My Future

My Future
Kehilangan


__ADS_3

Tata duduk melamun di dapur memperhatikan Simbah yang tangah memasak untuk sarapan pagi ini. Ya setelah beberapa bulan berlalu, kini Tata benar-benar pengangguran. Tidak ada kegiatan pasti, tidak ada teman untuk bermain, keseharian gadis itu hanya seputar membersihkan rumah, membantu Simbah memasak, sesekali ke ladang atau ke sawah dan mengasuh sepupunya atau bermain dengan anak mbak Ketut.


"Nduk, nasi nya sudah matang. Mbah mau ke kamar istirahat, punggung Mbah sakit. Kamu teruskan masak sayurnya ya" suara Simbah menyadarkan Tata dari lamunannya.


"Memang mau masak sayur apa Mbah?" tanya Tata memang tidak memperhatikan apa yang di lakukan Simbah.


"Tumis genjer, kemaren Mbah ngambil di sawah depan sana. Tempe nya di goreng aja, kalo gak males sekalian bikin sambel telor bebek" tutur Simbah.


"Gak mau bikin sambel telur bebek. ikan asin ada nggak Mbah?"


"Ada itu di gantung dalam plastik atas tungku. Ya udah Mbah mau rebahan di kamar, jangan lupa nanti kalo udah beresan langsung di cuci wajan sama ulekan nya" pesan Simbah yang sudah berjalan menuju kamar.


"Oke bosss" sahut Tata yang mulai memetik cabai dan mengupas duo bawang sebagai bumbu untuk menumis genjer.


Dengan cekatan Tata mengerjakan masakannya, gadis itu memang tidak terlalu pandai memasak namun jika hanya tumis-tumisan dan sayur bening masih bisa ia kerjakan. Asalkan tidak menggunakan banyak bumi dan rempah dapur.


Selesai masak, Tata langsung membawa semua peralatan dapur yang kotor ke pencucian piring yang berada di dekat sumur, gadis itu mulai mencuci dan menggosok bagian bawah wajan dan panci yang menghitam karena memasak di atas tungku. di desa Mekar Jaya memang hanya beberapa orang saja yang memasak menggunakan kompor, itupun kompor minyak, bukan kompor gas.


Setelah selesai mencuci peralatan dapur, Tata lanjut mencuci pakaian yang sudah di rendam sejak subuh tadi. Sekalian kerena sudah terkenal air, sekalian basah-basahan mumpung semangat juga. Sebab jika nanti istirahat pasti rasa malas akan mendominasi.


Kini Tata sudah selesai dengan rutinitas paginya, ia menuju kamar Simbah untuk membangunkan Simbah lalu sarapan bersama.


"Mbah...mbah... Tata udah beresan, ayo makan" serunya, namun tak ada jawaban dari Simbah.


"Mbah, ayo bangun sarapan abis itu minum obat dari Bu bidan" seru Tata, karena Simbah tak kunjung menjawab akhirnya Tata masuk ke kamar Simbah dan


"Mbah...." Tata mengguncang tubuh Simbah yang terbaring, namun tidak ada pergerakan yang berarti.


"Mbah bangun jangan bercanda pagi-pagi gini" Tata memegang tangan Simbah, dan dingin, sangat dingin dan kaku.


"Mbah...Mbah bangun...Mbah..." Tata mencoba untuk berpikir positif.

__ADS_1


"Mbahhhhhhhhhh......!!!!!!" teriak Tata menggelegar menyadari Simbah memang sudah pergi.


"Mbah...jangan tinggalin Tata hiks..hiks...bangun Mbah...tata gak mau sendiri" Tata memeluk tubuh Simbah.


"Mak Ni kenapa Ya?" mbak Ketut datang karena mendengar teriakan Tata.


"Mbak, Mbah, cuma tidur kan? Mbah akan bangun kan Mbak?" Tata menggenggam tangan mbak Ketut lalu menariknya mendekati Simbah.


"Ta.." Mbah Ketut langsung memeluk gadis itu, ia pun menangis setelah memastikan keadaan Simbah.


"Nggak...!!!! Mbah gak apa-apa, Mbah cuma tidur, Mbah capek" Tata berusaha menyangkal kenyataan. Dan mbak Ketut semakin erat memeluk nya.


Bli Wayan yang tak lain adalah suami mbak Ketut langsung memanggil paklek Arif dan istri nya, setelah itu memanggil Bu bidan untuk memastikan kematian Simbah. Walaupun tanpa di pastikan Bu bidan, mereka sudah tahu kalau Simbah memang sudah meninggal.


"Paklek.... Mbah gak apa-apa kan? Mbah cuma tidur kan?" Tata memeluk paklek nya yang baru saja datang.


"Iya Mbah mu tidur, udah jangan nangis" Pakde Arif memenangkan keponakan nya.


