
Tata terlihat cantik mengenakan kebaya putih dengan bawahan rok batik wiru depan berwarna hitam corak putih dan motif wajik Pekalongan. Rambut panjangnya di sanggul model *Twisted Modern Bun* dan di makeup tipis oleh orang salon yang sengaja mbak Ketut datang kan langsung dari Kecamatan kota.
Tidak hanya Tata yang di dandani, semua penjaga prasmanan baik yang menjaga prasmanan di rumah Mbah Ketut maupun prasmanan di rumah Mbah Sarni terlihat cantik, dengan kesederhanaan masing-masing.
Penampilan sederhana itu membuat Tata semakin cantik dan manis untuk menjadi penjaga piring prasmanan. Ya, Tata bertugas menjaga meja prasmanan di halaman rumah Simbah untuk tamu undangan mbak Ketut dan Bli Wayan yang beragama Islam.
Sedangkan yang sesama Hindu Bali, atau orang yang memang mau memakan daging π· spesial bagi mereka akan langsung menuju prasmanan sang tuan rumah.
*Ingat di lingkungan Desa Mekar Jaya mereka hidup rukun berdampingan baik suku Jawa, Sunda, Bali dan lainnya. tidak ada yang saling menghina ataupun menjatuhkan tradisi masing-masing. Saat Lebaran tiba, semua warga desa menyambut bahagia, saat hari raya Galungan pun mereka juga senang meski bagi umat muslim tidak ikut merayakannya, tapi kami ikut senang karena melihat kebahagiaan saudara sebangsa, begitu juga saat Natal tiba, mereka juga dengan suka cita melihat kebahagiaan saudara sebangsa setanah air*.
.....
Dari kejauhan Jaye memandang kagum ke arah Tata, sepertinya Jaye mulai memahami hatinya, meski begitu Jaye tak mau terburu-buru menyatakan perasaannya. Jaye berpikir mungkin setelah tidak bertemu dan tidak berinteraksi dengan Tata perasaan nya akan menghilang.
Karena Jaye sangat memahami bagaimana akhir hubungan mereka jika memaksakan menjalin. Tapi entahlah hati manusia siapa yang tahu, kadang semakin menghindari daya tariknya semakin kuat, perasaan semakin dalam. Namun sekali lagi Jaye berharap mudah-mudahan itu tidak terjadi padanya.
Semakin sore, tamu undangan semakin banyak yang datang. Tata dan para tetangga yang rewang sibuk mengisi ulang menu yang ada di prasmanan, tukang sapu jagad (tukang mengambil piring kotor) juga tak kalas sibuknya, kang cuci piring di sumur juga masih setia berduet dengan spons cuci piring dan juga bisa sabun, kang tukang nimba air juga selalu mengerek timbanya, ada saja yang minta air untuk cuci piring, peras santan, cuci sayur, cuci beras dan masih banyak lainnya.
Maklum saja kehidupan di Desa yang semua serba manual, namun semua di lakukan dengan cara bergotong royong dengan para tetangga, jadi selain menolong tetangga yang sedang butuh bantuan tenaga, kebersamaan dalam gotong royong, dan rewang seperti ini semakin menambah erat persaudaraan, Bapak-bapak Ibu-ibu Muda-mudi remaja masjid, muda-mudi pure setempat semuanya kebagian jatah kerjaan.
Ini adalah pertama kalinya Bli Wayan dan Mbak Ketut punya hajat, dan mereka adalah orang yang lumayan di segani, selain agen singkong, Bli Wayan juga agen jagung agen getah karet, dan masih banyak lainnya. mereka juga pasangan yang ramah baik dan selalu aktif jika ada kegiatan dalam masyarakat, baik tenaga maupun finansial mereka tidak pelit membantu.
Di tambah juga mengundang Organ Tunggal yang semakin memeriahkan acara mereka. Organ Tunggal sendiri menjadi daya tarik muda-mudi dari Desa, dan dusun sekitar. Banyak pula pedagang yang menjajakan dagangannya, jika sudah malam terlihat seperti Pasar malam. Organ Tunggal sendiri jarang ada di Desa Mekar Jaya, biasanya orang yang punya hajat paling sering hiburan nya Layar Tancap, atau Kuda Lumping. Jika ada yang mengundang Organ Tunggal berarti itu orang berada.
....
"Mbah, Tata mau mandi ya. Udah jam delapan malam ini Tata belum mandi" pamit Tata pada Simbah.
"Kamu mau mandi dimana? udah malam ini?" tanya Simbah.
__ADS_1
"Mandi di rumah paklek, ini Tata udah bawa baju ganti. Masak iya mandi di sumur kita, kan ada Kang Budi, Lek Tomo dan lainnya" tutur Tata.
"Yo wis sing ati-ati naik sepeda nya udah malam ini" pesan Simbah. "Itu di depan siapa yang gantiin kamu?" tanya Simbah memastikan agar tidak terjadi kekacauan di bagian prasmanan.
"Yuk Jumi ada Di sana Mbah" tutur Tata melenggang pergi mencari sepeda nya di samping rumah.
....
Tata bolak-balik dari halaman depan ke belakang, juga mengitari rumah Simbah mencari sepeda kesayangan nya namun tak kunjung ketemu. Entah siap yang memakai dan membawanya.
"Cari apa dari tadi bolak-balik?" suara Jaye mengejutkan Tata, tiba-tiba saja pria itu ada di belakang nya.
"Oh...astaga Bli.... ngagetin taukkk" semprot Tata.
"Sepeda ku. Bli ada liat sepedaku?" tanya Tata.
"Gak ada liat, memang kamu mau kemana?" tanyanya.
"Kayeh" jawab Tata singkat.
"Kamu belum mandi?" tanya Jaye, ah... seperti nya pria itu hanya pura-pura dan sekedar basa-basi. Jelas-jelas Tata masih menggunakan kebaya yang sama dengan tadi siang.
Tata menatap tak suka dengan pertanyaan Jaye. Tata tahu jika pria di hadapannya hanya sedang basa-basi.
__ADS_1
"Udah jangan menatapku seperti itu, nanti jatuh cinta" Jaye mencairkan suasana.
"Percaya diri Bli terlalu tinggi" kesal Tata.
"Memangnya kamu gak terpesona sama ketampanan ku?" tanyanya.
"Terpesona sih dulu... tapi sekarang nggak lagi" jawabnya.
"Kenapa?" Jaye penasaran.
"Sebab Bli nyebelin. Udah lah, Tata mau cari paklek" Tata melangkahkan kakinya hendak mencari paklek, namun Jaye menahan tangan gadis itu.
"Baiklah. Ayo aku antar kamu, mau mandi dimana? aku akan menjadi pria yang baik agar kamu tetap terpesona padaku" rayu Jaye.
Tata dan Jaye kerumah paklek Arif untuk mandi, bahkan Jaye menunggu Tata mandi di dekat kandang sapi yang tak jauh dari sumur.
Pencahayaan lampu sangat minim dan itu membuat Tata sedikit takut, bukan takut hantu atau jurig, takutnya jika tiba-tiba ada ular, sebab rumah paklek Tata tak jauh dari ladang-ladang.
TBC
πΊπΊπΊ
Hallo semua... Terima kasih sudah mampir
Terus dukung karya Mameeethor yaaaa
Jangan lupa
Like
Vote
Dan
Komennya
__ADS_1
.... Salam kenal dari Mameeethor πΊπΊ