
"Apa kau sungguh serius dengan adik ku?" Tanya Gerald menatap Hainry, saat ini orang yang mengaku kakak itu mencari celah terhadap Hainry.
"Apa anda tau warna kesukaan Sandra?" Hainry membalas dengan menanyakan pertanyaan lain.
"Biru."
Sejujurnya kalau ditanya Gerald, dia juga tidak tau warna kegemaran Sandra, dia tidak tau apa yang Sandra sukai dan apa yang tidak.
Tapi menurut Gerald, jika diibaratkan warna maka Sandra itu biru, selalu tenang, elegan, kalem, dan dingin seperti warna biru.
"Kuning." Jawab Hainry dengan senyuman manisnya. "Sandra itu paling suka warna kuning."
Gerald menatap Sandra. Berharap jawaban Hainry itu salah. Dia harap Sandra menjawab warna biru seperti dugaan Hainry.
"Aku suka warna kuning." Jawab Sandra dengan santainya.
Tertampar.
Rasanya jawaban Sandra seolah menampar pipi Gerald dengan keras. Gerald salah, dan Hainry benar.
Memang selama ini Gerald dan Sandra tidak begitu dekat, dia kan sibuk dulu, Sandra juga sibuk, ada kesalahpahaman antara mereka.
Hainry tersenyum bangga, dia tidak mengatakan apa-apa, tapi ekspresi wajahnya jelas sedang meledek Gerald yang kalah.
"Baiklah, untuk sekarang aku izinkan, tapi jika aku menemukan satu saja celah darimu, aku akan pastikan pernikahan kalian batal." Gerald mengancam terang-terangan sekarang.
Apa Hainry takut?
Mana mungkin.
Dia bahkan sedang menantikan drama-drama baru dalam hidupnya.
...****************...
__ADS_1
Hari itu akhirnya tiba, hari dimana makan malam keluarga Andrafan, hari dimana Hainry dan ayahnya akan datang ke rumah utama sang kakek.
Malam ini, makanan sudah tersaji wangi di sepanjang meja makan, piring, sendok, garpu dan segala alat makan berdominan putih sudah terjajar rapi di pinggir meja makan, semua disusun, ditata dengan sempurna karna tamu mereka akan datang.
Semua anggota keluarga Andrafana hadir, termasuk Claudia, Eca dan juga Leon, jangan lupakan Gerald juga. Mana mungkin dia tidak hadir di acara penentuan akankah diadakan pertunangan resmi antara Sandra Andrafana dengan Hainry?
Sejujurnya Gerald harap pertunangan ini akan batal, bukan karna dia membenci Hainry secara personal, hanya saja entah kenapa dia belum siap menyerahkan Sandra ke tangan pria lain. Padahal Sandra sendiri sudah berumur 26 tahun.
"Kau yakin ingin bertunangan dengannya, dia memang terkenal, reputasinya juga baik, tapi dia miskin Sandra. Dia hanya seorang detektif, bukankah sebaiknya kau memilih yang lebih berkelas, setidaknya yang satu kasta dengan kita. Misal seorang CEO, direktur, dokter?" Ujar Claudia membuka pembicaraan, mungkin mulutnya terbakar kalau tidak menghina Sandra sehari saja.
Bibi tua ini memang benar-benar menyebalkan, padahal jelas-jelas sudah Sandra bilang dia mencintai Hainry, tapi mereka masih berani menghina Hainry bahkan di depan mata Sandra sendiri?
Sandra menatap Claudia iba, dia kasihan saja, sayang sekali sepertinya Claudia salah besar. Sandra ingat, Claudia pernah bercerita tentang keluarga Klaun, dan dia berniat menjodohkannya dengan Eca. Dia bahkan sangat antusias dengan rencananya itu. Tanpa dia tau, siapa sebenernya pewaris tunggal keluarga Klaun.
"Malang sekali." Sandra menggelengkan kepalanya, menatap kasihan pada Claudia, miris sekali. Padahal Claudia dulu sangat menginginkan keturunan Klaun menjadi menantunya, tapi sekarang dia menghina Hainry yang adalah satu-satunya keturunan Klaun, dan merupakan pewaris utama.
"Hidup mu?" Claudia mengernyit, rasanya sudah agak menyebalkan melihat mata Sandra berani menatapnya begitu, rasanya sangat memuakkan, kalau saja tidak ada Kakek yang ikut duduk disini, pasti Claudia sudah mendaratkan tangannya dengan kasar di pipi Sandra.
