
...**************...
Sandra, Fla, Hainry dan Rafael sudah dalam posisi mengepung rumah Kandri. Dimata mereka Kandri adalah tersangka saat ini, dan harus diamankan.
Sandra tidak suka melakukan ini, jangankan menuduh bawahannya, mencurigai bawahannya saja Sandra tidak bisa. Tapi, dia harus melakukannya untuk mencapai keadilan sebenernya.
*Tok tok tok!
Sandra sendirian di depan pintu rumah Kandri, yang lainnya memasang posisi di belakang rumah, kanan dan kiri rumah Kandri.
Pintu itu terbuka secara perlahan, dan Sandra bisa melihat seorang gadis muda remaja seusia Jihan, usianya masih 18 tahun, dia adalah adik Kandri yang dikatakan Rafael sedang membuat rekening baru, dan mendapat transfer 7 M.
"Dimana Kandri?" Sandra bertanya, ramah namun tegas. Bagaimanapun juga, semuanya belum terbukti sekarang. Kandri masih menjadi tersangka, belum pelaku.
Gadis itu--Mia, dia tersenyum ramah. "Dia sudah pergi Kak."
Deg.
Sepertinya ini adalah isyarat bahwa Kandri benar-benar pelakunya kan?
"Kemana?"
"Lari dari Kakak, dan lari dari rasa bersalahnya. Dan ya, Bang Kandri menitipkan ini untuk Kakak." Mia memberikan sebuah surat pada Sandra. Surat dalam amplop putih
Sandra terdiam, dia menerimanya dengan pikiran kosong. Perlahan Sandra membuka surat itu.
**Isi surat :
Untuk Kapten Sandra yang terhormat dan sangat saya kagumi. Saya sungguh meminta maaf karna telah mencuri kotak hitam yang sepertinya sangat penting untuk anda.
Beberapa hari setelah pengadilan Sepupu Anda, ada seseorang yang datang dan menawarkan uang dalam jumlah besar untuk mengambil barang bukti yang kita rampas, sebuah kotak hitam, mereka bilang itu sangat penting. Dan tidak ada hubungannya dengan kasus yang menimpa Jihan, ada atau tidak adanya kotak itu, Levan akan tetap dipenjara.
Awalnya saya menolak, tapi tawaran menggiurkan terus datang, dan akhirnya saya mencuri kotak hitam di ruang bukti. Saya tidak tau apa isinya, saya tidak bisa membukanya yang saya tau, bukti itu tidak akan membuat Levan keluar dari penjara karna seluruh dunia sudah sepakat bahwa Levan bersalah dan akan dipenjara.
Tapi beberapa hari setelah mencuri kotak itu, saya lihat anda, Rafael dan Hainry sering berkontak. Saya yakin, kalian sedang mencari kotak hitam itu, anda yang tidak pernah menangis tiba-tiba saya lihat menangis sendiri karna kehilangan kotak hitam itu.
__ADS_1
Maafkan saya. Walau saya memang tidak layak dimaafkan. Saya tidak bisa tetap disana dengan segala rasa bersalah.
Penjara.
Benar tempat saya harusnya dipenjara karna telah mengkhianati anda dan membantu kejahatan, sebagai seorang detektif saya amat sangat malu.
Saya akan menyerahkan diri saya ke polisi nanti, tapi tidak sekarang. Nanti setelah keinginan saya tercapai, saya akan menyerahkan diri ke polisi.
saya janji!
Pengkhianat
Kandri Ghawesari**.
Sandra mengepalkan tangannya erat, dia menekan surat yang semula rapi hingga berkedut.
Jantung Sandra perih, pengkhianatan yang dia terima tidak bisa ditoleransi apapun alasannya, sang pengkhianat harus berakhir di penjara.
Getir.
Kecewa!
Marah!
Segala perasaan itu memenuhi hati Sandra. Kandri benar-benar pelakunya, dia bahkan mengakuinya, Kandri yang mengambil bukti penting untuk Sandra.
"Kami sudah periksa kanan, kiri, belakang, dan dalam rumah. Tidak ada Kandri, kita harus mencarinya lagi." Lapor Fla setelah dia selesai memeriksa setiap sudut yang menurutnya cukup penting.
"Aku akan melacaknya!" Tambah Rafael ingin segera berlari ke dalam mobil, mengotak-atik laptopnya.
"Tunggu, itu tidak perlu." Sandra menahan punggung Rafael, dia memberikan surat pada Fla, surat dari Kandri.
Deg!
Fla menarik napasnya, agar kursi disebelahnya tidak hancur karna dia tendang.
