My Hidden Detective

My Hidden Detective
The Legends Of Black Guardian


__ADS_3

...----------------...


Halo guys, promo bentar ya, bagi yang suka fantasi boleh mampir yaa, ini seru kok.


Judul : The Legends Of Black Guardian


Ceritanya tentang Rezen yang berusaha memusnahkan monster untuk menyelamatkan adiknya.


Tenang oke, walau ada novel baru,


My Hidden Detective tetap bakal update setiap hari kok, tenang ajaa okee hehe^~^


Bab 1


...*************...


"Katakan kau menginginkan Kekaisaran, maka aku akan membantu mu, cukup serahkan saja tubuhmu, Rezen dari keturunan Railin."


Suara itu menggema di dalam kepala Rezen, sudah sering sekali dia mendengar suara itu sejak dia masih sangat kecil.


Rezen tau, siapa pemilik suara itu, dia adalah suara Draken, naga jahat yang begitu melegenda, naga hitam yang nyaris menghancurkan Kekaisaran Wistal karna kemarahannya.


Menurut sejarah kekaisaran Wistal yang Rezen tau, naga hitam itu sudah mati, Draken mati dibunuh oleh ksatria yang paling hebat dari keturunan Helen pada masanya, Pangeran Alanstein. Dia yang berhasil membunuh Draken yang mengamuk, menjadi legenda paling terkenal di Kekaisaran.


"Gak, males."


Jawab Rezen santai tanpa beban, mungkin saat dulu pertama sekali dia mendengar suara Draken dikepalanya, itu terasa sangat menyeramkan dan begitu menakutkan. Apalagi suara Draken berat dan seperti memiliki aura mencekam tersendiri.


Tapi seiring berjalannya waktu, seiring seringnya Rezen mendengar atau mengobrol dengan Draken. Rezen tidak takut lagi pada naga hitam yang jahat itu, toh Draken tidak akan bisa melakukan apapun pada Rezen, karna Draken sendiri tersegel di dalam tubuh Rezen.


Rezen juga tidak tau, bagaimana Draken bisa ada dalam tubuhnya, dan mengapa dia yang terpilih menjadi pemilik Draken? Kenapa bukan yang lain? Kenapa harus Rezen?


Rezen tidak tau pasti apa yang sebenarnya terjadi, tapi yang jelas Rezen tau bahwa Draken sangat membenci kekaisaran sehingga setiap hari, Draken selalu membicarakan untuk menghancurkan Kekaisaran terus-menerus.


Hal yang selalu Draken inginkan hanya meluluhlantakkan kekaisaran, dan Rezen tidak minat melakukannya.


"Akhirnya sampai juga."


Rezen menghela napasnya setelah dia lelah berjalan dari desanya, menuju desa ini.


Desa Rezen berada di kaki gunung, sedangkan desa ini berada di jalanan yang lebih dekat menuju ibukota kekaisaran, sudah jelas desa ini lebih maju, lebih baik, barang-barangnya lebih bagus, dan pakaian disini lebih mengikuti trend ibukota dibanding pakaian yang dijual di desanya.


Karna alasan utama Rezen datang kesini adalah untuk membeli pakaian sang adik.


Untuk membeli gaun baru yang akan ia hadiahkan pada Renaya diulang tahunnya yang ke-17 ini.


Rezen sangat menyayangi Renaya, Renaya adalah hidupnya, kebahagiaannya, dirinya, dan dunianya. Untuk sekarang, bisa disimpulkan Renaya adalah segalanya untuk Rezen, karna Renaya adalah satu-satunya adik, satu-satunya keluarga yang Rezen punya. Karna orangtua mereka sudah tiada sejak mereka kecil. Hanya Renaya yang Rezen punya.


Karna hanya Renaya, tempat Rezen untuk pulang.


Sejak ditinggal mati kedua orangtuanya karna kecelakaan kereta kuda, membuat Rezen dan Renaya hidup saling bergantungan, saling memiliki, saling mendukung dan menguatkan untuk terus bertahan hidup di dunia yang kejam ini.


