
...**************...
Tidak ada hentinya berita buruk soal Sandra, makin hari teori konspirasi yang disebarkan para publik semakin tidak masuk akal.
Dan Claudia ditempatnya masih sibuk kesana kemari. Dia masih sibuk menyebarkan berita buruk soal Sandra dan Hainry, dia berusaha keras untuk membuat publik ada di pihaknya.
Claudia masuk ke dalam kamar Eca, dia membaringkan tubuhnya disana, menatap langit-langit kamar putrinya yang berwarna putih polos.
"Jadi setiap tidur langit-langit itu yang kau tatap?" Claudia menarik napasnya dalam-dalam.
Bohong kalau dia bilang dia tidak sedih, bohong kalau dia bilang dia tidak menyesal, bohong kalau dia mengatakan dia kuat dan tidak pernah menangisi kepergian Eca secara tulus.
Karena pada faktanya, setiap malam Claudia selalu tertidur di kasur Eca, untuk mengenang putrinya yang telah pergi karna kejatahannya.
"Maafin mama Ca, karna kesalahan mama itu buat kamu harus meninggal dengan cara yang mengenaskan. Mama gak maksud buat kamu gitu, rencana gitu mama lancarkan untuk Sandra bukan untuk kamu."
Tes..
Tetesan yang berubah menjadi bulir-bulir hangat jatuh di pelipis Claudia, air mata turun dari ekor matanya, sesak di dadanya membuat dia ingin terus menangis, rasa bersalah kepada putrinya terus membayanginya.
"Itu harusnya Sandra, yang mati harusnya Sandra dan yang menikah dengan Hainry itu harusnya kamu Nak! Ini semua salah Sandra, hantui aja Sandra! Ini semua salahnya, ini salah Sandra maka bencilah Sandra bahkan ketika kamu sudah ada di dunia yang berbeda Eca!" Claudia memaki, mengumpat Sandra dengan sepenuh hatinya, melupakan emosi jiwa yang dilampiaskan pada Sandra.
"Ini semua karna bocah sialan itu! Dia yang salah! Harusnya dia yang naik mobil itu dan bukan kamu Ca! Harusnya Sandra yang mati dan bukan kamu!"
"Memang yang paling layak menjadi Nyonya muda Klaun itu cuma kamu Ca! Kamu artis berbakat yang sangat terkenal hingga memiliki banyak sekali Fans! Harusnya kamu yang menikmati posisi Sandra!"
" Harusnya kamu!"
"Sandra yang merebut segalanya!"
__ADS_1
"Kenapa kamu malah mati Ca?"
Claudia mengomel, dan memakai sendirian, ini adalah hal yang dia lakukan setiap harinya semenjak Eca pergi.
"hiks ... hiks ... Eca putri ku ."
Claudia, butuh pelampiasan.
Claudia tau bahwa dia yang bersalah.
Jauh di dalam dirinya, dia tau dia yang berdosa, dia tau karna dirinya sang anak tiada, Claudia tau itu tapi dia tidak berani mengakui kesalahan itu, dia tidak berani menanggung beban itu, hingga dia terus mencari dan mencari kambing hitam untuk dia lampiaskan.
Dan itu adalah Sandra.
Segala perasaan benci, putus asa dan rasa bersalah itu, Claudia butuh tempat untuk menumpahkannya, dan dia memilih Sandra untuk menampung segala emosi dirinya.
"Pria itu bilang aku perempuan pembawa sial, dan kau juga putri sial, dia berselingkuh dan meninggalkan aku."
"Eca, aku ingin kau menjadi putri tersayang yang paling terkenal seperti yang aku impikan, tidak seperti aku yang tidak menonjol dari kedua kakak ku. Aku mau kau yang menjadi paling terkenal."
"Aku ingin kau menjadi penerus Andrafana, yang tidak bisa aku miliki karna yang terpilih adalah Karl sialan itu, tapi tenang nak, mama sudah membunuhnya untuk masa depan kita."
