
Satu Minggu setelah UN selesai, kini Tata hanya dirumah, tidak ada kegiatan lain, hanya sesekali ikut Simbah ke ladang atau ke sawah. Hari ini Andi berangkat ke kota untuk melihat Universitas yang akan di jadikan tempat untuk menimba ilmu, juga mencari tempat kost. Tekad Andi untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi memang sudah bulat, misinya adalah menjadi orang sukses, bekerja dalam ruangan yang dingin, gaji pasti, pakaian rapih dan wangi. Ya Andi ingin menjadi orang kantoran, Andi tidak ingin menjadi petani seperti orang tua dan Kakak nya.
Sedangkan Riko, juga akan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di bantu pihak sekolah yang merekomendasikan lewat jalur Bidikmisi, bukan tidak mungkin bagi Riko bisa masuk ke perguruan tinggi melalui kepintarannya, karena Riko juga salah satu kebanggaan sekolah. Para Guru yang mengetahui potensi Riko pun berusaha membangun semangat belajarnya dan mencarikan universitas yang mempunyai program Bidikmisi.
....
"Ta ayo keluar" Riko mengajak Tata untuk jalan-jalan mengelilingi ladang. maklum saja di desa tidak ada taman apa lagi Mall.
"Ke kebun karet lagi?" tanya Tata, sebab hanya di kebun karet lah tempat yang nyaman, sunyi, sepi, rindang, juga tidak ada rumput ilalang. hanya saja banyak nyamuk.
"Kalo mau ke sawah Bapak ku juga ayo" Riko tahu Tata sudah bosan di area kebun karet.
"Ogah, gimana kalo ke ladang Bapak nya Iqbal? di sana lagi panen semangka kan?" usul Tata.
"Tapi ke sana jauh, lagian nanti malam Iqbal pasti nganterin kamu semangkanya" Riko tahu maksud Tata ingin makan semangka gratis.
"Ish...gue bukan cewek lemah dan manja. kalo Lo gak mau kesana, gue gak mau pergi" ancam Tata.
__ADS_1
"Oke baiklah terserah padamu queen" Riko mengalah. akhirnya menuruti kemauan Tata.
...
Setelah sampai tujuan, Tata langsung mencari Iqbal (*Tetangganya*) Tata tak sabar ingin makan semangka besar itu plus gratis.
Tetangga Tata ada yang menanam semangka, dengan sistem bagi hasil, karena tetangga Tata punya lahan luas yang dekat dengan aliran sungai, dan si pemodal ingin menjadikan lahan itu sebagai tempatnya menanam semangka, tentang berapa persen pembagian hasilnya, Tata tidak tahu. Yang Tata tahu, setiap tetangganya panen, dirinya juga panen, sebab bisa makan sepuasnya tanpa harus beli/bayar.
"Bal, gue mau makan semangka dong" pinta Tata yang sudah menemukan Iqbal.
"Gue sama Riko, mana semangka nya?" todong Tata yang tak sabaran ingin makan.
"Mbak pilih sendiri saja yang di sebelah sana, kalo yang di sebelah sini udah di timbang" jelas Iqbal.
"Nggak mau, pilihkan dan potongkan juga sekalian" jiwa bossy Tata keluar.
__ADS_1
"Oke lah ayo" pasrah Iqbal mengajak Tata memilih semangka yang ada di tumpukan.
"Yang besar itu Bal" pintanya seraya menunjuk satu buah semangka.
"Memang bisa ngabisin nya, itu gede banget lho mbak?" Iqbal ragu Tata bisa menghabiskan satu buah semangka. sebab yang di tunjuk Tata beratnya sekitar 9kg. Semangka yang di hasilkan memang selalu super, selain besar, rasanya juga manis.
"Tapi gue mau yang itu Bal....." protes Tata. kekeh ingin semangka yang besar.
"Yang itu di bawa pulang aja dech, buat makan di rumah rame-rame, kan sayang kalo gak abis" bujuk Iqbal.
"Jadi kamu cuma ngasih satu? pelit banget sih" Tata merajuk, tak terima hanya di beri satu buah semangka, padahal semangka itu cukup besar, di tambah gratis. Tapi Tata malah minta lebih. Benar-benar definisi orang yang tidak tahu malu, dan tidak tahu terimakasih.
"Ya udah. Mbak pilih aja yang mana dan berapa, nanti aku anterin ke rumah" putus Iqbal yang sangat hafal dengan tabiat tetangga nya ini.
"Ahhhh..... baik banget Iqbal" jeritnya dengan memegang pundak Iqbal. "Gue mau yang ini, ini, ini, juga ini. Bolehkan?" Tata menunjuk empat buah semangka berukuran besar. Jika di timbang, berat semangka itu pasti lebih dari 30kg.
Iqbal hanya mengangguk tanda setuju dengan pilihan dan permintaan Tata, sedangkan Riko hanya menggelengkan kepalanya dari kejauhan melihat kelakuan Tata.
__ADS_1
TBC