
Sudah sebulan ini Tata menggeluti kehidupan salon, bukan untuk kursus. Pemilik the beauty salon tidak menerima pelajar kursus, namun jika Tata benar-benar ingin belajar, maka pemilik salon mempersilahkan Tata datang ke salon nya untuk belajar.
Dan seperti biasa nya, Tata datang setelah makan siang dan akan pulang sekitar jam 17.00 Saat ini Tata tengah membereskan peralatan salon setelah melayani pelanggan untuk Rebonding, Smoothing, Hair color, Hair cut dan banyak lagi. Dan tentu saja bukan Tata yang mengerjakannya, namun karyawan salon yang memang sudah terlatih, sedangkan Tata hanya tukang backup saja.
"Selamat datang" sapa ramah Tata saat pintu salon itu terbuka.
"Hai, karyawan baru ya?" tanya seorang gadis seusianya.
"Bukan mba, saya bukan karyawan. Hanya bantu-bantu saja disini" jawab Tata.
"Owh.... kenlin gue Dinda, anaknya Ibu Rani" gadis itu mengulang tangan memperkenalkan dirinya.
"Owh...saya Tata" sahutnya menyambut tangan Dinda.
"Gak usah kaku gitu ngomongnya. sepertinya kita seumuran" Dinda memperhatikan Tata.
"Gue 20 tahun" Tata mencoba mengakrabkan diri.
"Sama dong, gue juga 20 tahun, ayo sini duduk" ramahnya.
"Lo tinggal di mana?"
"Gue tinggal di ruko Artajaye Ponsel"
"Owh... itu ruko punya Lo?"
"Ehhh...bukan, gue kerja di sana"
"Lhaa, tapi Lo disini?" bingung Dinda.
"Sebenarnya gue bosen aja seharian duduk di toko tanpa ada kegiatan apapun selain ngedrakor. Jadi gue kesini mau belajar hehe..."
"Baik banget bos Lo, mau ngasih izin" heran Dinda.
"Dia memang baik" Tata memikirkan Jaye.
"Eh tapi kalau gak salah itu counter yang punya cowok dan masih muda" Dinda pernah beberapa kali beli pulsa.
"Iya, Bli Jaye baru 25 tahun" Tata salah tingkah.
"Ohhh... pantes" Dinda mengangguk paham.
"Gue seneng deh ada Lo di sini, biasanya cuma ada mba Ayu dan si belerina" Dinda membayang kan karyawan ibunya yang sudah paruh baya dan seorang pria bertulang lunak.
"Gue juga gak nyangka Ibu Rani punya anak gadis" sahut Tata.
"Anak Mama gue dua, tapi kakak gue udah jadi ibu Bhayangkari di ibu kota, biasalah ikut suaminya " terang Dinda.
"Owh... Lo sendiri? kayaknya baru kali ini Lo kesini selama sebulan gue disini"
"Iya, gue kuliah, dan biasanya ke kafe Papa gue, tapi hari ini entah kenapa gue pingin ke sini. Gak tahunya ketemu sama Lo"
"Gue datang nya setelah makan siang, nanti jam lima gue pulang" jelas Tata.
"Rumah Lo aslinya dimana?"
"Gue dari pedalaman, dan gue gak yakin Lo tahu daerah itu"
"Dimana sih?"
"Di daerah pedalaman, gimana ya gue nyebutnya?" bingung Tata.
"Memang gak ada yang bisa di kenal masyarakat luas? olahan makanan, atau hasil bumi gitu?"
"Ohh... iya benar, gue ingat. Di daerah gue Deket PTSS" seru Tata mengingat sebuah PT gula. "Gue tinggal di area perkebunan tebu nya, tapi bukan wilayah PTSS" tuturnya.
"Owh... PTSS" Dinda seakan mengingat sesuatu. "Di kampus gue punya teman yang dari daerah PTSS juga lho" mengingat sosok Riko.
"Di mana kampus Lo?"
"Universitas Harapan Bangsa"
"Wah...keren bisa masuk sana"
"Hem... dia memang keren dan pintar" Dinda tersenyum membayangkan tentang Riko.
"Pasti dia cowok" tebak Tata.
"Koq Lo tahu?"
"Jadi Lo naksir dia?" goda Tata.
__ADS_1
"Emang kelihatan banget ya" tanya Dinda dan di angguki Tata. "Hufff...tapi dia itu di gin banget, irit bicara dan seperti nya dia sengaja membatasi pergaulan nya"
"Biasanya orang dari pedalaman seperti kami tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk belajar. Dan pasti kami akan fokus dan serius untuk belajar hingga lupa kalau sebenarnya hadirnya seorang teman itu juga penting" papar Tata dari sudut pandang nya.
"Kau benar"
Kedua gadis itu melanjutkan obrolan nya tentang berbagai hal, mulai dari pria tampan, drama terbaru, hingga gaya pacaran anak zaman sekarang. Keduanya begitu larut bercerita dan tampak sudah akrab kayak teman lama bertemu kembali.
☘️
☘️
☘️
"Tumben pulangnya telat" tegur Jaye karena Tata baru saja kembali ke ruko setelah adzan Maghrib.
"Maaf" Tata menghampiri Jaye dan memelihara tubuh kekasihnya itu. "Tadi anaknya Bu Rani datang, dan ternyata kita seumuran jadi...kita keasikan ngobrol deh" jelas Tata menutup matanya menikmati aroma parfum Coffee yang melekat di tubuh gagah itu.
"Bli wangi banget sih, mau kemana?" Tata masih menyandarkan kepalanya di dada bidang Jaye.
