
Sandra diam sebentar, selama ini banyak hal yang tidak Sandra ketahui soal Hainry, mungkin ini salah satu jalan agar Sandra bisa tau sisi lain Hainry?
"Hmmm ..."
"Ayolah San."
"Nggak deh, itu modus." Sandra menolak, selain dia sedang pusing dengan urusannya sendiri, dia tidak ingin menambah beban pikiran lagi.
"Kamu tega liat aku dipaksa terus buat nikah?"
"Tega." Jawab Sandra santai tanpa beban.
Hainry menghela napasnya panjang, sudah dia duga Sandra pasti akan menolaknya.
"Aku laper mau makan, geser." Hainry masuk begitu saja ke rumah Sandra, membuka sepatu berjalan ke dapur mengambil makanan yang bisa dia makan. Sudah seperti rumahnya sendiri.
"Hah?" Sandra tidak percaya ada orang sepercaya diri seperti Hainry. Sandra menutup pintunya, masuk kembali ke rumah.
Saat dia berjalan, sudah ada Hainry yang duduk di sofa dengan televisi menyala dan tangan memegang piring beserta lauk pauknya.
"Makan San, nggak usah malu-malu, anggap aja kayak makan di rumah sendiri." Kata Hainry menawarkan makanannya dengan ramah.
Jangan tanya.
Sandra ingin melempar sendal bulu yang dia pakai sekarang, tapi dia urungkan karna kasihan Hainry sedang makan, tidak sopan kalau Sandra benar-benar melakukannya.
"Habis makan cuci piring." Sandra duduk di sebelah Hainry, menatap televisi yang masih gencar menayangkan berita soal Ecalica.
"Males, punya istri kok, cuciin-lah." Hainry kesal saat ini, dia kesal pada Sandra yang menolak ajakannya.
"Pengen deh getok kepala mu."
"Gimana keadaan Jihan, habis makan liat dia yak? Khawatir juga."
"Iya, sama."
Hening
Tidak ada percakapan lagi.
Hainry sibuk makan, dan Sandra sibuk mengganti channel televisi, lama-lama dia bosan melihat wajah Eca.
"Sama siapa?"
Tiba-tiba Sandra bertanya begitu.
Hah?
"Apanya?" Hainry menaikkan sebelah alisnya, dia benar-benar tidak tau apa yang gadisnya ini maksud.
__ADS_1
"Nggak deh, nggak jadi." Sandra mengurungkan niatnya, dia kembali mengganti-ganti channel televisi dengan remot hitam yang di genggamnya.
"Gajelas banget, habis makan apa sih?"
"Sama siapa kamu dijodohinnya?"
*Uhuk! Uhuk!
Refleks begitu saja, Hainry langsung tersedak, dia langsung meminum air mineral yang ada di sebelahnya.
Dia meletakkan piringnya, mengusap mulutnya, menatap Sandra lekat-lekat.
Sungguh!
Tolong pukul Hainry. Agar dia sadar bahwa ini bukan hanya sekadar ilusi apalagi imajinasi.
Dia tidak menyangka akan mendengar ini dari Sandra, dia bahkan tidak pernah memimpikan bahwa Sandra akan peduli padanya, rasanya selama ini Sandra terlalu dingin dan cuek. Dan saat Sandra peduli seperti sekarang, Hainry benar-benar tidak bisa menahan rasa bahagianya.
Dia semangat, antusias, ada perasaan yang sangat menyenangkan sedang menari-nari di dalam hatinya.
Sandra ternyata peduli pada kehidupan pribadinya.
"Coba ulang San." Pinta Hainry lagi.
"Aku tanya, kamu mau dijodohin sama siapa? Kali aku kenal?" Sandra memang sedikit heran dengan reaksi Hainry, tapi Sandra sih sudah biasa. Memang, kapan Hainry normal?
"Nggak tau, sama kawannya Ayah aku, nggak pernah ketemu juga. Ngomong-ngomong kamu cemburu ya?"
Sandra terdiam.
Apa dia cemburu?
Memang benar saat Hainry membahas soal perjodohan itu, perut Sandra terasa aneh, dia ingin marah, sedikit kesal, juga sangat penasaran dengan siapa gadis itu, namanya, wajahnya, sifatnya seperti apa dirinya.
Sandra memang penasaran.
Ada juga perasaan gelisah yang tumbuh tiba-tiba dihatinya.
Lantas? Apa itu rasa cemburu?
