My Future

My Future
Salah Timing


__ADS_3

Tata berdiri di balik pintu kamarnya, kedua tangannya memegangi dadanya yang terasa hendak meledak, matanya tertutup rapat namun bibir menyunggingkan senyuman.


"Astaga, bibir gue udah gak perawan lagi. gue udah ciuman, benar-benar berciuman. Bli Jaye cium gue mbahhhhhh cucumu gak suci lagi. aduhhh gimana ini? gue harus apa? gimana nanti kalo ketemu sama Bli? pura-pura gak kenal kan gak mungkin, pura-pura gak liat kali ya. eh... tapi gak mungkin juga, aduh gue harus gimana?" gumam hati Tata.


Tata hanya mondar mandir di dalam kamar, tak tahu harus bagaimana menghadapi Jaye.


"Duh.. gimana ya? apa gini aja ehm... ha...hai.. Bli" praktek Tata di depan kaca. "Itu terlalu kaku" Tata menggelengkan kepalanya. "Lagi apa Bli? memangnya Bli Jaye ngapain lagi kalo bukan jaga toko? duh gimana ini? gue gak bisa keluar" keluh ya duduk di depan meja rias.


"Tata... sayang, ayo keluar" panggilan Jaye membuat Tata terlonjak kaget.


"Mampus gue" Tata membenarkan duduknya.


"I...iya Bli..." sahutnya.


"Buka pintunya sayang, kamu ngapain di dalam" perintah Jaye. pelan-pelan Tata mendekati pintu dan


Ceklek...


pintu kamar terbuka.


"H...h..hai Bli" sapa Tata seperti orang baru kenal.


"Kamu ngapain di dalam?" Jaye menatapnya.


"G...gak... ngapain kok" Tata menunduk.


"Ya sudah kalo begitu, ayo.." Jaye menarik tangan Tata untuk keluar dari kamar. Jaye sangat tahu jika gadisnya itu pasti canggung dan kikuk setelah mendapatkan serangan dadakan darinya.


"Dia kenapa lucu sekali sih? kan jadi pingin cium lagi. sabar Jaye semua butuh proses dan first kiss tadi adalah sebuah kemajuan dalam hubungan mu yang sudah berjalan selama beberapa bulan ini. maklum saja, Tata masih polos" Jaye menenangkan diri sendiri.


"Makan dulu baru kita kerja" Jaye bersikap biasa saja agar Tata tak canggung, pun Jaye adalah pria yang berpengalaman jadi sudah biasa dengan ciuman dulunya jadi dia bisa mengendalikan diri.


☘️


☘️


☘️


"Hai Rik.." sapa seseorang saat Riko berjalan menuju gedung fakultas nya.


"Siapa ya?" Riko merasa tak mengenal.


"Aku Dinda, kita satu fakultas kok" Jawabnya.


"Gue gak tahu" singkat Riko, karena Riko tidak memiliki teman dekat seperti Andi dan Tata dulu, Riko hanya akan berinteraksi dengan temannya jika ada tugas kelompok, jika sudah selesai tidak ada komunikasi lagi. toko benar-benar fokus belajar dan membatasi pergaulan nya.


"Iya gimana Lo tahu, kalau Lo hanya fokus dengan buku" Dinda memang memperhatikan Riko sejak pengenalan maba.


"Hem, gue duluan" Riko berlalu menuju ruang kelasnya.


"Eh... tunggu Rik, bareng napa" Dinda mengejar Riko, gadis itu berusaha mendekati Riko.


"Lo dari sekolah mana sih Rik?" kini mereka berjalan beriringan.


"Jauh"


"Ya kan ada nama daerahnya"


"PTSS"


"Bukannya itu daerah perkebunan tebu?"


"Hem.."


"Wah... Lo keren banget bisa kuliah disini"


"Biasa aja" Riko duduk di bangku depan.


"Gue bolehkan duduk di samping Lo?" izin Dinda ingin dekat dengan Riko.


"Hem"

__ADS_1


"Makasih" Dinda senang bukan main, meski Riko irit bicara tapi Dinda yakin bisa mendapatkan hati Riko.


☘️


☘️


☘️


"Rik, abis kelas ini kamu kemana?" Dinda memasukkan buku-bukunya ke dalam tas.


"Perpus"


"Yah.."


"Duluan" pamit Riko berlalu pergi begitu saja meninggalkan Dinda.


"Dingin banget sih, tapi gue suka" gumam Dinda, lalu beranjak pergi dari kelas.


Dinda Anjani adalah gadis dari kota setempat, black keluarganya cukup berada, Ayah memiliki beberapa kafe dan restoran, sedangkan ibunya memiliki salon juga butik. Dinda anak kedua, memiliki seorang kakak perempuan yang kini sudah menjadi ibu Bayangkari dan menetap di ibukota bersama suaminya.


Dinda menuju salah satu kafe ayahnya, seperti biasanya jika sudah selesai kuliah Dinda akan membantu di kafe itu sebagai kasir. Dinda melakukan semua itu karena keinginan nya, bukan perintah kedua orang tuanya.


