
Hilang
Kotak berharga Sandra hilang.
Kotak dengan dua bukti kuat, hilang begitu saja dalam waktu satu hari.
Ternyata markas tidak seaman yang Sandra pikirkan. Ternyata tempat ini tidak senyaman itu, ternyata rumahnya jauh lebih baik dibanding markas ini.
Penyesalan datang di dalam pikiran Sandra, dia menyesal sudah memindahkan kotak itu disini, andai saja dia tidak memindahkannya, mungkin dua bukti kuat itu masih di tangannya.
Sandra kembali fokus mencari, menyisir setiap sudut yang ada, kembali memeriksa laci-laci yang ada di ruangan itu.
Tidak ada.
Tidak ada sama sekali tanda-tanda dimana kotak itu.
"Rafael!"
Sandra sadar bahwa yang selalu ada di markas adalah Rafael, mungkin Rafael tau sesuatu, atau mungkin dia yang menyimpan dan memindahkannya?
Sandra menuju ke kamar Rafael. Saat ini, hanya ada mereka bertiga di markas, hanya ada Sandra, Hainry, dan Rafael, sisanya sedang bertugas atau liburan.
Sandra mempercepat langkahnya menuju kamar Rafael, kamarnya tidak terkunci, soalnya tadi dia bilang ingin menanyakan sesuatu dengan Hainry.
"Rafael!" Nafas Sandra terengah-engah, dia mendekati Rafael yang ada di sebelah Hainry sedang sibuk mengotak-atik laptopnya.
Sandra mengatur napasnya kembali, dia harus tetap tenang, tidak boleh terlihat berlebihan karna dia adalah seorang kapten.
"San? Ada apa? Kenapa? Ada masalah yang penting kah?" Hainry langsung bangkit, dia mendekati sang gadis untuk menenangkannya. Hainry tau Sandra sedang sangat panik saat ini, tapi Hainry tidak tau alasannya apa.
"Apa Mbak?" Rafael juga ikut penasaran, jarang sekali Sandra seperti ini, ini pasti masalah yang penting karna masalah ini berhasil membuat Sandra yang tenang menjadi gusar.
"Kotak hitam di ruangan bukti kamu ada liat nggak?"
Rafael diam sebentar.
__ADS_1
"Enggak ada tuh Mbak, kotak hitam yang waktu itu kan? Bukannya Mbak bawa pulang ya?" Rafael ingat kotak hitam yang itu, dan dia tau betapa berharganya kotak itu untuk Sandra, karna Rafael kan juga tau isinya, dia bukti kuat untuk menjebloskan Andrafana bersaudara itu.
"Iya, tapi kemarin Mbak letak lagi di ruang bukti, soalnya Mbak ngerasa tempat ini paling aman."
"Loh?"
"Kotak apa sih San? Kotak hitam apa? Apa isinya sampai kamu panik gini?" Hainry yang tidak tau apa-apa terus mendesak Sandra, dia kesal sih, bisa-bisanya Rafael tau sedangkan Hainry tidak tau.
"Kotak hitam, isinya percakapan Paman sama Bibi aku soal rencana bunuh ayah aku, puas? Sekarang dibanding kamu interogasi gak jelas, mending bantuin aku nyari kotak hitam itu." Sandra mengikat rambutnya, dia akan mencari kotak hitam itu lebih serius, menyusuri setiap sudut rumah ini.
"Iya Mbak, aku juga bakal cari." Rafael menutup laptopnya, dia bersiap mencarinya.
"Aku lumayan ngerti, itu kotak isinya bukti kuat, dan berharga buat kamu, tenang aja, pasti bakal kita temuin." Hainry mengusap kepala Sandra lembut.
Akhirnya ketiganya mulai mencari dimana-mana, di setiap tempat yang ada di markas ini. Semuanya sibuk mencari kesana kemari, mereka sangat fokus.
Memeriksa setiap kamar, ruangan, tempat, meja, dan laci, semuanya mereka periksa dengan detail, sudah lebih dari empat kali mereka memeriksa dalam satu tempat.
Sangking fokusnya mereka tidak sadar bahwa mereka mencari sudah lebih dari setengah hari.