"Pemikiran bibi, miris sekali."
Soalnya selama ini Leon menganggap Sandra itu sebagai alat, dan pernikahan Sandra haruslah diatur olehnya agar bisa menjadi pernikahan bisnis yang menguntungkan untuknya.
"Hentikan itu ayah. Jangan katakan apa-apa lagi, itu terdengar menjijikan, aku jadi tidak selera makan, kalau ayah masih punya hati, tolong diam dan berhenti. Saksikan saja, terima tamu dan bicara sewajarnya, kalau ayah tidak suka silahkan pergi keluar, angkat kaki dari rumah ini. Kami ingin menyambut tamu, bukan merangkai drama yang membuat malu." Gerald angkat bicara, telinganya panas mendengar segala ocehan caci makian sang ayah, apalagi apa yang dikatakan sang ayah adalah hal-hal menjijikan soal perjodohan demi keuntungan pribadinya.
Apalagi jika Gerald ingat, semua itu perjodohan yang dilakukan dengan orang-orang yang usianya jauh diatas Sandra.
"Diamlah, kalian memalukan. Tunjukkan harkat dan martabat kalian di depan para tamu nanti, jangan sampai membuat malu atau nama kalian akan ku coret dari kartu keluarga." Akhirnya Kakek juga turun tangan, dia berbicara dengan nada mengancam, suaranya berat.
Kalau Kakek Gheobalt sudah dalam mode seperti ini semuanya diam, bahkan Claudia dan Leon juga, mereka bukan takut pada Kakek Gheobalt, mereka hanya takut bahwa nantinya nama mereka akan dicoret dari gak waris keluarga Andrafana.
Semuanya diam, mendadak tenang. Tidak ada lagi yang berbicara, sunyi sepi, sangat berbeda dengan makan malam Sandra kala itu ketika bersama dengan Agam, ayah Haniry.
Salah satu pelayan, berpakaian hitam putih datang mendekat ke arah Kakek, dia membungkuk hormat sebelum mengatakan apa yang ingin dia sampaikan.
__ADS_1
"Tuan besar, para tamu sudah datang, boleh saya persilahkan masuk?"
"Iya persilahkan saja." Kakek Gheobalt mengangguk dan setuju. Tapi dia masih diam di tempatnya.
Sandra melirik ke kanan ke kiri, menatap satu persatu anggota keluarganya.
Sial!
Dimana sopan santun mereka?
Sangat menyebalkan, Sandra jadi ingin marah, dia jadi ingin mengumpat siapapun sekarang.
Kenapa tidak ada yang menyambut keluarga Hainry? Apa mereka tidak punya sopan santun? Harusnya wali Sandra kan yang menyambut keluarga Hainry di depan sana.
Tapi sekarang mereka semua diam seolah merasa paling tinggi dan paling berkuasa, menyombongkan diri harkat dan martabat seolah paling tinggi, tidak ingin menyapa orang yang lebih rendah dari mereka.
Malu sekali, rasanya Sandra tidak enak hati pada ayah Hainry. Padahal ayah Hainry menyambutnya dengan hangat, tapi kelurga Sandra malah sedingin kutub Utara.
"Biar aku yang menyambut mereka, duduk dan tenanglah." Gerald bangkit berdiri, menepuk pundak Sandra, menenangkan gadis yang sudah cukup khawatir itu.
"Makasih, tolong ya."
Entah bagaimana Sandra bisa menatap Pak Agam nanti, jika keluarganya tidak memperlakukannya dengan hormat. Mungkin saja Pak Agam akan membatalkan pertunangan mereka, karna keluarga Sandra tidak sopan?
Sandra takut, dia tidak mau pertunangan ini batal, dia masih ingin bersama Hainry, dia ingin menjalin hubungan dengan Hainry. Hainry adalah satu-satunya orang yang Sandra inginkan untuk menjadi suami dan tempat bersandarnya.
"Kenapa harus pakai acara disambut segala? Dia hanya seorang detektif, mereka keluarga biasa dan kita adalah Andrafana." Decih Claudia, dia bahkan merasa malu melihat Gerald menurunkan derajatnya demi menyambut orang yang dianggap biasa.
"Selamat malam."
Claudia memalingkan wajahnya ke asal suara yang terdengar agak familiar di telinganya.
Deg
__ADS_1
Claudia ingin merobek mulutnya sendiri saat dia sadar siapa yang berdiri di hadapannya sekarang.
"T-tuan Agam Klaun?"