
Riko dan Dinda berada di bangku taman setelah selesai shift kerjanya, tidak ada yang berubah dari hubungan keduanya, namun Riko terlalu semakin pendiam setelah pertemuan nya dengan Tata tempo hari.
"Gue gak nyangka kalau Arsi adalah gadis yang ada di hati Lo" Dinda membuka percakapan.
"Gue juga gak nyangka Lo udah kenal lama sama Tata" sahut Riko.
"Sorry gue tak tahu kalau Arsi itu Tata Lo. Gue manggil Arsi biar beda aja sama yang lain, dan dia setuju, lalu dia manggil gue dengan nama Anjani" jelas Dinda.
"Jadi selama ini Tata tinggal dimana?" lirih Riko.
"Setahu gue, dulu dia tinggal di ruko Artajaye Ponsel yang menjadi tempat usaha pacarnya" tutur Dinda apa adanya.
"Mereka tinggal bersama?" Riko menatap Dinda.
"Se...sepertinya begitu" Dinda ragu-ragu memberi tahu Riko.
"Huff..." Riko menghela nafas berat. "Sejauh mana hubungan Lo sama Pria itu queen? gak seharusnya Lo tinggal bersama dengan pria itu dan gak seharusnya Lo menjalin hubungan dengannya. Di sini ada gue yang selalu dan selalu mencintai Lo, kenapa Lo gak pernah melihat? gue nyesel karena menjadi sahabat Lo, dan itu adalah penyesalan terdalam gue karena persahabatan itu membuat gue gak bisa mendapatkan Lo" gumam Riko dalam hati.
"Lo baik-baik saja Rik?" Dinda meraih tangan Riko dan menggenggam nya.
"Ya gue ingin baik-baik saja, tapi tidak dengan hati gue" ucap Riko menatap lurus ke depan.
"Gue tahu perasaan Lo" lirih Dinda.
"Apakah sesakit ini saat Lo menyukai gue?"
"Sakit sudah pasti, tapi tentu tak sedalam rasa sakit yang Lo rasakan. Karena perasaan yang Lo punya sudah terlalu lama dan terlalu dalam untuk nya, gue tahu Lo tulus mencintai nya" Dinda mencoba berbicara bijak, meskipun rasa sakit yang dirasakannya juga tak kalah perih dari yang Riko rasakan. Tidak perduli itu perasaan lama ataupun perasaan baru sakitnya dalam mencintai sendirian tetaplah menyakitkan.
☘️
☘️
☘️
Jaye memeluk erat gadisnya, mereka berdua berbaring di atas ranjang yang sama, ya tentu saja setelah memutuskan untuk pindah ke rumah pribadi mereka selalu tidur di kamar dan ranjang yang sama. Meski tidak mudah bagi Jaye mengendalikan diri, tapi keduanya bisa melewati dan menikmati kebersamaan nya. Bagaimana dengan kebutuhan biologis keduanya? tentu saja mereka berdua sama-sama mendapatkan kepuasan tanpa harus mengubah Tata dari gadis menjadi seorang wanita, dan itu bagaimana biarkan hanya Tata dan Jaye yang tahu caranya✌️
"Apa yang sedang kau pikirkan?" Jaye membelai lembut rambut panjang Tata.
"Apakah Bli akan meninggalkan ku?" Tata mengubah posisinya menghadap Jaye.
"Apa yang kau katakan sayang?"
"Aku tidak bisa mengikuti keyakinan Bli, dan itu artinya kita tidak bisa menikah, apakah..."
"Itu tidak akan pernah terjadi" pungkas Jaye mengerti arah pembicaraan gadisnya. "Bukankah kita bisa hidup bersama dan bahagia seperti sekarang ini?" Jaye menatap dalam mata Tata.
__ADS_1
"Tentu saja, tapi apakah Bli tidak ingin memiliki seorang anak? apakah Bli Wayan setuju dengan hubungan kita? apakah keluarga besar...."
"Sebelum aku membawamu dan sebelum aku menyatakan perasaan ku, aku sudah memberi tahu Bli Wayan. Dan beliau hanya berpesan untuk mundur jika sampai aku menyakitimu, bahkan Bli wayang lebih menyayangi mu dari pada diriku" ungkap Jaye.
"Benarkah?" Tata menatap tak percaya.
"Ya, Bli Wayan mengatakan itu, beliau bilang silahkan maju jika aku mampu membahagiakan mu selalu, tapi silahkan mundur jika jika kedepannya aku hanya menyakiti mu. Dan tentang keluarga besar ku, mereka tidak ada sangkut pautnya dengan kebahagiaan ku" tuturnya.
