My Hidden Detective

My Hidden Detective
Bab 24


__ADS_3

...****************...


Akhirnya sore ini seperti waktu yang sudah Sandra tunggu-tunggu, dia datang ke yayasan bersama dengan Jihan dan Rafael, tidak ada Hainry karna dia bilang sedang sibuk dan ada beberapa urusan yang harus dia selesaikan.


Tidak masalah, Sandra sendiri juga sebenernya bisa saja. Soalnya biasanya juga Sandra bisa sendiri, sebelum bertemu Hainry Sandra sering melakukan apa-apa sendiri, tapi semenjak bertemu dengan Hainry Sandra dimanjakan oleh Hainry, pria itu datang mengambil posisi sebagai penopang dalam hidup Sandra.


Sandra sudah lebih tenang, setidaknya kondisi Jihan sudah lebih membaik walau perlahan, tenang saja, nanti juga akan normal 'kan


"Kamu pasti suka, pelan-pelan aja." Sandra memberi semangat pada Jihan.


"Iya Bu, makasih." Jihan turun dari mobilnya, dengan Sandra yang masih menggandeng tangannya. Jihan tidak melepaskan Sandra sedetikpun.


Dia bahkan menjaga jarak amat sangat jauh dari Rafael yang mengantar mereka.


Jangan tanya.


Rafael juga sama malasnya datang kesini, Rafael itu lebih suka sendiri, tapi tidak terus sendiri, maksudnya dia lebih suka tempat yang sepi dibandingkan ramai.


Dia lebih suka berbicara melalui teknologi dibanding mulut, tapi kalau sudah dengan Hainry, Rafael ingin selalu menggodanya.


Rafael itu tampan,


Pria awal 20-an itu sangat keren dengan Hoodie yang dia pakai sempurna menutup kepalanya, dia juga pakai masker, semua yang dia kenakan serba hitam.


Dan lagi, Rafael itu tidak suka anak-anak. Dibanding suka, dia bahkan kesal, anak-anak itu terlalu ribut, berisik, tidak disiplin, perilakunya aneh, makanya Rafael tidak suka.


Kalau bukan karna Sandra yang mengajaknya, Rafael juga tidak mau berakhir disini.


"Mbak? Mas Hainry kemana sih? Tumben nggak mau Mbak ajak, biasa ngerengek terus pengen deket-deket sama Mbak." Celetuk Rafael heran. Kalau gabut gini, dia kan paling suka ganggu Hainry.


"Enggak tau, sibuk kali."

__ADS_1


Deg


Denyutan kuat Sandra rasakan, tiba-tiba hatinya ikut sesak jika memikirkan bahwa Hainry sekarang sedang bersama perempuan lain. Dia tidak bisa ikut dengan Sandra karna ada janji bertemu gadis yang harus dijodohkan dengannya.


"Bu, apa boleh orang kayak aku ada di dekat anak-anak, mereka kan masih polos." Jihan bertanya. Sandra selalu saja dibuat sesak, dia benar-benar selalu ingin memukul habis kepala Levan saat dia mendengar Jihan merendah seperti ini.


"Polos lu bilang? Aelah, lu belum liat aja kelakuan mereka, udah berisik, bodoh, nggak ngerti apa-apa, disuruh ini yang dikerjain malah lain, apalagi si Aram sama si Riv pengen gue getok kepalanya." Rafael mengoceh, karna beberapa tugas dari Sandra, Rafael cukup sering datang ke yayasan ini untuk mengajari anak-anak disini soal teknologi.


Tidak ada yang lebih akrab dengan teknologi di YK kecuali Rafael.


"Tapi mereka lucu loh, imut. Apaan sih, kok ada ya orang yang nggak suka sama anak-anak." Bantah Jihan dengan keras, Jihan salah satu penganut anak-anak itu imut dan lucu, walau mereka melakukan apapun tetap lucu, bahkan jika mandi lumpur juga masih lucu.


"Kok banyak ya orang yang suka sama anak-anak. Padahal mereka tuh cuma berisik doang taunya." Rafael juga tidak mau kalah, dia manusia penganut anak adalah makhluk kecil yang berisik dan membingungkan.


Tukh!