Akhirnya dengan semangat dan usaha Rezen dan Renaya, keduanya sudah hidup lebih baik sekarang, sudah hidup lebih bahagia dan tenang. Syukurlah warga di desa mereka juga cukup baik, saat Rezen belum mendapat pekerjaan, mereka ingin membantu, saling tolong-menolong. Itu juga alasan Rezen sangat menyayangi warga desanya.


Rezen melihat kanan dan kiri, mencari dimana letak toko pakaian. Untuk Renaya yang akan berusia 17 tahun, gaun terbaik harus Rezen hadiahkan.


Rezen menghentikan langkahnya, saat disebelah kanan dia menemukan satu toko yang menampilkan sebuah gaun berwarna biru muda, warna kesayangan Renaya, warna yang menggambarkan Renaya itu sendiri.


Gaun biru itu sangat indah, dan juga elegan, cocok untuk Renaya yang lembut dan hangat, elegan dan selalu tersenyum, Renaya sangat ramah pada siapapun, dia juga sangat cantik.


Rezen menarik senyumannya, saat dia sudah memilih dan memastikan gaun mana yang akan dia hadiahkan untuk sang adik, perempuan berharga yang beberapa hari lagi berusia 17 tahun.


"Aku ingin gaun itu! Berapa harganya?"


Suara Rezen keras dan lantang, dia dengan percaya dirinya menunjuk gaun biru muda itu di depan pelayan.


"Pulanglah, itu gaun mahal, kau tidak akan mampu membelinya, orang miskin dari desa kumuh seperti mu memang selalu banyak maunya."


Bukannya melayani Rezen sebagai pembeli, gadis pelayan ini hanya menatap rendah Rezen, menyepelekan dirinya hanya karna penampilannya saja. Jelas, dia menghina Rezen terang-terangan.

__ADS_1


Rezen akui memang pakaiannya tampak sedikit kumuh karna dia dari desa dan melakukan perjalanan panjang.


Tapi.


"Anda adalah orang yang berkelas dan berpendidikan, anda juga pasti tau bahwa penjual dan pembeli adalah hubungan dua orang yang saling menguntungkan. Terlepas dari saya miskin atau kaya, dari desa atau kota, keinginan saya untuk membeli, sebagai penjual anda cukup menjawab dan menjualnya pada saya. Pada dasarnya pembeli adalah pembeli, maka dari itu nih ...! Aku mau beli gaun itu, berapa harganya?"


Bukannya marah atau benci, Rezen mengeluarkan kantung uangnya. Ada banyak jenis koin di dalam sana. Baik koin emas, perak dan perunggu, semuanya Rezen kumpulkan selama ini dengan susah payah demi bisa membeli hadiah terbaik untuk Renaya.


"Harganya 100 koin emas." Jawab penjual itu, tapi dengan nada sombong. Meski dengan apa yang Rezen katakan, tidak membuat hati nuraninya bergetar, dia masih memegang teguh, miskin adalah miskin, dan kaya adalah kaya.


"Pas sekali, ini isinya total 100 koin emas jika digabung dengan jumlah koin perak dan perunggu!" Rezen dengan percaya diri menyodorkan kantungnya.


"Dasar orang miskin sialan, kami tidak menerima uang receh itu." Pelayan itu sinis, dia menolak kantung yang Rezen berikan.


"Kenapa tidak boleh? Uang adalah uang kan? mau bagaimanapun bentuknya dan nilainya, uang tetaplah uang, bahkan jika tidak ada uang perunggu, maka tidak ada uang perak dan emas. Semuanya saling dibutuhkan dan memiliki nilai masing-masing, apa kau meragukan kekaisaran Wistal yang sudah membuat koin ini dan menentukan nilainya dengan pasti, kau ragu?" Tiba-tiba pria berjubah hitam datang menghampiri mereka, masuk ke perdebatan antara Rezen dan sang pelayan.