"Jangan pernah meninggalkan aku" Tata menghirup ceruk leher Jaye.
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu apapun alasannya, karena mendapatkan mu itu tidak mudah" Jaye memeluk erat tubuh Tata.
"Bukannya aku langsung menerima Bli beberapa hari setelah pernyataan cinta Bli?" Tata masih di posisinya.
"Ya itu benar, tapi aku harus menahan nya selama dua tahun sejak pertemuan pertama kita" ungkap Jaye.
"Kau sangat mencintai ku Bli?"
"Tentu saja sayang Cup..." Jaye mengecup kening Tata yang berada di bawah dagunya.
"Ish..." Tata menggigit dada Jaye.
"Kau memancing ku sayang?" Jaye meraih tengkuk Tata agar lebih sejajar dengan wajahnya dan melu mat bibir indah gadisnya itu.
☘️
☘️
☘️
"Sorry kami terlambat" ucap Jaye begitu sampai di meja Daniel.
"It's okay bro, santai aja, kayak sama siapa" ucap Daniel.
"Lo sama siapa?" tanya Jaye menarikan kursi untuk tata duduk.
"Terimakasih" ucap Tata pada Jaye.
"Gue sama adek gue, tapi dia lagi pergi ke toilet, Lo berdua pesen aja, gue udah pesen" ramah Daniel. Lalu Tata dan Jaye memesan makanan dan minuman pada seorang waiters.
"Jadi kapan Lo nikahnya?" tanya Jaye.
"Sepuluh hari lagi, dan Lo harus datang pas pesta lajang gue nanti, dua hari sebelum hari pernikahan gue" undang Daniel pada Jaye.
"Oke gak masalah gue pasti datang" Jaye menyanggupi undangan Daniel.
__ADS_1
Mereka melanjutkan obrolan dengan membicarakan hal-hal ringan dan juga sedikit konyol, tanpa mereka sadari seseorang memperhatikan nya jadi jarak jauh.
"Gue tahu sekarang gimana caranya, membalas rasa sakit hati gue salama ini. Baik Riko ataupun wanita itu pasti keduanya akan hancur dengan sekali tepukan, dan gue pastikan Lo akan menangis darah Ta" geramnya.
"Gue udah lama menunggu kesempatan untuk menghancurkan semuanya, tunggu tanggal mainnya" ancam wanita itu dalam hati lalu meninggalkan tempat itu.
"Adikku pulang terlebih dulu karena ada urusan" ucap Daniel setelah menerima panggilan telepon. "Sorry gue gak bisa ngenalin dia sama kalian" sesal Daniel.
"Tak apa, kami bisa kenalan lain kali" ucap Tata.
"Baiklah gue pulang dulu, masih ada beberapa urusan di sini yang perlu gue selesaikan, dan Lo jangan lupa datang" pesan Daniel pada Jaye.
"Gue pasti datang, thanks atas undangan nya" ucap Jaye melakukan salam perpisahan dengan teman-teman itu.
"Hai girl, tetap hati-hati dengan Jaye. Dia sangat buas" pesan Daniel pada Tata, lalu berjalan menjauhi meja itu. Karena mendapat tatapan tajam dari Jaye.
"Dan aku sudah membuktikan keganasannya" gumam Tata melirik ke arah Jaye.
"Sayang kau menyukai keganasan ku, jangan mengelak itu" Jaye mencubit hidung Tata.
"Ish... itu karena aku belum mencobanya dengan yang lain" pancing Tata.
Takkk......
Jaye menyentil kening Tata
"Jangan pernah berpikir akan melakukan nya dengan pria lain, halus pikiran kotor dan liar itu tentang pria lain. Karena hanya aku pria yang berhak menyentuhmu dan juga menikmati semua yang ada pada dirimu, camkan itu gadis manis" ancam Jaye pada kekasihnya.
"Kau menyakitiku Bli" rengek Tata mengusap kening yang di sentil oleh Jaye tadi.
"Aku akan menyembuhkan nya nanti malam" Jaye mengusap lembut pipi putih Tata.
"Tidak perlu, karena sekarang sudah tidak sakit lagi" tolak Tata.
"Tidak ada penolakan sayang, dan aku tidak suka penolakan, kau tahu itu" Jaye tersenyum smrik membuat Tata merinding.
"Dasar pemaksa" gumam Tata tapi Jaye masih bisa mendengar nya.
☘️
☘️
☘️
☘️
__ADS_1
☘️
TBC