
...****************...
Beberapa hari sudah berlalu, Sandra, Rafael, dan Hainry mengawasi anak-anak YK tanpa sepengetahuan mereka, tidak terkecuali Fladilena yang begitu Sandra percaya, karna Fladilena adalah teman masa kecilnya yang lumayan mengerti penderitaan Sandra, apalagi Fla tau seberapa buruk keadaan Sandra bagaimana dia setelah kehilangan orang tuanya, jadi mana mungkin Fla akan berkhianat soal bukti-bukti yang menguatkan tragedi orang tua Sandra kan?
Sandra sudah menerima fakta bahwa bukti itu hilang, dia sedikit stress namun dia juga harus tetap tenang agar pelaku dapat ditemukan, dan bukti kembali ditangan.
Tapi, untuk beberapa jam kedepan, masalah itu abaikan sedikit dulu, Sandra sudah membuat janji terhadap seseorang, makanya harus segera ditepati.
Kepada Hainry.
Hari ini Sandra akan makan malam bersama ayah Hainry sebagai calon istri, walaupun Sandra sendiri belum membuat keputusan atas pernyataan cinta Hainry yang serius walau dia melamar tanpa cincin dan bunga sih, sangat kurang dan tidak romantis.
"Enggak apa-apa, ayah aku baik kok orangnya." Hainry mengusap kepala Sandra, menenangkan gadis yang deg-degan itu.
Bagaimana tidak?
Kini dia berdiri di rumah yang mirip istana, benar-benar megah dan luar biasa, nuansa kerajaan Eropa yang megah.
"Kalau baik kamu enggak akan dipaksa nikah." Jawab Sandra masih mengumpulkan sisa-sisa energi yang ada.
Untuk melanjutkan jalan saja sangat sulit untuknya, kakinya kaku, Sandra memang dari keluarga terkenal Andrafana, tapi dia tidak pernah diperlakukan layaknya tuan putri di rumah itu, lantas tiba-tiba dia menjadi menantu raja? Mana dia siap.
"Ayah baik makanya maksa aku nikah, masalahnya akunya aja yang durhaka gak mau nikah kalau gak sama mbak Detektif Sandra."
"Masuk akal. Eh tapi kalimat terakhir terdengar tidak masuk akal."
Sandra kembali menatap Hainry.
"Ini beneran rumah kamu? Aku tau kamu jelas dari orang kaya, aku gak tau kalau sampai se-kaya ini." Sandra tidak menduganya, bahkan sampai sekarang dia juga tidak tau kalau Hainry bagian dari keluarga Klaun, bahkan anak tunggal dan pewaris sah keluarga Klaun saat ini.
Soalnya keluarga Klaun itu memang tertutup, sampai sekarang belum ada media yang menyebarluaskan wajah pemilik Klaun Grub--Agam Klaun--Ayah Hainry, Dan Hainry Klaun--pewaris sah. Bahkan publik hanya tau bahwa Hainry adalah bagian dari detektif YK, publik tidak tau dia pewaris tunggal keluarga Klaun yang lagi bermain dan memperjuangkan cintanya, agar bisa mendapatkan istri yang menurutnya terbaik.
"Bukan rumah aku, tapi rumah ayah."
"Bukannya sama aja?"
__ADS_1
"Udah kamu kebanyakan bengong, masuk aja, kalem." Hainry menggandeng tangan Sandra, masuk ke dalam rumahnya.
Sandra terbiasa hidup mewah, tapi barang-barang di rumah ini jauh berbeda, dibanding megah dan mewah seperti tampilan luar, dekorasi dalamnya indah dengan barang antik dan elegan.
Entahlah, Sandra jadi semakin gugup, mungkin saja ayah Hainry tidak satu frekuensi dengan dirinya, mungkin saja ayah Hainry mencari yang cantik, elegan dan berkelas. Soalnya barang-barang di rumah ini mencerminkan selera pemiliknya kan?
"Gak apa-apa, gak dapat restu kita nikah sendiri."
"Gak, sesat." Bantah Sandra cepat sebelum perilaku Hainry semakin menjadi-jadi.
"Hey jangan pengaruhi calon menantu ku dengan perilaku buruk mu yang tidak-tidak."
Dari sebelah kanan, terdengar suara asing yang berat, tapi sepertinya tidak begitu asing di telinga Sandra yang peka akan masalah.
Benar.
Sandra menoleh ke kanan, dan dia bisa melihat Pak Agam yang Sandra kenal sebagai donatur sekolah, berdiri di sana dengan pakaiannya yang rapi.
"Loh?"
Sandra diam dengan segala keheranannnya.
"Jadi Kapan mau nikah? Kalau bisa secepatnya aja, mau mahar apa? sebentar, tulis aja list seserahan disini, apapun itu akan ayah belikan." Agame memberikan sebuah notes kecil pada Sandra yang diam terpaku.
