
Sama seperti pos sebelumnya, kini di pos ketiga Linda membariskan anggota Regu Teratai dan melapor pada Kakak Pembina, namun kali ini mereka tidak di pusingkan dengan sandi seperti di pos sebelumnya.
Tapi mereka di hadapkan oleh dua rintisan sekaligus, rintangan pertama yaitu lompat tambang. Benar-benar tambang, bukan tali karet yang saat mereka tak mampu melompati nya maka karet itu akan melar. ini benar-benar tambang yang takkan melar jika yang melompati tidak sampai, melainkan si pelimpahan lah yang akan terpental jatuh tersungkur di tanah kering penuh kerikil dimana-mana.
Jika di pos kedua di hadapkan dengan lumpur basah, kini di pos ketiga tidak ada lumpur basah. Melainkan area kering terkesan tandus dan banyak batu kerikil.
Anggota Regu Teratai bersiap untuk melompat, beruntung mereka semua memakai short yang hampir-hampir sama panjangnya dengan rok pramuka mereka. Karena mereka harus mengangkat tinggi rok pramuka itu agar kakinya bisa lebih tinggi menjangkau tambang rintangan yang setinggi 60cm.
Strategi mereka melompat dengan menggunakan tongkat masing-masing, beruntung juga tongkat mereka adalah kayu gelam yang sudah pasti kuat jika di jadikan tumpuan tubuh mereka untuk melompat lebih tinggi.
Meskipun dengan susah payah, mereka semua mampu melewati rintangan lompat tambang itu. Kini rintangan kedua menanti mereka yaitu rintangan merayap seperti rintangan di pos kedua, namun bedanya kini mereka harus merayap di atas tanah yang keras dan tinggi pembatas punggung itu hanya 45cm yang artinya sangat rendah dan memaksa mereka harus benar-benar tengkurap menyatu dengan tanah.
Harapan mereka adalah semoga, yah semoga saja lutut, betis, siku ,dan lengan mereka tidak terluka maupun tergores oleh batu kerikil dan tanah yang keras itu. Meskipun kemungkinan nya 0,00% karena mengingat medan yang harus mereka lalui.
"Habis sudah lutut dan siku gue tergores kerikil itu uhhhh..." keluh Tata merasakannya perih di area yang tergores.
"Sama, gue juga" sahut Yuli.
"Bisa-bisanya Kakak Pembina menemukan rute yang seperti ini" ucap Fitri tak percaya dengan rute kali ini yang lebih panjang dan sedari tadi mereka keluar area dusun hanya ada jalan setapak yang mereka lewati. sepertinya itu jalanan para petani yang akan ke ladang mereka, dan sawah tadi seperti sawah yang sudah lama tidak di garap. Makanya hanya ada endapan lumpur dan aliran air yang sangat kecil.
"Eh minum dulu dong" pinta Lia pada Komang, karena ini giliran Komang yang menggendong tas ransel berisi air minum mereka.
Setelah dahaga mereka terpuaskan oleh air minum, kini mereka melanjutkannya perjalanan terakhir yaitu menuju pos ke empat.
....
"Feeling gue gak enak nih liat arah jalannya" Tata membuka suara setelah mengamati jalanan yang mereka lewati.
"Kenapa?" tanya Linda penasaran.
"Kalo gak salah di area pohon-pohon akasia yang tinggi menjulang terlihat dari sini, kalian bisa lihat kan?" Tata memastikan.
"Iyaaaa terus kenapa?" sahut semuanya, mereka semua menghemat langkah'dan menatap Tata.
"Kata... Tantri, itu area pemakaman" lirih Tata.
"Ehhh... Munaroh jangan asal ngomong lo...!!! lagian siapa Tantri?" tanya Siti.
"Tantri anak dari SMA Tunas Harapan, jadi gak mungkin dia bohong. Dia kan orang sini" jawab Tata yang memang sempat kenalan dan berbincang dengan penghuni tenda sebelah yang tak lain dari SMA Tunas Harapan.
"Jadi... singkatnya, secara tidak langsung kita menuju area pemakaman dong?" ucap Lia dan di angguki oleh semuanya.
"Hei adik-adik..." panggil Yuli kepada peserta kemah yang masih kecil. "Kalian kelas berapa?" tanyanya.
"Kelas enam Kak" sahut semuanya memandang heran pada anggota Regu Teratai.
__ADS_1
"Kalian dari sekolah mana?" Tanya lagi. dan anggota lainnya hanya diam tak mengerti kenapa Yuli mengintrogasi anak-anak tersebut.
"Kami dari SDN 01 Bumi Jaya Kak" jawab mereka bahwa mereka dari dusun dimana lokasi perkemahan di adakan.
"Itu, di depan sana banyak pohon akasia kenapa ya?" Yuli memastikan.
