My Future

My Future
Mencari Tanda Jejak (Hiking)


__ADS_3

Keributan terjadi di tenda regu Scorpio, dimana Deni yang bertugas memasak sayur genjer malah membuat sayur itu menjadi obat. Bagaimana tidak menjadi obat jika sayur itu kebanyakan garam bahkan bukan asin lagi rasanya, namun sudah menjadi pahit.


Sedangkan Eko dan Jaka yang bertugas memasak nasi, malah membuat nasi itu gosong. Entah kemana perginya kedua orang itu hingga nasi itu menjadi gosong, sementara anggota lain bergiliran ke MCK dengan Agus berjaga di depan tenda.


Rifan yang mengetahui kelakuan anggota nya hanya bisa menggelengkan kepalanya, sulit untuk di percaya. Tahun lalu mereka juga harus mengganti dandang milik emaknya Hendri gara-gara mereka membuatnya gosong hingga tak layak pakai lagi, jangan sampai tahun ini kejadian yang sama terulang kembali.


"Ada kah dari kita semua yang benar-benar bisa memasak dengan baik?" tanya Rifan yang kini telah mengumpulkan semua anggota untuk berdiskusi di dalam tenda.


"Kalo cuma masak mie instan gue bisa" ucap Andi percaya diri.


"Apakah selama kita kemah hanya akan makan mie instan?" tanya Rifan.


"Ya nggak juga, tapi memang hanya itu yang gue bisa" jawan Andi.


"Yang lain?" tanyanya kembali dengan menatap anggota Regu satu persatu.


"Aku bisa bang, tapi hanya masakan simple. Tumis, atau oseng-oseng gitu" jawab Gede. Dan jawaban Gede itu membuat semua anggota memandang dengan tidak percaya.


"Lo serius De" tanya Roni. dan hanya di angguki oleh Gede.


"Kalo begitu nanti siang kamu stay di tenda dan gak ikut cari tanda jejak bisa?" tanya Rifan.


"Oke bang, aku sama Arye stay di tenda" usul Gede.


"Hem...masalah nanti siang sudah clear, sekarang kita sarapan gimana?" tanya Rifan yang bingung harus berbuat apa?


"Gimana kalo beli nasi uduk masing-masing?" usul Jaka.


"Lo lupa kalo kita banyak masak nasi Jak?" sahut Eko. "Meskipun gosong, tapi bagian atas masih bisa di makan, meskipun bau angit. Kan sayang kalau di buang" sambungnya.


"Gimana kalo kita masak mie instan sebagai lauk dan tambahan karbohidrat nya, nanti kita tambahin sayur kol atau sawi saat masak mie nya" usul Riko.


"Gue setuju, beli delapan bungkus aja mie instan kuah" usul Yudi si bendahara.


"Betul, tambah telor dua butir. biar ada proteinnya hehee.." sahut Roni.


" Boleh juga dari pada kelaparan " sahut semua anggota Regu Scorpio.


....


Pukul 13.25 anggota regu Teratai berjalan untuk mengikuti arah papan panah tanda jejak. Ya akhirnya mereka bisa memecahkan aba-aba sandi semaphore yang di berikan oleh Kakak Pembina, setelah bolak balik salah. Devi dan Ratih memilih tinggal menjaga tenda, kedua gadis itu memang tak terlalu tertarik dengan kegiatan hiking seperti ini, berbeda dengan Tata yang sangat semangat.


Begitu sampai di pos pertama, mereka berbaris dan melapor pada Kakak Pembina yang berjaga di pos itu. Setelah itu mereka kembali harus memecahkan sandi Morse yang sudah di buat untuk mereka.


"Bisa gak sih di translate aja itu sandi, pusing kepala gue" ucap Tata yang memang sangat kesulitan membaca sandi.


"In your dreams Ta hahaa..." sahut Yuli, mengembalikan ucapan Tata pada Jaka tadi pagi.


"Ck..." Tata berdecak. "Hukumannya apa kalo kita gak lolos?" tanyanya.


"Ngemut permen kaki, satu permen untuk satu regu bergantian" ucap Lia sambil mengedikkan dagunya ke arah Pramuka penggalang yang tengah menerima hukuman.


"iyuhhhhh" ucap semuanya.

__ADS_1


"Lo pada bisa diem gak sih? jangan ganggu konsentrasi gue" ucap Siti yang tengah menyusun kata-kata menjadi satu kalimat terjemahan dari sandi Morse.


Dan rupanya perintah dari sandi Morse tersebut adalah


"Menyanyikan lagu disini senang disana senang dengan aiueo nya di ganti menjadi 'i' semua"


lalu mereka mulai bernyanyi


...


