My Hidden Detective

My Hidden Detective
Bab 80 : H-1


__ADS_3

...**************...


Satu tahun sudah berlalu, dan besok adalah hari pernikahan Hainry dan Sandra. Selama satu tahun selama ini, Sandra menjalani hidupnya sebagai Nona guru dan nona detektif yang mengerjakan banyak tugas-tugasnya, Sandra tidak akan berhenti dari keduanya selama dia mampu.


Dan hari ini, Sandra datang mengunjungi makam Eca, walau dia tidak bisa meminta satu-satunya sepupu perempuannya untuk hadir sebagai pendampingnya nanti, tetap Sandra ingin memberi kabar bahwa dia akan menikah besok.


Sandra selesai menaburi bunga, membawa bunga baru untuk makam Eca, satu minggu sekali Sandra datang, makanya bunganya selalu terganti, makam Eca selalu Indah.


"Udah selesai?" Tanya Hainry, sudah setengah jam mereka ada disini, dan Sandra sudah melakukan segalanya, dia mencabut rumput yang ada, menyiram agar tanah selalu indah dan basah.


"Ya, sudah. Ca, aku pergi ya." Sandra menatap batu nisan dengan tulisan nama lengkap Eca disana.


Sandra bangkit berdiri, dia berjalan pergi dengan Hainry yang selalu ada di sisinya.


Satu tahun berlalu, tidak membuat nama Andrafana gemilang lagi, Andrafana tetap tidak mencapai sepuluh keluarga terbaik di negara ini, tapi nama Sandra sendiri sudah sangat terkenal, tak asing lagi kiranya jika melihat berita Sandra diberita yang sudah menyelesaikan kasus-kasus besar, umumnya kasus-kasus penculikan aktivis dan semacamnya.


Sandra sudah lebih baik, dia sudah berteman dengan fakta kalau Eca sudah pergi, Gerald juga sudah berdamai dengan pekerjaannya sebagai pengelola perusahaan Andrafana. Kakek sekarang sudah pergi ke Swiss dan menenangkan diri, dia tidak lagi peduli bahwa Andrafana masuk sepuluh besar atau tidak, yang jelas Gerald dan Sandra harus damai dan akur, itu saja yang tersisa dari keluarga Andrafana generasi muda.


Meski Levan masih hidup dan dipenjara, mungkin akan beban 26 tahun lagi, tapi kakek tidak peduli, Levan tetap tidak akan dianggap Andrafana lagi karna kejahatan yang sudah dia lakukan.


"Aku mau ke rumah sakit dong." Pinta Sandra menggenggam tangan Hainry, satu tahun menjalin hubungan dengan status tunangan tidak lagi membuat Sandra canggung untuk menyentuh atau menggenggam lengan pria itu.


Hainry menaikkan alisnya, satu tahun menjalin kasih dengan Sandra membuat jantung Hainry sudah agak bisa terkontrol saat disentuh oleh Sandra, walau kadang tetap berdebar kencang. "Yakin mau kesana, kesana buat ketemu orang itu kan?"


Sandra mengangguk yakin, tidak ada keraguan dimatanya. Sandra memang benar-benar ingin bertemu orang itu disana.


Hainry menghela napasnya, dia malah sih bertemu orang itu, tapi Sandra yang ingin bertemu, membuat Hainry tidak bisa menolak.


......................

__ADS_1


Mobil Hainry berhenti di sebuah rumah sakit jiwa yang cukup besar, Sandra dan Hainry turun bersama. Dia masuk secara perlahan.


Ini yang membuat Hainry malas, orang kurang waras yang bertebaran dimana-mana, mengganggunya. Banyak gangguan dari orang gila lainnya.


Tapi bukan mereka yang Sandra cari.


Tak jauh setelah dia berjalan di lorong bersama Hainry, Sandra menemukannya. Perempuan itu duduk di sebuah kursi putih panjang, dengan baju biru, rambut panjang terurai tak terurus juga tak tersisir.


Tapi perempuan itu sedang tersenyum bahagia, menyisir sebuah boneka perempuan. Senyumannya sangat bahagia.


"Eca ... Eca cantik harus bahagia kalau udah besar ya, harus punya segalanya." Suaranya pelan, namun lembut, terdengar cukup hangat.


