My Hidden Detective

My Hidden Detective
Bab 59


__ADS_3

...**************...


Setelah mendengar penjelasan dari Amika, Sandra dan Hainry pergi berdua saja menuju gudang tua itu.


Sandra tidak begitu mengerti yang dimaksud dengan gedung tua, tapi satu hal yang pasti, jika itu terkait keluarga Andrafana, dan soal pintu semerah darah, Sandra tau dimana lokasi yang dimaksud.


Sudah jelas, lokasi tempat itu yang sesuai dengan ciri-ciri yang Amika katakan, hanyalah gedung tua berpintu merah yang Levan gunakan dulu saat dia mengurung Jihan.


Gudang itu, adalah tempat dimana Leon dan Claudia menyekap Amika dulu, dan saat generasi ini juga pernah digunakan Levan untuk menyekap dan mengurung Jihan, menjadikan gadis malang itu budak *** pemuas nafsu, kalau mengingat-ingat soal itu, Sandra jadi sesak, suasana hatinya menjadi buruk, bahkan sampai saat ini dia belum bisa memaafkan Levan.


"Kalem oke? Semuanya bakal baik-baik aja." Hainry mencoba menenangkan Sandra, pria itu memilih untuk mengambil alih stir saat tadi Sandra nekat ingin pergi sendiri menuju ke gudang tua berpintu merah yang dia tau.


Bisa bahaya jika Sandra yang menyetir sendiri, syukurlah ada Hainry yang selalu menemani.


Sandra mendengar penjelasan Amika tadi, bahwa dia baru mengingat kejadian itu beberapa hari yang lalu.


Menurut Sandra, penjelasan Amika soal itu mungkin jujur, karna saat dia ditahan dulu, setelahnya sang suami tiada, dia mengalami shock berat, yang bisa membuat dia melupakan detail beberapa kejadian sebelumnya, apalagi dulu dia sampai di rawat ke psikiater karna nyaris gila saat Adit tiada, mungkin saat terapi dulu, Amika melupakan kenangan itu.


Dan akhir-akhir ini, ingatan itu bangkit saat ada yang memicunya, misalnya penculikan yang terjadi pada Afiza, dan segala kejadiannya, membuat Amika kembali mengingatnya.


Sandra menghargai niat baik Amika.


Amika, dia mau mengakui perbuatannya dan suaminya saat dia sendiri sadar dengan benar bahwa setelah dia mengaku, mungkin dia akan dipenjara dan meninggalkan putrinya, tapi tidak masalah agar putrinya aman.


Amika mau mencoba mengingat kejadian dulu agar bisa membantu Sandra, walau mungkin akibatnya dirinya yang akan sulit, mentalnya mungkin kembali tidak stabil, tapi Amika tetap ingin mencobanya, tidak masalah meski akan membangkitkan trauma masa lalu.


"Sampai, tenang jangan terlihat mencurigakan."


Mobil itu sudah berhenti, Hainry turun dari mobil, dengan Sandra yang juga ikut turun dari mobilnya, Sandra masih mengenakan lengkap pakaian mode detektifnya.

__ADS_1


"Kau tau siapa aku kan? Kalau kau petugas keluarga Andrafana mana mungkin kau tidak tau, tunangan putri Sandra Andrafana? Aku Hainry Klaun, tapi aku disini bukan sebagai keluarga Klaun, tapi sebagai detektif YK71, menurut laporan ada yang mencurigakan disini. Kami ingin periksa." Jelas Hainry, dia menunjukkan kartu namanya pada dua penjaga di depan.


Mereka saling tatap, sebelum akhirnya mengizinkan Hainry dan Sandra masuk.


"Silahkan Tuan."


Hainry masuk bersama dengan Sandra, Sandra memegang pintu berwarna merah itu, pintu semerah darah yang menjadi bahan pikirannya akhir-akhir ini. Ada yang mengganjal soal pintu ini.


"Tempat ini udah gak dipakai lagi semenjak kasus Levan, sekarang cari apa yang bisa kita jadikan bukti. Bergerak Wakil Kapten Hainry Klaun." Setidaknya sebelum mereka menikah, Sandra ingin bersikap seperti kapten di depan Hainry untuk kali ini.


Hainry menarik sudut bibirnya.


"Siap Kapten!"


Keduanya bergerak, kesana kemari mencari bukti yang bisa saja tertinggal, mencari celah lainnya.


Dengan perasaan yang tidak enak, Sandra kembali mengelilingi rumah itu dengan ingatan menyedihkan yang selalu terbayang-bayang, entah soal Jihan atau membayangkan Amika yang sedang hamil disiksa dengan begitu keji di tempat ini.


"Mereka begadang ya?"


Fladilena masuk ke dalam markas, tepat saat dia mencoba mengambil air, di sofa dia melihat Sandra tertidur, dengan Hainry yang juga tertidur bersandar tak jauh dari dirinya.


