My Future

My Future
Pertemuan


__ADS_3

Panas matahari semakin terasa terik ketika hari beranjak siang, Bulan Agustus adalah bulan kemarau panjang itu berlangsung, wajar saja jika sinar sang surya terasa lebih terik. Tata memilih duduk di bangku taman yang berada di bawah pohon beringin untuk berlindung dari teriknya sinar matahari, gadis yang kini sudah menjadi wanita itu menunggu jemputan kekasihnya, Jaye sedang bertemu seseorang, entah ada masalah apa, karena Jaye tak mengatakan apapun pada Tata. Namun dari sikap dan tingkah Jaye setelah menerima telepon, sepertinya kekasih Tata itu memiliki masalah yang penting.


Tata baru saja belanja membeli beberapa kebutuhan nya juga Jaye di supermarket kota, tadi Jaye hanya mengantar saja, karena ada janji dengan seseorang, itu sebabnya Tata berada di taman kota, di sinilah tempat yang mereka sepakati untuk berjumpa setelah selesai dari urusan masing-masing.


"Novi..." ucap seseorang mengejutkan Tata. wanita itu menoleh kesana kemari melihat sekelilingnya, namun hanya ada dirinya, lalu ia menatap ke arah suara itu datang.


"Novi" ulang nya seorang pria paruh baya.


"Bapak panggilan siapa ya?" tanya Tata karena hanya dirinya yang berada di situ.


"Kamu Novi?" ucapnya.


"Maaf, saya bukan Novi. Bapak salah orang" sopan Tata.


"Tapi wajah kamu sangat mirip dengan Novi" ucap pria itu, membuat Tata terdiam dan menatap lekat pria yang ada di depannya.


"Novi siapa yang bapak maksud?" tanya Tata.


"Novi, Novita Lestari, kau mengenalnya? wajah dan suaramu mirip dengannya" tutur pria itu. kalimat pria itu membuat perasaan Tata tak menentu.


"Apakah bapak Agung Hartanto?" tanya Tata. menatap tajam pria paruh baya itu.


"Ya, itu namaku, bagaimana bisa kamu tahu?" pria itu terkejut saat Tata menyebut namanya.


"Saya bukan Novi, nama saya Tata. Lengkapnya Arsinta Maulida" ucap Tata penuh penekanan. "A R S I N T A M A U L I D A" Tata mengeja namanya, menurut cerita yang Tata dengar dari Simbah, nama Tata adalah pilihan dari ayahnya sebelum ayahnya pergi bekerja dan tak pernah pulang.


"A...a...ap...apa?" pria itu terkejut mendengar penuturan Tata.


"Jadi apakah anda pria brengsek yang menjadi suami dari wanita yang bernama Novita Lestari?" Tata menatap penuh kebencian.


"Apakah kau putriku?" pria itu mencoba menyentuh tangan Tata.


"JANGAN MENYENTUHKU" bentak Tata. "Aku bukan putrimu" seru Tata.


"Nak, ini Bapak" ucapnya menunjuk dirinya. "Maafkan bapak udah meninggalkan kamu dan ibumu" ucapnya.


"Tidak mungkin" seru Tata menutup kedua telinganya menggunakan tangannya.

__ADS_1


"Bapak minta maaf" ucap ya lagi.


"Mas" ucap seorang perempuan menghampiri keduanya. "Mas kenapa disini? Mama cari dari tadi" ucapnya. membuat Tata menatap wanita itu.


"Ma, aku menemukan anakku bersama Novi" ucap pria itu. wanita yang tak lain adalah istrinya itu menatap Tata.


"Hai sayang, aku Diana istri mas Agung" ramah wanita itu. namun Tata hanya diam saja.


"Bapak yakin kamu adalah putri Bapak" ucapnya menyakinkan Tata.


"Keyakinan anda tidak merubah apapun" sahut Tata hendak beranjak pergi.


"Bisakah kita bicara sebentar?" bujuk wanita yang mengaku sebagai istri Bapak nya Tata.


"Maaf saya tidak bisa" Tata melangkah pergi.


"Datanglah ke kafe harmoni besok, kami akan menunggumu dan menjelaskan semuanya" seru wanita yang ada di samping Bapaknya Tata. Namun seruan itu tak menghentikan langkah Tata, ia tetap berjalan menjauh dengan air mata yang membasahi wajah cantiknya.


☘️


☘️


☘️


Jam, menit, detik, berlalu, malam pun sudah berganti pagi, mentari menampakkan sinar pendarnya menyapa alam dan isinya menemani manusia memulai aktivitasnya. Pasangan kekasih itu juga sudah bangun dan memulai rutinitas nya, Tata memasak di dapur dan Jaye duduk menunggunya di meja makan, namun keduanya belum ada yang membuka suara, meski Tata setia melayani kebutuhan Jaye, tapi tidak ada suara yang keluar dari mulutnya.