"Itu area pemakaman Kak, Minggu lalu mbahku baru meninggal, sekalian aku mau mampir kesana hehee" jawab salah satu anak dengan sangat jelas. lalu anak-anak itu melanjutkan perjalanan.
"Guys...." Yuli menatap satu persatu temannya. Dan tanpa suara mereka mengangguk mengisyaratkan bahwa pemikiran mereka sama.
Dengan langkah gontai tak sesemangat seperti sebelumnya, kini mereka harus memaksakan diri untuk melangkah maju, dengan perasaan ketar-ketir. yahhh mereka semua memang penakut jika di hadapan dengan hal nyata yaitu tentang kematian, ataupun kuburan.
Semua menegang ketika sampai di pos ke empat. rupanya di sana ada Kak Fahri dan Kak Teguh. setelah melapor dan di berikan beberapa nasehat, mereka di berikan tugas terakhir. Ya tidak ada lagi sandi atau rintangan.
Namun mereka harus mengambil batang singkong yang belum lama di panen. Dan batang singkong tersebut berserakan di area pemakaman yang memang hanya ada beberapa gunduk tanah makam lama dan satu makam baru, ahh... itu dia makam Mbah anak yang tadi.
Masing-masing harus membawa sepuluh batang singkong yang nantinya akan di Kim di tengah lapangan untuk tambahan api unggun nanti malam.
Meski sedikit tegang, anggota Regu Teratai mampu menyelesaikan semua rintangan dan tugas terakhir mereka di perkemahan terakhir mereka. inilah kali terakhir bagi mereka mencari tanda jejak, kesusahan terakhir mereka. Karena tahun depan sudah tidak bisa lagi mengikuti kegiatan seru ini, jikapun memaksa ikut mereka bukan lagi peserta, melainkan menjadi Kakak Pembina junior dan rasanya pasti tidak sama seperti sekarang.
"Gue pasti bakal kangen banget kegiatan seperti ini" sahut Yuli yang juga menahan tangisnya.
"Guys, jangan pada nangis dong, kan gue juga ikut nangis hiks...hiks..." sahut Lia.
Dan mereka menghentikan perjalan itu, memeluk satu sama lain. Menagis hari, sedih, senang tapi seakan tak rela jika kebersamaan mereka berakhir, berlalu terlalu cepat.
Kak Fahri yang masih bisa melihat anak didiknya itu berinisiatif menghampiri dan memotret momen mengharukan tersebut. Beliau pun bisa merasakan keharuan yang tengah dirasakan para anak didiknya.
"Sudah berhenti nangis nya, wajah kalian terlihat semakin jelek" ucap Kak Fahri mengalihkan perhatian semua anggota.
Bukannya Dian dan berhenti menangis, para anggota malah menghambur kepada sang Guru dan menagis dengan kencang.
Hu...huhu......
huhu....hu......hu.....
"Kita semua bakalan kangen di galakin dan di hukum sama Kak Fahri" ucap Tata.
__ADS_1
"Hei kalian semua lupa? Kak Fahri masih ada waktu satu tahun lebih untuk memberi hukuman pada kalian" Kak Fahri mengingat kan bahwa masih banyak waktu untuk kebersamaan mereka.
"Hei kalian para gadis kenapa lebay sih" ucap Roni, anggota regu Scorpio baru saja sampai.
"Lo ngerusak suasana haru Taku gak Ron?" ucap Tata mengurai pelukannya pada Kak Fahri juga anggota Regu Teratai lainnya.
"Udah jangan berdebat, ayo kita ambil foto kalian bersama" Kak Fahri menengai perdebatan anak didiknya.
Setelah beberapa kali mengambil foto bersama dengan penampilan yang mengenaskan, kedua regu inti dari SMAN Pertiwi itu melanjutkan perjalanan mereka bersama-sama dengan sepuluh batang singkong di tangan masing-masing.
pada akhirnya semua memang harus melakukan maju, mereka yang di pertemukan oleh pendidikan kini harus bersiap untuk di pisahkan oleh cita-cita dan masa depan. Bertemu dan bersama kembali itu sangat mungkin, namun masa yang telah berlalu takkan pernah terulang kembali.
TBC.
🌺🌺🌺
Hai...hai....
Author kembali menyapa para readers dengan sedikit mengenang masa lalu yaaa.
Entah mengapa author sampai sekarang merindukan masa-masa bersama teman sekolah, padahal masa itu sudah berakhir 15th yang lalu. dan sialnya hanya author yang rindu dengan mereka, ah...mungkin karena author belum sukses seperti mereka kali yaaa...???
Para readers bantu dukung karya author ya
biar author sukses heheeee...
author hanya menyalurkan hobi sih, bisa di baca dan di ketahui banyak orang author udah seneng kalo.
Jangan lupa beri rating yaa...
Jangan lupa juga
Like
Vote
Dan
Komennya
__ADS_1
...Salam kenal dari author 🌺🌺