My Future

My Future
(Eps.18) Hello Sydney!


__ADS_3

"Nathan seperti nya aku mabuk pesawat kali ini, mungkin karna perjalanan nya sangat jauh" ucap Febri memegang paha Nathan, ia mengeluarkan keringat dingin.


"Kalau gitu makan obat ini dulu sayang, untung saja tadi aku sempat membelinya di Apotik" seru Nathan menyodorkan obat dan Aqua.


Mereka berangkat pagi tadi, tidak lupa diantar oleh keluarga Nathan dan Febri sampai bandara.


Febri tertidur karna efek obat dan Nathan mendengarkan musik dari headset sembari memberi pundaknya sebagai tempat senderan gadisnya itu.


5 jam perjalanan



"Nathan, berapa jam lagi?" seru Febri terbangun dari tidurnya.


"Sudah bangun sayang? kira-kira 1 jam lagi kita sampai" ucap Nathan mengelus rambut Febri.


Febri tersenyum mendapat perlakuan manis dari suaminya itu.


**********


Mereka pun sudah sampai di bandara.


"Sayang, mau ke suatu tempat yang ingin kamu kunjungi dulu atau langsung ke Villa saja?" tanya Nathan sambil mendorong 2 koper.


"Aku ingin mandi dulu, setelah itu malam kita jalan mengelilingi kota ini" ucap Febri.


"Kapan aku bisa memakanmu" batin Nathan kesal.


**** Di Villa ****


"Wahhh!! ini serius Villa? bukan istana?" ucap Febri takjub.


"Nathan aku ingin berenang" teriak Febri.



"Kamu sangat aktif disiang hari ya Ebi, aku harap malam ini juga begitu" ucap Nathan menuju kamar.


"Ebi, jika ingin berenang ganti baju mu dulu" sambungnya.


Malam hari


"Nathan, ayo kita keliling kota Sydney" seru Febri bersemangat.


"Tidak mungkin kita bisa mengelilingi kota yang begitu luas ini" ucap Nathan menuju kearah Febri.


"Kalau begitu, ke wisata atau ke beberapa Mall saja?" serunya.


Tiba-tiba Nathan mendekat seakan akan ingin mencengkeram Febri.

__ADS_1


"Nathan?" tanya Febri.


"Ayo lakukan sekarang, aku tidak kuat menunggu lebih lama lagi Ebi" seru Nathan.



"Kamu baru saja mandi, apa kau mau mandi dua kali malam ini?" tanya Febri.


"Tidak masalah jika berdua denganmu" ucap Nathan mendekat.


Pria beraroma Maskulin itu mendempetkan dirinya ketubuh Febri, hanya beberapa centi saja.


Dengan perlahan Nathan mengecup telinga Febri yang memerah, membuat wanita itu mendesah kecil. Febri bisa merasakan nafas hangat Nathan merambat di tengkuknya. Menjalar hingga bahunya yang entah kapan pakaian nya sudah melorot sebelah.


Sesekali Nathan memberikan Kissmark di leher Febri, dan membuatnya mengeluh.


"Aw! Sakit" pekiknya.


Nathan berpindah kemudian melumat bibir Febri. Mengisap bibir atas dan bawahnya, kemudian lidahnya masuk ke mulut gadis itu. Mereka berciuman cukup lama.


Febri mendorong nya, "Nathan, aku tidak bisa nafas".


Nathan tidak peduli, ia kembali menciumnya dan mengulurkan tangannya ke dada Febri dan meremasnya dari luar kemeja gadis itu.


Tangan Nathan merambat turun. Menelusuri perut Febri yang datar hingga sampai di bagian sensitif nya.


"Ah ... nghh Nathan!" Febri mendesah cukup keras, membuat Nathan semakin bersemangat.


Nathan mengecupnya, betapa empuk baginya, ternyata seperti ini rasanya. Ia mengisapnya dengan bergairah membuat Febri mendesah. Nathan melepas lumatan nya.


"Kemari sayang" ucapnya.


