
Rahang Riko mengeras geram mendengar pertanyaan dari wanita yang baru saja datang itu. Bli Wayan dan mbak Ketut yang tadinya duduk diam kini ikut berdiri mendekati Riko dan pak Agung.
"Bisa anda jelaskan siapa yang anda maksud dengan anak itu?" tanya Bli Wayan.
"Sebenarnya Tata sudah berjanji akan mendonorkan salah satu ginjalnya pada adiknya" bohong pak Agung.
"Itu sangat tidak mungkin" sahut Riko.
"Kenapa tidak mungkin? Tata kan kakaknya, sudah semestinya jika seorang kakak menolongnya adiknya" seru wanita yang ada di samping pak Agung.
"Begitukah?" Bli Wayan tersenyum miring. "Jika Tata sebagai kakak sudah semestinya menolong adiknya, lalu pak Agung sebagai ayah sudah memberikan apa pada Tata selama 24 tahun hidupnya?" Bli Wayan pun ikut geram.
"Kau siapa memangnya?"
"Yang pasti saya lebih tahu tentang kehidupan suka duka yang di jalani oleh Tata dari pada orang yang mengaku sebagai bapak kandungnya ini" Bli Wayan menatap tajam wanita paruh baya itu.
"Kita pindahkan saja anak itu ke rumah sakit lain Pah, lagi pula kau adalah satu-satunya orang tuanya, dan lebih berhak atas anak itu dari pada orang-orang ini" ibu Diana menatap sinis pada Riko, Bli Wayan, dan Mbak Ketut.
"Atas dasar apa jika anda lebih berhak dari pada kami? apakah nama Arsinta Maulida itu tercatat dalam kartu keluarga kalian? karena setahuku Tata memiliki kartu keluarga sendiri, karena sudah menganggap dirinya yatim piatu. Dan itu artinya pak Agung sudah mati bagi Tata" jelas Bli Wayan yang sempat membantu mengurus kartu keluarga milik Tata bersama paklek Arif.
"Tidak bisa, saya adalah ayah kandungnya, dan siapakah tidak bisa mengubah kenyataan itu" kekeh pak Agung tidak terima mendengar pertanyaan Bli Wayan.
"Tapi anda tidak punya dokumen apapun yang menyatakan bahwa and wali sah dari Tata" ucap mbak Ketut yang ikut geram.
"Tapi saya ini ayah kandungnya"
"Hanya ayah kandung, tapi kewajiban anda sebagai seorang ayah tidak pernah di lakukan" sinis Riko. "Saya disini sebagai calon suaminya tidak akan mengizinkan Tata di bawa kemana-mana oleh siapapun, sekalipun itu anda ayah kandungnya" tegas Riko, pengakuan sebagai calon suami tadi hanya untuk memanas-manasi Jaye, tapi sekarang tidak lagi. Selain Riko sangat mencintai Tata dan menerima apa adanya, kini Riko juga harus melindungi Tata dari pria yang mengaku sebagai ayah kandungnya.
"Hanya sebagai calon suami tidak memiliki kekuatan apapun" ketus Bu Diana, membuat Riko sedikit gundah.
"Anda juga hanya mengaku sebagai ayah kandungnya, tapi tidak memiliki kekuatan apapun. Apalagi tidak punya dokumen resmi yang menyatakan jika anda ayah kandungnya" sahut Bli Wayan.
"Aku pasti akan membawa Tata pergi dari sini" ucap pak Agung, meninggalkan ruang ICU itu bersama istrinya.
__ADS_1
☘️
☘️
☘️
Riko, Bli Wayan dan Mbak Ketut kebingungan jika sampai pria yang bernama Agung itu benar-benar bisa membawa Tata ke rumah sakit lain. Mereka semua bukanlah anggota keluarga Tata, jika benar pak Agung adalah ayah kandung Tata dan bisa menjadi wali sah Tata, maka ketiga orang yang selalu mendampingi Tata tidak bisa berbuat apa-apa.
"Bagaimana ini Bli?" untuk pertama kalinya Riko berbicara sopan dan lembut.
"Tata tidak akan kemana-mana, dan orang tua itu tidak akan bisa berbuat apa-apa. Arif dalam perjalanan menuju kemari" ucap Bli Wayan menenangkan Riko, ia juga telah memerintahkan pekerjanya untuk membawa paklek Arif dan Bik Mini datang ke rumah sakit.
"Lagi pula jika Mel kondisi Tata yang masih kritis, dokter juga tidak akan mengizinkan Tata di pindahkan ke rumah sakit lain" ucap mbak Ketut.
