
...****************...
"Aman kan?"
Sandra memasukkan sebuah kotak hitam di dalam laci, di ruangan barang-barang penting di markas.
Sandra memutuskan untuk menyimpan kotak hitam dan segala isinya itu di sini, soalnya dia punya perasaan Gerald dan Eca akan sering main ke rumahnya.
Benar.
Sandra kurang mempercayai mereka, walau mereka terlihat tidak akrab dengan orang tua masing-masing, tetap saja mereka adalah anak.
Sandra tidak mau, baik Gerald maupun Eca menemukan barang-barang itu secara kebetulan di rumahnya, dia juga tidak ingin mengungkapkan ini karena buktinya masih kurang jelas, dia butuh saksi atau hal yang lebih kuat lagi.
Sandra menghela napasnya, dia berharap anak-anak YK71 juga tidak mengusik barangnya yang ini.
Sandra keluar dari ruangan itu, dia bersikap biasa saja, soalnya Sandra memang sudah terbiasa mengatur ekspresinya dalam keadaan apapun.
"Hainry masih belum datang?"
Tanya Sandra, ini sudah hari ke-empat Hainry menghilang tanpa jejak, tidak mengatakan apa-apa, dan terakhir kali Hainry pergi dengan eskpresi seperti itu.
Bukan hanya itu, pesan atau telepon Sandra juga tidak dijawab, tidak ada balasan, anak itu benar-benar menghilang.
Sandra khawatir.
Perasaan tidak enak itu semakin membuncah dalam dirinya, dan akhir-akhir ini juga Sandra jadi merindukan ocehan Hainry yang tidak jelas.
"Belum Mbak, ga tau kemana, gak bisa dilacak, gak bisa dihubungi juga." jawab Rafael yang sedang sibuk mengotak-atik laptopnya, ah dia dan tim Fladilena sedang ada misi saat ini, ada kasus perampokan berulang di sebuah komplek perumahan yang cukup mewah. Fladilena sedang menangani kasus itu.
"Oke, kalau Hainry datang nanti, atau jika ada kabar apapun soal Hainry, tolong segera hubungi aku. Aku akan pulang dulu, ah apa kalian perlu bantuan dalam misi ini?"
Rafael menggeleng pelan. "Nggak usah Mbak, udah hampir selesai kok, nggak ada korban jiwa juga."
"Oke, kalau butuh bantuan jangan lupa telpon aku."
"Siap Mbak."
Sandra berjalan ke luar dari markas, tepat saat dia sudah keluar, taksi online yang dia pesan sudah datang. Baguslah, Sandra tidak suka kalau harus menunggu.
......................
Sandra diam terpaku di tempatnya, saat dia melihat sudah ada Hainry di depan rumahnya, Hainry yang sedang berdiri menggunakan Hoodie hitam.
Tampan
__ADS_1
Itu suara hati Sandra, dia benar-benar menganggap Hainry itu sangat tampan, walaupun Sandra tidak akan mau mengakuinya.
"Yo halo kapten, ap--"
Sandra berlari secepat mungkin, memeluk erat tubuh pria itu. Sandra tidak tau sih apa yang sebenernya dia rasakan, bagaimana cara menjelaskan bahwa saat melihat Hainry dia hanya ingin memeluknya.
"Ada apa? Apa ada yang menyakiti mu lagi? Apa keluarga Andrafana buat ulah? Atau kondisi Jihan memburuk?" Hainry mengusap rambut Sandra pelan, Sandra sudah seperti gadis remaja yang memeluk Hainry sekuatnya.
"Kau ...! Kemana kau pergi beberapa hari ini tanpa kabar?!" Sandra mendongak menatap wajah sang pria, sementara pelukannya sama sekali tidak dia lepas.
Imut!
Sangat menggemaskan!
Hainry tidak tahan, wajah, ekspresi, suara, dan kelakuan Sandra semuanya menggemaskan saat ini. Padahal biasanya Sandra akan keren dengan seragam detekrifnya, tapi Sandra versi manja seperti ini juga sangat imut.
"Aku marah kemarin karna kau bilang tidak mengenalku." Hainry menjawab sejujurnya, dia memang tersinggung sih dengan jawaban Sandra waktu itu.
