
Upacara pembukaan Perjusami di mulai, para anggota regu berbaris di depan tenda masing-masing. Cuaca sangat terik, terlebih saat ini pukul 11.30. Matahari sedang semangat-semangatnya meninggi dan memancarkan cahaya teriknya.
Baru Lima belas menit upacara pembukaan Perjusami itu berjalan, Tata merasa ada yang tidak beres dengan perutnya. Devi yang berjaga di bagian depan tenda menyadari jika ada sesuatu yang di rasakan Tata.
Ia berjalan menghampiri Tata, Devi menepuk pundak Tata dan tata menoleh ke arah Devi. Tanpa ada kata yang terucap, Tata langsung menyerahkan tongkatnya pada Devi, ia langsung berlari ke arah belakang tenda mengeluarkan sesuatu yang sejak tadi mendemo lambungnya meronta ingin keluar.
Sedangkan Devi langsung menggantikan posisi Tata dalam barisan. Tubuh Tata terasa lemas, ia menggantikan Tika yang berjaga di belakang tenda, namun ia duduk di dalam tenda. Sedangkan Tika harus menggantikan posisi Devi, yaitu berjaga di depan tenda. ia berdiri di depan pintu masuk tenda.
(Author gak tahu sama atau nggak. Jadi di tempat author dulu kalau kemah itu setiap regu berjumlah minimal 9, 11, 13, 15 dan maksimal 17 orang. Ada ketua Regu, wakil juga bendahara. Dan saat upacara pembukaan/penutupan, harus ada dua orang yang berjaga di tenda. Bagian depan dan belakang, meskipun kami mengikuti upacara di depan tenda, biasanya 1/5 m dari gapura. kadang juga membawa tongkat saat upacara, ada juga yang tidak membawa tongkat, namun author sendiri lebih suka upacara membawa tongkat sebab damage nya lebih terasa π π π )
Setelah selesai mengikuti upacara pembukaan Perjusami, semua anggota Regu Teratai langsung mencari Tata. Mereka harus memastikan bahwa anggota Regu nya tidak ada yang sakit, jikapun ada yang sakit, meriang ataupun masuk angin, harus segera di berikan Aspirin, Bodrex, Paramex, Oskadon, Komix, Antangin atau apapun itu agar tidak sampai tumbang/sakit bila perlu langsung melapor pada Kakak Pembina agar di panggilkan Pak Mantri atau Buk Bidan.
Maklum saja, di sini daerah pedalaman jadi gak ada Rumah Sakit/Klinik. Cuma ada Puskesmas dengan Seorang Buk Bidan/Pak Mantri. Puskesmas nya pun bukan besar, hanya ada satu Bed pemeriksaan dan satu Bed yang di pergunakan jika ada yang perlu di rawat inap.
"Lo kenapa Ya?" tanya Linda. sebagai ketua Regu tentu ia harus mengerti kondisi setiap anggotanya.
"Kayak gara-gara tadi pagi minum teh, jadi masuk angin. Di perparah karena terkena terik matahari" terang Tata, ia memang anak petani, sering ke ladang maupun sawah. tapi Tata paling tidak tahan jika terus-menerus terpapar sinar matahari, dia akan langsung masuk angin, berbeda jika kehujanan. Seharian kehujanan takkan membuat dirinya sakit. yah mungkin sedikit demam dan pilek jika benar-benar kehujanan seharian penuh.
"Perlu obat apa? biar nanti kita belikan. Atau perlu lapor Kak Fahri?" tanya Lia. Kak Fahri adalah Pak Fahri yang tak lain adalah Guru Olahraga. Selama perkemahan berlangsung tidak akan akan yang namanya Bapak Guru atau Ibu Guru. Semua Guru di panggil Kakak.
(Entah ini di pengalaman author saja atau sama dengan anak Pramuka di luar sana. tidak tahu juga konsep perkemahan sekarang seperti apa?)
"Ehh... jangan-jangan" ucap Tata melarang Lia memberi tahu Kak Fahri. "Kalo boleh gue mau tidur sebentar, lagian tadi gue udah pake minyak angin" sambung Tata.
"Ya udah istirahat gih" ucap Linda. mempersilahkan Tata untuk tidur.
Anggota Regu Teratai menikmati makan siangnya di sekat tenda sebelah kanan.
dalam tenda itu tepat di bagian tengah di sekat menggunakan terpal yang tadinya untuk alas tenda paling bawah. Namun karena ada barang yang luput dari perkiraan mereka, jadilah alas tenda mereka hanya tikar dan kasur lantai. tak apa, semua bisa mereka selesaikan dengan baik.
