My Future

My Future
Menjadi Wanita


__ADS_3

Kehidupan Jaye dan Tata kembali normal seperti sedia kala sebelum terjadinya malam kelam yang Jaye alami. Malam ini kedua anak manusia itu tengah bermesraan di atas ranjang.


"Kenapa tanganku tak bisa lagi menggenggam nya" tanya Jaye yang tengah mencoba menggenggam buah eksklusif milik Tata yang menjadi favorit nya.


"Tentu saja tidak muat di genggam tangan Bli, ukurannya sudah ganti" jawab Tata menikmati sentuhan kekasihnya.


"Benarkah? dari berapa menjadi berapa?" Jaye mulai menghi sap puncak buah itu.


"Enghh....dari 34 menjadi 36 uhh..." Tata tak dapat menahan des ahannya.


"Tidak sia-sia aku memainkannya nya setiap malam" Jaye memberikan gigitan kecil di sekitar bulatan buah itu.


"Bli..." rengek Tata.


"Kau menyukainya?" tangan Jaye mulai turun ke arah lembah basah di bawah sana.


"Hemm" Tata tak sanggup menjawab pertanyaan Jaye, tangannya pun sudah meraih tongkat keramat milik Jaye yang sudah bangun dari tidurnya.


"Kau semakin pintar sayang" Jaye merasakan pijitan lembut Tata, pria itu membungkam gadisnya saat tangannya memainkan gading kecil yang tumbuh di area lembah itu.


"Enghhhh" tubuh Tata bergetar hebat saat jari Jaye menyentuh pusat sensitif nya.


"Nikmati sayang, aku akan memanjakan mu malam ini" sela Jaye di tengah pertukaran saliva nya. Tata mengenggam erat tongkat Jaye sebagai tanda dia berusaha mengendalikan diri.


"Bli" rengek Tata saat merasakan satu jari Jaye memasukkan pintu lembah nya. "Aku tidak tahan" nafasnya memburu


"Kau menginginkan nya" kedua tangan Jaye sibuk menyusuri pegunungan dan menyelami lembah hangat.


"Sangat" Tata terus mengurut tongkat yang ada di tangannya.


"Aku juga menginginkan nya sayang, bisakah aku memasuki nya?" Jaye pun sudah sangat terbakar, matanya berkabut ga irah.


"lakukan" Tata membuka akses untuk mempermudah Jaye masuk dalam lembah hangat nya. Pria itu langsung memposisikan dirinya, bersiap mencetak gol indah bersama gadisnya yang sebentar lagi akan di ubahnya menjadi seorang wanita.


"Sss... sakit Bli" Tata mendesis merasakan perih panas dan sakit saat benda tumpul itu mencoba menerobos masuk pertahanan nya.


"Sedikit lagi sayang, tahan sebentar" Jaye kepayahan membuka jalan.


Jlebbb...


Tongkat keramat itu berhasil memasuki kawasan lembah terlarang yang seharusnya memang tidak boleh di masuki karena belum sah kepemilikan nya, tentu saja lembah itu masih menjadi lembah sengketa.


"Ahhh...." jerit Tata, merasakan sesuatu di bawah sana terkoyak, dan air matanya menetes.


"Maaf telah menyakitimu" lembut Jaye mengecup kedua mata Tata dan berlabuh di bibir mungilnya. "Bisakah aku memulainya" izin Jaye setelah beberapa saat mendiamkan tongkatnya tertanam di bawah sana.


"Pelan-pelan" ucap Tata yang belum terbiasa akan ganjalan di bawah sana.

__ADS_1


Jaye pun mulai menggerakkan tubuhnya perlahan-lahan, menikmatinya surga dunia untuk kedua kalinya. Namun kini benar-benar suatu yang di dambakan nya, menjadi pria pertama untuk gadis yang sangat di cintai nya. Tentang terjadinya ikatan resmi atau tidak, Jaye tak terlalu memikirkannya, satu yang pasti. Jaye tidak akan melepaskan wanita yang kini berada di bawah kungkungan nya, bagaimanapun caranya Jaye akan mempertahankan Tata agar tetap di sisinya.


"Terimakasih sayang" Jaye mengecup kening Tata setelah memuntahkan lahar panas itu di dalam lembah hangat.


"Jangan tinggalkan aku" ucap Tata yang berada di pelukan Jaye.