"Koq nggak bangun-bangun dari tadi Tata panggil"


"Nggak-nggak Tata gak mau, Tata mau ikut Mbah, Tata ma.." gadis itu terjatuh pingsan.


paklek Arif langsung menggendong nya membawa gadis itu ke kamarnya.


Para tetangga pun mulai berdatangan melayat, bapak-bapak membagi tugas untuk menyiapkan liang lahat untuk peristirahatan terakhir Simbah. Sedangkan ibu-ibu datang dengan membawa barang, seperti beras, gula, minyak goreng, bahkan ayam jago, hingga kayu bakar untuk persiapan tahlilan. Semua itu sangat wajar di desa Mekar Jaya, baik kebahagiaan pesta ataupun kemalangan duka cita seperti ini semua masyarakat selalu kompak gotong royong membantu meringankan pekerjaan tanpa di suruh tanpa di minta, mereka semua suka rela mengulurkan tangannya.


Mbak Ketut dan Bli Wayan juga membantu menyiapkan segala keperluan untuk pemakaman dan malam tahlilan Simbah meskipun mereka tak bisa mengikutinya. namun apapun yang bisa mereka bantu pasti mereka lakukan terlebih pasangan suami istri itu sudah menganggap Mbah Sarni seperti orang tua nya sendiri.


"Kamu sudah bangun Ta?" Bik Mini mendekat keponakan nya itu. Tata memang sudah bangun dari pingsannya namun gadis itu hanya diam dan matanya menatap kosong.


"Mau minum Ta?" tawar Bik Mini dengan sabar, Bik Mini tahu jika sang keponakan sangat sedih bahkan bukan tidak mungkin jiwanya terguncang karena kehilangan Simbah, sedangkan berpisah dengan teman-teman sekolah nya saja membuat Tata menjadi murung dan pendiam, apalah kehilangan Simbah yang menjadi pusat dunianya.

__ADS_1


Tak ada jawaban apapun dari mulut Tata, gadis itu hanya diam memandang lurus ke depan. Bik Mini memeluk gadis itu, ia pun juga sedih kehilangan sang mertua.


"Ayo siap-siap ganti baju, sebentar lagi kita antar Mbah ke rumah barunya" ucap Bik Mini dan masih tak mendapat respon apapun dari Tata.


Setelah di sholat kan di masjid setempat, jenazah Mbah Sarni langsung di bawa ke pemakaman meskipun anak kedua dari Mbah Sarni belum datang, karena memang berada di provinsi sebelah.


Paklek Arif turun menerima jenazah sang ibu, beliaulah yang mengumandangkan adzan terakhir bagi sang Ibu, meskipun sedih tapi paklek Arif terlihat tegar dan menerima takdir yang sudah di garis kan. sedangkan Tata masih dengan ke bisuannya, entah apa yang di pikirkan gadis itu.


Setelah prosesi pemakaman selesai, papan nisan pun sudah di pasang, doa juga sudah selesai, para pelayat sebagian sudah pulang hany tersisa anggaran keluarga dan beberapa tetangga terdekat. Tata menjatuhkan diri di sebelah papan nisan Simbah, tidak ada air mata yang menetes, matanya terus menatap tulisan yang ada di papan tersebut.


"Ayo pulang nduk" bujuk paklek Arif lembut.


"Tata mau disini menemani Mbah" lirih nya.


"Mbah gak perlu di temani, Mbah hanya perlu kita doakan, ayo pulang" bujuk paklek sabar.


"Paklek pulang aja, Tata udah gak punya rumah" lirih nya.


"Itu rumahmu, kalo gak mau di rumah sendiri, tinggal sama paklek aja" paklek Arif menepuk-nepuk punggung Tata.


"Aku gak punya siapa-siapa lagi" tangisnya pecah mengingat bahwa dirinya tidak mempunyai tempat untuk berbagai.


Hiks...hiks...huhu...huhu....


suara tangis Tata semakin kencang.


"Ayo nangisnya di rumah aja" paklek Arif membantu Tata berdiri lalu


Bruk...


kini Tata jatuh pingsan untuk kedua kalinya.

__ADS_1


Gadis itu sangat sedih dan berduka karena kehilangan Mbah nya, bahkan dulu saat ia kehilangan ibunya tak sesedih ini karena saat itu Tata masih balita yang tak memahami akan kematian. Berbeda dengan sekarang Tata yang sudah dewasa dan paham akan kematian, Tata merasa sendirian, kehilangan rumah, tempat untuk bernaung, tempat untuk pulang, tidak ada sandaran. Meskipun masih ada keluarga paklek yang dengan suka rela menampung keberadaan nya. Kini hari-hari akan terasa semakin sepi setelah berpisah dengan teman-temanya, sekarang takdir memaksa nya berpisah dengan Mbah tercinta nya.


TBC


__ADS_2