
Tata membawa turun pakaian kotor miliknya juga milik Jaye untuk di laundry ke tempat mbak Titin. Sebenarnya Tata bisa saja mencuci sendiri pakaian itu, namun Jaye melarang nya, Jaye benar-benar memanjakan gadisnya itu. Hanya underwear saja yang di cuci oleh mereka, itupun di lakukan masing-masing.
"Mbak, setor nih" suara Tata mengalihkan si pemilik laundry.
"Timbang dulu ya, di mulai dari angka nol" ucap mbak Titin.
"Bensin kali, di mulai dari angka nol" sahut Tata.
"Eh... gimana drama yang aku rekomendasikan kemaren? bagus kan?" minggu lalu mbak Titin merekomendasikan sebuah drama dari negeri ginseng.
"Bagus sih.... tapi..." Tata menggantung kalimat nya.
"Tapi apa?" mbak Titin tak sabar mendengarkan komentar Tata.
"Oh ya ampun mbak... Kissing scene nya lama banget, mana di Close up lagi" keluhannya.
"Oh... itu bangus, itu yang gak kita bisa liat di sinetron Indonesia. Kita kan jadi semangat nonton kalo gak ada sensor nya" mbak Titin biasa saja, karena mbak Titin memang sudah menikah dua tahun lalu, hanya saja belum memiliki anak, suami mbak Titin adalah PNS di kantor pajak.
"Ish... tapi kan aku malu mbak, aku tu kaget sampai tutup mata kaya gini" Tata memperagakan keterkejutan nya dengan menutup mata menggunakan kedua tangannya.
"Ya ampunnnnnn..... biasa aja lagi, tapi nanti lama-lama juga biasa kok. Malah kissing scene yang paling di cari dan di tunggu"
"Astaga.... jangan mencemari otak suciku mbak" Tata mengibas-ngibaskan kedua tangannya di wajahnya yang terasa panas.
"Udah gak usah malu-malu, memangnya Jaye belum ngajarin kamu?"
"Ngajarin apa?" Tata tiba-tiba loading.
"Itu ciuman, berciuman" mbak Titin sengaja menekan kan setiap katanya.
"Hah..."
"Jadi kamu belum ciuman sama Jaye?" mbak Titin tak percaya dengan reaksi Tata. dan spontan Tata mengangguk.
"Ck...ck...ck... bukannya kalian pacaran?" mbak Titin menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ya kami memang pacaran, tapi memang harus ciuman?" polos Tata.
"Memang dalam drama itu, mereka pacaran saat ciuman?" mbak Titin membalikkan pertanyaan Tata.
"Nggak, malah mereka musuhan, eh.... tapi kenapa mereka ciuman ya" Tata menyadari sesuatu.
"Kamu polos nya kebangetan deh, pasti Jaye pacar pertama kamu kan?" tebak mbak Titin di angguki Tata. "Anjirrrrr Jaye dapat barang bagus, masih ori nih" sambungnya.
"Apa yang ori mbak?"
__ADS_1
"Kamu umurnya berapa? Jaye berapa?" tanya mbak Titin.
"Aku hampir 20 tahun, kalo Bli Jaye kayaknya 25 tahun deh" jujur Tata.
"Pasti lagi panas-panasnya itu si Jaye"
"Bli gak lagi demam mbak" sahut Tata.
"Ck..." mbak Titin menatap sebal Tata. "Kamu gak penasaran bagai mana rasanya di Cium bibir Jaye yang aduhai itu?" usil mbak Titin, membuat pipi Tata mengeluarkan semburat kemerahan. Ya gadis itu sekarang berteman dengan Skincare, yang membuatnya semakin cantik.
"A...a..apaan sih mbak" Tata salah tingkah.
"Rasanya tuh, manis, hangat, nikmat, memabukkan dan membuat kita seakan melayang" goda mbak Titin dengan nada sensual.
"Ish mbak Titin..." rengek Tata agar menghentikan pembicaraan.
"Kamu tahu Ta? sekali coba pasti bakal bikin kamu ingin lagi dan lagi" kompornya, mencemari pikiran lugu gadis yang ada di hadapan.
"Oh Tuhan... aku pulang...." Tata menutup kedua telinganya dan berlari ke ruko Jaye.
.
.
.
"Siapa yang berbahaya sayang?" suara lembut Jaye terdengar.
"Bli, sejak kapan di situ?" pasalnya Jaye berdiri di sampingnya.
"Sejak kamu datang, dan kenapa kamu lari-lari tutup telinga? dan apa yang berbahaya?" runtut pertanyaan Jaye.
"Oh... itu...itu...kenapa ya? aku lupa hehe" Tata tak bisa menemukan alasan dari sikap konyol nya.
