
Deg.
Omong kosong apa yang Hainry katakan dulu, dan apa jawaban yang harus Sandra keluarkan agar terdengar masuk akal dan Gerald tidak akan curiga, bahwa kapten Tim YK71 itu adalah Sandra sendiri.
"Oh, Kapten itu? Dia adalah teman dekat aku, juga Hainry. Mungkin dia mengatakan itu sebagai sahabat karena dia tidak ingin kau mendekati kapten mereka. Kapten mereka bukan orang yang mudah didekati, dia tidak begitu suka keramaian." Sandra mencoba menjawab sesantai mungkin, tanpa senyuman, tanpa tekanan, dengan pandangan seadanya.
Sandra itu, kuat, tenang, elegan, dia bisa menyelesaikan masalah dalam berbagai kondisi. Cuma hanya satu kelemahannya, jika membahas soal orangtuanya, dan jika ada Hainry sebagai tempat bersandar disebelahnya, dia tidak akan bisa menahan untuk tidak menangis.
"Oh begitu? Dia tidak suka keramaian, padahal dia cukup menarik." Gerald mengurungkan niatnya untuk berbicara lebih lanjut, bisa bahaya, Sandra bisa-bisa ngambek dan tidak ingin berbicara lagi dengan dirinya.
"Kau pernah bertemu dengannya?"
"Yah beberapa kali, dia orang yang cukup menarik."
"Kalau begitu, bisa aku pergi sekarang, aku harus mengecek nilai-nilai para murid ku. Aku permisi, Kakek, Gerald."
"Ingat, bawa dia dan keluarganya Minggu depan."
...***************...
"Alhamdulillah!" Hainry mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, bersyukur penuh nikmat, tersenyum bahagia saat Sandra menyampaikan pesan itu, bahwa Hainry dan sang ayah diizinkan untuk datang dan melakukan pembicaraan lebih dulu.
"Puas?" Sandra melirik pria yang tersenyum lebar itu di sampingnya.
"Banget."
Hainry langsung membaringkan badannya, tertidur dipangkuan Sandra dengan nyamannya. Mereka ada di rumah Sandra, duduk di satu sofa panjang depan televisi dengan layar persegi itu yang masih menyala menampilkan berbagai berita. Kalau soal berita, masih hangat tentang penculikan itu, dan kalau gosip masih panas soal skandal dan kepopuleran Ecalica.
Sandra terkaget sendiri, saat dia sadar kepala sang wakil kapten sudah ada diatas pahanya.
Jantungnya juga tidak bisa diajak bekerjasama, jantung itu malah memompa semakin cepat sekarang, Sandra harus menahan rasa malunya, pipinya jadi agak memerah.
"Apa ini tiba-tiba?"
"Tenang, sebagai gantinya aku bakal berbagi rahasia deh." Bujuk Hainry agar Sandra tidak mengusirnya pergi.
Sandra agak menyipitkan matanya, menatap mencurigakan pada pria yang sudah dengan nyaman merebahkan kepalanya di pangkuan sang gadis.
"Apaan."
__ADS_1
"Jadi gini ..." Hainry tersenyum puas, dia bahkan tertawa kecil, matanya tak lepas dari retina Sandra yang indah.
Saat membuka mata, rasanya langsung dihujani kebahagiaan dunia.
Mungkin, kebahagiaan ini yang akan Hainry rasakan setiap hari jika dia sudah menikah dengan Sandra, kan? Mungkin saja segala kesedihan akan datang dalam prahara rumah tangga mereka, tapi segala masalah itu akan kuat Hainry jalani, jika wanita yang berdiri disampingnya adalah Sandra, jika perempuan yang mendampinginya untuk menghadapi segala masalah adalah Sandra.
Menikah dengan orang yang dicintai itu benar-benar harapan yang akan memberi kebahagiaan tak terkira.
"Apaan, cepetan ngomong." Sandra gregetan sendiri, matanya jadi agak terbuka lebar.
"Tau keluarga Klaun gak?" Tanya Hainry, dia mengunci pandangan Sandra, berfokus.
Mungkinkah Hainry ingin jujur?
Tapi memang harus begitu kan, untuk menjalin hubungan yang lebih serius, satu per satu rahasia harus mulai diungkapkan. Tidak boleh ada rahasia lagi, hubungan mereka harus dilanjutkan dengan kepercayaan yang kuat.