__ADS_1
Tata bangun dari tidurnya karena perutnya merasa lapar, tentu saja Tata lapar sebab jam makan siang sudah lewat dua jam yang lalu.
Ia keluar tenda dengan membawa bekalnya.
"Udah bangun Ta? tanya Fitri.
"Hem.."Jawabnya singkat, entah malas atau nyawa Tata belum terkumpul semua. Fitri merasa ada yang berbeda dengan Tata setelah pembahasan izin ingin mendekati Riko.
"Bawa bekal apa Ta?" tanya Yuli, ia baru datang bersama Siti dan Anita, sepertinya habis membeli buah. sebab di tangan mereka membawa Jeruk, pear, juga Duku.
"Nasi jangung, sambel bawang sama ikan nila goreng" terangnya "Kebetulan Simbah masak nasi jagung tadi pagi" ucap Tata tanpa beban. seperti itulah Tata, dia bisa makan apapun janji tidak basi dan bersertifikat HALAL.
"Kalian dari mana?" tanya Tata sambil mengunyah makanannya.
"Linda nyuruh beli buah, buat di taruh di meja depan" jawab Siti. yang memang disuruh Linda membeli buah.
"Lo udah enakan Ta?" tanya Anita "Masih ada sakitkah? mual? pening? menggigil? pusing? atau apa yang Lo rasain? Anita mengabsen penyakit.
.....
Pukul 15.00 semua peserta kemah duduk di depan tenda masing-masing. karena akan di adakan pemilihan Pak Lurah dan Buk Lurah.
Masing-masing Sekolah khususnya Pramuka Penegak mengajukan nama ketua Regu mereka. Ada tiga sekolah Pramuka Penegak yang mengikuti acara kemah ini. arti nya akan ada enam nama kandidat, tiga kandidat putri dan tiga kandidat pria. Karena setiap sekolah hanya bisa mengajukan sepasang nama saja, yang berarti satu Regu putra dan satu Regu putri.
Nama Linda dan Rifan yang di ajukan dari Pramuka Penegak SMAN Pertiwi, karena dua regu lainya adalah Regu junior. SMAN Pertiwi hanya mengirimkan empat regu saja terdiri dari dua regu putra dan dua regu putri.
Setelah di uji dengan berbagai macam pertanyaan, pelafalan Tri Satria dan Dasa Darma Pramuka tentu tak terlewatkan juga beberapa sandi serta penilaian dari cara baris-berbaris, Nama Linda terpilih sebagai Buk Lurah nya. sedangkan Pak Lurah nya berasal dari Pramuka Penegak dari Sekolahan PTSS, atau SMA Sweet Sugar π€.
__ADS_1
Ya anak-anak dari pekerja PTSS di bagian pabrik, kantor dan gudang, biasanya bersekolah di sana, karena memang disitulah rumahnya. sedang
Sedangkan Pramuka Penegak dari SMA Tunas Harapan yang tak lain SMA yang berada di Dusun Bumi Jaya ini tidak lolos seleksi.
....
Selesai pemilihan Pak Lurah dan Buk Lurah, mereka semua membersihkan diri.
mereka semua menumpang mandi di rumah- warga yang dekat dengan lapangan tersebut, Masjid, Balai Desa/Dusun, puskesmas dan lain sebagainya. Sebab tempat MCK yang di sediakan oleh panitia tidaklah menampung.
Bagaimanapun bisa menampung peserta sebanyak itu jika MCK yang di sediakan hanya berada di dua sisi lapangan, berdinding terpal dengan tiga bilik untuk wanita dan tiga bilik untuk pria. peserta pun harus mandi berdua hingga bertiga agar kebagian air dan memang sudah merasa kepanasan π€.
Anggota regu Teratai memilih menggunakan kamar mandi yang berada di balai desa dan kamar mandi puskesmas. Agar lebih safety dan private (biar gak ada yang mengintip) Meski mandi di MCK yang di sediakan panita hanya berfungsi terpal namun sebentar juga sangat aman tidak akan ada yang mengintip sebab ada penjaga di area MCK Wanita maupun Pria.
(Gambar by Google)
πΊπΊπΊ
Terimakasih sudah mampir πππ
adakah readers yang tak paham dengan tulisanku ini???
Mohon dukungan nya ya...
maaf jika sampai saat ini masih banyak typo nya.
jangan lupa
Like
Vote
Dan
__ADS_1
Komennya
Salam kenal dari author πΊπΊ