"Benar juga" lirih Riko, ia menatap sendu pintu ICU yang tertutup rapat itu.
"Kamu harus bertahan queen, aku janji akan selalu mencintaimu, menerima mu. Mari kita bangun rumah tangga yang bahagia, akan ku jadikan kamu sebagai satu-satunya wanita dalam hidupku, menua bersama" ucap Riko dalam hati.
"Kami akan pulang dulu untuk melihat keadaan Jaye, jika ada apa-apa tolong segera hubungi kami" ucap Bli Wayan, ia juga harus memperhatikan kondisi adiknya.
☘️
☘️
☘️
Jaye terbaring lemah di ranjang tempat dirinya dan Tata biasa tidur bersama, segala kenangan indah yang mereka lalui menari-nari di pelupuk matanya. Empat tahun lebih menjalin hubungan dengan Tata, tidak sekalipun keduanya bertengkar, sikap manja Tata dan kedewasaan Jaye membuat hubungan mereka selalu harmoni dan bahagia.
Di samping itu juga, Jaye berusaha untuk selalu membahagiakan Tata seperti janjinya pada Bli Wayan dan menjaga Tata seperti yang pernah ia katakan pada mendiang Mbah Sarni. Itu semua Jaye lakukan dengan besarnya cinta yang ia miliki untuk gadis itu. Tapi nyatanya perpisahan tidak mampu ia hindari, meskipun dari awal ia sudah memperkirakan perpisahan ini karena perbedaan keyakinan keduanya.
"De" Bli Wayan di ambang Lindu menata sendu adik satu-satunya itu.
"Dia sudah sadar Bli?" Jaye menoleh ke arah pintu.
__ADS_1
"Belum, Tata belum melewati masa kritis nya" sahut Bli Wayan.
"Kapan rencana perjalanan mu dengan wanita itu" Bli Wayan belum tahu tentang kebohongan dan kebusukan Komang.
"Tidak akan terjadi pernikahan"
"Maksudnya?"
"Dia hamil, tapi bukan anakku. Seperti yang aku katakan pada Bli tempo hari"
"Lalu kenapa dia mengaku jika itu anakmu? bukankah dia tahu jika kau menjalin hubungan dengan Tata? dan kau bilang dia teman Tata semasa SMA?"
"Dia dendam pada Tata, karena dia menyuruh Riko, tapi Riko menolak nya dengan alasan realistis, dan Riko juga tidak suka padanya sebab yang Riko suka adalah Tata"
"Maksudnya dia ingin membalas Riko tapi melalui Tata, begitu?"
"Hem, dia memang wanita kejam dan licik. Aku sangat menyesal tidak memberi tahu Tata tentang kejadian yang sebenarnya, sehingga ia harus menanggung semua derita ini Bli" sesal Jaye. "Bahkan kami harus kehilangan calon anak kami sebelum kami tahu kehadiran nya" Jaye mulai menangis. "Aku tidak tahu harus mengatakan apa pada Tata? rasanya seribu maaf pun tidak cukup, apalagi karena kebohongan ku Tata harus kehilangan rahimnya, dia tidak akan bisa hamil lagi" Jaye menangis tersedu seperti anak kecil, penyesalan yang tidak berguna, ia bingung harus berbuat apa.
"Kita tidak bisa melawan takdir De" ucap Bli Wayan yang merasakan sesak di dadanya, ia sangat menyayangi Tata, ia bahkan mewanti-wanti Jaye untuk tidak menyakiti Tata, tapi kini yang terjadi bukan hanya menyakiti, tapi menghancurkan sehancur-hancurnya.
"Maafkan aku Mak Ni, aku tidak bisa menjaga cucu kesayangan mu" bisik Bli Wayan dalam hatinya.
"Mbak yakin di balik semua kesakitan ini ada kebaikan untuk kau dan Tata, De" gumam mbak Ketut, melihat Jaye dan suaminya sama-sama terisak akan kenyataan yang ada.
Saat keluarga menjadi orang asing, maka ia akan sangat jauh, tapi saat orang asing menjadi keluarga, maka ia akan sangat dekat, seperti helaan nafas. Tata memang tidak beruntung hidup di antara ayah dan ibunya, tapi kehidupan Tata selalu di kelilingi oleh orang baik seperti Bli Wayan, mbak Ketut, juga Riko, sahabat tersayang ya.
☘️
☘️
☘️
☘️
__ADS_1
☘️
TBC 🌺