
.....................
Lelah sudah melanda seluruh bahu dan tubuh Sandra, baik hati, jiwa dan pikirannya semua lelah.
Sandra berjalan keluar dari sekolah, sore ini sekolah sudah sepi, ekskul juga ditutup, makanya anak sekolah tidak ada yang berlarian di lapangan, mereka semua sudah pulang.
Sandra baru saja berniat memesan taksi, tapi tidak jadi karna sang kekasih sudah menunggu di depan dengan pintu mobil yang sudah terbuka, dengan Hainry yang tersenyum manis di dekat mobil itu.
Sandra kurang tau mobil jenis apa itu, tapi satu yang pasti bahwa itu jelas mobil mahal. Mentang-mentang Sandra sudah tau dia anak dari orang paling kaya, kelakuannya semakin menjadi-jadi, dia jadi seenaknya terbar pesona ke sana kemari.
"Cape ya? Mau istirahat?" Ucap Hainry, seraya tangannya mengusap keringat di kening Sandra. Panas matahari hari ini memang lebih terik dari biasanya, jelas pasti Sandra lelah. Apalagi dia diharuskan menghadapi anak-anak muridnya yang berkepribadian super unik.
"Ya jadi kalo gak istirahat mau apa, udah aku mau pulang." Sandra tidak lagi ragu memamerkan wajah lelahnya, mungkin karna sudah memiliki ikatan yang lebih serius, Sandra jadi bisa lebih terbuka pada sang calon suami.
"Kalo kamu lupa, kita harus sesuaiin ukuran baju hari ini, terus ukuran sepatu sama dekor."
Benar.
Sandra nyaris lupa, hari ini adalah jadwalnya, jam lima nanti pengukuran pakaian, dan malam nanti harus mengukur sepatu, besok saat Sandra pulang sekolah, dia akan memilih dekornya.
Luar biasa.
Ini baru pertunangan resmi, dan rasanya Sandra jadi sesibuk ini, seperti tidak memiliki waktu luang.
Bagaimana jika dia melakukan pernikahan resmi nanti?
Entahlah, Sandra sendiri juga tidak bisa membayangkan selelah apa dirinya, mengingat yang menikah adalah putri Andrafana dan Pewaris keluarga Klaun.
"Bisa ga ngukur bajunya besok aja, capee." Keluh Sandra dengan suara yang agak manja, dan ekspresi yang memelas.
Hainry tersentak halus, ini pemandangan langka, dimana Sandra mengeluh dan merengek dengan manja. Tentu saja itu wajar kan, Hainry adalah tunangan Sandra dan calon suaminya, wajar saja kalau gadis itu merengek manja padanya. Hanya saja Hainry belum cukup terbiasa dengan Sandra yang manja, tapi tidak masalah, soalnya bagaimanapun itu, jika itu Sandra maka Hainry akan selalu senang dan menerimanya dengan gembira.
"Gak bisa, harus hari ini, oke? Ayo masuk, kita langsung ke butik, habis itu makan terus ukur sepatu." Hainry menarik tangan Sandra, satu tangannya memblokir sinar matahari yang harusnya membakar wajah Sandra. Tapi dihalangi dengan sempurna oleh Hainry.
__ADS_1
"Kiuu kiuuu Acipiwittt."
Fokus Sandra dan Hainry terarah pada asal suara dari dua orang anak yang kini berjalan bersampingan tak jauh dari Sandra dan Hainry berdiri.
Dan sialnya, Sandra kenal dengan dua bocah itu.
"Mau ngapain kayak gitu? Tau gak itu namanya gak sopan, berani-beraninya kalian sama saya begitu." Wajah Sandra kembali datar, dia balik seperti mode guru di dalam kelas. Suara Sandra agak dingin.
"Wah, ternyata calon istri ku bisa seram juga ya."
Refleks wajah Sandra memerah, hidungnya juga, dia jadi gugup. Ucapan Hainry berhasil menggagalkan Sandra mode guru killer yang kejam.
"Ada yang merah tapi bukan tomat." Celetuk Aska dengan bangganya, pandangannya dia alihkan menuju tempat lain, ekor matanya diam-diam melirik Sandra, jelas dia sedang menggoda sang ibu guru sekarang.
"Apa tuhhhh?" Sahut Alan disebelahnya, dengan nada yang sangat menjengkelkan, membuat Sandra ingin melemparnya kemana saja.
"Sendal ibu kalo kena kepala sakit loh." Sandra menarik senyuman menyeringai versinya, dia sudah bersiap melepas sendalnya, kalau itu lemparan Sandra kemungkinan besar tidak akan meleset.
"Ciee cieee, dijemput calon suami, ehem!" Memang, mulut Aska ini benar-benar tidak da remnya, sungguh.