Benar.


Dia adalah Claudia Andrafana yang dulu merupakan perempuan yang anggun dan terkenal, memiliki banyak koneksi dan power, memiliki harta dan pengaruh.


Tapi saat ini, dia sudah duduk disana bersama orang-orang ini, dengan ilusi yang mengurungnya dalam pemikiran nya sendiri.


Claudia Andrafana menjadi gila, hari demi hari yang dia habiskan dipenjara membuatnya semakin terkurung dalam pikirannya sendiri, dia jadi tidak bisa menerima fakta kehilangan Eca.


Apa Sandra senang?


Itu tidak mungkin, ini menyakitkan. Melihat Claudia dalam keadaan seperti itu sangat menyakitkan, ini bukan keinginannya.


Lalu, bagaimana dengan Eca dan perasaannya nanti? Bukan seperti ini yang Eca inginkan. Sandra hanya merasa bersalah pada Eca, setelah Eca pergi Sandra gagal membuat sang ibu tetap waras.


"Bukan salah mu." Hainry memeluk Sandra, tidak ada lagi yang bisa dia katakan, itu memang bukan salah Sandra. Dia hanya ingin mengungkap kebenaran saja.


"Ya, tapi aku gak tau kalau bibi akan berakhir begini."

__ADS_1


"Tidak ada yang tau kan? Dia sendiri yang tidak bisa menerim konsekuensi dari perbuatannya, dia yang lemah yang tidak bisa berdamai dengan keadaan, ini bukan salah mu."


......................


Sandra bangun lebih pagi hari ini, dia harusnya bangun pukul empat pagi, tapi dia sudah bangun pukul tiga pagi.


Tidak apa.


Satu jam akan dia habiskan untuk tenang menatap langit malam sebelum disibukkan dengan ricuhnya hari pernikahan.


Sandra ingin menghirup udara yang tenang lebih dulu, dia keluar dan duduk di balkon kamarnya, matanya memandang langit yang masih ditemani dengan bintang-bintang yang bersinar terang.


"Besok aku menikah, dengan pria yang kucinta. Seperti apa rasanya ya, kalau kalian semua ada disini, ayah dan bunda?"


"Pasti ayah akan sibuk buat tatap Hainry tajam, soalnya ayah kan gak suka liat aku diambil orang. Kalau bunda masih ada, pasti pernikahan nya sempurna, aku gak perlu takut soal milih gaun atau dekorasi, karna selera bunda itu selalu menakjubkan. Selera bunda selalu yang terbaik, bund pasti akan tidur sama aku sekarang, kasih wejangan soal pernikahan kan? Pernikahan bukan soal ini dan itu, bunda pasti bilang gitu, hehe."


Sandra tersenyum tipis, tetap semanis apapun angan itu, sekali angan-angan tetaplah angan-angan.


"Bagaimana ya kalau seandainya bibi Claudia dan paman Leon tidak jahat? Mungkin mereka akan menasihati ku soal pernikahan, mungkin bibi Claudia yang elegan akan memilihkan gaun yang elegan untuk ku, mungkin kalau bibi menyayangi ku, dia pasti akan terus julid pada keluarga suami ku haha. Paman juga pasti akan sibuk untuk menjalin bisnis dengan keluarga Klaun."


Tidak, Sandra bukannya ingin menuntut, dia hanya ingin membayangkan, bagaimana kalau keluarga mereka damai dan tenang tanpa perselisihan soal harta keluarga yang membuat beberapa dari mereka kehilangan hati nuraninya.


"Gimana kalau Levan tumbuh jadi anak yang baik, walau agak badboy dan playboy, dia pasti jadi pengiring pengantin yang sempurna. Dia pasti ingin tampil keren dan mencolok, haha."


Andai saja Levan tidak tumbuh dengan sesuka hati, pribadinya yang nakal itu cukup menarik juga.


"Gimana kalau Eca masih ada? Haha jawabannya udah jelas, maka akan tercipta maid pengantin yang lebih cantik dari pengantin hari itu, karna Eca memang sangat cantik."


Sandra menerima fakta itu.

__ADS_1


"Tapi, semua hanya angan semata. Besok, siapa yang akan menemani ku ya?"


__ADS_2