"Never" pria itu memeluk erat gadis yang sekarang menjadi wanitanya.


☘️


☘️


☘️


"Hai Yud" sapa Dinda pada Yudi. Ya Yudi benar-benar ikut Riko ke kota dan bekerja di kafe ayahnya Dinda.


"Siang Bu" sopan Yudi menyapa anak Boss nya itu.


"Oh ya ampunnnnnn gue belum setua itu taukkk" kesal Dinda yang tak ingin di panggil Ibu.


"Jadi gimana dong?"


"Terserah Lo aja lah, Riko ada?" tanya Dinda.


"Ada di ruangannya " sahut Yudi.


"Anjimmmm, cewek secakep Dinda di kacangin sama Riko. Tuh anak emang bener-bener serakah, otak pinter, visual ganteng, karir bagus, di kejar-kejar cewek cakep plus tajir, terkadang gue ngerasa Tuhan gak adil" Yudi menggelengkan kepalanya meratapi nasibnya yang jauh berbeda dengan Riko.


Tok...tok...tok...


"Masuk" seru Riko dari dalam.


"Hai Rik" sapa Dinda.


"Hai, kapan datang?"


"Beru aja, gue langsung ke sini. Gimana prospek kafe ini?" tanya Dinda.


"Hemmm so far so good, kenapa?"


"Berarti ayah gak salah pilih orang untuk mempercayakan kafe ini sama Lo"


"Of course, I'm a good person and smart" sahut Riko.


"Ck...ck... Lo jadi narsis ya sekarang"


"Gue hanya mencoba menikmati hidup tanpa tekanan pelajaran" tutur Riko.

__ADS_1


"Ya fokus Lo sekarang kan cuma Arsi" lirih Dinda.


"Gak perlu membahas sesuatu yang membuat Lo sakit Din" ujar Riko.


"Lo tetap gak bisa buka hati buat gue?" Dinda menatap Riko penuh harap, cinta yang dikiranya sesaat, ternyata masih bersemayam di hatinya.


"Sorry" sesal Riko.


"It's okay, gue paham" tutur Dinda.


"Gue yakin Lo akan menemukan pria yang lebih baik dari pada gue" ucap Riko tulus.


"I hope so" jawab Dinda tersenyum.


☘️


☘️


☘️


"Ini gak bisa di biarkan" seorang wanita menatap stik pipih yang ada di tangannya, wanita itu marah karena hasilnya tidak sesuai dengan harapannya.


"Gue harus berbuat sesuatu" ucapnya lalu menghubungi seseorang.


📞"Lo dimana? tanyanya.


"....."


"Gue tunggu di hotel melati kamar 112" ucapnya.


"......"


"Sekarang, gue gak suka nunggu" lalu ia memutus panggilan itu.


"Apa yang udah gue rencanakan harus berhasil, Lo akan lihat sisi buruk gue Rik. Gue pastikan perempuan yang Lo cinta itu hancur tak tersisa dan Lo gak akan bisa berbuat apa-apa" geramnya menatap tajam pantulan dirinya di dalam cermin.


Wanita itu adalah Komang, yang memiliki dendam kepada Riko dan berusaha membalas rasa sakit hati karena penolakan Riko. Terdengar tidak wajar jika dia memilih dendam sebesar itu dan melampiaskannya kepada orang yang tidak bersalah, namun hatinya sudah di selimuti sisi negatif nya, sehingga tidak bisa membedakan antara yang benar dan yang salah. Padahal jika di tilik kebelakang persahabatan antara Komang, Riko dan Tata sangat indah, meskipun tidak sedekat Tata, Komang bisa leluasa menyapa dan mencuri pandang Riko dari jauh. Sayangnya rasa kagum itu sudah berubah menjadi obsesi yang sangat besar, hingga ia melakukan apa saja demi mendapatkan Riko, dan berakhir pada penolakan Riko meskipun secara realistis penolakan itu adalah jalan terbaik bagi keduanya, namun penolakan itu di salah artikan oleh Komang dan membuat sisi jahat dirinya menguasai amarah itu dan mengambil alih emosi dan kejiwaan Komang. Sehingga hal negatif pun adalah pilihan yang benar menurut nya.


☘️


☘️


☘️


☘️


TBC

__ADS_1


☘️


__ADS_2