Febri mulai membuntuti tangannya ke perut sixpack Nathan, dia jadi berani. Lalu Nathan mengambil tangannya dan membimbing nya kearah kejantanannya.


Tangan Nathan yang awalnya bertumpu di pinggang gadis itu, merambat ke bokongnya dan meremasnya.


"Nathan kita tidak jadi jalan?" tanya Febri di sela sela bercinta mereka, membuat pria itu kesal. Hanya jalan jalan yang ia tau.


Nathan menahan kedua tangan Febri diatas kepalanya, hingga terkunci tak bisa bergerak.



NATHAN POV


Jari tanganku perlahan menyentuh, sedikit masuk dan berputar pelan di area sensitifnya. Mencoba membuatnya berada diantara puncak namun tidak mampu meraihnya. Aku ingin dia berhenti mengajak jalan dan menjadi candu padaku.


Dia bergerak gelisah, aku tau karna ia tersiksa dengan hasrat yang tak terpuaskan. Febri hanya menutup matanya, menahan desahan yang ingin keluar dari mulut kecil nya itu.


NATHAN POV END

__ADS_1


"Baiklah, ayo kita jalan" seru Nathan melepas Febri, kemudian beranjak dari ranjang dan mengambil kemejanya untuk dipakai kembali.


"Nathan, kau menyebalkan!" teriaknya.


"Bukannya kau dari tadi mengajakku keluar?" seru Nathan berbalik badan, ia tersenyum licik.


"Di luar dingin, aku tarik kata-kata ku" serunya.


"Tidak mau makan?"


"Aku kenyang, bagaimana kalau kita lanjutkan yang tadi?" seru Febri memohon.


"Baik, aku tidak ingin wanitaku kecewa" ucap Nathan dan menuju ke arahnya.


FEBRI POV


Nathan mencium pahaku, aku hanya menunggu permainan selanjutnya dari dia.


Dia mengerang dan mendorong tubuhku ke bawah. Napasnya mulai bertambah berat. Aku memegang wajahnya, menatap matanya lalu berbisik di telinganya. "pelan-pelan lah sedikit, tidak ada yang berani mengambil mangsamu".


Beberapa saat kemudian dia mulai melepas celana dalamku. Dia mengangkangkan kakiku sambil menyentuh lembut daerah sensitif ku.


Nathan melumat bibirku dengan kasar. Aku merasakan sesuatu yang keras terkena pahaku, benda keras itu sepertinya sedang mencari posisi lobang yang tepat.


Tak menunggu lama lagi, dia menusukkan batangnya ke diriku dalam-dalam, sangat dalam, mengisi tubuhku. Di dalam terasa sangat sesak dan penuh.


"Sakit" batinku. Ini pertama kalinya untukku.


"Ahhh ... Nghhh .. Nathan aahh!!" Aku terus mengerang namanya, karna dia terus mendorongnya keluar dan masuk dariku, membawaku semakin ke puncak. Dia memperlambat gerakannya sejenak, lalu mempercepat kembali gerakannya, cukup lama.


Dia menarik ku semakin dekat dengan klimaks. Dia terus menggenjotkan tubuhnya keluar masuk dalam diriku. Aku bisa melihat hawa nafsunya, rahangnya mengeras.


"Sayang, saatnya. Keluar sudah!! ahh" teriak Nathan.


Ketika dia memompakan badannya dengan malas turun dari ketinggian nya sendiri, sementara aku mengepalinya didalam diriku, aku memeluknya. Terasa, terasa berdenyut. Cairan hangat yang memenuhiku, sangat basah.


FEBRI POV END


"Hah ... hah .. hebat" Nathan mengontrol nafasnya, ia merebahkan dirinya disamping tubuh Febri.


"Sayang, apa itu sakit?" tanya Nathan.


"Sepertinya berdarah" serunya.


"Benarkah?" Nathan langsung duduk dan mengecek.


"Wajar saja, aku masih perawan tentu berdarah" ucap Febri.


Nathan kemudian menyelimuti tubuh Febri dan memeluknya.

__ADS_1


"Tidur lah sayang, kita lanjutkan besok" seru Nathan memejamkan mata.


__ADS_2