
Jaye menatap iba kepada gadis yang berhasil mencuri hatinya itu. Gadis yang biasa riang ceria berbicara tanpa henti, kini menjadi murung, pendiam, bahkan hanya satu dua kata yang keluar dari bibir nya dalam sehari.
Kemana perginya gadis yang penuh semangat dan memiliki senyum secerah matahari itu? Raut wajahnya kini sangat putus asa seolah di kelilingi awan mendung yang bisa kapan saja turun hujan.
Jaye memang datang di hari kedua setelah meninggal nya Mbah Sarni, karena dirimu memang di kabari oleh Bli Wayan. Padahal pria itu tengah sibuk-sibuknya membuka counter HP baru di daerah kota, namun demi memastikan keadaan gadis yang ada di hati nya, ia meninggalkan semua pekerjaan nya.
....
"Kamu udah sarapan nduk" tanya paklek Arif yang baru datang. paklek Arif memang tidak tidur dirumah mendiang ibunya, karena kakaknya yang tinggal di provinsi sebelah sudah datang dan tidur di rumah itu.
Tidak ada respon apapun dari Tata, ia tetap pada posisinya duduk di teras dengan memeluk kedua lututnya, tubuhnya semakin kurus, lingkaran hitam di area matanya menandakan bahwa gadis itu kurang tidur dan tampak semakin menyedihkan.
"Ta.." sapa Bik Mini yang ikut duduk di sampingnya. Bik Mini memang cerewet namun jiwa kepedulian nya cukup tinggi terlebih kepada keponakan nya itu.
"Ayo jalan-jalan, cari angin, ngukur jalan" selorohnya namun Tata hanya diam.
"Udah ayo ikut Bibik" memaksa Tata bangun dari duduknya dan menyeretnya ke arah rumah Mbak Ketut.
"Jaye udah siap Bli?" tanya Bik Mini pada Bli Wayan. Hari ini paklek Arif dan istri juga Bli Wayan dan Mbak Ketut memang sengaja membuat Tata menjauh dari rumah, karena kakak ipar Bik Mini itu membuat kegaduhan di luar dugaan.
"Udah koq. Ye...cepat" seru Bli Wayan kepada adiknya. Jaye pun segera berlari keluar dari rumah.
"Ayo" ujar Jaye menarik tangan Tata menuju motornya.
"Jangan lupa kasih makan ponakan Bibik Ye" pesan Bik Mini mengisyaratkan untuk tidak cepat pulang.
"Jangan khawatir Bik" sahut Jaye dengan senyum tersungging di bibirnya.
Jaye pun meninggalkan rumah kakaknya tujuan jalan-jalan entah kemana yang penting menjauh dari rumah agar Tata tak mendengar kegaduhan yang di sebabkan oleh adik mendiang ibunya.
"Jadi mau Mbak Selvi itu gimana?" paklek Arif membuka suara. mereka semua berkumpul di ruang tengah rumah mendiang Mbah Sarni, ada paklek Arif dan Bik Mini, Bli Wayan dan Mbak Ketut, Bik Selvi dan suaminya yang tak lain anak kedua dari Mbah Sarni.
"Mamak sama Bapak kan gak kasih apa-apa sama aku Rif, sedangkan kamu sudah di kasih ladang dua hektar, mbaknya Novi juga udah nggak ada, aku mau rumah ini" jelasnya.
"Mbak Novi memang udah nggak ada, tapi masih ada Tata kalo mbak lupa!!" paklek Arif mengingatkan.
__ADS_1
"Tata kan masih muda, nanti kalo dia nikah pasti di bawa sama suaminya" elaknya.
"Mbak juga di bawa sama suami mbak kan?"
"Kamu jangan gitu Rif, aku ini mbak mu, jangan terlalu perhitungan, satu-satunya saudara sedarah kamu di dunia ini cuma aku"
"Aku tahu itu Mbak, tapi mbak juga jangan kelewatan lah. Mamak memang gak kasih apa-apa sama Mbak, tapi bukannya diantara anak-anak Mamak, Mbak selalu menjadi prioritas? Kapal pun mbak minta kiriman uang Mamak dan bapak selalu kasih? tanpa mbak tahu gimana caranya uang itu bisa ada? Bahkan uang hasil kerja mbak Novi waktu jadi TKW tak jarang di kirimkan ke mbak Selvi, yang seharusnya untuk biaya hidup Mamak"
"Aku gak mau tahu, pokoknya aku mau rumah ini. Bukannya mamak masih ada ladang dan sawah? itu aja buat Tata, aku rumah ini" putusnya.
