My Future

My Future
(Eps.14) Koma


__ADS_3

Operasi berjalan lancar. Mereka mendapatkan darah langka itu dari Australi, kerabat Azka.


Nathan sudah menghubungi keluarga Febri dan juga keluarganya. Besok mereka akan segera pulang ke Indonesia. Sebenarnya mereka ingin pulang segera, namun tidak ada jadwal penerbangan semendadak itu.


"Kak sebaiknya kamu pulang, kakak sudah disini sejak kemarin" ucap Nathan.


Saat ini mereka sedang duduk di ruangan dimana Febri sedang dirawat. Ia sudah dipindahkan keruang inap VVIP setelah menjalani operasi selama 4 jam karna sempat terhambat.


"Aku akan membeli sedikit makanan, tunggulah disini" seru Azka berlalu.


Mereka bertahan dirumah sakit sejak kemarin. Operasi berjalan lancar namun Febri belum sadar juga.


"Ebi, Maafkan aku, ini memang salahku, aku tidak akan meninggalkan mu sendiri lagi, aku berjanji. Kumohon bangun lah sayang" seru Nathan, ia memegang tangan Febri dengan lembut dan mencium nya.


"Tubuhmu sangat dingin sayang, bangun lah aku akan memelukmu hingga kamu bisa merasakan kehangatan ku" ucap Nathan dengan suara parau, ia selalu memohon agar kekasihnya itu bangun.


Beberapa menit kemudian Azka kembali dengan membawa banyak makanan.


"Makan lah dulu" ucapnya singkat.


"Kak, bagaimana bisa Ebi kecelakaan?" seru Nathan


"Aku tidak tahu, saat perjalanan pulang menuju rumah dari bandara aku melihat seorang wanita terbujur kaku di tengah jalan, sepertinya dia di tabrak lari" ucap Azka menjelaskan kejadian kemarin malam.


"Di lokasi mana? Aku harus menindak lanjuti hal ini, aku tidak mau terjadi sesuatu pada Febri lagi" seru Nathan dengan tatapan kosong. "Oh iya kak, bagaimana bisa kamu mengenali Ebi? sedangkan terakhir bertemu dengannya saat kita masih kecil dulu, waktu itu kita masih bertetanggaan" sambung Nathan


"Aku berteman di semua media sosial dengannya, aku dan Febri sering bertukar kabar" ucap Azka singkat


"Apaa!!!! kakak, kenapa kamu tidak memberi tahuku, selama bertahun-tahun aku menderita tidak tau bagaimana kabarnya, sedangkan kau dengan nyaman nya bisa melihat perkembangan dirinya seperti apa? Sungguh kejam kau sebagai saudaraku" ucap Nathan dengan nada kesal


"Dulu aku mengalah karna kamu selalu melarangku bermain bersamanya, jadi aku ingin merebutnya saat dia sudah dewasa, tapi sepertinya aku terlambat lagi saat tahu bahwa kalian sudah dijodohkan" seru Azka tersenyum pada adiknya.

__ADS_1


"Dia jodohku, tolong jangan direbut" seru Nathan singkat.


"Apa selama kakak berkomunikasi dengan Febri dulu, dia pernah menanyakan kabarku?" tanya Nathan pada Azka.


"Pernah, tapi aku tidak memberitahu nya bagaimana kabarmu, karna kita memang berbeda atap, kamu disini dan aku di luar Negri" ucap Azka.


"Sangat kejam! sungguh kejam!" ucap Nathan.



Keesokan harinya, Febricia tak kunjung sadar.


"Elina, maafkan aku tidak bisa menjaga putri mu dengan baik" ucap Clara menyesal.


"Tidak Clara... ini salah kami karna pergi meninggalkan dia... kami tidak seharusnya pergi berlibur" isak tangis kecil terdengar dari seorang ibu yang sudah mengandung anaknya itu selama 9 bulan.


"Aaron maafkan kami" ucap Aldric


Tiba-tiba datang dua orang pria membuka pintu.


"Kak Azka!!" ucap Clarinta melengking


"Dek, kecilkan suaramu, kasihan Febri" ucap Nathan mengelus rambut adiknya


"Iya kak maaf, kak Azka kapan datang? kenapa tidak mengabari kami?" ucap Clarinta memeluk kakak pertama nya itu


"Beberapa hari yang lalu" ucapnya singkat dan tersenyum pada adiknya.


"Siapa yang berani melakukan ini pada putriku" ucap Aaron dengan nada yang sangat marah.


"Tidak tahu Paman, sewaktu pulang dari bandara aku melihatnya terbaring lemah dijalan raya dengan bersimbah darah, seperti nya dia ditabrak lari" ucap Azka

__ADS_1


Tiba-tiba Clara membuka suara, "Nathan, kenapa kamu tidak sekolah nak?"


"Aku izin Maa" ucap Nathan singkat, matanya hanya tertuju pada gadisnya itu tanpa menoleh sedikitpun.


"Tidak boleh, minggu depan kamu sudah Ujian Nasional" ucap Clara melarang anaknya bolos.


"Mama, Febri juga seharusnya bisa sekolah dan ikut Ujian, tapi gara-gara aku...." ucap Nathan terputus saat melihat tangan Febri bergerak.


"Ebi!!" ucap Nathan, lalu ia dengan cepat menghampiri Febri.


"Mama, Tante, Nathan liat tangan Febri bergerak" ucap Nathan sangat bahagia.


"Bianca, cepat panggil dokter" ucap Elina tergesa-gesa. Bianca pun langsung keluar dari ruangan untuk memanggil dokter, Ia hanya diam tak berkutik saat diruangan tadi. Bianca merupakan sosok gadis yang sangat takut terhadap jarum suntik, selang infus dan semacamnya.


** Di luar ruangan **


"Nathan, pergilah sekolah nak, Mama tidak ingin masa depan mu menjadi Amburadul. Ini juga demi Febri" ucap Clara.


Nathan hanya menatap ke jendela dimana Febri sedang di periksa.


"Tidak Maa, Nathan tidak perlu sekolah lagi, Nathan sudah sukses bisa mendirikan perusahaan sendiri" serunya tanpa menoleh ke arah Mama nya. Tidak sadar Nathan mengucapkan sesuatu yang selama ini dia rahasiakan.


Semuanya tercengang.


"Apa maksudmu?" ucap Aldric membuat Nathan tersadar.


"Tidak, aku hanya main-main saja. Aku akan pergi sekolah, tapi jika Febri sudah sadar tolong kabari aku. Aku ingin diriku lah yang pertama dia lihat saat matanya terbuka" ucap Nathan, kemudian pergi meninggalkan rumah sakit.


Aldric dan Clara hanya tercengang atas perilaku putranya itu. Terkadang dingin, bahkan bisa bersikap kekanakan.


"Hahaha Wajarkan saja, dia terlihat sangat lucu jika bersikap seperti itu" ucap Elina sambil tertawa.

__ADS_1


JANGAN LUPA TINGGALKAN LIKE DAN KOMEN KALIAN YA TEMEN-TEMEN, AGAR AUTHOR BISA SEMANGAT UPDATE BANYAK-BANYAK ^^ DAN TERIMAKASIH YANG SUDAH BACA SAMPAI SINI ^^


__ADS_2