
Jaye membawa Tata di area kebun tebu, bukan bermaksud apa-apa karena di area kebun tebu tempa cukup sunyi sepi, juga ada semilir angin di siang yang tak terlalu terik hari ini. Jaye menghentikan laju motornya di pinggir danau, tentu saja danau buatan untuk menyiram tebu saat musim kemarau panjang.
"Mbah Ni pasti sangat sedih melihat cucu kesayangannya seperti ini" Jaye memulai obrolan.
"Kau tahu? aku dulu juga sedih dan hancur saat mengetahui kenyataan jika orang tua ku meninggal dalam sebuah kecelakaan. Semua terjadi tiba-tiba dan aku masih memiliki mimpi indah untuk hidup bersama mereka" Jaye bercerita tentang dirinya, namun Tata hanya mendengarkan.
"Aku tidak bisa menggambar tentang perasaanku saat itu, yang pasti aku sangat kesakitan dan juga hancur. Tapi sehancur apapun perasaan ku, kehidupan ku tetap harus berjalan dan tidak bisa berhenti. Terlebih masih ada Bli Wayan dalam hidupku. Jadi aku memutar untuk keluar dari kehancuran itu. Meskipun rasa sakit kehilangan tidak pernah hilang walau sebanyak apapun waktu terlewatkan. Sakitnya kehilangan tetap nyata terasa" Jaye menatap lembut pada Tata.
"Aku sangat sedih melihatmu seperti ini" Tata menatap ke arah Jaye.
"Selama apapun kamu terpuruk seperti ini, tidak akan mengembalikan Mbah ke dunia ini lagi" Jaye membelai rambut Tata.
"Aku sendirian" lirihnya.
"Ada banyak orang yang menyayangi mu"
"Aku kehilangan rumahku Bli, satu-satunya sandaranku, tempat ku untuk kembali hiks..hiks.." Isak tangis Tata mulai terdengar.
"Bukankah Tuhan mu akan menggantikan setiap yang hilang dari kehidupan hambanya?" Jaye mengingat kan.
"Tapi Mbah bukan sebuah barang yang bisa di ganti, MBAH TAK BISA DI GANTI DENGAN APAPUN, DAN MBAH TAKKAN PERNAH TERGANTIKAN..!!!!!" Tata meluapkan emosi nya.
"Aku tahu, Mbah takkan pernah tergantikan, Mbah akan selalu ada di hatimu, namun di depan sana pasti akan ada seseorang yang menantimu dengan penuh cinta dan kasih sayang" Jaye memeluk Tata, mencoba menenangkan gadis itu.
"Jangan membodohi ku Bli, jika ayahku saja tidak perduli padaku bahkan tidak menginginkan kehadiran ku. Lalu bagaimana bisa orang lain akan menanti dan menerima ku dengan penuh cinta dan kasih sayang?" Tata melepaskan pelukan Jaye.
"Aku tidak membodohi mu, kita tidak pernah tahu takdir kedepannya kan?"
"Maka dari itu jangan membuatku berandai-andai dam bermimpi terlalu tinggi. Karena jika aku terjatuh, aku takkan bisa untuk bangun lagi" Tata mengusap air matanya.
"Aku terbiasa dengan hidup apa adanya, bahkan untuk memiliki sebuah cita-cita saja aku tidak berani. Kenyataan jika ayah tak pernah perduli padaku juga kematian ibu, keduanya sangat menyiksaku. Bagaimana rasanya di gendong ayah? bagaimana rasanya menangis di pangkuan ibu? Bagaimana rasanya di antar sekolah oleh ayah? seperti apa rasanya makan sarapan buatan ibu? Aku tidak tahu semua itu hiks...hiks... aku tak tahu bagaimana bisa Tuhan ku memberikan takdir seburuk ini dalam hidupku? aku sungguh bertanya-tanya kebahagiaan seperti apa yang di perlihatkan oleh Tuhan sebelum aku lahir sehingga aku bersedia dan setuju untuk terlahir ke dunia ini? hiks...hiks..." Tata menutup wajahnya dengan kedua tangannya. "Ini sangat menyakitkan huhu...hu...hu..."
Gadis itu terlihat sangat rapuh dan begitu terpuruk hingga menyalahkan Tuhan akan garis takdir yang ia terima. Sepertinya dia benar-benar berada di titik terendahnya.
"Hei...jangan bicara begitu" Jaye kembali merengkuh tubuh Tata membawanya dalam pelukannya. "Kita jalani kehidupan ini pelan-pelan seperti katamu tadi, tanpa mimpi ataupun cita-cita. Tenanglah semua akan baik-baik saja, aku akan selalu mendampingi mu, kau bisa mengandalkan ku" Jaye menepuk-nepuk punggung Tata.