"Hai bang Helmi, rame hari ini?" sapa Dinda pada manager kafe.


"Selamat datang mbak Dinda" sapanya "Iya Alhamdulillah rame hari ini" sambungnya.


"Baiklah niar aku yang jaga di kasir, Bang Helmi cari kerjaan lain" Dinda menggantikannya posisi karyawan ayahnya.


"Silahkan mbak" ramahnya mempersilahkan anak Boss itu menjaga kasir.


☘️


☘️


☘️


"Riko" seru seseorang.


"Lo yakin nolak gue?" Komang kembali menawarkan diri pada Riko.


"Lo tahu jawabannya" Riko memutar tubuhnya hendak berjalan.


"Lo gak coba kencan sama gue?"


"Lo sakit ya" ketus Riko.


"Lo...!!!!" seru Komang. "Lo bakal nyesel giniin gue" teriak Komang, berlalu dari hadapan Riko.


"Dia benar-benar sakit" Riko menggelengkan kepalanya. sudah sejauh ini dia pergi agar tidak bertemu dengan teman nya itu, tapi sepertinya sia-sia saja. Entah bagaimana Komang bisa di universitas yang sama dengan dirinya.


☘️


☘️


☘️


"Kenapa sih, dari tadi diam aja" tegur Jaye yang melihat gadisnya lebih pendiam.


"Bli.." ragunya.


"Ada apa? kenapa? sayangku, cintaku"


"Ish... gak lucu tahu" Tata mengerucutkan bibirnya.


"Terus itu kenapa bibirnya di gituin? mau di cium lagi?" godanya.


"Bli......" rengek nya.


"Iya kenapa" Jaye merangkul pundak Tata.


"Aku pingin kursus" lirih nya.

__ADS_1


"Kursus? kursus apa? untuk apa?" Jaye tak mengerti arah pikir Tata.


"Pingin kursus di salon, tapi mahal gak ya?"


"Untuk apa kursus di salon?"


"Ya biar aku bisa dan mengerti cara makeup, potong rambut, bisa hair stylist, dan bisa semuanya"


"Iya, tapi untuk apa?"


"Aku mau punya salon di masa depan" lirih nya.


"Memangnya selama ini hidupmu kekurangan sampai mau buka salon?"


"Bukan begitu Bli, hanya saja aku kan berjaga-jaga kalo misalkan Bli tinggalin aku, atau buang aku gim..."


"Itu tidak akan pernah terjadi, apapun alasannya aku gak akan pernah ninggal kamu, ingat itu" Jaye mendekap Tata.


"Janji" Tata memeluk pinggang Jaye.


"Janji" Jaye mengecek pucuk kepala Tata.


"Tapi biar kan aku kursus, karena aku sangat bosan sepanjang hari duduk seperti ini" keluhnya.


"Baiklah, tapi hanya untuk mengisi rasa bosan mu"


"Hem" Tata setuju lalu mengurai pelukannya.


"Mau kursus dimana?"


"Di the beauty salon" ucap Tata


"Dimana itu? jauh?"


"Ish.. Bli gimana sih, itu kan salon yang ada di deretan ruko ini juga"


"Kan aku gak perhatikan sayang, aku kan cuma perhatikan kamu seorang, cup.." kilah Jaye mengecup pipi Tata, dan membuat gadis itu tersipu.


"Aku suka melihatmu tersipu begini" Jaye menangkup kedua pipi Tata agar melihatnya.


"Udah Bli, nanti ada orang dateng" Tata mengalihkan pandangannya.


"Bagaimana kalau nanti malam kita nonton?" tawar Jaye.


"Nonton apa?"


"Belum tahu, kamu mau nonton apa?"


"Kalau Bli gak keberatan, aku ingin nonton kartun itu" lirihnya.


"Kartun? maksudku kita pergi nonton di bioskop sayang" Jaye takut Tata salah paham.


"Iya aku tahu Bli ngajak nonton di bioskop, maka nya aku bilang pingin nonton kartun, emm... maksudnya animasi" jelas Tata yang penasaran dengan film yang belum lama rilis di bioskop, dan soundtrack nya sudah sering di putarnya melalui kanal YouTube.


"Memang ceritanya tentang apa?" sebenarnya, Jaye agak ragu untuk menyetujui permintaan Tata, tapi tadi dia sendiri yang mengajak gadis itu menonton. Sungguh Jaye tak suka situasi seperti ini.


"Ini cerita tentang the snow queen Bli, kita nonton yaaa...ya...yaaa... please "Tata memohon dengan menggunakan jurus puppy eyes yang sudah pasti tak mampu di tolak oleh Jaye.


"Iya sayang" dengan senyum manis dibibir Jaye, namun didalam hatinya sungguh mengerutuki jawaban itu.


☘️


☘️


☘️


☘️


☘️


TBC

__ADS_1


__ADS_2