Sandra menghela napasnya, dia duduk bersandar di sofa ruang depan. Setelah berlelah diri mencari kesana sini, akhirnya Sandra sadar dan menerima fakta bahwa bukti kuatnya tidak ada lagi di markas ini. Markas ini bersih.
"Gimana nih Mbak?" Rafael juga duduk di depan Sandra, dia memutar otaknya, mengingat kembali siapa saja yang masuk ruang bukti kemarin.
"Minum dulu, jangan sakit." Hainry memberikan botol mineral yang sudah di buka pada Sandra. Dia mengusap kening Sandra, memeriksa apakah mungkin gadisnya sedang sakit karena khawatir sekarang?
Sandra menerima botolnya, dia meminum air yang Hainry berikan.
Sedikit lebih tenang, Sandra kembali fokus dan berpikir.
"Coba ingat-ingat lagi Raf, siapa yang masuk ruang bukti?" Pinta Sandra, soalnya hanya Rafael yang selalu ada di rumah ini.
Dan markas ini tidak memiliki cctv di dalam sama sekali, demi kenyamanan Rafael, dia tidak suka diawasi. Hanya ada cctv di luar, untuk melindungi dan mengawasi siapa saja yang memantau markas mereka.
"Nggak ada Mbak, nggak ada yang masuk, cuma Mbak kemarin." Rafael ingat hanya Sandra.
__ADS_1
"Oke, sekarang kita harus mencurigai siapa saja. Setiap anggota YK--"
"Curigai saya juga Mbak. Saya satu-satunya orang yang selalu ada di markas ini, jadi saya ...." Rafael memotong ucapan Sandra, dia merasa bersalah atas hilangnya bukti Sandra.
"Entahlah, tapi jika memang yang melakukannya benar-benar kamu, aku bahkan tidak bisa membenci mu." Sandra menatap lekat-lekat Rafael, mengunci retina remaja muda itu, penuh makna, penuh kasih sayang yang dalam.
"Maaf Mbak, Kalau aja aku nggak sombong dan mau menyetujui adanya cctv di markas ini, mungkin sekarang kita udah tau siapa yang masuk ke dalam ruang bukti dan ambil barang berharganya Mbak. Maaf ... Mbak." Rafael menunduk, dia merasa bersalah, tapi dia tidak menangis, dibanding menangis, untuk Rafael dia lebih suka memikirkan solusi.
Rafael mengingat kembali kala dirinya masih remaja muda, menjadi anak jalanan yang tak tau arah, tak memiliki jalan untuk pulang, kesana kemari, mencopet tidak jelas, bergaul dengan orang-orang yang buruk.
Hingga akhirnya dia bertemu Sandra, yang menjadi satu-satunya sandaran dia. Bagi Rafael, Sandra adalah sosok kakak yang merupakan tempatnya untuk pulang. Markas ini adalah rumahnya, anggota YK adalah keluarganya, dan Sandra adalah cahaya kehidupannya.
Begitu berharga Sandra dan YK untuk Rafael, dia tidak ingin kehilangan mereka apapun yang terjadi.
"Minimal kalo nyeselnya tulus tuh nangis lah." Celetuk Hainry dengan gampangnya, merusak suasana haru biru yang tadi baru menyerbu.
"Emangnya Mas cengeng, ditolak Mbak waktu pertama kali nangis." Rafael tidak mau kalah kalau soal saling meledek dengan Hainry.
Bukh
Satu jitakan sempurna Hainry daratkan khusus untuk mulut lemes Rafael.
"Berisik bocah."
"Kalah debat main tangan, huuu."
"Ekhem." Sandra berdehem pelan, artinya berhenti bercanda dan mulai serius.
Refleks baik Hainry maupun Rafael mendadak diam seperti batu.
"Rafael, tolong awasi semua anggota YK, cari tau apa yang mereka lakukan akhir-akhir ini. Dan jangan lupa, awasi aliran dana mereka, kemana, dari siap, dan untuk apa, kabari aku jika ada yang tidak beres." Perintah Sandra, memang sepele tapi hal yang patut diawasi adalah aliran dana, dengan data pemasukan uang itu, Sandra bisa tau, kemana dan dengan siapa targetnya bertransaksi.
Transaksi itu adalah hal yang penting.
"Baik Mbak."
__ADS_1
"