"Aku takut sendirian Bli, kenapa Mbah gak bawa aku hiks..hiks..."
"Jika Mbah membawa mu pergi, lalu bagaimana dengan ku?"
__ADS_1
"Memangnya kenapa dengan Bli?" Tata mendongakkan kepalanya yang berada di dada bidang Jaye.
"Aku tidak tahu apakah ini saat yang tepat atau tidak? tapi aku ingin mengatakan bahwa aku sangat menyayangimu bahkan mencintaimu" jawab Jaye menatap dalam mata sembab Tata.
"Bli.." Tata mengurai pelukan mereka.
"Aku tahu apa yang kamu pikirkan, bahkan aku sudah membicarakan hal ini dengan mendiang Mbah Ni, saat kelulusan mu tempo hari" tuturnya. tentu saja membuat Tata semakin terkejut.
"Lalu Mbah bilang apa?"
"Mbah tidak melarang perasaan ku, Mbah juga berterimakasih karena aku sudah menyayangi dan mencintai cucu nya, dan tentu saja Mbah juga mengingatkan tentang perbedaan di antara kita"
"Lalu kenapa Bli mengatakan nya padaku?"
"Aku hanya melakukan apa yang Mbah sarankan, karena aku sendiri tak mampu menghapus nya. Ya aku mengakui bahwa aku menyukai mu bahkan mencintaimu entah sejak kapan. Tapi yang pasti sejak pertemuan pertama kita, aku sangat tertarik padamu" Jaye mengatakan semuanya dengan penuh keyakinan.
"Bli, a..ak..u" Tata tiba-tiba menjadi gagu.
"Kau tidak perlu menjawabnya sekarang jika kamu masih bingung, tapi aku akan tetap menunggu jawaban mu" Jaye tak ingin memaksakan kehendak nya.
"Ehemm... jadi sampai kapan Bli akan disini?" Tata mengalihkan pembicaraan dan pandangannya ke arah danau, Jaye tersenyum melihat reaksi Tata.
"Itu tidak mudah bagiku Bli"
"Tapi bukan berarti tidak mungkin kan? pelan-pelan saja, toh aku selalu di sisimu"
"Apakah Bli tidak punya pekerjaan?"
"Pekerjaan ku sangat banyak, maka dari itu, cepat kembalilah seperti Tata yang dulu"
"Jadi kenapa Bli tinggal lama-lama disini?" Tata menatap Jaye.
"Karena aku harus memastikan gadis yang telah mencuri hatiku baik-baik saja" Jawabnya di sertai senyum yang menawan.
"Ish... apakah sekarang Bli juga membuka toko pakaian?"
"Aku sedang tidak menggombal ataupun membual sayang" Jaye tahu arah pertanyaan Tata. dan jawaban Jaye membuat Tata tersipu karena di akhiri kata 'sayang'.
"Apakah ada pekerjaan untuk ku di kota?"
"Kau ingin bekerja?"
__ADS_1
"Aku harus mulai menafkahi diriku sendiri" ucapnya sendu.
"Kau ingin pekerjaan seperti apa?"
"Aku tak memiliki skill apapun" sesalnya.
"Baiklah, bagaimana jika membantu ku menjaga counter?"
"Bli akan membuka counter HP?"
"Hem.."
"Apakah sebuah counter besar?" Tata antusias.
"Hanya sebuah ruko kecil, tapi aku juga perlu orang untuk membantu" jelasnya.
"Baiklah aku setuju, jadi kapan kita berangkat?" semakin antusias melihat dunia luar.
"Kapan kau siap?"
"Besok aku siap"
"Kau yakin?"
"Hem" Tata mantap mengangguk kepalanya.
"Oke, kita berangkat besok, tapi harus izin paklek Arif dan Bik Mini dulu"
"Pasti. Tapi Bli harus banyak sabar mengajariku nanti"
"Tentu, itu bukan hal yang sulit"
"Aku termasuk murid yang susah di ajari lho Bli"
"Aku tahu itu" Jaye tersenyum lalu tangannya mengacak-acak rambut panjang Tata.
Akhirnya Jaye bisa membuat Tata berbicara banyak, setelah meluapkan emosinya yang terpendam, gadis itupun puas menangis kan kini sudah terlihat lebih baik, meski belum seceria seperti biasanya. tapi setidaknya tidak lagi berlarut-larut dalam kesedihannya. dan yang paling penting Jaye sudah berhasil mengungkapkan perasaan yang selama ini hanya ia pendam walau belum ada jawaban dari Tata, tapi Jaye sangat percaya diri bahwa perasaannya pasti terbalaskan.
TBC
🌺🌺🌺🌺
__ADS_1