"Bu, Mas itu yang jadi calon suami, yang mau tunangan sama ibu bulan depan?" Timpal Alan tak mau kalah.
Lelah, Sandra sudah lelah, dia memilih masuk ke dalam mobil itu sebelum kesabarannya benar-benar habis dibuat dua bocah tengil. Soalnya sudah sejak tadi dua bocah itu selalu mengganggu Sandra, apalagi sejak Sandra umumkan soal pertunangannya, setiap ada celah tau berpapasan dengan Sandra, mereka selalu tersenyum lucu.
Hainry menggelengkan kepalanya, senyumnya tidak bisa dia tahan saat melihat tingkah menggemaskan gadisnya sendiri.
"Datang ya, nanti buat kalian spesial mas kasih undangan khusus." Hainry memberikan jempol tanda apresiasinya atas kemampuan kedua bocah itu yang mampu membuat Sandra yang tenang, menjadi agak kesal.
"Aman Mas!! Jagain ibu guru kami ya, orangnya mudah ngambekan, tolong turutin semuanya, takutnya bisa ngamuk." Jawab Aska yang memberikan lambaian tangan menerima niat baik Hainry.
"Ayo buru, udah telat ini buat ukur gaun."
"Iya iya."
__ADS_1
Hainry tertawa kecil, masuk ke dalam mobilnya. Akhir-akhir ini menjadi hari-hari bahagia dalam hidup Hainry, setelah bangun dan membuka mata, niatnya untuk menjalani hidup semakin tinggi, dia semakin semangat menghirup udara segar di dunia yang kejam ini, kalau ditanya sebabnya apa? Tentu saja Sandra.
...----------------...
Mobil Hainry sudah terparkir di butik yang dimaksud, butik khusus yang sangat terkenal, dijalankan oleh Klaun Grub, dan akan menjadi milik Hainry sepenuhnya suatu saat nanti.
"Lain kali kalau dua bocah itu ngomong sesuatu, jangan didengerin tau, mereka itu aneh." Ujar Sandra, wajahnya masih sedikit berkerut.
Hainry mengerutkan dahinya sebentar, namun saat dia sadar yang Sandra maksud adalah kedua muridnya, Hainry mulai menarik senyuman tipisnya. Semakin lama Hainry bersama Sandra, dia jadi bisa melihat banyak sisi-sisi lain yang imut, yang Sandra simpan selama ini.
"Apa ketawa-ketawa?" Sandra melirik tajam sang pemilik tawa renyah disebelahnya.
"Sekarang kamu bisa lebih jujur sama diri kamu sendiri, lebih mudah berekspresi dibandingkan Sandra yang pertama kali aku kenal."
Mungkin, karna dahulu Sandra agak keras dengan dirinya sendiri, merasa dia hanya hidup sendiri di dunia ini, dia jadi pura-pura kuat, seolah bisa mengatasinya sendiri, seolah bisa hidup dalam kesendirian yang sepi. Tapi Hainry datang dan mengubah segalanya, mengubah cara pandang Sandra tentang bagaimana dunia ini bisa berjalan.
Bahwa Sandra tidak akan bisa seorang diri, dia juga tidak sepenuhnya sendirian, masih banyak orang-orang yang selalu mendukungnya di sisinya, seperti Fladilena, Eca, Gerald, murid-muridnya, ataubahkan anggota Detektif YK71.
Semuanya menyayangi Sandra, semuanya ada untuk Sandra. Sandra akan hal itu, secara perlahan-lahan, bahwa sejak awal dia tidak pernah sendirian berjalan di dunia yang luas ini.
Dan Sandra mulai memahami bahwa dia tidak sendiri, dia memiliki orang lain disisinya, dia lebih mudah mengutarakan isi hatinya dengan ekspresi, dia mulai merasakan perasaan beragam dihatinya, semuanya itu sejak kedatangan Hainry dalam hidupnya.
Segala perasaan manis, sesak, sakit, menyenangkan, bahagia, haru, semuanya sudah Sandra rasakan, dan itu tidak terlepas dari bantuan Hainry.
*cup!
Sandra sedikit menjijit mengecup pipi Hainry, lalu berjalan cepat meninggalkan pria itu. Sandra memanjangkan langkahnya dengan cepat agar bisa masuk butik lebih dulu.
Tapi di sini, Hainry diam terpaku, tidak bisa bergerak, seperti terhipnotis.
Ah, mungkin memang benar-benar terhipnotis oleh tindakan Sandra barusan. Karna tidak pernah Hainry bayangkan, bahwa kecupan dipipi pertama kali dilakukan oleh Sandra dengan inisiatifnya sendiri, bahkan dengan waktu dekat seperti ini.
"Serius?" Hainry masih memegangi pipinya yang masih terasa jelas bekas bibir Sandra yang lembut.
__ADS_1