__ADS_1
"BAJINGAN!!!"
......................
Sandra kembali ke rumahnya, setelah satu harian mereka kesana kemari mencari keberadaan Kandri, namun tidak ditemukan.
Kandri adalah anggota inti Tim YK71, selain dia sangat cerdas dan jenius, dia juga mengenal cara kerja tim YK, dan Kandri sangat mengenal bagaimana YK itu. Maka dari itu, dia berhasil mengelabuhi YK dan lari dengan tujuannya.
"Kalem oke? Kita pasti bakal temuin bukti lain! Kita juga bakal temuin Kandri dan buat dia bertanggungjawab atas segala pengkhianatannya." Fla mencoba menenangkan Sandra, dia menggenggam kedua bahu gadis itu erat, menatap matanya lekat, memberikan kepercayaan dan semangat, yang mungkin akan membangkitkan hasrat.
"Ya, makasih semuanya, sekarang istirahatlah kalian semua sudah melakukan yang terbaik." Sandra mengusap wajahnya, dia mengucek matanya yang sudah sangat lelah. Lelah pikiran lelah dengan harapan.
"Mbak jangan khawatir ya! Aku pasti bakal temuin si sialan pengkhianat itu!" Tambah Rafael, mencoba menenangkan, tapi ini bukan sekedar perkataan, ini adalah sebuah janji dari Rafael yang berambisi.
"Kita pulang ya. Jangan khawatir, tidur yang nyenyak, jangan terlalu dipikirin. Semua sudah diatur, dan semuah sudah ada jalannya, cukup menguatkan kaki saja untuk terus menapaki jalan yang sudah Tuhan bentangkan apapun rintangannya." Fla memeluk Sandra hangat, pelan, dan singkat. Dia melepasnya, lalu merangkul Rafael untuk pulang bersama. Karna malam ini, Fla tidak akan pulang ke rumahnya tapi akan pulang ke Markas.
Tatapan mata Fladilena penuh kebencian dan ambisi, apapun yang terjadi dia akan menemukan Kandri kembali. Karna Kandri, adalah salah satu kunci untuk membuka keadilan di persidangan untuk orangtua Sandra. Karna Fla tau, sekeras apa Sandra berusaha untuk mengungkap kebenaran dibalik tragedi mencurigakan itu. Tidak akan Fla biarkan kerja keras Sandra hilang begitu saja, musnah dengan sendirinya.
Sandra masuk ke dalam rumahnya setelah Rafael dan Fla pulang. Tapi, ada satu yang tidak pulang, tidak pula beranjak pergi.
Sandra berbalik menatap pria itu.
"Tunggu apa gak pulang? Aku hari ini lagi gak niat buat main-main sama kamu. Aku mau sendiri, jadi bisa sekarang kamu pergi, Hainry?" Sandra agak mendongak menatap wajah Hainry, dia perlihatkan matanya yang lelah, dan wajahnya yang masam. Itu pertanda bagi Hainry bahwa Sandra benar-benar tidak ingin bercanda sekarang.
"Butuh bahu kan?" Hainry menatap Sandra lekat. Wajahnya penuh ketulusan, tatapan mata yang mengisyaratkan bahwa Hainry mengerti keadaan Sandra saat ini.
Bruk
Sandra memeluk Hainry erat, dia memeluk pria itu sekencangnya, menangis dan berteriak, mencurahkan segala perasaan yang ada dihatinya.
Sandra kuat, dia bisa sendiri sebenarnya. Tapi Hainry membuat Sandra lebih kuat, dengan mengutarakan perasaannya yang sebenarnya.
"Jangan pernah berpikir ini salah mu atau kau lemah karna kau menangis. Untuk ku, orang kuat bukanlah orang yang menyimpan segalanya sendirian, tapi orang kuat adalah orang yang berani jujur pada dirinya sendiri, dan mulai bangkit dengan menerima kelemahan dan mengubah kelemahan itu menjadi kekuatan. Tidak ada yang bilang tangisan adalah kelemahan, jadi menangislah, Sandra." Hainry memeluk Sandra erat, memberikan pelukan hangat yang tulus.
Manusia itu pada dasarnya rapuh. Saat mereka terluka, dibanding sebuah semangat atau kata-kata motivasi yang hebat, yang utama mereka perlukan adalah pelukan hangat, dari orang-orang terdekatnya.
__ADS_1
Hainry tau itu lebih dari apapun, karna saat dia putus asa, dia butuh pelukan sang ibu saat itu juga. Dan yang melakukannya pertama kali setelah ibu Hainry meninggal, hanya Sandra.