Disini sining, disini sining...


Dimini-mini hitiki sining...


Dirimih sining, di sikilih sining


Dimini-mini hitiki sining


Disini sining, disini sining....


Dimini-mini hitiki sining...


Disikilih sining, birmiin sining...


Dimini-mini hitiki sining...


Lili...lili...


Lili...lili...


Disini sining, disini sining....


Dimini-mini hitiki sining....


dimini-mini hitiki sining


Disini sining, disini sining...


Dimini-mini hitiki sining....


Disikilih sining, birmiin sining...


Dimini-mini hitiki sining...


Lili...lili...lili...lili...


Lili...lili...lili...lili...


Lili...lili...lili...lili...


Lili...lili...lili...lili...


Setelah menyanyikan lagu itu, Regu Teratai melanjutkan perjalanannya dengan menyebrangi kali yang airnya setinggi lutut mereka, untung saja kali itu tidak lebar. hanya 70meter saja.

__ADS_1


Mereka harus melakukan perjalan panjang itu dengan semangat dan tanggung jawab terhadap dirinya sendiri, harus menjadi kuat dan mandiri. Begitulah lah kira-kira.


....


Sesampainya di pos kedua, masih sama dengan pos yang pertama. Mereka semua berbaris menjadi dua barisan dan melapor kepada Kakak Pembina yang berjaga di pos tersebut.


Masih sama juga pesan kakak Pembina, Agar mereka berhati-hati, tetap kompak, semangat dan jangan sampai terpencar.


Di pos kedua juga mereka harus di uji dengan sandi rumput, yang terlihat seperti coretan anak tak, namun tentu saja itu bukan sembarang coretan bahkan tinggi coretan satu dengan lainnya sudah ada ukuran dan makna yang harus mereka pecahkan.


Tidak seperti di pos pertama tadi yang terlihat berdebat, kini semua anggota Regu Teratai terlihat khusyuk memecahkan sandi rumput tersebut. Meskipun diam diantara mereka benar-benar diam tak membantu sama sekali.


Kali ini hukumannya bukan hanya satu permen kaki untuk satu regu, tapi permen susu dengan tangkai itu yang sudah jilat oleh anggota regu lain yang telah gagal memecahkan sandi tersebut. Jadi jika sampai mereka gagal, maka bukan tidak mungkin mereka harus menjilat permen itu juga.


Dan perintahnya adalah berjalan dengan jongkok menuju rintangan yang harus mereka hadapi. Jarak dari pos kedua menuju ke rintangan adalah 100 meter, jadi cukup sulit untuk mereka mencapai rintangan itu.


Rintangan tersebut adalah merangkak di atas lumpur yang berada di area dengan lebar 50cm dan panjang 10m. Dan di di pasangi tali/batas agar jika merayap, punggungnya tidak boleh menyentuh tali tersebut yang tinggi nya sekitar 40cm.


Satu persatu anggota ya regu Teratai merayap, benar-benar harus tidur di atas lumpur basah itu agar bisa merayap. Jangan di tanya lagi bagi kotornya baju dan tubuh mereka, karena sudah pasti sangat teramat kotor dengan lumpur yang menempel sempurna di baju bagian depan dan tangan kaki juga sepatu mereka.


Belum lagi ada Kakak Pembina yang memberikan tanda tangan di bagian punggung, yaitu tanda tangan benar-benar stempel cap tangan yang ada lumpurnya.


.....


"Kak Hadi tega banget kasih tanda tangan di punggung menggunakan lumpur" keluh Tata yang tak menyangka dengan aksi Kakak Pembina itu.



"Mana galak banget lagi" Fitri yang ada di sebelahnya turut membenarkan ucapan Tata.


Mereka semua langsung menuju pos ketiga, tidak bisa membersihkan diri terlebih dahulu, sebab rute nya telah mengarah ke daerah persawahan yang kering. Jadi semua anggota Regu melanjutkan perjalan mereka dengan penampilan yang mengenaskan.


Namun mereka harus tetap semangat karena di depan sana masih ada dua pos yang harus mereka lewati dan berarti masih ada dua rintangan dan hukuman yang menanti dengan manis untuk mereka hadapi.


TBC


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Halooo apa kabar semuanya???


Semoga sehat selalu. dan author sangat berterima kasih karena sudah bersedia mampir kesini๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


Jangan lupa beri rating yaaa


Jangan lupa juga


Like


Vote


dan


Komennya....

__ADS_1


Salam kenal dari author ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


__ADS_2