Orang itu agak aneh, tapi sepertinya dia baik karena ingin membela Rezen.


"Kenapa kau ikut campur sekali, siapa sebenarnya kau?"


"Oh aku? Aku Hailos, senang bertemu dengan mu." Dia membuka jubahnya, terlihat rambut pirang yang begitu indah, dengan mata merah yang menyala, dia terlihat sangat tampan dan berkelas.


"Anda Je--"


"Kalau begitu bisa ambil uang ini dan berikan gaunnya pada pemuda ini, dia pasti ingin segera memberikannya pada kekasihnya." Pria itu mengambil kantung uang di tangan Rezen, yang ia berikan kepada pelayan itu.


Pelayan itu mendadak diam.


"Ba-baiklah, si-silahkan tunggu sebentar." Dengan agak gagu dan tatapan penuh hormat pada pria itu, pelayan itu segera pergi darisana untuk menyiapkan gaun yang Rezen pilih.


Dia yang semulanya angkuh dan sombong mendadak gugup dan patuh.


Siapa sebenarnya orang ini? Apa dia orang yang begitu hebat?


Pertanyaan itu yang terlintas pertama kali di benak Rezen, dia melirik pria itu sebentar. Tampang dan gaya bicaranya sepertinya bukan dari kalangan rakyat jelata, dengan respon pelayan itu yang langsung begitu hormat, Rezen yakin pria ini adalah seorang bangsawan yang terhormat yang cukup dikenal di kalangannya, tapi tidak Rezen kenal karena dia hanya pemuda dari desa biasa dan agak terpencil.


"Ini silahkan, terimakasih telah berbelanja disini."


Jelas sekali.


Rezen tau itu, pelayan itu tidak membungkuk hormat untuk dirinya, tetapi untuk pria berambut pirang disebelahnya, pria elegan dan berkharisma itu.


Kehormatan ini membuat Rezen yakin bahwa pria disampingnya bukan sembarang orang.


Tapi, entah siapapun itu, siapapun dia, apa jabatannya, setinggi apa derajatnya, Rezen tidak perduli.


"Terimakasih banyak sudah membantu ku. Jika Aku bisa, Aku akan membantu mu lain kali untuk membalas budi."


Dia hanya ingin berterimakasih pada setiap orang yang baik padanya, karna itu adalah ajaran kedua orangtuanya yang sudah meninggal.


Rezen tersenyum hormat dan ramah.


"Ah ya sama-sama, lagipula aku tidak melakukan apapun, hanya sedikit menjelaskan." Pria itu juga tersenyum ramah, tanpa memandang perbedaan status yang cukup tinggi diantara mereka.


"Tapi penjelasan mu yang barusan membantu menyelesaikan masalahku."


Walau terlahir dari keturunan rendah dan rakyat jelata, Rezen memiliki sifat dan pendirian yang kuat.


"Kalau begitu, titip salam untuk Nona beruntung yang mendapatkan gaun itu." Pria itu tersenyum ramah, padahal dia tau Rezen hanya pemuda dari kalangan rakyat jelata, tapi dia masih bisa begitu ramah?


"Yah, dia pasti akan sangat senang mendapatkan salam dari orang setampan anda."


......................


Sudah dua hari Rezen berjalan, dan sudah dua hutan pula yang dia lewati dengan berjalan kaki sendirian, dia hanya terus berjalan untuk kembali sampai di desanya.


Seperti biasa, hari-hari Rezen selalu dipenuhi oleh celotehan Draken, si naga yang jahat dan suka darah, dia selalu menghasut Rezen untuk membuat keributan, kapanpun ketika Rezen sendirian seperti sekarang.


Tapi, Rezen sudah terbiasa.

__ADS_1


Hari sudah mulai gelap, syukurlah Rezen sebentar lagi sampai setelah perjalanan yang cukup jauh.