"Enggak!! Aku enggak cemburu!" Sandra membantahnya keras-keras. Tapi wajah Sandra sedikit memerah.
Hainry menarik senyuman lebar, dia sangat senang, dan perasaan di hatinya sedang baik, ini menyenangkan melihat Sandra membantah dengan wajah yang memerah.
Ini kali pertama Hainry melihatnya, sisi Sandra yang seperti ini baru pertamakali Hainry temui.
Hainry jadi tau kebiasaan baru gadisnya, kalau sedang marah dan berbohong, wajah dan telinganya memerah.
"Apaaan, bohong kan? Cemburu yaaa?" Hainry menggodanya lagi, dengan senyuman yang tidak pernah pupus dari wajahnya.
__ADS_1
Pukh!
Sandra memukul Hainry dengan bantal kecil yang ada di sofanya. Dia pukul beberapa kali agar mulut Hainry diam, soalnya anak itu sangat berisik, dan suaranya mengganggu telinga Sandra, mungkin?
"Apaan! Aku enggak cemburu! Siapa yang cemburu. Kalo mau nikah ya nikah aja sana, siapa yang peduli, aku datang bakal jadi tamu undangan yang baik." Sandra membantahnya keras-keras.
"Eh aneh dong."
"Aneh kenapa?" Sandra bertanya serius, dia sudah menghentikan gerakan tangannya yang sedari tadi memukul Hainry.
"Emang ada ya pengantin jadi tamu undangan dinikahannya sendiri? Buat apa kamu jadi tamu undangan dinikahan kita?"
"Aku enggak pernah bilang mau nikah sama kamu!"
"Masa? Liat aja nanti, ujung-ujungnya juga sama aku kok." Hainry menggunakan tangan kanan untuk menopang wajahnya, dia bersandar di sofa, tersenyum menggoda menatap Sandra.
"Berisik!!! Kamu jelek!!" Sandra menutup wajah Hainry dengan bantal itu, dia tekan kuat agar mulut Hainry tidak bisa berceloteh lagi.
Apanya yang jelek? Padahal Sandra tau jelas bahwa Hainry itu sangat tampan.
...*************...
Sore ini, keduanya sudah sampai di rumah sakit tempat dimana Jihan masih di rawat, bukan fisik, tapi demi pemulihan mentalnya. Dia harus belajar perlahan-lahan untuk kembali ke kehidupan normal.
Dan ini yang Jihan lakukan sekarang, berusaha berinteraksi dengan manusia lainnya. Karna di dalam hati Jihan, sejak kejadian itu, dia tidak ingin bertemu orang lain, dia malu, tubuhnya bergetar saat berbicara dengan orang lain. Jihan merasa kotor dan tidak percaya diri saat berada di keramaian.
"Cemburu ya?"
Dan sialnya, Sandra kali ini pergi bersama Hainry yang sedari tadi sibuk bertanya ini dan itu, dibanding malu sekarang Sandra jadi sangat kesal dan benar-benar ingin merealisasikan pukulannya di kepala pria ini.
"Diem, berisik."
"Sayang banget deh sama kamu." Hainry merangkul Sandra dengan erat.
Sandra ingin melepaskannya dengan paksa.
"Jangan dilepas, iya aku diem deh sekarang." Hainry menawarkan kesepakatan yang lumayan.
Jadi Sandra membiarkannya saja dirangkul oleh Hainry disepanjang jalan menuju kamar Jihan. Yang penting Hainry diam, semua tenang dan semuanya damai.
"Kapan ya Jihan bisa pulih total?"
Sandra menghela napasnya, dia selalu ikut sedih jika memikirkan Jihan dan mentalnya yang masih belum stabil.
"Dia punya hobi apa? Dibanding bergaul langsung sama orang dewasa atau teman se-usianya, gimana kalau dia mulai berinteraksi sama anak-anak dulu? Anak-anak di yayasan kita unik-unik kepribadiannya, apalagi Araam sama Rivallie." Saran Hainry, cukup masuk akal.
Sandra mengangguk setuju. "Kamu kalo waras bisa diandalkan juga ya pikirannya."
"Bisa dong, calon suami paling baik nih, makanya sini aku nikahin, dijamin kamu bahagia anti nangis-nangis club, anti selingkuh, anti salah paham kalo sama aku mah."
__ADS_1
"Kalo beneran nikah, kayaknya aku yang gila."
"Tenang, aku jaga sampe kapanpun."