"Kamu semakin hari semakin manis banget sihhh" Jaye mengusap-usap rambut Tata dan membuat Tata salah fokus, gadis itu terus memperhatikan bibir Jaye yang tersenyum manis, otaknya langsung mengingat kata-kata mbak Titin.
"Benar juga kata mbak Titin, dulu taman-taman ku waktu pacaran juga ciuman 'kan? kita dulu sering membahasnya. apa lagi ciuman Jaka si playboy cap baung itu. gimana rasanya ya di cium sama Bli Jaye? manis, hangat, memabukkan, melayang? oh ya ampun otak gue kenapa jadi mesum gini" Tata mengerjab-ngerjabkan matanya, mencoba kembali ke jalan yang lurus.
"Hei kamu kenapa?" Jaye merasa ada yang di sembunyikan oleh gadisnya.
"Eh... aku kenapa?"
"Kamu lagi mikirin apa sih sayang?" lembu Jaye mengelus pipi Tata dan menatap penuh kasih sayang.
"Bli, jangan begini. Aku deg degan" jujur Tata menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Masa sih?" Tata menganggukkan kepalanya.
"Kamu agak aneh sayang, kenapa sih? ada masalah? ada yang kamu inginkan? ayo bilang, nanti kita beli atau cari" perhatian Jaye, memenuhi segala kebutuhan gadisnya, pun Jaye masih memberikan gaji sesuai kesepakatan dulu, dan itu hanya masuk di rekening Tata tanpa pernah di gunakan oleh gadis itu. Kerena semua kebutuhan hidupnya sudah di tanggung Jaye sejak mereka resmi pacaran.
"Ish... bukan itu Bli" rengek manja Tata kembali terdengar.
"Jadi gadis cantik ku ini kenapa?" mengenggam tangan Tata.
"Aku gak apa-apa Bli, ayo buka tokonya" Tata mengalihkan pandangannya.
"Coba tatap aku dan katakan kamu gak apa-apa" perintah Jaye.
"Haduh mampus Lo Ta, kan gak mungkin gue bilang gue pingin tahu rasanya ciuman, mau di taruh di mana muka gue? ah...tali gue pingin banget di cium, bukan di cium, tapi ciuman yang dilakukan oleh dua orang seperti dalam drama kemarin. oh astaga Tata sadar...sadar..." jerit Tata dalam hati.
"Kok malah bengong? ayo katakan kau gak apa-apa" ulang Jaye.
"Ya ampun Bli... aku tu gak apa-apa, aku juga gak kepingin apa-apa, disini aku hidup senang bahagia tanpa kekurangan apapun, aku juga selalu menn....hemmpppp" ocehan Tata terpotong oleh benda kenyal hangat yang membungkam mulutnya.
Tata melebarkan kedua matanya ketika mendapat serangan mendadak dari Jaye, dia tak percaya kini bisa merasakan kelembutan, kehangatan dan sesapan dari bibir yang selalu meluluh lantakkan hatinya.
"Jadi begini rasanya. benar, hangat, manis lembut, aku merasa terbang dan kenapa dadaku jadi sesak?" hatinya tak berhenti bicara.
"Bernafaslah sayang" Jaye menyadari, Tata kehabisan oksigen setelah beberapa saat memang ut gadisnya.
"Bagaimana?" bukan Jaye tak tahu apa yang di inginkan gadisnya itu, Jaye cukup jeli memperhatikan bahasa tubuh Tata, di tambah lagi dia sempat mencuri dengan percakapan Tata dan mbak Titin.
"Sudah tahukan sekarang rasanya?"
"Bli.." rengek Tata yang malu, menyembunyikan wajahnya di dada bidang Jaye.
"Kenapa? mau lagi?" goda Jaye lalu di hadiahi cubitan di pinggang nya "Aduh... sakit sayang, kalo memang mau lagi bilang aja, jangan di cubit" Jaye memeluk erat gadisnya.
"Bli...." rengek Tata semakin kuat melingkakan tangannya di pinggang Jaye.
"Bibir kamu manis, aku suka" ucap Jaye, membuka Tata melepaskan pelukannya dan lari ke atas menuju kamarnya.
Tata sungguh malu pemikiran liarnya di ketahui oleh Jaye, ia tak tahu bahwa cara menghadapi Jaye nanti. Namun Tata juga bahagia karena ciuman pertamanya di lakukan dengan orang yang sangat dia cintai, ada rasa lega di hatinya. Dan kini ia tak penasaran lagi akan sebuah rasa yang baru saja Tata rasakan, Meski sangat malu tapi Tata juga sangat senang.
☘️
☘️
☘️
☘️
__ADS_1
☘️
TBC