Dia sudah mengerti suasana saat ini.
Mereka sedang duduk di meja makan dengan banyak makanan dari segala jenis dihidangkan, ada buah yang disusun indah di tengah-tengah, makan malam ini benar-benar dipersiapkan dengan niat.
Sandra paham, Hainry sudah cerita bahwa Pak Agam sengaja datang ke-sekolah untuk menemuinya karna Hainry pernah bercerita bahwa Sandra adalah calonnya. Pantas saja Sandra meminta sumbangan khusus untuk anak-anak voli langsung di-iya-kan tanpa pertimbangan.
"Iya, kapan sayang? Yang gak ada, aku ada-ada'in buat kamu." Tanya Hainry mengangguk setuju, dia juga menatap Sandra percaya diri.
Mata Sandra membesar, ingin rasanya dia menarik pipi pria itu dan menyumpal mulut lemesnya.
Memangnya gara-gara siapa Sandra terjebak di sini? Gara-gara dia kan yang menceritakan yang tidak-tidak pada ayahnya. Padahal sudah sepakat malam ini jadi calon pura-pura saja, kenapa berakhir dengan pembicaraan pernikahan?
__ADS_1
Bukannya harusnya pengenalan, dan seleksi lulus jadi menantu atau enggak ya?
"Nanti dulu aja deh, Sandra belum cerita ke keluarga besar, kalau nikah mesti dapat izin dari kakek dulu, Sandra kan yatim piatu." Sandra menolak pelan, meski Sandra membenci keluarga Andrafana, dia tetap menghargai sang kakek sebagai kepala keluarga sesuai ajaran sang ayah.
"Ya makanya itu, kalau kamu nikah sama Hainry, saya juga bisa jadi ayah kamu, ayah yang baik. Dijamin pilih kasih, lebih mengutamakan kamu dari Hainry." Agam memberikan jempolnya, dia serius waktu mengatakan itu.
"Kok kesel ya? Tapi kalau alasan itu bisa buat kamu jadi istri aku, oke gapapalah." Hainry sepakat, apapun itu asal Sandra menjadi istrinya dan menemaninya seumur hidupnya, Hainry sepakat dan setuju-setuju saja.
"Kalau itu, Sandra pikirin dulu ya, harus bilang Kakek lagi, tapi Om ... makasih." Sandra tersenyum tulus, senyuman hangat yang jarang dia tampilkan.
Entah kenapa, perkataan ayah Hainry terasa begitu lembut menyapa hatinya, terasa hangat menyelimuti kesepian akan ayahnya, Sandra merasa memiliki sosok pelindung yang bisa mengisi kekosongan hatinya akan sang ayah yang sudah lama pergi.
"Oke, gak masalah, Hainry emang bandel sih, jadi susah, tapi kamu tetep jadi menantu saya aja." Agam tersenyum tulus, dia suka calon menantunya yang ini, sederhana dan cerdas, elegan dan berkelas pula.
Hainry tersenyum dengan wajahnya yang memerah nyaris meledak, dia memegangi dadanya, jantungnya hampir copot barusan. Senyuman Sandra beberapa saat tadi sukses besar mengacaukan jiwa-jiwa Hainry yang tenang, ambisi untuk menghalalkan Sandra semakin menjadi-jadi. Hatinya semakin menggebu, tidak ada hari dimana Hainry tidak jatuh cinta dengan Sandra.
Makan malam itu berjalan cukup lancar selama dua jam, dengan obrolan singkat yang membuat jarak yang agak jauh semakin dekat, yang tidak kenal semakin kenal, yang tidak sayang menjadi sayang.
"Kalau gitu Sandra pulang dulu ya, Om." Sandra menyalim tangan Agam dengan sopan.
"Iya hati-hati ya Nak, sering-sering main kesini, rumah ini butuh nyonya baru." Pak Agam tersenyum ramah, dia tulus ingin Sandra datang main kesini, mata itu, mata yang menggambarkan pria tua kesepian, Sandra paham itu, tidak mudah untuk hidup sendiri.
Sandra sudah tau kalau ibu Hainry sudah meninggal karna sakit, dulu Hainry pernah menceritakannya sudah cukup lama, ayahnya membujang sejak saat itu tidak mendekati wanita manapun walau banyak wanita yang mendekati dirinya.
Tapi? Apa aku emang bisa jadi Nyonya rumah sebesar ini?
Ting!
Suara notifikasi khusus dari handphone Sandra kalau dia menerima pesan dari Rafael.
Benar
Pesan itu dari Rafael. Dan kalau yang mengirimnya Rafael, maka pesan itu tentang
...
__ADS_1
From Rafael:
Mbak, ada aliran dana yang mencurigakan dari satu orang anggota kita,