluarga Arion. Febri merasa bahagia, Keluarga Nathan tidak kalah baik nya dengan keluarga nya sendiri.

__ADS_1


Pukul 00:55


Angin kencang terdengar dari luar, seperti nya akan turun hujan yang sangat lebat malam ini. Febri sama sekali belum mengantuk ia baru saja mandi, padahal sudah larut malam, memang tidak baik untuk kesehatan tapi Febri sangat suka rasa dingin disekujur tubuhnya saat mandi dimalam hari, kini ia hanya menatap langit langit kamarnya itu, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang membuatnya merinding.


"Siapa itu?" teriaknya, tetapi tidak ada jawaban dari luar sana, "pencuri kah?"batin Febri merasa ketakutan.


Langit pun akhirnya meneteskan setitik titik air nya ke bumi lama kelamaan semakin deras, terlihat kilat yang menandakan akan datangnya bunyi petir.


JDEERR


Febri hanya menutup telinganya, ia tidak peduli betapa keras nya suara petir itu, perhatian nya hanya tertuju pada suara langkah kaki yang bolak balik didepan pintu kamarnya.


Febri memberanikan diri untuk membuka pintu, ia sudah mengancang-ancang dengan membawa parfum untuk disemprotkan ke wajah pencuri itu.


3 2 1 Febri menghitung mundur lalu membuka pintu, tapi kemana pencuri itu? tidak terlihat ada orang didepan kamarnya.


"Huft! mungkin perasaan ku saja" Febri kembali menutup pintu dan menguncinya, Tiba tiba saat ia ingin berbalik badan, "Aaahh!!!" Nathan tiba tiba menutup mulut Febri. "Hustt! ini aku, jangan teriak, ntar papa mama denger" ucap Nathan.


"Nathan kamu ngapain sih? hampir nih botol parfum pecah di kepalamu, hobi banget sih bikin aku kaget" ucap Febri jengkel.


Nathan langsung naik ke atas ranjang Febri dan menarik selimut. "Kamu mau ngapain dikamar ku?" ucap Febri mendekati Nathan.


"Aku takut petir, biarkan aku tidur disini bersamamu" ucap Nathan dengan posisi nyaman nya saat ini. "Nathan, cepet keluar, jangan banyak alasan" ucap Febri sambil menarik tangan Nathan. Karena kekuatan Nathan lebih kuat, bukannya ia yang tertarik, malah tubuh Febri yang tertarik sehingga posisi nya sejajar dengan Nathan. "Sayang aku mau tidur disini dengan mu" ucap Nathan.


Sekarang mereka saling bertatapan dan tersenyum. Berharap tetap seperti ini, selamanya, tidak akan terpisahkan.



Nathan dan Febri tertidur di satu kamar yang sama hingga menjelang pagi, tidak risau kalau esok adalah hari Senin (mereka harus sekolah).


JANGAN LUPA LIKE , KOMEN, BERI KRITIK DAN SARAN YA^^ AGAR AUTHOR YANG PEMALAS INI BISA SEMANGAT DIKIT BUAT CERITA NYA :")


TERIMAKASIH ^^

__ADS_1


__ADS_2