"Bli, aku nanti mau peri ke kafe" izin Tata, akhirnya sebuah kalimat keluar dari bibir indahnya saat Jaye hendak pergi mengontrol counter nya.


"Hem, pergilah" singkat Jaye, seolah tak perduli, tidak seperti biasanya yang akan mengintrogasi Tata saat Tata izin pergi tanpa dirinya. Namun karena pikiran Tata yang kacau tidak terlalu mempermasalahkan jawaban Jaye.


Setelah Jaye pergi, Tata menyibukkan diri dengan membersihkan rumah, ia tak ingin pemikirannya tertuju pada satu orang yang ia temui kemarin yaitu Bapaknya. Namun begitu Tata juga ingin mendengar penjelasan dan pembelaan pria yang mengaku sebagai bapaknya itu.


Disinilah Tata berada. di sebuah kafe yang mengusung tema alam, terasa asri, sejuk indah dan memanjakan mata kerena ada banyak tanaman dan bunga di setiap sudut ruangan. Berbagai jenis bunga bermekaran menghiasi setiap meja yang ada, suasana kafe tampak menenangkan dan memberikan rasa nyaman. Kafe harmoni, inilah kafe yang di sebut kan oleh wanita yang bernama Diana kemarin.


"Kamu sudah datang Nak" suara lembut itu mengalihkan perhatian Tata.


"Aku tidak punya banyak waktu" sahut Tata memandang ke arah lain.

__ADS_1


"Baiklah, Bapak mengerti" pria itu menghela nafas. "Bapak dan ibumu bertemu saat kami menjadi TKI di negeri sebrang, kami menikah di sana, saat itu Bapak pergi dari rumah, karena kakek mu memaksa akan menikahkan bapak dengan wanita pilihannya, namun bapak menolak dan pergi" tuturnya, Tata hanya diam menyimak.


"Bapak dan ibumu kembali ke tanah air setelah mengetahui kehadiran mu, namun bapak tidak berani membawa ibumu menemui keluarga Bapak, itu mengapa kami kembali kerumah Mak Sarni. Namun ekonomi kami sulit, sementara kami akan kedatangan anggota keluarga baru yaitu kamu, jadi bapak memutuskan untuk kembali kerumah orang tua bapak untuk mencari solusi dan memberi tahu tentang keberadaan Ibu mu dan juga kamu" Pak Agung menjeda ucapannya. "Namun semua di luar dari rencana Bapak, kakek mu terkena serangan jantung saat bapak mencoba menjelaskan keberadaan ibumu, dan semuanya jadi kacau, karena kakek mu butuh biaya besar untuk berobat dan satu-satunya orang yang bisa membantu adalah orang tua dari wanita yang akan di nikahkan dengan Bapak" jelasnya.


"Dan anda menikahi wanita itu" sahut Tata.


"Ya, karena itu syarat yang di ajukan mereka" tuturnya. Tata tak tahu harus bicara apa, jikapun dirinya berada di posisi yang sama, mungkin pilihan itu juga akan di ambilnya. Tapi pertanyaannya adalah kenapa bapaknya ini tidak pernah datang menemui ibunya?


"Lalu kenapa anda tidak pernah menemui ibu saya?" Tata belum mau memanggil ayah atau bapak. Pria itu hanya diam. "Apakah karena anda sudah hidup bahagia dengan istri baru anda hingga lupa dengan istri yang lain?" tebak Tata.


"Maafkan bapak nak" ucapnya.


"Permintaan maaf anda tidak bisa mengembalikan ibu saya" sahut Tata.


"Apa maksud mu nak?"


"Ibu saya sudah meninggal karena terlalu berharap pada pria yang tidak bertanggung jawab" jawab Tata.


"Bapak minta maaf nak" sesalnya.


"Baiklah, saya pergi" Tata beranjak dari duduknya.


"Nak, tidak bisakah kamu memaafkan Bapak?" pria itu mencekal lengan Tata.


"Aku tidak tahu" Tata sendiri juga bingung karena tiba-tiba saja sosok yang sangat ia harapkan dulu muncul di hadapan nya.


"Kamu memiliki seorang adik, namun kondisi tidak baik, jika kamu ada waktu luang datanglah menjenguknya di Rumah Sakit Harapan Keluarga, namanya Alika Naulida" tuturnya. Hal itu membuat Tata melepaskan cekalan tangan pria itu dan pergi tanpa mengeluarkan suara apapun. Tata butuh waktu untuk berpikir, menerima tau menolak kenyataan yang ada di hadapannya tidak akan berubah. Dan Tata sangat benci itu.


☘️


☘️


☘️


☘️


☘️

__ADS_1


TBC


__ADS_2