My Future

My Future
Artajaye Phone Centre


__ADS_3

"Kau yakin akan membawa Tata bersamamu Ye?" Bli Wayan memastikan kemantapan hati adiknya yang akan membawa anak gadis orang.


"Tata yang ingin ikut aku Bli, dia berpikir harus mulai menafkahi dirinya sendiri. Namun aku rasa itu bukan hal buruk, dia bisa melihat kehidupan luar dan pikirannya tidak terfokus akan kepergian Mbah Sarni" Jaye mengungkapkan pendapatnya.


"Tapi kau harus menjaganya dengan baik, jangan menyakitinya"


"Tidak akan ku lakukan hal yang membuatnya sedih apalagi menangis" Jaye mengingat Tata.


"Jadi, kapan kau akan berangkat?" mbak Ketut bersuara setelah menjadi pendengar yang baik.


"Besok siang Mbak"


*


*


*


"Kau serius akan pergi nduk?" paklek Arif bertanya setelah Tata meminta izin akan pergi ke kota.


"Tentu paklek, aku sudah dewasa, aku juga harus menafkahi diriku sendiri. Lagian aku disini tak memiliki apapun" Tata memejamkan matanya mengingat sesuatu yang menyakitkan.


"Tidak punya apapun bagi? paklek masih sangat mampu menafkahi kamu, memberi kamu makan, membelikan pakaian dan segala keperluan kamu. Ada paklek, ada Bik Mini juga Davi, kami semua keluarga kamu dan bagi dengan rumah peninggalan Mbah kalo kamu pergi?" paklek tak tega melepaskan keponakan merantau ke kota.


"Bukankah rumah itu sudah di jual? itu sebabnya Bik Selvi dan suaminya sudah pulang?" Tata tersenyum menatap paklek nya.


"Nduk.." paklek Arif tercekat, tak tahu harus berkata apa, paklek juga terkejut Tata mengetahui kebenaran itu.


"Aku sudah dewasa paklek, jadi jangan pergi menganggap ku bocah lagi. tak perlu menutupi apapun dariku, aku juga harus belajar hidup mandiri. Jadi biarkan aku memutuskan jalan hidupku" Tata menghela nafasnya. "Bukan aku tidak menghargai paklek sebagai pengganti orang tua ku, aku pun sangat menyayangi paklek, Bibik, juga Davi, tapi biarlah aku menjalani kehidupan ini sesuai kemauan ku" Tata menggunakan kata-kata sebijak mungkin agar pakloh mengizinkan nya ke kota.


"Baiklah jika keputusan mu sudah bulat. pergilah dan jalani kehidupan mu seperti keinginan mu, tapi pulanglah kesini jika kau sudah lelah" pasrah paklek tak mampir mencegah sang ponakan.


"Pasti" lirih Tata.


*


*


*


"Ramai sekali disini" Tata memandang kagum atas keramaian dan ke indahan suasana kota.


"Kamu suka?" Jaye senang melihat Tata kembali ceria.


"Tentu saja suka" Tata antusias.


"Apakah pizza nya enak?" Jaye mengajak Tata makan pizza karena di desa tidak ada pizza 'kan.


"Enak, aku juga suka. Tapi ini tidak membuat perut ku kenyang" Tata yang sudah terbiasa kenyang dengan nasi.

__ADS_1


"Haha.... aku tahu itu. Cepat habiskan agar kita bisa segera sampai tujuan" Jaye paham maksud Tata yang tidak kenyang.


*


*


*


Tata dan Jaye tiba di sebuah ruko tingkat dua. Ruko itu masih tertutup oleh rolling door berwarna silver, dengan ukuran ruko yang sangat ideal juga bertempat strategis untuk membuka usaha.


Sepertinya ini bangunan baru yang masih sangat terlihat beberapa ruko masih dalam tahap finishing namun beberapa juga sudah ada yang mulai beroperasi memulai usahanya, seperti Loudry, Aksesoris, Salon, Mini butik, Bengkel, juga ada Kang bakso.


"Bli bilang buka counter kecil?" Tata membuka suara setelah meyakini bahwa ruko besar itu adalah tempat usaha Jaye.


"Kan memang kecil, cuma satu ruko" singkatnya. "Ayo masuk" ajaknya dengan menenteng tas ransel Tata juga milik nya sendiri.


"Ini besar Bli, coba Bli besok periksa mata dech" kesal Tata. "Kita akan tinggal di sini?"


"Hem, kau bisa menggunakan kamar yang di atas, kebetulan aku sudah mengisinya dengan single bed juga lemari, ada kamar mandi juga di atas" jelas Jaye.


"Lalu Bli tidur dimana?"


"Aku bisa tidur di bawah sini, nanti beli single bed satu lagi" entengnya.


"Tapi kan..."


"Gak usah tapi-tapian, atau kamu mau kita tidur satu kamar?" Jaye tersenyum menaik turunkan alis tebal nya.


