
......................
Suara mobil terdengar dari depan rumah, tampak cahaya mobil itu menembus jendela depan rumah.
"Itu mobil detektif YK, kita bisa memulainya sekarang!" Ujar salah satu dari mereka.
Setelah memastikan itu mobilnya para detektif, para penculik mengatur posisi. Satu orang menjaga Amika dan Fiza yang sedang terikat, dua orang menjaga pintu depan, bersiap langsung mendekap Sandra bila dia masuk.
Satu orang lagi berada di posisi tengah.
Afiza bisa melihat, sinar laser berwarna merah yang tertuju pada salah satu penjahat yang menjaganya di sebelah, Fiza tau apa itu, dia mengerti sinar itu, soalnya Fiza sering menonton film detektif dan polisi, perampok dan mafia, Fiza tau bahwa sinar itu adalah pertanda akan adanya tembakan.
Fiza deg-degan, dia takut, tapi di sisi lain dia juga percaya bahwa Sandra akan membantunya apapun yang terjadi. Fiza percaya apapun yang Sandra lakukan adalah demi yang terbaik, karna Fiza tau Sandra tidak akan mungkin melukainya dengan sengaja.
"Si--"
Dor!
Belum sempat pria itu berbicara, satu tembakan yang sudah ditargetkan oleh laser merah, berjalan sukses, satu peluru menyangkut di tubuh pria itu. Pria yang ada di dekat Fiza.
Dengan cepat, pria itu pingsan karna peluru itu juga mengandung bius khusus yang bisa melumpuhkan tubuh untuk sementara.
"Hey, apa yang terjadi?!"
Bukh!! Brak!
__ADS_1
Pintu didobrak secara mendadak, para penjahat yang menjaga pintu berhasil ditaklukan oleh Fladilena dengan cepat, dia melumpuhkan satu penjahat itu dengan biusnya, juga satu penjahat lainnya ditangani oleh Yana, keduanya dibius sampai pingsan.
Kedua penjaga yang awalnya siap dengan posisinya, mendadak kehilangan konsentrasi karena penembakan yang terjadi pada rekan mereka.
"Lihat kemana, ayo fokus pada musuh di depan mu dasar bodoh!" Fla langsung memborgol tangan para penjahat itu.
Satu tendangan juga Yana perkuat khusus untuk memijak wajah penjahat sialan ini, yang sudah berniat untuk membunuh Sandra.
"Hey, lepaskan mereka dan biarkan aku pergi, kalau tidak aku akan menembak anak ini!" Satu penjahat yang ditengah, hanya dia satu-satunya yang tersisa, dia menodongkan pistolnya tepat ke arah Afiza.
Bukh! Tukh!
Dari belakang, Sandra menyerang siku pria itu hingga pistolnya terjatuh, sudah ada sebilah pisau yang tajam berkilau merapat dengan leher pria itu.
"Bergerak dan kau akan mati." Suara Sandra berat, dia benar-benar kesal saat ini, berani-beraninya orang-orang ini mengusik orang-orang Sandra.
Satu jam sudah berlalu, keadaan sudah lebih tenang di rumah itu. Keadaan Amika maupun Fiza, sudah lebih baik. Sepertinya satu hal yang Sandra tau lagi dari Afiza adalah bahwa bocah satu ini ternyata pemberani, memiliki mental yang kuat, ketegeran dan jiwa yang hebat, dia memiliki keberanian dan kecerdasan untuk beradaptasi dengan situasi yang dia alami, meski situasi dan kondisi itu tidak berada dipihaknya, dia tetap menyesuaikan dirinya agar dia tetap hidup.
Sandra juga sudah mendengar segala penjelasan Amika soal para penjahat itu yang tiba-tiba datang, menerobos pintu rumah Amika dan langsung memintanya menelpon Sandra agar Sang kapten Detektif YK itu datang kesini.
Amika sendiri tidak mengerti, apa motif sebenernya mereka melakukan itu, dengan tujuan apa, inisiatif sendiri atas dasar balas dendam pada YK, atau suruhan orang lain yang ingin menutup mulut Amika?
Yang manapun jawabannya, Sandra berjanji akan menemukannya secepatnya, motif dan alasan yang logis dan bisa dipercaya atas tindakan gila empat orang ini.