Rezen menggenggam buntalan yang dia pundak, berisikan kotak hadiah yang dia pilhkan khusus untuk Renaya.


Rezen begitu senang, dia sangat bahagia, dia benar-benar menantikan saat dirinya pulang nanti, menemui Renaya dan memberinya hadiah.


Apa yang akan Renaya katakan?


Reaksi apa yang dia tunjukkan?


Apa dia akan senang tertawa bahagia, atau dia malah menangis haru dan memeluk Rezen karna tersentuh?


Entahlah, Rezen tidak tau yang mana, yang jelas, dia akan menyukai setiap reaksi yang keluar dari Renaya, karna hadiah ini dia khususkan untuk sang adik tercinta.


Sudah satu Minggu Rezen tidak bertemu dengan Renaya dan warga desa, Rezen benar-benar merindukan sang adik dan suasana desa yang hangat dan penuh dengan canda tawa, semua orangnya ramah dan baik, tidak seperti orang-orang yang Rezen temui sebelumnya di jalan ibukota itu.


"Adikmu akan lebih senang, kalau kau menghadiahkan Kekaisaran ini, aku bisa memberikannya asal kau mau meminjamkan tubuh mu sebentar saja."


Rezen tidak lagi peduli pada perkataan dan omong kosong yang Draken katakan. Rezen diam dan mengabaikannya saja, bisa jadi perdebatan panjang jika Rezen melayaninya, dia lagi enggan, dia lelah soalnya. Entah soal kekuatan, kekayaan atau memiliki hak wilayah, Rezen tidak tertarik dengan penawaran yang Draken lakukan, yang ingin Rezen lakukan hanya hidup dengan tenang, damai dan bahagia bersama dengan sang adik dan warga desa yang ramah, yang sudah seperti keluarganya sendiri.


Akhirnya Rezen sampai di desanya, desa ramah dan hangat tempat tinggalnya sejak dia kecil dulu. Desa hangat yang menguatkannya untuk menjalani hidup sebagai yatim piatu.


Tapi ...


Sepertinya kemalangan itu benar-benar ada.


Nasib buruk juga benar-benar nyata.


Rezen diam membeku, saat dia melihat pemandangan di desanya saat ini. Dia baru masuk, tapi sudah disuguhkan dengan pandangan yang tidak akan pernah bisa dia lupakan seumur hidupnya.


Desanya kacau, darah berhamburan dimana-mana, cipratannya mengotori dinding-dinding rumah. Banyak rumah rusak.


Mayat berserakan dimana-mana, entah mayat anak-anak atau orang dewasa, semuanya tergelatak tidak berdaya dengan kondisi yang mengenaskan. Potongan tubuh tidak beraturan berserakan kesana kesini.


Semuanya mengeluarkan darah.


Darah


Darah


Darah


Hanya ada darah dan potongan tubuh yang mengenaskan.


Dan semuanya mati.


"A-apa ini ...?" Rezen melangkah secara perlahan, setiap satu langkah selalu ada satu mayat, setiap daratan yang dia pijak, selalu ada darah segar yang mengalir.


Dada Rezen mendadak sesak, jantungnya berdegup begitu kencang, saat dia sadar, sang adik juga masih berada di desa ini.


Mata Rezen membesar, dia yang semula ragu untuk bejalan, kini berlari melompati jasad siapapun yang menghalanginya, tidak peduli darah siapa yang dia pijak, Rezen terus berlari memastikan keadaan adiknya sendiri.


Bagaimana keadaan Renaya?


Takut.


Rezen benar-benar takut jika kehilangan Renaya.


Dunianya.


Kebahagiaannya.


Tempatnya untuk pulang.


Dunia tanpa Renaya adalah hukuman.


Rezen tidak akan bisa jika sampai dia juga kehilangan Renaya.


...----------------...

__ADS_1


Bagi yang penasaran dengan lanjutannya, boleh cek langsung aja di bab dua di novel yaaaa



__ADS_2