"Di lantai dua sangat luas dan kosong. Bli tidur disini saja dari pada di bawah" saran Tata, rasanya sangat sungkan jika Tata berada di lantai atas yang luas ini.


"Sepertinya ada yang tak ingin jauh dariku" godanya. Tersenyum manis menatap intens pada Tata.


"Ish... jangan melihat ku seperti itu Bli" tata salah tingkah.


"Memang kenapa?"


"Aku seperti kena penyakit jantung" Tata meraba dadanya seolah merasakan gempa.


"Bagaimanapun mungkin? kau masih terlalu muda untuk memiliki penyakit jantung" Jaye panik.


"Aku juga tidak tahu, karena setiap Bli menatap ku begitu jantungku berdegup kencang, berdebar-debar hebat" jujurnya, dan Jaye tersenyum mendengarnya.


"Bagaimana kalo aku menyentuh tanganmu? apakah masih berdebar-debar di dadamu?" Tata mengangguk. "Lalu saat aku menyentuh pipimu?" Tata mematung, dia merasa benar-benar terkena serangan jantung, hanya mampu mengedip-ngedipkan bila matanya yang besar. Jaye memandang lembut gadis itu, jantungnya pun berdegup kencang, Jaye memang benar-benar jatuh cinta dengan gadis yang kini ada di hadapannya.


*


*


*

__ADS_1


"Bli, apa nama counter nya?" mereka tengah menyusun barang-barang di etalase.


"Artajaye Phone Centre" masih fokus menyusun barang.


"Bukannya nama Bli itu Sanjaye? kenapa bisa jadi Artajaye?" Tata menghentikan aktivitas nya, memandang penuh tanya pada Jaye.


"Karena itu nama dari dua orang. Arta itu Arsinta, dan Jaye itu namaku. Baguskan? atau kamu keberatan jika aku menggunakan namamu?" Jaye menatap Tata.


"Bli, aku tidak keberatan. Tapi bukannya nama usaha atau brand itu sangat penting ya? kenapa Bli ngasal banget kasi namanya?" Tata takut namanya tidak membawa keberuntungan untuk usaha Jaye, seperti dirinya yang tak pernah beruntung. Gadis itu menjadi sangat pesimis.


"Ngasal bagaimana?" Jaye tak mengerti. bukankah adanya nama Tata di usahanya menandakan dirinya sangat penting bagi Jaye.


"Aku gadis yang tidak beruntung Bli, bagaimana jika adanya namaku membuat usaha Bli tidak berjalan lancar?" lirih Tata menunduk kan kepalanya.


"Hei...kau bicara apa?" tangan Jaye mengangkat dagu Tata. "Dengar, tidak ada orang yang tidak beruntung, semua orang akan menjalani keberuntungan dan kemalangan nya. Jika saat ini kau menjalani kemalangan mu, esok kau juga akan menjalani keberuntungan mu" Jaye meyakinkan Tata.


"Bli.."


"Aku sangat beruntung mengenal dan bertemu denganmu. kau wanita yang paling aku cintai hari ini esok dan mudahkanlah selamanya. Kau sangat berarti untukku dan kau harus tahu itu" Jaye membawa Tata dalam pelukannya.


"Maaf..."


"Jangan di ulangi lagi, aku akan bersamamu dan menerima mu segenap hatiku" Jaye mengelus-elus rambut Tata.


"Aku takut Bli.."


"Apa yang kau takutkan?"


"Aku takut dengan perbedaan kita, aku takut kehilangan Bli" lirih Tata memeluk erat tubuh Jaye.


"Aku takkan pernah meninggalkanmu, kecuali kematian tidak ada yang bisa memisahkan kita" Jaye menangkup kedua pipi Tata menghapus lelehan air mata.


"Jangan pernah tinggalkan aku apapun alasannya, jangan pernah mengkhianati ku, atau aku tidak akan sanggup menghadapi duniaku"


"Aku berjanji akan selalu bersamamu hingga akhir hidupku" Jaye bersungguh-sungguh.


"Maka aku akan menyerahkan hidupku padamu"


"Dan biarkan aku menjagamu seumur hidupku" Jaye mengecup kening Tata.


"Jadi sekarang kita jadian? kita pacaran? kita sepasang kekasih?" tanya Tata yang masih berada di dalam pelukan Jaye.


"Hem... akulah satu-satunya pria yang ada dalam hidupmu, hatimu, juga pikiran mu" Jaye mengurangi pelukannya. "Di matamu hanya akan ada wajahku, dan bibirmu ini akan selalu menyebut namaku, kau dengar itu?" Tata menganggukkan kepalanya sebagai tanda ia mengerti maksud Jaye.


Sejatinya cinta itu tidak pernah salah, hanya saja beberapa individu yang salah karena memaksakan untuk memilih cinta tersebut. Cinta itu kebahagiaan, bukan kesedihannya, Cinta itu rasa yang indah, bukan rasa sakit.


.


.

__ADS_1


.


TBC..


__ADS_2