"Sawah dan ladang itu memang punya Tata mbak. karena itu di beli waktu mbak Novi masih jadi TKW. jadi baik mbak maupun aku gak punya hak atas kedua lahan itu. Bahkan jika di hitung-hitungan rumah ini termasuk peninggalan mbak Novi"
"Kamu jangan keterlaluan Rif, orang yang sudah tidak ada kamu ingat-ingat sedangkan mbak yang masih hidup sehat gini kamu gak pernah tanya kabarnya meskipun basa-basi"
Kedua Kakak beradik itu terus berdebat, sedangkan yang lainnya hanya menyimak, mendengar, dan menyimpulkan semua yang mereka debat kan.
"Jadi rumah ini mau di lepas dengan harga berapa Sel?" Bli Wayan membuka suara nya, karena sudah enggan mendengar perdebatan yang tak kunjung menemui titik temu.
"Bli..." seru paklek Arif. Bli Wayan mengangkat tangannya dan membuat paklek Arif diam.
"Aku belum tahu berapa nya Bli, aku harus cari orang yang mau beli rumah ini" tutur Bik Selvi.
Bik Selvi dan suamiku terlihat bingung memberi harga untuk rumah itu, Terlebih rumah itu bukanlah rumah bagus namun cukup layak huni dan sangat nyaman terlebih pemilik nya rajin dan memiliki halaman yang luas.
"Aku bayar cash 25jt hari ini juga, kurasa itu harga yang cukup tinggi untuk ukuran rumah sendiri ini" tawar Bli Wayan.
"Apa tidak bisa di tambah lagi harga nya?" sahut suami bikin Selvi dengan tidak tahu malu.
"Kalian boleh cari pembeli yang lain jika harga yang ku tawarkan kurang tinggi. Tapi satu yang pasti, tidak akan lebih dari harga yang aku tentukan. Jika di bawahnya itu mungkin"
Dan jawaban Bli Wayan membuat sepasang suami istri itu bungkam dan bingung, namun untuk ukuran rumah mungil dan sederhana itu harga 25jt sudah cukup tinggi, apalagi tidak ada kelebihannya apapun dalam rumah itu.
"Bli, itu terlalu mahal" paklek Arif mengingatkan.
"Tidak, aku memberi harga yang pantas" sahutku tenang.
__ADS_1
"Baiklah 25jt cash" baik Selvi setuju dengan penawaran Bli Wayan.
"Oke, tapi aku punya syarat"
"Syarat apa?"
"Kalian harus meningkatkan rumah ini hari ini juga" Bali wayang menatap jengah pada anak mendiang Mbah Sarni, sangat berbeda dengan Mbah Sarni dan juga paklek Arif.
"Kenapa begitu?" tak terima.
"Karena begitu aku membayar cash, berarti rumah ini sudah menjadi milikku. Jadi aku berhak memutuskan siapa saja yang boleh tinggal dan siapa yang harus pergi"
"Baiklah" pasrah nya.
"Kalau begitu berkemas lah, setelah selesai aku akan langsung memberikan uangnya" perintah Bli Wayan.
lalu Bik Selvi dan suaminya mengemasi barang-barang nya, mereka harus mengerjakannya dengan cepat agar segera menerima uang dari Bli Wayan.
"Ini uangnya, dan ikutlah truk singkong itu, kalian akan di turunkan di simpang tempat bus-bus besar melewati nya" usir Bli Wayan setelah memberi segepok uang bernilai 25jt. Lalu pasangan suami-istri itu pergi tanpa membantah, pun tanpa pamitan kepada paklek Arif.
"Itu harga yang tinggi Bli" ucap paklek Arif menatap truk yang sudah berjalan.
"Ini rumah Mak Ni, sudah seperti Mamak ku sendiri, kami juga menyayangi Tata. Jika rumah ini jatuh ke tangan orang lain Tata pasti tahu jika rumah ini sudah di jual" jelas Bli Wayan.
"Jadi maksudnya?"
"Rumah ini akan tetap menjadi rumah Tata, hanya kita yang tahu jika rumah ini sudah di jual" tuturnya.
"Bagaimana bisa Bli?" paklek Arif tak percaya.
"Aku dan Makloh sudah membahasnya setelah mendengar rencana Selvi tentang rumah ini. Jadi dari kami pun tidak masalah"
"Iya Rif, Tata itu sudah seperti adikku. Ini adalah wujud kasih sayang kami padanya" timpal Mbak Ketut.
"Alhamdulillah... terimakasih sudah menyayangi keponakan ku Bli, Mbak" pakloh Arif bersyukur keponakan nya mendapatkan kasih sayang dari orang sekitar.
__ADS_1
TBC
🌺🌺🌺