Dari belakang ada seseorang yang memukul kepala Rafael cukup kuat, tapi tidak sekuat itu sampai bisa menimbulkan benjolan.


"Anak-anak itu lucu, tunggu sampai kamu liat anak Mas sama Mbak Sandra, dijamin lucu, unyu, kamu auto terbunyu-bunyu. Tapi cuma anak Mas nanti yang lucu, sisanya anak orang lain itu ngeselin." Hainry juga setuju kalau anak itu lucu, tapi kelucuan itu hanya berlaku untuk anaknya nanti.


"Serah kalian aja dah, ayo Jihan masuk." Sandra menarik Jihan untuk masuk.


Hainry membuka gerbang yayasan, tampak banyak anak bermain disana, anak dari usia 5-15 tahun, semuanya ada, semuanya khusus anak jalanan.


Yayasan milik mereka mirip seperti akademi, ada kamar khusu, ruang makan, belajar dan latihan. Intinya semuanya lengkap dan terjamin.


Dan dari depan sana, Sandra melihat banyak anak-anak yang berlari ke-arahnya, dan yang paling menonjol akhir-akhir ini di yayasan adalah dua bocah itu, Aram dan Rivallie.


"Kuadrat sisi miring sama dengan jumlah kuadrat sisi siku-sikunya, itu bunyi Teorema pythagoras." Riv mengacungkan tangannya dengan bangga, dia pamer pada Sandra bahwa dia sudah hapal apa itu Teorema pythagoras dan pada saat bagaimana itu dipakai, dan apa gunanya, untuk menghitung bentuk apa saja.


"Setiap ada aksi maka akan ada reaksi, dan itu selalu berlawanan arah, contohnya ketika kita mendayung sampan, kita memberikan aksi sebuah dorongan ke belakang, reaksinya kita terdorong kedepan, itu hukum Newton ketiga." Jelas Aram merasa bangga, untuknya soal-soal seperti ini sih gampang dan mudah dicerna.

__ADS_1


"Nggak nanya."


"Paansih, sok akrab banget."


Celetuk Hainry dan Rafael bersamaan. Keduanya sama-sama memasang wajah masam, cemberut dan sangat tidak bersahabat.


"Siapa juga yang lapor sama situ, nggak liat mata kita liatnya Mbak det--"


"Iya, kalian pinter, sekarang kalian balik ke kelas dulu." Sandra cepat-cepat menutup mulut bocah-bocah itu, sebelum mereka membocorkan kalau Sandra sang kapten detektif di depan Jihan.


"Oke deh, nanti tes hapalan tapi yaaa." Aram menagih janji Sandra.


"Iya, habis ini, kalian sana dulu."


Bocah-bocah itu pergi begitu saja, soalnya mereka juga masih ada kelas lainnya.


"Bu Sandra kenapa?" Jihan merasa sedikit aneh, mungkinkah ada yang salah?


"Oh itu? Enggak ada apa-apa itu mah, untuk awalan, mending kita main sama anak-anak kecil dulu, anak-anak umur lima tahun gitu. Hainry sama Rafael jangan ikut, kalian sana urus anak-anak itu." Sandra melirik Rafael dan Hainry secara bergantian.


"Lah? Kenapa? Kita mau ikut." Kekeuh Hainry tidak mau mengalah.


"Tau nih Mbak, males banget sama anak-anak nakal itu." Rafael juga sama mengeluhnya.


Sandra menarik senyuman smirknya. Dan artinya bahwa keputusannya tidak bisa diganggu gugat lagi.


"Ayo Jihan." Sandra menuntun Jihan keruangan anak-anak yang lebih kecil dan anak kecil di ruangan ini banyak yang perempuan, membuat Jihan masih lebih nyaman.


Sore itu, Jihan habiskan bermain dengan anak-anak, perlahan-lahan dia mulai mengatasi rasa takut berinteraksi dengan orang lain, dia yang sebelumnya anti menyentuh kulit orang lain, kini mulai terbiasa bergandengan tangan dengan anak-anak.


Sandra benar-benar bersyukur, kondisi Jihan sudah maju sejauh ini. Dia akan berterima kasih pada Hainry nanti karna memberi ide yang cemerlang ini.

__ADS_1


__ADS_2