"Pinginnya sih kencan"
"Sama siapa?" Tata langsung melepaskan pelukannya dan menatap tajam kekasih nya.
"Tentu saja sama kamu sayang, memang sama siapa lagi?" Jaye mencubit hidung Tata.
"Ish....sakit tahu" Tata menepis tangan Jaye.
"Ya udah sini"
Cup..
Jaye mengecup hidung Tata, membuat pemiliknya salah tingkah.
"Apaan sih..." Tata mengalihkan pandangannya.
"Sana mandi, kita kencan ke taman kota, atau kamu mau kita kencan di dalam kamar?"
"Aku akan segera kembali" Tata mengecup singkat pipi Jaye, lalu berlari ke arah kamarnya.
"Gadis itu mulai berani, tapi aku suka" gumam Jaye menyentuh pipinya.
☘️
☘️
☘️
"Aku suka Bli, tapi sepertinya aku tidak bisa membuka salon sendiri, karena itu bukan passion ku" Tata menyadari kemampuannya.
"Tak apa, yang penting kamu sudah mencoba dan merasakan pengalaman kerja di salon" bijak Jaye.
"Pacar ku ini baik banget sih, gimana kalo aku makin cinta?" Tata memeluk lengan Jaye dan menyandarkan kepalanya di bahu pria itu.
"Maka jatuh cinta lah lagi dan lagi padaku, hingga kamu tak bisa dan tak akan pernah bisa jatuh cinta lagi kepada pria lain" Jaye mengecualikan puncak kepala Tata.
"I love you" Tata menatap pria tampan itu.
"I love you too honey" jawab Jaye lalu mengecup bibir merah Tata.
"Ish..." protes nya.
"Kenapa? kurang lama ya?" goda Jaye.
"Bli ini semakin hari semakin omes saja" Tata memberi jarak duduk mereka.
"Pacar mu ini pria dewasa dan normal sayang, memangnya belerina" Jaye mengingat pria tulang lunak yang di ceritakan Tata.
"Apa si belerina tidak punya kekasih?" Tata penasaran.
"Mungkin saja punya, tapi ya yang sama seperti dirinya"
"Dia baik, aku suka berteman dengannya"
"Jangan terlalu dekat dengannya, karena aku sangat cemburu" Jaye membelai rambut gadisnya.
"Ya ampun Bli, belerina gak mungkin suka sama aku kan?"
"Tapi dia tetap pria, dan aku tak suka jika gadisku ini dekat dengan pria lain selain diriku"
"Oke baiklah"
__ADS_1
"Sayang, sepertinya aku harus mencari orang untuk membantu kita di toko"
"Cowok atau cewek?"
"Menurutmu?"
"Cowok saja, aku gak mau Bli deket-deket sama cewek lain"
"Tapi kalau karyawan cowok, nanti dia deketin kamu"
"Tapi aku tetap milik Bli"
"Kita bicarakan nanti saja, sekarang ayo kita pulang" Jaye bangun dari duduknya dan menggenggam tangan Tata menuju area parkir motor nya.
"Sepertinya aku tidak asing dengan gadis itu" gumam seseorang yang tak sengaja melihat Tata.
☘️
☘️
☘️
"Bli ngapain disini?" Tata terkejut mendapati Jaye di atas ranjangnya.
"Kangen pingin peluk kamu" Jaye menarik Tata agar merebahkan diri di sampingnya.
"Kamu harum sekali sayang" Jaye menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Tata.
"Geli tahu Bli" Tata meronta.
"Jangan bergerak sayang, nanti ada yang bangun" seketika Tata mematung, Tata bukanlah gadis lugu dan polos, bahkan sejak masih sekolah otaknya sudah di cemari oleh percakapan absurd teman-temannya, di tambah lagi sekarang sering maraton Drakor dan sering di kompori mbak Titin.
"Kenapa diam?"
"B...Bli bilang jangan bergerak" gugup nya.
"Gadis pintar, jadi apa yang sedang kamu pikirkan?" Jaye menatap dekat wajah kekasihnya.
"Gak ada"
"Yakin"
"Iya"
"Kamu gak sedang membayangkan milikku kan?"
"Tidak"
"apa?"
"Milik Bli, kan aku belum pernah melihatnya"
"Jadi kau ingin melihatnya?"
"Tidak"
"Tidak?" ulang Jaye.
"Iya"
"Nah...kan ketahuan siapa yang omes" Tata terjebak oleh permainan kata Jaye.
"Ish.... Bali ngeselin banget" Tata mengerucutkan bibirnya, dan Jaye langsung mencium bibir itu, karena nampak menggoda di matanya.
"Bli..." Tata terkejut.
"Balas sayang" sahut Jaye di sela pangut annya.
Dengan kemampuan yang masih sangat minim, Tata mencoba membalas apa yang Jaye lakukan, keduanya menikmati pertukaran saliva itu terjadi cukup lama, hingga tanpa sadar Tata mengeluarkan lenguhannya membuat Jaye semakin terbakar.
Puas mengeksplor rongga mulut Tata, kini ciuman Jaye turun ke tulang selangka gadis itu, Jaye memberikan beberapa gigitan kecil yang meninggalkan tanda merah keunguan dan membuat Tata semakin mengeluh menikmati sebuah rasa baru yang membuat Tata melayang-layang, rasa yang sulit di deskripsi kan namun sangat memabukkan membuatnya ingin merasakan yang lebih.
☘️
☘️
☘️
☘️
☘️
__ADS_1
TBC