Mereka harus mulai jujur pada diri sendiri, agar bisa jujur pada pasangan sehidup dan semati.
Kepercayaan salah satu pilar kuat untuk membangun keharmonisan rumah tangga yang utuh. Hainry harus jujur, walau mungkin di awal nanti, Sandra akan sedikit kesal dan marah.
"Tau, keluarga top satu itu kan, diatas Andrafana lagi. Bosen juga dengerin setiap malam mereka gosip soal keluarga Klaun." Jawab Sandra jujur dan polos, soal dosa-dosa anggota keluarganya yang sering iri dan membandingkan ini itu dengan keluarga Klaun. Bahkan tak sesekali Leon menjelek-jelekkan keluarga Klaun karna kalah tender.
Hainry hanya menampilkan senyum polosnya, lamaran belum diberikan, tapi ternyata percikan kebencian sudah ada di keluarga mereka.
"Mau gak jadi Nyonya muda Klaun?"
"Kita mau tunangan, gak usah nyari ribut deh." Sandra memutar bola matanya jengah, biar kata tuan muda Klaun setampan apapun, sekeren atau sekaya itu, Sandra tidak peduli, dia hanya ingin menikah dengan orang yang dia cintai.
"Ya kan, bagus juga kalau Sandra Andrafana, dipanggil Nyonya Sandra Hainry Klaun."
"..."
Hening.
Yang ada hanyalah senyuman Hainry yang polos dan manis, menatap wajah Sandra yang bingung.
"What the?"
"Iya, jadi Nyonya muda Klaun mau kan? Nikah sama satu-satunya penerus Klaun Grub yang sekarang lagi tiduran manja."
__ADS_1
"Apa ini Hainry?"
Sandra menatap Hainry datar, wajahnya sedikit masam.
Sandra tau itu hak Hainry, Sandra juga tau bahwa dia tidak berhak soal itu, menagih Hainry untuk jujur sejak awal. Sandra tau semual hal itu.
Hanya saja.
Cuma,
Tapi,
Sandra hanya kecewa. Bahwa dia ternyata tidak mengetahui segalanya soal Hainry.
Bahwa dia hanya tau satu sisi soal Hainry.
Salahkah dia kecewa?
Ternyata masih ada sisi Hainry yang tidak Sandra ketahui.
"Kamu pulang dulu deh, aku mau tidur." Suara Sandra pelan, dia menepis tangan Hainry.
Dada gadis itu sesak, dia tau dia tidak berhak, tapi perasaan Sandra kacau, dia juga tau tidak bisa menyalahkan Hainry karna menyembunyikan identitasnya, itu haknya.
Hanya saja, rasa kecewa yang membuncah membuat Sandra ingin menjauh sementara dari Hainry. Perasaan tidak enak dan menyesakkan ini, Sandra ingin menenangkan diri sendiri dulu.
Hainry turun dari pangkuan Sandra, dia juga turun dari sofa, menatap Sandra dari bawah, menggenggam tangan gadis itu, menumpukan wajahnya dipangkuan gadis itu, tapi retina Hainry masih mengunci lekat mata sang gadis.
"Kecewa ya? Itu pasti, aku sembunyikan identitas asli aku dari kamu, padahal aku selalu bilang kalau aku cinta kamu. Mungkin, sekarang kamu juga raguin cinta aku ke kamu 'kan?"
Sandra diam, dia tidak menjawab apa-apa, mungkin saja tebakan Hainry benar. Mungkin Sandra memang sedikit meragukan Hainry, kalau Hainry benar-benar mencintai Sandra, harusnya jujur sejak awal kan?
Hainry mengeluarkan kotak cincin yang sedari tadi dia simpan, dia tunjukkan pada Sandra, dia berlutut di depan gadis itu dengan tatapan hangat penuh dengan cinta.
"Tapi aku sungguh mencintai mu, bagaimana dong? Kau satu di dunia, dan satu-satunya yang aku inginkan menjadi istri ku ..."
"Satu-satunya partner yang aku harapkan akan menemani ku seumur hidup, di dunia ini dan dunia berikutnya ..."
"Jadi, walau karna kasihan atau cinta, terserah, aku harap kau mau menjadi istri ku, dan kupastikan akan menjadi suami terbaik untuk mu, jadi ayah terbaik untuk anak-anak kita."
__ADS_1
"Bisa bilang iya? Karna kasihan juga tidak apa-apa. Karna aku, memang sangat mencintai mu ..."