"I ... itu, aku minta maaf, aku enggak bermaksud gitu, aku nggak mau Gerald curiga kalau aku kapten detektif YK, makanya aku bilang begitu, maaf, iya aku yang salah." Sandra menunduk, orang hebat bukan orang yang tidak pernah salah, tapi orang yang berani mengakui kesalahannya.
"Baiklah, aku maafkan, jangan di ulang ya." Hainry memegang kedua pipi Sandra.
"Jangan menangis juga, ayo tersenyum." Hainry mengusap wajah Sandra lembut, perlahan-lahan dengan hangat.
"Ada urusan, oh ya lusa kau ada waktu?" Hainry bertanya cukup serius sekarang.
Sandra menaikkan sebelah alisnya, tapi sepertinya gadis itu tidak sadar bahwa dia masih memeluk erat sang pria tengil di depannya.
"Kenapa?"
"Ayah ku butuh calon menantu, kalau enggak dia bakal ribut sana-sini, bisa kau ikut dengan ku?"
"Kenapa harus aku?"
"Hey Sandra ... Aku sungguh-sungguh ingin memulai hubungan serius dengan mu. Aku tidak akan menikah, jika itu bukan dengan mu. Kau ... satu-satunya yang ingin aku lihat saat aku bangun. Kau satu-satunya yang aku ingin tidur dengan ku, hanya kau."
Suara Hainry lembut,
Tatapannya dalam, penuh makna, terlukis segala kejujuran dimata itu.
"Aku sungguh-sungguh mencintai mu, dan aku hanya ingin hidup dengan mu." Hainry menarik Sandra dalam pelukannya, lebih dekat, dan lebih erat lagi.
Sandra diam. "Boleh ku jawab lain kali?"
"Boleh, jangan lama-lama oke?"
__ADS_1
Sandra mengangguk. Ada banyak yang harus dia pikirkan saat ini, ada banyak hal yang perlu dia pertimbangkan, tapi bukan berarti dia akan mengesampingkan perasaan Hainry begitu saja.
"Dan biar begini untuk sementara, aku benar-benar merindukan mu." Hainry tetap memeluk Sandra, tidak melepasnya walau sedikit pun.
...****************...
Sandra dan Hainry masuk ke dalam markas, berdua, bersama, soalnya kemarin Hainry menginap di rumah Sandra, yah walau ujung-ujungnya tidak terjadi apa-apa, karna Sandra memguring dirinya di kamar dan Hainry hanya bisa tidur di sofa.
"Pantes langit cerah, ada yang damai ternyata." Celetuk Fladilena sembari menyisir rambutnya, mungkin gadis itu menginap di markas kemarin karna banyak pekerjaan.
"Mas Hainry! Sini! Ada yang nggak aku pahami soal data ini!" Rafael langsung menarik Hainry menuju kamarnya. Rafael itu introvert, tapi entah kenapa kepribadiannya jadi agak berbeda jika di dekat Hainry.
"Ribet banget sih bocah, San bentar ya." Hainry melambaikan tangannya pada Sandra, dia mengikuti langkah paksa Rafael yang membawanya.
"Gimana misi kemarin? Aman?" Sandra duduk di sebelah Fladilena.
"Aman kok, udah ketangkep, gak ada korban jiwa, harta yang dicuri sebagian di kembalikan. Btw ketemu dimana?" Tanya Fladilena melirik Hainry.
"Hainry? Di depan rumah, kemarin dia nunggu aku di rumah."
"Baguslah, kalian jangan sering-sering ribut deh. Oh ya, gak ada makanan di markas, aku beli makanan dulu oke, kita makan bareng. See u."
Sandra mengangguk. Setelah Fladilena keluar, Sandra berjalan menuju ruangan bukti, dia ingin memastikan kotak hitam berharganya aman atau tidak.
Deg
Tapi sayang, semuanya sangat jauh dari ekspetasi Sandra.
Ketika dia melihat kardus dimana kotak hitam itu disimpan.
Kosong!
Kotak hitammya tidak ada
Siapa yang mengambilnya?
Sandra mulai mengobrak-abrik segala kardus yang ada disana, membuka tutup semua laci, barangkali Sandra lupa dimana tempat pasti dia meletakkan kotak itu.
Hilang
Kotak berharga Sandra hilang.
Kotak dengan dua bukti kuat, hilang begitu saja dalam waktu satu hari.
Ternyata markas tidak seaman yang Sandra pikirkan.
__ADS_1