"Ya gitulah Mbak, gimana soal Bu Amika sama putrinya?" Tanya Rafael yang saat ini sedang sibuk mengotak-atik barang-barangnya.


"Mereka udah aku bantu pindah ke yayasan untuk sementara, sampai ada perintah lanjutan dari Sandra, mereka akan tetap disana." Jawab Fla, setelah dia mengambil air mineral di kulkas, Fladilena juga ikut duduk di sebelah Rafael.


"Gimana soal empat orang itu?" Tanya ulang Rafael, biasanya kan urusan pelaku itu urusan Fladilena yang akan menyerahkannya ke polisi dan dibantu lagi dengan Gerald, walau Gerald sudah keluar dia masih punya peranan penting dalam kepolisian.


"Udah dibawa bawahan Hainry, percaya deh semua bakal aman, dia punya banyak bawahan, penerus keluarga nomor satu memang beda." Fla sedikit melirik ke arah Hainry yang tertidur pulas disana.

__ADS_1


"Gak nyangka ya, anak tunggal orang nomor satu yang misterius ternyata modelannya kayak Mas Hainry, agak lain dari ekspetasi aja."


Rasanya agak mustahil saja, orang seperti itu malah bergabung dengan tim detektif ini sejak empat tahun yang lalu.


"Kenapa? Kamu terharu ternyata selama ini sirkel-nya orang-orang hebat, ada putri Andrafana sekarang putra tunggal Klaun?"


"Sejak masuk YK, kan emang orang-orangnya hebat. Dan aku salah satu yang beruntung bisa masuk kesini."


"Bukan kamu, tapi kami yang beruntung bisa ketemu bocah sejenius kamu." Apa yang Fladilena katakan tidak salah, memangnya dimana lagi Sandra akan menemukan bocah ajaib yang begitu langka seperti Rafael, mungkin ada yang se-jenius Rafael, tapi tidak dengan kepribadian bocah ini.


"Eh, ini apa?" Rafael kembali fokus pada barang-barangnya, yang dimaksud adalah cctv yang sudah rusak, memorycard yang sudah usang dan tidak bisa terpakai.


Sudah sejak kemarin malam Rafael mengotak-atik untuk memperbaiki ini, tapi tidak bisa juga, layarnya tidak jelas, bunyinya hanya seperti kaset rusak.


Tapi baru saja, walau hanya sekilas tampilannya tampak jelas, ada seorang wanita yang diikat di sebuah kursi dengan satu pria yang berlutut dilantai sana, juga ada beberapa orang yang tampak berbincang-bincang di depan sana.


"Haha, kayaknya aku harus kerja lebih keras mulai sekarang." Rafael menarik sudut bibirnya, setidaknya satu cahaya harapan masih ada, dimana dia tau apa yang sedang dia perjuangkan saat ini.


Sebuah rekaman cctv yang merupakan bukti kuat untuk membantu Sandra, yang perlu Rafael lakukan saat ini hanya terus mencoba dan memperbaiki cctv tua yang usang itu. Yang sudah dirusak


"Ada apa? Ada sesuatu yang menarik?" Fla sedikit tertarik, dia melihat layar laptop Rafael, tapi dia tidak melihat apa-apa selain layar hitam putih yang bergerak seperti televisi rusak.


"Sangat menarik. Tapi tolong jangan kasih tau Mbak Sandra aku cuma mau kasih tau kalau aku udah nemu hasil yang pasti, aku gak mau Mbak Sandra kecewa lagi." Rafael tau, berapa kali Sandra kecewa dan sering menemui jalan buntu saat mencoba menyelesaikan kasus kematian orangtuanya, semua harapan yang ada sebelumnya hanya membawa luka dan rasa kecewa, tapi meski begitu Sandra masih belum menyerah dan dia selalu berusaha lagi dan lagi untuk mencari kebenaran yang tersembunyi.


Dan Rafael, tidak ingin menjadi salah satu alasan kecewa Sandra, bocah itu ingin memberikan jawaban yang pasti, agar Sandra tidak terluka lagi.


"Baiklah kalau itu kemauan mu, semangat ya! Kalau ada apa-apa yang tidak bisa kau selesaikan sendiri, laporkan dan mengadu pada ku. Kakak mu bukan hanya Sandra, aku juga kan?" Fla mengusap kepala Rafael, mengacak rambut lurus pemuda itu.


"Inilah kenapa aku gak suka dekat Mbak Fla, rambut ku yang malang."

__ADS_1


"Pffttt bocah sialan." Bukannya berhenti, Fla malah terus mengacaknya dengan senyuman menyeringai puas seperti nenek lampir.


Meski begitu, Fladilena tau bahwa dirinya cukup berharga untuk Rafael, baik YK inti dan Sandra mungkin adalah alasan bocah ini menjalani hidupnya dengan lebih semangat penuh tujuan.


__ADS_2