"Eca, aku ingin kau mendapatkan pria terbaik, terkaya, dan paling terkenal di negara ini. Kau harusnya bisa, Eca ...."
Semua itu adalah hal yang selama ini Claudia inginkan, tapi masalahnya Claudia tidak tau atau dia tidak mau tau bahwa hal-hal itu bukanlah hal-hal yang putrinya inginkan selama ini.
...**************...
Pintu terbuka.
__ADS_1
Itu adalah kantor polisi dimana selama ini Gerald bekerja, tapi dia tidak disana lagi. Kali ini Sandra datang, dengan Hainry dan juga Fladilena yang lebih tau menyangkut prosedur dengan para polisi.
"Oh? Yang sedang ramai saat ini? Banyak teori konspirasi tersebar tentang anda? Jadi apa yang coba anda lakukan sekarang? Kalau Anda datang hanya untuk membayar kami agar membantu menutup opini publik, maaf saya tidak menerimanya."
Sandra bahkan belum membuat laporan apapun, atau bahkan mengatakan tujuannya, tapi pria itu, kepala polisi setempat langsung mengatakan itu pada Sandra sesaat setelah dia melaporkan Sandra.
Namanya Gheno, Sandra tau itu, dia salah satu penggemar berat Eca dan drama-dramanya. Jadi tidak perlu heran kalau dia menyambut Sandra dengan kasar. Karena mungkin dia juga ikut membenci Sandra atas berita yang beredar.
"Tutup mulut mu, berbicara yang sopan, lihat kau sedang berbicara dengan siapa." Hainry menatap pria itu tajam, dengan aura kebencian yang tidak ingin dia sembunyikan, soalnya Hainry benci semua orang yang berani menganggu tunangan tercintanya.
"Sudah ku lihat, itu yang ingin aku tanyakan, aku berbicara dengan Tuan muda Klaun, atau detektif YK yang terkenal itu? Kalian para detek--"
"Aku ingin membuka kembali kasus kematian orangtua ku yang terjadi dulu." Sandra memotong ucapan pria itu, kalau dibiarkan saja yang ada malah keduanya akan bertengkar bahkan bisa baku hantam disini.
"Oh? Apa ini cara mu? Apa ini jalan keluar yang kau pikirkan untuk mengalihkan opini publik, kau ingin membuka kasus kematian orangtua mu untuk menutup kasus kematian Nona Ecalica Andrafana? Cara yang bagus." Gheno masih menatap Sandra dengan penuh curiga dan kebencian.
"Hain, aku dukung kalau kau mau pukul kepalanya." Celetuk Fladilena setuju dan sepakat akan hal itu.
"Kayaknya bakal begitu sih."
Sandra menghela napasnya. "Selain mengangkat kasus orangtua ku lagi, aku juga ingin membuka kasus pembunuhan Ecalica Andrafana."
Gheno mengerutkan dahinya, sungguh dia pikir ini hanya tipu muslihat Sandra untuk mengalihkan perhatian publik, tapi tiba-tiba yang dibahas juga adalah kematian Eca sang idola?
"Dibanding membuang waktu untuk saling sindir dan debat, ayo periksa bukti ini dan katakan padaku apa semua bukti ini cukup untuk mengangkat kasus ini ke pengadilan?" Sandra menunjukkan sebuah kotak hitam yang besar, Hainry juga membawa sebuah koper, begitu juga dengan Fladilena, sepertinya sudah cukup banyak bukti yang ada disini.
Gheno terdiam, dia pikir Sandra adalah gadis manja yang akan menghalalkan segala cara untuk mengalahkan Eca seperti di berita, tampaknya Sandra bukan orang seperti itu.
Tatapan Sandra sekarang, cara bicaranya, caranya mengatur emosi, jelas itu bukan ciri-ciri dari perempuan biasa. Gheno bisa merasakan, ada aura dan tekanan tersendiri yang tidak biasa. Gheno juga cukup akrab dengan aura seperti ini, aura kepemimpinan yang kuat.
__ADS_1