Sandra melirik ke arah Afiza, dia menepuk pundak bocah kecil itu. "Kau sangat hebat, kau pemberani, hari ini kau adalah pemeran utamanya."
__ADS_1
Sandra mengingat bahwa satu pesan tambahan yang Fiza kirim dari tabletnya adalah sebuah pesan suara, dimana Fiza mencoba mengobrol dengan sang penjahat, membuat Sandra yakin bahwa pesan sebelumnya memang dari Fiza sendiri.
Sandra menarik sudut bibirnya tersenyum bangga, walau hanya matanya yang terlihat, tapi Fiza tau kalau Sandra tersenyum bangga dengan matanya yang agak menyipit.
"Makasih Kak! Ini semua berkat kakak, aku sering baca dan cari tau berita soal YK, aku mau jadi kayak Kakak! Aku mau jadi orang yang hebat dan jenius, aku ingin menjadi seorang detektif yang hebat seperti kakak! Aku ingin menolong banyak orang yang kesulitan, dan a--"
"Tumbuh besar dulu." Sandra mengusap kepala Fiza bangga, gadis itu agak menunduk untuk mensejajarkan matanya dengan mata sang bocah.
"Kakak yakin kamu pasti bisa, menjadi detektif YK terbaik dimasa depan, menggantikan posisi ku saat aku pensiun." Sandra percaya itu, dia bisa melihat kegigihan dan rasa percaya diri dari Fiza. Sandra bisa merasakan ada bakat, hasrat, dan ambisi yang kuat tumbuh di dalam tubuh anak kecil ini.
"Baik! Aku akan belajar sebaik mungkin! Dan akan menjadi sehebat kakak!" Fiza tersenyum dengan bangga, dia tertawa ceria bahkan setelah tragedi yang dia alami.
"Rame nih, oh ya, untuk kali ini Fla, yang empat itu bawa dulu ke markas jangan langsung serahin polisi, untuk empat orang itu aku mau urus mereka sendiri? Boleh gak Kapten?" Hainry tiba-tiba datang, dengan shotgun ditangannya, dengan masker hitam, dia sangat keren sekarang.
"Kau jadi terlihat seperti seorang detektif sungguhan." Ucap Sandra begitu saja setelah melihat penampilan Hainry. Mungkin karna selama ini Hainry lebih sering terlihat seperti playboy yang suka menggombal Sandra, gadis itu jadi lupa bahwa tunangannya itu juga seorang detektif YK yang hebat dan cukup terkenal.
Hainry baru saja kembali dari posisi strategisnya, dimana dia menjadi seorang penembak jitu dari tempat yang cukup jauh dan lebih tinggi, Hainry ahlinya, dia penembak yang sempurna dengan target yang selalu tepat sasaran.
"Aku memang seorang detektif." Wajah pemuda itu mendadak datar, agak kesal sih, padahal selama ini juga selalu berjasa dalam setiap kasus."
"Baiklah aku izinkan, asal mereka tidak mati dibunuh oleh mu dan bawahan mu, kau boleh membawa mereka." Sandra memberi izin, entahlah terserah apa yang mau Hainry lakukan, untuk saat ini dia ingin lebih percaya pada tunangannya sendiri. Percaya pada Hainry juga bukan pilihan yang buruk.
Toh, Sandra sudah peringatkan agar tidak dibunuh, Hainry pasti akan mendengarkan peringatan Sandra kan?
Amika datang perlahan-lahan ke depan Sandra, dia langsung terduduk lesu dihadapan sang kapten YK.
__ADS_1
"Terimakasih, sekali lagi saya benar-benar ingin mengucapkan terimakasih, dua kali anda menyelamatkan saya dan putri saya. Tapi apa yang saya katakan di telepon bukan sebuah kebohongan, saya ingat ada bukti yang bisa mendukung kesaksian saya. Saat itu, saat saya sedang hamil saya dibawa ke sebuah gudang tua, memiliki pintu semerah darah, disana juga saya disekap. Dan mungkin, tempat itu juga adalah tempat dimana suami saya membuat kesepakatan." aku Amika lagi, dengan wajah lesuh, mata sembab dengan air mata yang masih membasahi wajah dirinya.
Sandra diam, kalau gudang tua berwarna pintu semerah darah artinya ...?